26 June 2012

Cinta Indonesia. Mengapa tidak?



Kalau ditanya tentang Indonesia, gue pasti langsung semangat menjawab dengan membuat daftar tentang hal-hal yang gue benci. Begitu banyaknya sampai-sampai jari tangan dan kaki gue tidak cukup untuk menghitungnya. Pinjam jari tangan orang juga masih kurang. Karena memang, menurut gue, Indonesia ini sangat mengecewakan. Udah gak ada harapan lagi.

Hal yang pertama kali melintas di benak gue adalah korupsi. Saking bencinya gue, sampai-sampai gue mematikan TV setiap berita korupsi muncul di TV. Mulai dari Nazaruddin, Angelina Sondakh, sampai dosen, guru dan bahkan dana pembuatan kitab suci pun tak lepas dari yang namanya tindakan korupsi. Parah ! Parah banget !! Gue gak habis pikir, mereka dididik dengan cara apa sih?

Setelah itu, gue juga langsung teringat tentang bencana alam. Apalagi setelah Pak SBY menjabat sebagai Presiden RI. Gue rasa, itu adalah awal dari semua malapetaka yang secara beruntun terus menggoncang Indonesia. Bukannya gue menuduh Pak SBY sebagai dalang atas semua bencana yang terjadi di Indonesia (sebaliknya, gue sangat menghormati beliau yang sampai sekarang tetap berjuang untuk Indonesia, terbukti dari kantung matanya yang semakin membesar), hanya saja pengalaman dan mimpi buruk yang gue dapat dari kejadian itu benar-benar menyiksa. Bagaimana tidak, sampai tahun 2004, gue belum pernah mendengar yang namanya tsunami, apalagi mengetahui arti kata yang sangat mengerikan itu. Tapi tiba-tiba, suatu pagi ditahun yang sama, kampung gue (Medan) merasakan goyangan gempa yang membuat warga sekitar panik.

Hal yang menurut gue wajar, karena masyarakat sekitar belum pernah terkena gempa. Apalagi setelah mendengar berita yang mengatakan bahwa ada serangan tsunami di Aceh. Sontak kami langsung ketakutan. Tetapi, puji Tuhan, kampung gue tetap aman sampai sekarang. Yang membuat gue miris adalah fakta bahwa setelah kejadian tsunami di Aceh, berbagai jenis bencara - seperti banjir, tanah longsor, gempa, gunung meletus - seakan berebut untuk mengambil tindakan di Indonesia. Berebut untuk menggoncang Indonesia. Dan, berlomba untuk menghancurkan Indonesia.


Daftar terus berlanjut dan panjang. Teroris yang terus mengancam keamanan sekitar. Demo yang selalu berujung dengan aksi anarkis. Kelangkaan BBM disana-sini, padahal Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak terbesar di dunia. Kemacetan yang terjadi hampir di setiap kota dan setiap jam. Bentrok antar kampung, sekolah dan bahkan antar agama. DPR yang terus mengulah. Sampai kepada boyband dan girlband yang tenar secara instan, yang hanya menjual produk imitasi dari negara seberang. Disambung dengan aksi premanisme dimana-mana. Pokoknya banyak banget. Gak ada habisnya.

Jalanan yang selalu macet
Picture taken from galangal-ayyubi.blogspot.com

Tapi kemudian, ketika gue istirahat dari kegiatan gue membuat daftar "Hal Yang Gue Benci dari Indonesia", gue tiba-tiba teringat akan perjalanan gue berwisata keliling Indonesia, karena gue suka traveling. Gue teringat tentang bagaimana orang Batak berbicara dengan suara yang sangat keras, padahal mereka mengobrol dalam jarak yang dekat. Gue teringat tentang bagaimana orang Sunda yang selalu memakai sweater/jacket/hoodie kemanapun mereka pergi dan dalam kondisi cuaca yang bagaimanapun. Gue teringat tentang bagaimana orang Yogyakarta menyalip bus yang sedang belok dengan sepeda motor mereka tanpa mengenal rasa takut. Gue teringat tetang orang Dayak yang suaranya cempreng tapi indah kalau sedang bernyanyi. Semua kenangan itu seolah menyingkirkan rasa benci gue terhadap Indonesia.

Akhirnya gue runut lagi semua pengalaman gue beberapa tahun traveling di Indonesia. Dan ternyata, gue terkejut. Begitu banyak yang gue suka dari Indonesia.

Gue suka alam Indonesia yang kaya akan potensi wisata. Danau Toba yang menjadi tempat gue belajar naik solu. Pantai Pangandaran yang menjadi tempat gue pertama kali ketemu turis. Bukit Tangkiling tempat gue tau dan kenal suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Jembatan Ampera tempat gue belajar sebagian dari sejarah Indonesia. Candi Borobudur tempat gue menyaksikan keajaiban yang sesungguhnya. Dan masih banyak tempat-tempat lainnya. Jembatan Suramadu, Gunung Tangkuban Parahu, bahkan sampai Gua Buniayu yang berada 20 meter dibawah permukaan tanah. Semuanya indah. Semuanya memberikan kesenangan. Dan semuanya gue suka.


