18 June 2012

Danau Toba (part 1) - Indahnya Kearifan Lokal Suku Batak


Bagi gue, wisata ke Danau Toba itu merupakan hal yang biasa, karena memang rumah gue - tempat dimana gue brojol, tempat dimana gue nangis minta dibeliin mobil-mobilan, tempat dimana gue ngompol, tempat dimana gue hancur2an bareng teman2, dlsb - dekat banget dari Danau Toba. Cukup nge-ludah aja udah nyampe. Eh, bukan ding. Hanya 30-45 menit naik motor. Atau bisa juga ditempuh dengan waktu 15 menit, dengan syarat, yang mengendarai harus tutup mata, saking cepatnya, jadi angin meniup mata dengan keras. Kenapa harus tutup mata? Karena orang lokal merasa kalau naik motor pakai helm itu "bencong", gak keceh, lame. Dasar!!

Selain karena dekat, keluarga kami juga punya rumah di Sipolha, salah satu nama tempat di daerah Danau Toba. Kalau mau ke Parapat, pasti lewatin Sipolha. Itu juga kalau berangkatnya dari Pematang Siantar. Kalau gak, ya gak lewatin lah.

Dulu, waktu gue masih kecil, oppung (sebutan batak untuk kakek/nenek, oppung doli untuk kakek, oppung boru untuk nenek) gue punya rumah tepat di tepi air Danau Toba. Nah, pada suatu hari, karena mungkin air danau sedang pasang, maka rumah oppung gue itu dengan sukses melosok ke dalam  danau. Amblas gitu. Masuk ke dalam tanah. Gue tercengang (mendengar ceritanya). Gue pernah maen disana, tapi selang beberapa waktu, rumahnya lenyap begitu saja. Setelah gue tanya sana sini, bak detektif yang sedang mencari ujung benang yang sedang kusut, akhirnya gue menemukan kebenaran bahwa rumah itu amblas. Sejak saat itu sampai sekarang, oppung gue pindah ke rumah agak ke atas dikit. Biar jangan kena air pasang lagi. Hehehe. #kasihan oppung gue..
Rumah Bolon di Sipolha
Tapi, walaupun gue udah sering wara wiri ke Danau Toba, kunjungan gue Desember lalu terasa begitu spesial. Gak tau kenapa. Mungkin karena gue makin keceh? Entahlah. Mungkin karena gue makin mirip artis Korea? Maksa banget. Mungkin karena gue pakai baju warna putih? Apa hubungannya? Atau mungkin karena gue udah 5 tahun gak main kesitu lagi? Gue rasa pertanyaan terakhir lebih bisa berterima di akal sehat kita semua.

To be perfectly honest, gue rindu banget ama Danau Toba. Waktu gue kuliah di Bandung, gue iri dengar cerita temen2 gue yang wisata ke Danau Toba. Jadi kali ini gue balas demdam. Rasakan pembalasanku. Huahahahaha #ketawa setan

Alasan kunjungan gue ke Danau Toba kali ini simpel aja, nostalgia.

Karena lokasinya dekat, gue pun berangkat rada siang. Gue pergi naik mobil sewaan. Dan, petualangan pun dimulai.

(note: sewa mobil + supir + bensin hanya IDR 250000/hari)

Pertama, gue pengen banget makan ikan yang di tombur. Tombur adalah salah satu jenis masakan batak, biasanya untuk ikan. Ikan di bakar sampai matang, kemudian di hidangkan dengan bumbu. Bumbu inilah yang sangat spesial. Terbuat dari berbagai resep rahasia batak (tenang aja, gak ada yang haram kok) seperti, kemiri, cabai, merica, andaliman, ittir2 (bumbu khas Batak), dlsb.

Akhirnya gue pergi ke Sipolha Baringin, demikian nama kampungnya, karena disana ada saudara gue yang memiliki keramba, kolam apung di tepi danau. Gue pesan beberapa kilo ikan mujair dan si nelayan itu pun pergi ke kerambanya.

(note: lebih baik pilih ikan yang bobotnya 1-2 ekor/kilo)

Sambil menunggu, gue main dulu ke tiang sopo (gubug) yang ada di puncak tertinggi di tempat itu. Rencananya sih gue pengen bawa bendera ama tiang gitu, trus di tancepin di puncaknya. Tapi, berhubung karena tampat ini merupakan areal pemakaman, maka gue gak jadi bawa bendera.

Sebenarnya disana hanya ada satu makam, yaitu makam Pintauli Br. Manik. Lu gak tau siapa kan? Sama, gue juga gak tau. Tapi katanya sih itu makam ortunya Djabanten Damanik, salah satu mantan Bupati Simalungun. Dan tiang sopo itu pun belum sepenuhnya jadi. Para pekerjanya meninggalkan proyek itu begitu saja. Yang ada hanya sisa-sisa batu bata. Kayaknya waktu mereka lagi membangun tiang sopo itu, tiba2 mereka dengar ayam berkokok, menandakan hari telah pagi. Jadi mereka langsung kabur, karena gak boleh kena sinar matahari #ini cerita apa sih? Tapi yang pasti, once you arrive at the top of the hill, you'll be able to see the beauty of Lake Toba and Samosir island. Pemandangannya indah banget. Cocok jadi sunset view point. Tapi, karena gue datang jam 3-4 sore, jadi gak bisa lihat sunset. Tapi, tak apalah. Masih ada lain hari.

