16 June 2012

Menaklukkan dan Ditaklukkan Gua Buniayu, Sukabumi


Akhirnya, hari yang ditunggu2 pun tiba. This is D-Day!! Hari dimana gue akan mempertaruhkan hidup dan segala yang gue punya. Hari dimana masa depan gue jadi jelas. Hari dimana gue pada akhirnya akan mencapai sesuatu dalam hidup ini. Hari dimana burung2 tak lagi berenang di dalam got dan selokan. Hari dimana harga2 sembako tidak lagi mencekik. Hari dimana semua pria dan wanita tak lagi mempermasalahkan perbedaan gender, hak dan kewajiban. Hari dimana korupsi sudah dibasmi dari Indonesia. Hari dimana vokalis band Radja pada akhirnya akan membuka kacamata hitamnya untuk pertama kali di depan publik (dan semua orang menanti2kannya, untuk memastikan apakah dia benar2 juling atau hanya bermata satu, atau bahkan bermata laser, seperti X-Men).

Hari dimana nama gue akan dielu2kan di kolong2 jembatan di Jakarta atas usaha gue membuat pesawat terbang (dari kertas). Hari dimana Pak SBY mengaku bahwa kantong matanya bisa se besar dan se-kentara itu adalah hasil dari perjuangannya meminta kenaikan gaji yang pada akhirnya tidak disetujui (Alamakk!!).. Lebay banget sih, tapi intinya hari ini gue backpacker-an untuk yang pertama kalinya dalam hidup gue, dengan tujuan Gua Buniayu, Sukabumi. Horeee.. #senengbanget #lari2kelilingkomplekssambiltereakkesenangan #ditimpukinwarga *_____*

Setelah packing, gue pun ijin ke paman gue, tetangga2 gue yang udah dukung dalam doa, tukang bubur ayam langganan gue tiap hari Sabtu (you are the best, deh, pokoknya), penjaga keamanan kompleks rumah kami yang udah menjaga gue tidur sehingga bisa bangun dengan segar hari ini, dan anak sekolahan yang kebetulan lewat depan rumah kami (apa hubungannya, coba?). Janji ketemuannya sih jam 1 di Terminal Lebak Bulus, jadi gue berangkat lebih awal yaitu jam 9.30, secara rumah gue ada di Tangerang dan hari ini hari Sabtu, yang pasti jalanan akan macet. Dari Cipondoh gue naik angkot ke Ciledug, disambung dengan angkot ke Lebak Bulus. Dan benar saja, ternyata jalanan itu macet parah, apalagi di Bintaro. Huft..

Setelah stress menempuh perjalanan yang ngulet kayak keong, akhirnya gue nyampe juga di terminal Lebak Bulus dengan selamat. Ini sebuah pencapaian, soalnya pernah gue bulan lalu nyasar 2 kali di Lebak Bulus. Gue nyampe jam 11. Shit!! It means 2 hours to go. Untungnya tadi gue sempat beli nopel di Ciledug, jadi bisa bunuh waktu dengan lebih efisien. Tapi sebelum itu, yang paling penting adalah gue harus isi perut dulu, secara ini udah tengah hari. Gue lihat kiri-kanan, yang ada hanya calo2 dan preman2 terminal yang melototin gue dengan ganas dan binal, gue lihat depan belakang, yang ada hanya angkot dan metro mini, ditambah halte busway yang mentereng di depan terminal. Akhirnya gue keluar terminal untuk nyari makan, soalnya tadi gue sempat lihat ada Mall atau Supermarket deket2 situ.