Gue belajar naik solu di Danau Toba
Gue juga suka makanan Indonesia yang beragam. Gue suka rendang yang pedas dengan rasa yang khas. Gue suka empek-empek yang kenyal. Gue suka makan mochi-mochi yang kecil dan imut. Gue suka makan wingko babat yang kaya rasa. Gue suka masakan ayam woku dengan sambal hijaunya. Gue suka semuanya. Gue merasa bersyukur dianugerahkan lidah yang tidak neko-neko sehingga bisa menikmati semua makanan tradisional di Indonesia, yang memberikan cita rasa dan penampilan yang berbeda dan unik.

Bahkan, herannya gue suka dengar bahasa-bahasa aneh keluar dari mulut orang asing. Gue belajar bahasa Dayak ama teman gue, dan bisa bilang "Nupim ih". Gue menyapa teman gue pakai bahasa Dompu setiap pagi. Gue menanggil teman gue yang kuliah di Bali dengan panggilan "Bli". Gue juga suka minta potongan harga kalau naik angkot dengan memakai bahasa Batak. Gue bersenda gurau pakai bahasa Papua. Dan gue beli jajanan pakai bahasa Jawa, dengan harapan yang menjual tidak menaikkan harga dagangannya. Passion gue untuk mempelajari bahasa ternyata tidak dapat di bendung lagi. Passion yang gue dapat waktu kuliah jurusan bahasa Inggris dulu. Walaupun gue bisa pakai bahasa Inggris, tapi pada kenyataannya gue lebih sering memakai bahasa daerah. Mereka terdengar seksi ditelingaku.

Gue juga suka banyak hal lain di Indonesia. Gue suka dengan gaya hidup orang Indonesia merupakan communal society - dimana mereka tidak akan pernah jalan di tempat umum tanpa ada dua orang di samping kanan mereka dan tiga orang lainnya di samping kiri mereka. Gue juga suka dengan prinsip "belum makan namanya kalau tidak makan nasi" yang sudah menjadi motto hidup orang Indonesia, yang gue rasa menjadi penyebab munculnya berbagai variasi olahan nasi di Indonesia. Ada nasi uduk, nasi liwet, nasi goreng dan yang paling tenar terakhir adalah nasi kucing. Padahal menunya sih sama aja, tapi bisa beda gitu. Orang Indonesia memang kreatif.

Terlebih lagi, gue suka dengan budaya Indonesia. Gue suka tortor dibadingkan dengan Korean dance. Gue terkesima sewaktu melihat acara pelepasan lampion oleh umat Hindu di Candi Borobudur. Gue takjub akan acara nyepi. Gue juga tak habis pikir mengenai teknik penguburan mayat di Tanah Toraja. Semuanya itu begitu asing, tetapi juga begitu popular. Hal itulah yang membuat gue pada akhirnya memutuskan untuk mengenal Indonesia lebih dekat lagi dan lebih dalam lagi.

Akhirnya gue memutuskan untuk tidak membenci Indonesia lagi. Gak ada ruginya kalau gue belajar mencintai Indonesia. Toh gue juga suka banyak hal menarik di Indonesia. Di samping itu, membenci Indonesia juga pada akhirnya akan membuat suasana hati gue gak enak. Pikiran pusing karena memikirkan hal yang tidak menyenangkan. Karena gue udah lahir di Indonesia, besar di Indonesia dan bekerja di Indonesia, maka membenci Indonesia sama aja seperti gue membenci keberadaan gue sendiri. Dan itu adalah hal paling terakhir yang gue ingin lakukan.

So, mencintai Indonesia, mengapa tidak?! Cintailah Indonesia dengan caramu sendiri!!

I LOVE INDONESIA !!

8 comments:

  1. nice travel blog, makasih dah berkunjung ke blog catatan perjalanan saya, kunjungan balik ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tengkyu gan..

      Iya nih gan, cita2 pengen ke Bali, makanya nyasar ke blog agan. Mantap blognya gan. Pengen deh punya blog kayak gitu. :D

      Delete
    2. haha, masi belajar nulis juga itu, cuma pengen berbagi aja :D :D

      Delete
  2. Semangat mengindonesiakan indonesia...
    semangat Indonesia!!
    salam anak negeri

    Blogwalking & Mengundang juga blogger Indonesia hadir di
    Lounge Event Tempat Makan Favorit Blogger+ Indonesia

    Salam Spirit Blogger Indonesia

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Tengkyu..

      iya, Indonesia masih layak kok untuk dicintai olehmu, olehku dan oleh kita semuaaa.. ^^

      Delete
  4. tulisan yang keren, btw pak SBY mirip loh gan sama bokapnya nobita hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. mukanya sama2 kotak ya.. hhahaha..
      setuju deh sama kamu!!

      Delete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...