19 June 2012

Danau Toba (part 2) - Dari Danau ke Bukit

Sunset at Tanjung Unta
Picture taken from Panoramio.com
Setelah bernostalgia di Danau Toba beberapa hari sebelumnya, gue coba lagi untuk mengunjung danau yang menjadi tempat wisata paling populer di tanah Batak ini. Gue juga pengen mencoba keberuntungan gue, sekalian meng-galau ria disana. Manatau waktu gue lagi lenjeh-lenjeh di sana, tiba2 ada cewek yang mau kawin ama gue. Atau, tiba2 ada ikan mas yang ngajak ngobrol, trus gue bawa kerumah. Sampe rumah, ternyata dia berubah menjadi wanita cantik dan minta di kawinin. #kekeuh. Atau mungkin juga, waktu gue lagi berenang keceh disana, tiba2 ada monyet yang datang minta kawin ama gue. *serem banget sih*

Oke, gue harus bisa fokusin diri gue. Fokus!!
Nah. Off to topic..

Kalau mendengar kata Danau Toba, orang pasti langsung mikir Parapat. Pusat objek wisata di Danau Toba. Tapi jangan salah. Ada satu tempat yang diperkirakan akan mengganti kedudukan Parapat itu, namanya Batu Hoda (batu kuda). Dibanding Parapat, tempat ini lebih bersih dan teduh. Gak crowded kayak di Parapat. Selain itu, living cost-nya juga lebih rendah. Walaupun fasilitas gak sehebat dan selengkap yang ada di Parapat. Tapi tenang saja, di Batu Hoda juga sudah mulai bertebaran penginapan2 dan rumah makan murah di sepanjang jalan. Rate-nya sih gue ga tau berapa. Tapi pasti gak semahal yang di Parapat. Buktinya, gue aja masih berani berwisata ke Batu Hoda.

Batu Hoda
Karena itulah, tujuan wara wiri gue kali ini adalah Batu Hoda (batu kuda) dan Simarjarunjung. Lokasinya berdekatan. Batu Hoda itu adalah sebuah pantai panjang dengan pasir putih dan kerikil yang beradu dengan hempasan ombak. Sebuah swimming spot yang terletak di dekat objek wisata Tiga Ras di kabupaten Simalungun. Di namakan Batu Hoda karena di sepanjang swimming spot ini terdapat banyak batu batu besar dan kecil. Bahkan ada yang konon katanya mirip kuda. Sedangkan Simarjarunjung adalah puncak tertinggi di sekitar wilayah itu, dimana pada puncaknya terdapat pemancar stasiun TVRI.

Untuk mencapai tempat hanya diperlukan waktu 45-60 menit dari Pematang Siantar. Dengan jalan yang kecil, meliuk liuk, naik dan turun, tempat ini bisa dijangkau dengan mudah baik dengan menggunakan sepeda motor, mobil pribadi, minibus, ataupun truk. Silahkan pilih sendiri. Gue sendiri prefer naik sepeda motor. Jadi sembari jalan, bisa menikmati sejuknya suasana kebun teh di sepanjang jalan. Selain itu, akan ada atraksi di jalanan yang rusak di sepanjang kebun teh yang akan menemani perjalanan kita ke tempat tersebut. Cucok deh.

Batu Hoda
Begitu menjejakkan kaki di Batu Hoda, gue langsung heboh. Lari sana, lari sini. Teriak sana, teriak sini. Lompat sana, salto sini. Pokoknya heboh banget deh. Orang2 aja pada lihatin. Aneh. Begitu mungkin pikir mereka.

(note: HTM masuk ke Batu Hoda adalah IDR 2500)

Tanpa nunggu ba-bi-bu-be-bo, gue langsung ganti baju. Langsung pake baju Superman. Hahaha.. Kagaklah. Gue langsung pakai celana renang. Tenang aja, tempat ini udah keren kok. Pengelola menyediakan ruang tersendiri untuk ganti baju, bilasan dan kawin #Ebuset!!

