19 February 2014

Tour de Palembang


Dua hari berikutnya, kami gunakan untuk mengunjungi hampir semua mall dan pusat perbelanjaan yang ada di Palembang. Walaupun kota Palembang bukan kota metropolitan seperti Jakarta atau Bandung, ternyata ada beberapa mall besar di pusat kota Palembang. Dan meskipun tidak membeli apa-apa, kami tetap berkeliling dan keluar-masuk tiap toko yang ada disana. Akhirnya, pada saat sedang berada di sebuah mall, kakakku mengajurkan untuk makan siang di sebuah restoran yang bernama Brasserie, yang menyediakan beragam jenis makanan dan roti. Saat itu juga, aku langsung tertarik dengan roti Brasserie, dan membawa beberapa untuk dijadikan cemilan di rumah.

Besoknya, kami berencana untuk mengunjungi tempat kerja dan tempat tinggal kakakku di sebuah kampung di kecamatan Lempuing, kabupaten OKI (Ogan Komering Ilir), sebuah tempat yang, kalau menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sekitar 80 KM/jam, membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk mencapainya.

That far, and we decided to travel by motorcycle. Yeah!!

Pagi itu, sesaat setelah sarapan, kami langsung memacu motor kakakku  keluar dari kota Pelambang. Aku membiarkan kakakku yang menyetir motor karena memang dia yang mengerti keadaan jalan yang akan ditempuh, sementara aku duduk di bangku belakang sambil memegang travel bag dibagian tengah.

Perjalanan awal terasa menyenangkan. Tanpa harus memikirkan keadaan lalu lintas, aku bebas melihat-lihat kota Palembang dari atas motor. Melihat gedung-gedung yang tidak sebesar dan setinggi di Jakarta, mengamati perilaku berkendara orang Palembang yang katanya sembrono, dan menikmati semilir angin pagi kota Palembang yang berasa seperti asap panas di mukaku. Tidak bisakah cuaca di Palembang menjadi sedikit lebih sejuk? Rutukku dalam hati.

Sebaliknya dengan kakakku, tanpa merasa terganggu dengan cuaca yang panas, dia dengan santai mengendarai motor bebeknya melewati Jembatan Ampera, maju lurus terus sampai akhirnya belok kanan pada sebuah perempatan.

“Nah, ini stasiun kereta api Palembang,” katanya menunjuk ke sebelah kanan jalan sambil memacu motor dengan kecepatan sedang. Mendengar penjelasannya yang tiba-tiba, aku langsung menoleh ke sebelah kanan jalan. Tampak di balik sebuah tembok pagar atap kereta api yang sudah usang. Tidak banyak yang bisa dilihat dari pinggir jalan diluar stasiun itu. Hanya sedikit suasana sibuk dan gaduh tanpa kita ketahui apa yang terjadi di dalamnya. Bahkan aku tidak bisa melihat warna atau motif kereta api yang ada di dalam. “Mungkin sama aja dengan yang ada di Jakarta” gumamku menyimpulkan.

Motor terus dipacu keluar kota Palembang. Matahari pun ikut memacu pancaran sinarnya, membakar semua yang ada dibawahnya.

Sekian puluh menit telah berlalu sejak kami berangkat tadi. Sekarang keadaan jalanan sudah sedikit berbeda. Kalau di dalam kota tadi jalan raya dipadati oleh angkot, mobil, sepeda motor dan beberapa truk, jalanan yang kami lalui sekarang didominasi oleh truk, bus dan sedikit mobil jenis SUV. Cara berkendara pun berbeda. Sekarang harus berkendara ekstra hati-hati. Walapun jalanan cukup lengang, tapi bus dan truk selalu melaju dalam kecepatan tinggi. Padahal jalan yang disediakan tidak terlalu lebar, hanya cukup 2 truk kecil ketika berpapasan. Salah sedikit, nyawa bisa melayang.


Setelah sekitar satu jam berkendara yang melelahkan, ditambah cuaca yang sangat panas, akhirnya aku minta istirahat sebentar. Saat itu kami sudah memasuki daerah administrasi Indralaya, tempat dimana Universitas Sriwijaya berada.

“Yaudah, kita istirahat di Unsri aja. Bentar lagi sampai. Disana teduh kok” katanya meyakinkan.