Baru aja gue keluar dari terminal, penyelamat gue langsung tersenyum. Ya, penyelamat gue adalah "abang tukang-ketoprak-yang-mangkal-di-depan-terminal". Gue mikir2, apakah gue harus membalas senyuman si abang2 itu atau haruskah aku lapor polisi. Hati ini pun bimbang. Gelisah tak menentu. Sebelum gue akhirnya ambil keputusan apapun, perut gue memaksa untuk berdekatan dengan abang tukang ketoprak itu. Setelah merasa jarak diantara kami cukup untuk melakukan keintiman, gue pun membisikkan kata2 pamungkas yang udah gue latih selama 2 bulan di rumah. "Bang, gue hamil," bisik gue ke telinganya. Sontak dia terkejut dan lari tunggang langgang meninggalkan gerobak ketopraknya. Sinetron banget ya?? Hahahahah ^____^ Kagaklah. Yang ada, gue datang ke abang itu dan bilang, "Bang, ketopraknya 1, tapi porsi 2 ya. Yang pedes." Si abang ngangguk2 aja, lalu melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan, gue pun makan. Slurp!!

Penantian pun dimulai!! Benar kata orang, menunggu adalah hal yang paling membosankan walaupun u've got sumthin to kill the time. Sejam menunggu, belon ada yang datang. Dua jam menunggu, tetap belon ada yang datang. Akhirnya, setelah 2 jam lewat 2 menit, baru lah bermunculan satu per satu tuh anak2. Terus bermunculan satu persatu sampai jam 4 sore, masih ada satu orang lagi yang belum datang. Huft.. Bayangin udah berapa jam gue nungguin!! Nge-gembel sukses di terminal Lebak Bulus <-- kalau reader kebetulan ada yang lihat orang gak jelas di terminal lebak bulus tanggal 2 Juni 2012 lalu, well, unfortunately, that's me - and my friends!! *__^

Setelah pada akhirnya kami semua terkumpul, eh, berkumpul, mulailah kami mencari bus yang akan membawa kami ke Sukabumi. Sialnya, karena hari sudah sore (mungkin) jadi jarang bus yang langsung ke Sukabumi, walaupun tetep ada sampe jam 9 malam (katanya sih). Akhirnya kami pun memutuskan untuk naik bus ke Bogor untuk kemudian naik angkutan Bogor-Sukabumi. Dan dimulailah segala kesialan itu. Sial!!

To sum up, setelah kami sampai di terminal Bogor, ternyata angkutan yang ke arah Sukabumi hanya mobil sejenis L300 yang selalu penuh penumpang. Ditambah hujan deras yang dengan sukses membuat kami kacau balau, lengkaplah semua penderitaan kami. Pada akhirnya, solusi yang kami dapat adalah untuk menyewa satu mobil L300 dan menjemputnya di Ciawi.

Nge-gembel di bahu jalan di Bogor
Untungnya, kami berhasil mendapatkan supir keceh yang bersedia mengantarkan kami ke Sukabumi dalam keadaaan hujan deras, topan badai dan petir yang menyambar2. Dengan berpegang erat pada rambut masing2, kami pun akhirnya berangkat dan sampai jam 10 malam (atau jam 11 ya?? Lupa!!) di meeting point <-- tempat si guide akan menjemput kami untuk membawa kami ke penginapan.

Well, setelah pindah ke mobil jemputan, gue pikir lokasinya tinggal hitung meter. Ternyata, dengan perut yang bergejolak kelaparan, mata yang tidak mau dibuka dan kesadaran yang perlahan-lahan pergi menjauhiku, perjalanan jemput menjemput ini makan waktu sampai satu jam juga. Jadilah, kami semua TEPAR di mobil jemputan. zzzzzz...

Singkat cerita, akhirnya kami pun tiba di penginapan. Sebuah rumah kayu dengan 3 kamar, dan ruang tengah plus ruang kumpul seadanya. Sepertinya emang disiapkan untuk pengunjung2 seperti kami. Setelah makan malam - makanannya lumayan enak, trust me!! - kami pun mulai briefing.

Welcome to Gua Buniayu!!


Suasana Briefing Malam
Besok paginya, petualangan di Gua Buniayu pun dimulai..
Here goes..