Airnya jernih. Trus tempatnya sangat cocok untuk berenang2 dan snorkeling. Tapi, karena biota lautnya kurang eksotis dan variatif, jadi gak ada yang pernah snorkeling di tempat ini. Gue sendiri gak yakin mereka tau arti snorkeling atau gak. Hihihihi

Gue pun mulai berenang dengan gaya yang sangat gue kuasai dengan baik, yaitu gaya batu. Jadi, gitu gue nyemplung di tempat yang agak dalam, gue langsung kelelep. Tenggelam dengan sukses. Gak bisa ngapung. Parah.

Sebenarnya gue bisa berenang gaya dada. Jadi gitu nyemplung di tempat yang agak dalam, kasusnya sama seperti yang diatas, gue langsung melambaikan tangan dan bilang "dada(h)" alias tenggelam. Itulah berenang gaya dada versi gue. Parah memang.

Intinya adalah, gue gak bisa berenang. This is disaster. Masalah besar!!

Untungnya pengelola tempat itu punya solusi jitu untuk menangani pengunjung2 seperti gue. Mereka nyewain ban. Ban buat ngapung. Besar dan kecil. Dan gue pun sewa satu, bisa dipake sepuasnya. Mau lu sampe seminggu gak keluar2 dari danau, terserah. Uang sewanya sama aja ama yang cuma pakai sejam.

Gue pun mulai menyusuri tekad gue jauh ketengah danau. It's safe. And beautiful. Also challenging, coz I can't swim. But overall, it's a wonderful experience.

Selain sewa ban, pengelola juga menyewakan banyak hal lain, seperti tikar untuk lenjeh lenjeh, solu untuk balapan, karaoke di kafetaria, cewek untuk jadi pacar, dlsb. Pokoknya enak deh.

(note: sewa ban IDR 5000. Sewa tikar IDR 25000. Sewa cewek, bayar pakai nyawamu! Sewa perahu motor IDR 15000/orang, sewa karaoke gak tau berapa harganya)

Di sepanjang pantai ini terdapat banyak batu. Tapi ada sebuah batu yang sangat spesial. Batu yang bisa membuat gue jatuh cinta. Sebuah batu besar, jaraknya sekitar 10 meter dari bibir pantai. Di batu ini, sering dijadikan tempat berjemur, istirahat, atau tempat untuk remaja untuk "indehoy". Tapi, jangan ada yang macam-macam (melanggar aturan dan adat) di tempat ini, kata nenek itu berbahaya.

Setelah puas berenang dengan ban, gue pun mencoba peruntungan gue dengan memasang nomor 3254. Hahaha. Bukaaan!! Yang ada, gue dan beberapa orang disana sepakat untuk sewa perahu motor, sebuah perahu yang bisa menampung lebih dari 10 orang. Destinasi kami adalah Tanjung Unta.

Kok namanya aneh, gan? Iya, soalnya tanjung yang tidak terlalu besar ini berbentuk dua punuk unta. Jadi masyarakat setempat menyebutnya Tanjung Unta.

Di tanjung ini hanya terdapat beberapa rumah. Selebihnya kosong. Ibarat padang rumput. Indah, teduh dan menenangkan, dan juga hijau. Biasanya tanjung ini menjadi objek fotografi para pecinta fotografer, khususnya yang suka dengan pemandangan alam, karena memang tempatnya luar biasa indah, dengan efek warna biru gelap dari Danau Toba, dan Pulau Samosir dan Tomok terlihat di kejauhan, serta langit yang bersih membuat hasil foto akan semakin indah. Dan jiwa pun tenang. #ada hubungannya ya?

Kami pun mulai perjalanan motor boat kami. Hanya beberapa menit saja kami sudah sampai di tujuan. Walaupun tidak boleh landing, tapi mellihat dari dekat saja sudah cukup bagi orang2 ini. Bagi gue sih belum cukup. Gue pengennya bisa mendarat disana. Memeluknya. Menciumnya. Dan merasakan ketenangan yang dia berikan. #lebay

Sepanjang perjalanan pulang, kami disuguhkan dengan pemandangan pukat2 nelayan setempat, pemukiman penduduk dengan rumah yang terpaut jauh dari tetangganya, bebatuan dan air. Gak penting deh.