Mendengar kata teduh, aku langsung semangat. Tidak pernah kata teduh terdengar begitu indah dan menjanjikan seperti yang terdengar saat itu. Selama tinggal di Bandung, kata teduh adalah hal yang lumrah dan biasa. Tidak ada yang spesial. Makanya, ketika mendengar kata teduh di Unsri, aku langsung memikirkan kondisi taman Partere di UPI, tempat paling teduh di kampusku terdahulu. Dengan pohon beringin di tengah taman, air mancur dan kolam ikan disamping pohon untuk sekedar memanjakan mata dan telinga. Melihat ikan-ikan koi berenang didalam kolam dari kursi semen yang disediakan. Atau duduk di atas rumput di samping kolam sambil bernyanyi riang. Begitulah kesan teduh yang ada dipikiranku.

Tapi ketika kami tiba di gerbang depan Unsri, aku harus rela membubarkan kesan teduh yang sudah kutata dengan apik di otakku. Tidak ada taman, tidak ada air mancur, apalagi ikan koi. Yang ada hanya pohon. Banyak pohon.

Kampus Unsri terdiri dari banyak pohon dan sedikit gedung-gedung yang letaknya berjauhan satu dengan lainnya. Sekilas aku menangkap kesan hutan ditengah kota. Atau aku pikir kalau Unsri itu adalah wilayah studi bagi mahasiswa jurusan Kehutanan. Yah, walaupun teduh, tapi tidak bisa dinikmati sambil bernyanyi ria di bawah salah satu pohon.

Namun demikian, gerbang utama kampus Unsri cukup menarik. Sebuah taman kecil berbentuk bundar berada tepat di antara pintu masuk dan keluar gerbang Unsri. Ditengahnya ada tulisan besar UNIVERSITAS SRIWIJAYA dipahatkan di sebuah tembok semen. Dibelakang tulisan itu terdapat sekitar 10 bendera merah putih dikibarkan bersama dengan bendera Unsri yang berwarna kuning menyala.


Bahkan rumput-pun tidak tahan dengan kondisi panasnya matahari di Palembang.

Untungnya kakakku sudah mengantisipasi keadaan panas yang menyiksa itu. Sebelum pergi tadi, dia memang memasukkan sirup dan potongan ice cube kedalam termos berukuran sedang miliknya. Dia mengeluarkan sirup jeruk dingin dari dalam tasnya dan kami meminumnya di depan Unsri dengan cuek. Sambil sesekali berfoto di depan gerbang Unsri.

Sambil menikmati sirup dingin penghilang dahaga itu, aku mengamati sekelilingku. Walaupun saat itu bukan hari libur, tapi entah kenapa keadaan disana sepi sekali. Hanya terlihat sedikit pengendara motor keluar masuk dari gerbang utama Unsri.

Apakah ada pintu masuk lain?

Atau memang mahasiswa Unsri memang sedikit?

Karena tidak menemukan hiburan apapun, akhirnya aku dan kakakku melanjutkan tour menuju tempat tinggal kakakku. Cuaca panas dan debu yang berasal dari truk yang melaju di depan kami merupakan kombinasi yang buruk.Perjalanan ini penuh perjuangan. Kami menghabiskan satu jam berikutnya seperti pasangan musafir yang tengah berjalan ditengah padang pasir; panas, berdebu dan berkeringat. Tidak ada tanda-tanda bahwa kami akan mencapai tujuan. Bahkan, aku tidak tau dimana dan bagaimana tempat tujuan kami saat itu. Satu-satunya penghiburan bagiku dalam perjalanan itu adalah, bahwa aku bisa melihat dengan jelas rumah tradisional orang Palembang, yang berbentuk rumah panggung yang terbuat dari papan dengan tangga menuju pintu utama. Uniknya, walaupun semua tangga langsung menuju pintu utama, tapi pintu utama rumah mereka selalu menghadap kesamping, bukan ke depan. Sementara dibagian depan rumah mereka hanya ada  satu atau dua jendela. Entah apa filosofi dari menempatkan pintu disamping rumah, tetapi disitulah menariknya rumah tradisional mereka.

Seiring dengan perkembangan jaman, sekarang bagian bawah rumah panggung mereka dijadikan sebagai warung, untuk sekedar berjualan makanan atau kebutuhan lainnya.