Rencana untuk start caving jam 3 subuh gagal karena ada teman yang minta dimundurin waktunya. Jadi aja kami mulai mengembara jam 5 pagi. Setelah sarapan (nasi goreng), kami pun mulai ganti baju untuk caving. Semua sibuk milih ukuran, coba sana coba sini sampai dirasa pas. Gitu juga ama sepatu dan helm. Setelah 30 menit yang hectic, akhirnya kami pun berubah menjadi naruto-naruto era millenium. Hehehehe
 
Kami VS Naruto


Pertama2, kami harus pergi ke gua perkenalan (atau gua wisata? hehehehe.. lupa) untuk melihat dan mengenal elemen2 yang ada di gua. Kami di kenalkan dengan stalaktit dan stalakmit, binatang2 gua dan berbagai elemen yang ada di dalamnya. Dengan kedalaman dan kegelapan yang biasa saja, kami rasa kami dapat menaklukkan gua yang sebenarnya dengan mudah (kami tidak mengetahui rintangan apa yang telah menanti kami di gua yang sebenarnya).

Perjalanan pertama itu hanya memakan waktu 15-20 menit (lamanya hanya karna poto2 doang, hahahaaha). Selanjutnya kami balik ke titik awal untuk bersiap2 memasuki Gua Buniayu (yang disebut juga dengan Gua Siluman oleh penduduk setempat, walaupun sebenarnya tidak ada hubungannya dengan siluman dan saudara2nya. ^___^).

Setelah istirahat sebentar dan bersiap2 (memasang harness, mempersiapkan obor untuk pemandu, mempersiapkan senter, headlamp dan sejenisnya untuk peserta), kami pun memulai petualangan kami.

Touchdown Di Gua Vertikal
Tantangan pertama yang harus kami lalui adalah, diturunkan lewat tali ke dalam gua vertikal sedalam 15 meter (or more) pake tali tambang. I'm all exited coz this is my first time doing stuff like this. Well, untungnya semua semua berhasil masuk tanpa ada kecelakaan yang berakibat fatal, hanya ada satu orang teman kami yang kepleset dan keseleo. Intinya, kakinya terkilir. Duh.. kasihan!

Setelah touchdown di dasar gua, kegelapan datang menyergap di dalam ruangan yang berbentuk seperti di dalam kendi itu. Satu2nya sumber cuaca alami hanya dari lubang kecil di atas, tempat kami masuk tadi. Selebihnya, ada 2 headlamps milik pemandu yang dapat menerang jalan kami dengan diameter 4 meter. Huft..

Masuk gua melalui lubang yang kecil ini


On my way down..


The only light source

Gua Air yang Artistik
Gua yang pertama yang kami taklukkan adalah gua air. Disebut gua air karena ada sungai yang mengalir di sepanjang gua ini (+/- 3 KM). Selain air yang mengalir di bawah yang kedalamannya bervariasi dari mata kaki sampai pinggang orang dewasa (ada juga beberapa tempat yang kedalamannya sampai dada orang dewasa) ada juga air yang menetes dan merembes dari atas melalui stalaktit yang tersebar di seluruh langit2 gua yang membentuk batu2 yang ada di bawahnya (note: Gua Buniayu pada dasarnya adalah gua batu kapur).

Tidak banyak tantangan pada tahap ini, manuver2 yang kami lakukan belum bisa dibilang fantastik, walaupun ada satu bagian dimana kami diminta turun beberapa meter lagi underground. Tapi jangan salah. Justru karena kurang menantang, di tempat ini kita bisa menikmati keindahan batu2 yang diukir secara alami oleh air yang menetes dari atas. Sungguh, itu adalah pemandangan yang sangat indah. Kalian tidak akan bisa mnegerti bagaimana tetesan-tetesan air yang mengalir secara terus menerus bisa membuat dan mencetak batu2an menjadi sedemikian indahnya. Seolah tetesan2 air tersebut sebelumnya sudah diberikan misi untuk membuat karya seni di tempat yang bahkan tidak tersentuh oleh cahaya matahari. Setiap tetes memainkan perannya dalam pembentukan karya seni tersebut, sehingga pada akhirnya karya seni itu bisa memberikan penghiburan dan kesenangan khusus bagi pengunjung Gua Buniayu yang rindu akan keindahan.