Sampai di pantai, lagi, mata gue yang udah terlatih ini menangkap orang sedang karokean di kafetaria yang ada disitu. Katanya sih untuk karokean harus bayar dulu. Tapi karena gue orangnya baek hati, jadi aja gue beraniin diri bergabung bersama mereka. Ada satu set cube dengan loudspeaker, 2 mic, satu keyboard, satu pemain keyboard, dan satu buku lagu yang 98% isinya lagu batak semua. Jadilah kami bernyanyi gak jelas disitu, didampingi oleh permanian keyboard yang ada dan beberapa botol bir. Aseeeeeekk..

Setelah itu, lanjut makan siang, tetap pakai ikan tombur. Mantap bah!!


Ikan bakar.
Persiapan untuk makan siang

Berenang pakai ban


Tanjung Unta dari dekat
Bukit Simarjarunjung
Perjalanan dilanjutkan ke bukit Simarjarunjung. Bukit yang terletak dekat daerah Sipintu Angin. Sesuai dengan namanya, tempat ini selalu disapu oleh angin yang rada kencang. Makanya udara di tempat ini sangat dingin.

Sepanjang perjalanan menuju tempat ini, kita akan disuguhkan pemandangan perkebunan teh di sisi kiri dan kanan jalan. Sekilas mirip jalan ke Situ Patengang di Ciwidey, Bandung. Bedanya, kalau mau ke Situ patengan, jalannya menurun. Kalau mau ke Simarjarunjung, jalannya mendaki.

Sebenarnya tidak ada apa2 di bukit Simarjarunjung, selain satu bangunan hotel, satu rumah makan, stasiun pemancar TVRI (yang pagar masuknya biasanya terkunci dan kadang terbuka), dan satu daerah lapang berumput hijau yang berbukit-bukit. Jadi, orang datang kesini, selain untuk potoan dan narsis jali, hanya untuk sekedar lenjeh lenjeh menikmati dinginnya hari. Kadang bisa terlihat beberapa kelompok orang sedang membuat acara outing atau fellowship di tempat itu, sambil nyanyi2 gak jelas atau maen game yang gak jelas juga.

Eh, sebenarnya ada satu hal yang patut di lihat di tempat ini, yaitu tempatnya yang kotor banget. Sampah berserakan dimana2. Plastik, kaleng, kertas dan sampah lainnya bertebaran di seluruh lapangan berumput tempat orang lenjeh lenjeh. Sangat mengurangi kenyamanan. Trust me!!

Jadi, gue juga datang kesitu hanya sekedar lenjeh lenjeh. Tapi, gue kedinginan. Banget. Sweater yang gue pakai gak sanggup menghangatkan kulit gue yang sensitif terhadap hawa dingin. Akhirnya gue hanya duduk sambil menggigil di sana, sambil melihat banyak pengunjung yang sedang buat acara masing2.

Sesuai pepatah, dingin pangkal lapar. gue pun mulai mencari makanan hangat yang bisa menolong gue. Makanan yang bisa gue buat jadi first aid bagi kondisi gue yang sekarat. Gue lihat2, lumayan banyak pedagang bertemaran disitu. Ada yang jual sate padang, bakso, gorengan dlsb. Pilihan gue jatuh ke restoran. Gue pun dengan yakin melangkahkan kaki ketempat itu dan pesan POP MIE. Hahahaha.. Saat itu, hanya pop mie lah makanan yang rada manusiawi di tempat itu. Simpel, hangat dan mengenyangkan. Juga murah, dan enak. siapa yang gak suka mie? Semua orang suka mie.

View Danau Toba dari Simarjarunjung


Orang yang lagi buat acara di Simarjarunjung
 Karena cuaca semakin buruk, bagi gue dan si buah hati, akirnya gue mutusin udah saatnya hengkang dari tempat itu. Daripada gue kena flu danau toba, kan bisa berabe.

3 comments:

  1. "Hi!..
    Greetings everyone, my name Angel of Jakarta. during my
    visiting this website, I found a lot of useful articles, which indeed I was looking earlier. Thanks admin, and everything."
    Aktual

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...