Ketika matahari sedang berada tepat diatas ubun-ubun kami, kami sudah sampai di daerah bernama Kayu Agung, sebuah kabupaten yang berjarak satu jam berkendara dari Indralaya. Aku yang sudah seperti pindang terbakar kembali meminta kakakku untuk beristirahat.

Ternyata kakakku juga sama menderitanya seperti aku. Dia kepanasan, berkeringat dan lelah. Ditambah lagi dia harus konsentrasi memacu sepeda motor yang kami bawa bergerak menyelip diantara truk-truk besar dan mobil serta bus yang melaju kencang dihadapan kami. Dia berusaha untuk menjadikan perjalanan ini tetap menyenangkan.

Sambil istirahat, kami makan siang di salah satu rumah makan padang yang ada di depan pasar setempat. Acara makan kali ini menambah absurdnya perjalananku ke Palembang. Setelah sebelumnya makan Mie Pansit Siantar dan Surabi Bandung, sekarang aku malah memilih makan Nasi Padang. Benar-benar tidak kontekstual. Mungkin besok aku memiliki kesempatan untuk menikmati Coto Makassar, Papeda atau Nasi Rawon di Lempuing. Siapa tahu?

Sembari makan, aku menanyakan tentang perjalanan tadi. Selepas berangkat dari Indralaya, jalanan semakin sepi. Rumah penduduk pun sudah semakin jarang. Yang ada hanya rawa dan rumput dan persawahan. Sesekali juga terlihat orang yang merakit diatas rawa tersebut. Benar-benar pemandangan yang langka.

“Jalur yang kita lewati tadi termasuk jalur berbahaya. Selain karena kendaraan yang lewat selalu melaju dengan kecepatan tinggi, sering juga terdapat garong yang menjadi ancaman bagi pengendara sepeda motor. Mereka mencegat pengendara motor, kemudian mengambil motornya. Tidak jarang mereka membunuh pemilik motornya dan membiarkan mayatnya teronggok dipinggir jalan” tuturnya disela-sela makan siang kami.

Aku bergidik mendengar ceritanya. Sekilas terbayang adegan pembunuhan di film Hollywood. Dan aku juga tidak bisa menepis bayangan bahwa sesaat barusan kemungkinan aku bisa saja menjadi salah satu korban yang dibunuh dijalan. Ditengah lamunanku yang sedikit mengerikan itu, kakakku berkata, “Makanya banyak orang bilang bahwa BG adalah singkatan dari Banyak Garong”.

BG adalah nomor polisi untuk daerah administrasi Sumatera Selatan, yaitu Palembang dan sekitarnya.

Aku tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan kakakku. Ironis memang. Mungkin sudah saatnya aku menambah frekuensi berbuat baik terhadap sesama… untuk berjaga-jaga kalau sudah tiba masaku. Dan, aku juga sedikit menyesal karena tidak mengikuti latihan bela diri waktu SMA dulu. Bagaimanapun, sudah menjadi tugasku sebagai lelaki untuk melindungi kakakku kalau terjadi hal yang demikian.

Dengan pikiran masih menewarang seputar garong dan kemungkinan yang ada, kami melanjutkan perjalanan menuju Lempuing Jaya. Sepanjang perjalanan, aku selalu waspada, terutama ketika melewati tempat yang sepi. Mataku selalu melihat dengan tajam kekiri dan kekanan. Gerakan sekecil apapun pasti akan tertangkap olehku.

Selama satu jam aku tersiksa diatas motor. Jantungku berdegup dengan kencang dan telapak tanganku sampai berkeringat. Aku bahkan tidak bisa menikmati pemandangan hijau persawahan atau barisan hutan karet disepanjang jalan. Aku hanya memusatkan semua perhatianku pada kemungkinan adanya barong yang akan menghadang kami ditengah jalan.

Untungnya, sampai ketika kakakku memacu motornya keluar dari jalan utama dan masuk ke jalan kecil didalam perkampungan, tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Kami tiba dengan selamat.

Setelah 3 jam mengendarai sepeda motor dari Palembang, akhirnya kami tiba juga di Lempuing Jaya, sebuah desa kecil yang berada di jalur lintas timur Sumatera, tempat dimana kakakku tinggal.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...