Hal yang menarik lainnya dari tahap ini adalah, setelah +/- 2 KM berjalan di gua air, kami berhenti dan beristirahat pada sebuah tempat yang lumayan lapang. Kami makan, minum, potoan, becanda dlsb. sampai pada akhirnya pemandu kami meminta untuk mematikan semua sumber penerangan yang ada untuk menciptakan efek void - kegelapan abadi. Dan benar, setelah kami mematikan semua sumber penerangan kami, diakhiri oleh pemandu yang meniup obornya, tiba2 kegelapan yang sangat pekat menyelimuti tempat itu dan menelan kami semua. Kami gak bisa lihat apapun, bahkan jari tangan yang diletakkan di depan mata. It is really a void. Seolah2 kami berada di dunia lain, atau di dunia di antaranya. Intinya kami berada di dunia yang berbeda, dunia yang belum pernah kami kenal sebelumnya. Dunia dimana.. #mulai deh..


Stalaktit, stalakmit dan aliran air yang jernih

Menyusuri pinggiran gua
Menyusuri sungai di dalam gua
 Setelah beberapa menit di dalam kegelapan hampa, pemandunya berkata, "Coba sekarang semua diam dan perhatikan ke sebelah sini" katanya sambil nunjuk. Tapi gak kelihatan. Ya iya lah, namanya juga lagi gelap2an. Hihihi.. Trus dia bilang, "Sebentar lagi di sebelah kiri atas suara saya akan ada cahaya kecil yang kelap-kelip seperti kunang kunang. Jangan heran, karena (kemungkinan) itu memang kunang-kunang." Dan, benar saja. Tidak sampai 20 detik dia ngomong gitu, tiba2 ada satu, ingat SATU, cahaya kecil temaram yang mengitari bekas suara pemandu tadi. Seperti sihir saja. Pertama sih gue curiga itu pasti trik-nya si pemandu. Eh, ternyata cahayanya terbang semakin jauh dan tinggi dari suara si pemandu tadi. Gue pun bingung. Hipotesis gue ditolak. Jelas2 dia tidak mungkin melakukan trik hebat seperti tadi. Anehnya, belum sampai semenit cahaya remang2 itu menakut2i kami, si pemandu langsung menyalakan obornya, seolah berkompromi dengan sesuatu. Dengan alam mungkin. Entahlah, gue juga masih penasaran. Ada apa dengan cinta??

Gua Lumpur yang Challenging
 Oke. Gue pikir gua yang kami lalui bakal gitu-gitu doang. Tanpa ada sesuatu yang bisa membuat kami mengingatnya sambil berkata "Sial banget!" atau "Kurang ajar baget kan?!". Ternyata eh ternyata, setelah berjalan beberapa KM lagi, dengan manuver yang bisa bikin helm lepas dan kancing baju copot, akhirnya kami sampai di GUA LUMPUR. Iya, gua lumpur. Walaupun tidak sepanjang gua air tadi, tapi dibutuhkan tenaga dan niat dan ke-ikhlas-an untuk menjalaninya. Begitu menapakkan kaki di dalam lumpur yang tingginya selutut orang dewasa, kita akan lengket di tempat. Ibarat langsung di lem gitu kakinya. Gak bisa diangkat. Nempel. Plek!! Waktu di coba di angkat, yang ada malah sepatu boot yang kami pakai lepas. Jadilah kami sibuk di genangan lumpur itu, seperti kerbau rasanya. Kerbau pendek. Dan kurus.

Untuk bisa maju, tiap orang harus membantu mengangkat-kan (atau melepaskan?) kaki + sepatu orang yang di depannya dari lumpur.  Begitu terus sampai pada satu titik ketika tenaga kami sudah habis terkuras (bukan karena berusaha lepas dari jerat lumpur yang mengerikan ini, tapi karena kebanyakan tertawa), akhirnya banyak juga yang tidur, merayap, merangkak di atas lumpur. Pokoknya, udah hampir semua pose menantang kami coba. Mulai dari pose panas (pose sambil megangin api obor si pemandu), pose syur (pose sambil mengang syur bayam, kangkung, dll) dan pose-pose lain.