Keramba dan Pulau Hole

Sunset view from the top
Dari puncak itu, ada jalan setapak, selain yang dipakai untuk naik tadi, yang akan mengarahkan kita ke Djabanten Damanik mansion. Bangunan yang cukup besar, unik dan artistik untuk kalangan masyarakat lokal. Dibangun di tanah yang lumayan luas, bangunan ini memiliki halaman rumput yang cukup luas yang pernah digunakan sebagai tempat breeding kuda. Gak tau dapat kuda dari mana. Gak tau juga kuda jenis apa. Pokonya, gue lihat kuda asli pertama kali ya di situ. Waktu itu gue lagi unyu-unyu. Jadi gue manjat pagar bangunan itu hanya untuk liatin kuda. Norak banget deh.

Di dekat pintu masuk bangunan ini, ada patung ayam jago yang lumayan besar. Mungkin suara kokok ayam ini yang membuat pekerja yang seharusnya membangun tiang sopo itu berhenti bekerja. Dan, karena telah membuat kekacauan, akhirnya ayam itu pun dikutuk oleh ibu kandungnya menjadi batu *mulai ngaco*. Lalu ada tangga masuk, dan sampailah kita di pelatarannya. Bangunan ini (setahu gue) selalu di kunci. Gak tau siapa kuncennya. Tapi pelatarannya yang lumayan luas biasa dipakai masyarakat setempat untuk tempat acara pesta, acara pertemuan, dlsb.

Tapi, kemaren gue gak mampir. Hanya numpang lewat aja. -___-

Setelah wara wiri, gue pun balik untuk ambil ikan yang dipesan tadi. Harganya? Well, gak nyampe 20 ribu kayaknya. Lumayan murah lah. Mengingat ikan masih baru di ambil, yang notabene masih hidup dan segar.

Seelah itu, gue balik ke rumah oppung gue yang hanya berkisar 2 KM dari tempat tadi. Nama tempatnya Jambur Na Bolag, yang artinya kampung yang luas. Masih di wilayah Sipolha. Gue minta tolong ama nantulang gue untuk mengolah ikan yang dibeli tadi menjadi makanan yang super lezat, untuk dijadikan makan malam. Sambil menunggu, gue pun turun ke pasir (sebutan mereka untuk mengatakan danau).

Inilah hal yang selanjutnya yang ingin gue lakukan, berenang dengan puas. Cuaca yang dingin tidak bisa menghalangi hasrat gue untuk nyemplung ke danau. Walaupun lokasi mandinya tidak begitu bagus (karena banyak rumput2 air yang tumbuh di pinggir danau dan juga banyak keramba yang membuat airnya sedikit amis), gue tetap menikmati mandi disana.

Tapi ternyata, setelah di pikir2 dan di coba2, berenang2 gitu doang ternyata bosan juga ya. Baru 30 menit nyemplung, gue udah bosan. Bingung mau ngapain. Mau main kuda, gak ada kuda. Mau maen PS, masa maen di danau?! Trus ngapain dong?

Aha!!

Akhirnya gue dapat ide. Ide jitu. Dan layak untuk dicoba. Walaupun rada berbahaya sih. Hmmm...

Ide apaan sih? Buruan deh, gak usah sok gitu!!

Sabar dong. Idenya adalah, NAIK SAMPAN!! *terdengar teriakan "booo" dari jauh

Gue dulu pernah latihan naik sampan, tapi gak bisa2. Gak ada salahnya kalau gue latihan lagi. Kebetulan gue ada lihat sampan nganggur di deket gue mandi. Akhirnya gue pinjem ama yang punya, kebetulan gue kenal.

-Pinjam solunya dulu ya kak (orang sana bilang sampan itu solu).
-Mau ngapain kau? Bisa rupanya kau pakek?
-Mau maen bentar kak. Bisalah. Masak udah lama disini gak bisa naek solu.
-Ya udah, pakek lah. Ini hole-nya (hole itu dayung, dibaca cara Batak, bukan Inggris ya)
-Makasih ya kak!
Akhirnya gue pun menghabiskan senja itu dengan latihan naek solu. Susah. Susah banget. Tingkat dewa deh. Kesulitan utama itu terletak di cara memajukan biar jangan belok-belok. Kalau kita dayung sebelah kanan, dia maju serong ke sebelah kanan. Kalau kita dayung sebelah kiri, dia maju serong sebelah kiri. Jadi harus bolak balik. Dayung kanan 4 kali. Trus, dayung kiri 3 kali. Gitu  terus. Aneh. Padahal, waktu gue nebeng naik bareng yang punya, dia nyantai aja tuh, gak pindah ke kanan dan ke kiri. Gak kepo kayak gue. Artinya, dia itu dewa. Dewa sampan. Eh, tapi dia itu cewek ya? #dibahas
Gue di dalam gentong tempat ikan


Lagi belajar naik solu

Setelah capek gak jelas di danau, gue pulang. Bilasan di rumah. Dan... waktunya pesta ikan. Enak banget. Selesai capek2 mandi, di lanjutkan dengan makan ikan tombur yang masih hangat, nasi yang masih mengepul, segelas teh manis dan segelas air hangat.

Ikannya manis. Dagingnya empuk banget. Sambelnya rada pedas, karena pengaruh ittir2 ama cabe rawit, bikin lidah jadi bergetar tak menentu. Slrrrpp.. *gambar menyusul*

Liburan kali ini mantap deh.

1 comment:

  1. Keren ternyata danau toba, kapaaan ya bisa kesana

    kunjungi juga kunjungi juga Blog Gue

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...