Setelah semuanya bergumul dengan lumpur, disini lah ide kreatif kami bermunculan. Salah satu yang paling kreatif yang patut di coba adalah PERANG LUMPUR. Kalau biasanya orang lain perang salju, kami melakukan hal yang berbeda, yaitu perang lumpur, dengan harapan kegiatan ini bisa menjadi wadah latihan kami untuk perang salju di hari yang akan datang. Hahahaha.. Maklum, kami belum ada yang pernah berhubungan dengan salju. Dimulai dengan satu lemparan di kepalaku, dilanjutkan dengan sejumlah gumpalan lumpur yang beterbangan di udara mencari objek yang bisa di jadikan sasaran. Walhasil, kami semua belepotan lumpur <-- padahal sebelum perang lumpur juga kami udah belepotan duluan. Hehehehe

Tapi, menurut gue, hal yang paling seru dari kegiatan caving ini ya maen lumpur tadi. Asyik banget deh!! Kita bisa mengingat lagi masa kecil kita waktu maen lumpur. Wah, gak pernah maen lumpur? Kasihan.. Cup cup..

Akhirnya, cahaya pengharapan di dalam kegelapan yang mencekam.
Artinya, Jalan keluar!!


Hasil dari bermain lumpur

Showdown di Air Terjun
Setelah semua berhasil keluar, walau dengan separuh nafas dan semangat yang patah, akhirnya tiba bagian yang paling menyenangkan, namanya... lupa gue. Jadi, di dekat jalan keluar gua itu ada air terjun yang biasa di buat untuk kayak acara turun tebing gitu, pake harness, trus turun dari air terjun pake tali. Walaupun lu pikir biasa aja, but trust me, it's not just ordinary. Di butuhkan tulang yang kuat, gigi yang putih, rambut yang bebas dari ketombe dan dompet yang penuh dengan kertas2 tagihan untuk dapat melakukannya.

Selesai melepas penat sebentar, kami pun capcus ke TKP. Lumayan jauh juga sih jalannya. Tapi, demi kau dan si buah hati, apapun akan gue jabanin. Hehehe..

Sampai disana, kami bersih2 dulu, baru setelah itu siap siap untuk... aduhh.. kok gue bisa lupa namanya ya??


Bersih-bersih


Ini nih yang gue maksud.. (ada yang tau namanya?)
Ini gue lagi dalam proses
 Setelah semua merasa dirinya bersih dan cukup berani mencoba hal yang diatas itu (Sial!! Sedih banget gue lupa namanya..), kami pun balik ke penginapan, yang berupa gubuk papan dengan beberapa kamar dan 2 TV yang tidak bisa di pakai. Setelah makan siang, kami pun pulang. Hurraaaaaaaayyy..!!!

Setelah diantar ke terminal di Sukabumi, kami pun kewalahan mencari bus ke arah Jakarta. Soalnya sodarah sodarah, matahari sudah lama kembali ke peraduannya ketika kami tiba disana. Sehingga, tidak ada lagi bus yang dapat membawa kami. They are done for that day.

Akhirnya, setelah nego yang alot, buka sana buka sini, cium sana tendang sini, ada bus yang mau bawa kami sampai Stasiun Kampung Rambutan. Dengan senang hati kami pun mau. Dan jadilah kami pulang, tanpa membeli moci. :((

Note: Bringing headlamp is a must when caving in Gua Buniayu.

PS: Setelah caving, besoknya gue tepar gak bisa masuk kantor. Huhu

2 comments:

  1. itu yang di air terjun namanya rafling bang. Ahahahahaha :D

    -chintya, yang nunggu di lebak bulus dari jam 12-

    ReplyDelete
  2. @Chintya: Hahahaha.. Ini die temen seperjuangan gue. Makasih ya udah kasitau namanya. Hihihihi

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...