21 June 2012

Trip to Palangkaraya - Kota Wisata Alam yang Terlupakan


Palangkaraya adalah ibukota dari Provinsi Kalimantan Tengah. Semua tau itu. Anak SD, koruptor, nelayan, napi dan mahasiswa pasti tau. Bahkan Nadine Chandrawinata tau hal itu. Walaupun dia masih tetap menganggap bahwa Indonesia itu adalah sebuah kota. Biarlah dia berkembang dengan pemikirannya itu. Tumbuh dalam persepsinya. Dan, menjadi tua dalam pendapatnya. Yang penting kita sepakat bahwa Indonesia itu adalah sebuah negara yang tertetak tidak jauh, mungkin bersebelahan, dengan negara Bali. #nah lo..

Jarang sekali gue mendapat cerita tentang petualangan orang di negeri suku dayak ini. Bahkan, pemerintah setempat seperti tidak menggalakkan kegiatan pariwisata untuk lebih memperkenalkan kearifan budaya yang bertebaran di Palangkaraya. Padahal, kalau dilihat lagi, ternyata potensinya cukup bagus. Kegiatan pariwisata di tempat ini jarang ditemui di tempat lain, walaupun kalau ada yang sama, tetap memberikan kesan tersendiri yang berbeda, dan yang lebih eksotis. Intinya, sama tapi tak serupa, Begitu bukan?

Ikon kota ini adalah Burung rangkong (Burung Enggang), burung cantik berwarna warni dengan paruh cerah berbentuk tanduk sapi terbalik. Bahkan, di dekat (satu2nya) terminal ama (satu2nya) bandara disana, ada simpang yang di sebut sebagai bundaran burung, karena memang ada patung burung rangkong besar disitu. Burung rangkong ini dijadikan sebagai contoh kehidupan bagi orang dayak untuk bermasyarakat agar selalu mencintai dan mengasihi pasangan hidupnya dan mengasuh anak mereka hingga menjadi seorang dayak yang mandiri dan dewasa. Sungguh tujuan yang mulia. Tapi kenapa harus burung ya? Apa karena burung itu mau punah? Gak mungkin. Kenapa gak semut? Atau pecel lele?

Suku asli kota Palangkaraya adalah suku Dayak Ngaju (Biaju). Mereka menempati sekitar 20% dari seluruh populasi disana. Dan karena di tempat ini masih banyak suku dayak, maka berwisata kesini, menurut gue, akan sangat menyenangkan, mendebarkan, dan mematikan (more about dayak ngaju, click here).

Gue serem aja dengar kata "dayak". Di pikiran gue itu yang muncul adalah seorang yang berkulit gelap yang hanya memakai kain2 yang bergelantungan untuk menutupi daerah selangkangan mereka, plus daun2an untuk menutupin titit mereka (bagi yang cewek). Terus bawa tombak di tangan kanannya, dan diangkat tinggi2 seperti mau bertarung. Gue juga gak tau kenapa harus bawa tombak. Kenapa gak bawa busur? Kan lebih keren. Atau bawa machinegun? Ebuset!! Entahlah, mungkin karena gue kebanyakan nonton film Hollywood. Trus, mereka gak pake alas kaki dan rambut  panjang warna hitam gelap yang tak ter-urus. Tapi.. tunggu dulu. Kayaknya gambaran yang muncul di otak gue itu suku Indian deh, bukan suku dayak. Payah nih Hollywood. #malah nyalahin orang..

Tapi ternyata sodara-sodara, pandangan gue meleset. Walaupun tidak semuanya. Eh, hampir semuanya ding. Orang Kalimantan itu (baik suku dayak maupun pendatang), hampir semua berkulit putih, bersih dan mulus. Kayak telur ayam yang baru keluar dari induknya. Muka mereka pun imut2 keceh, karena mereka memiliki tulang muka yang relatif kecil dibanding tulang muka brontosaurus dan orang batak. Pakaian mereka juga gak kalah ama pakaian orang2 yang tinggal di pulau jawa, keren dan up-to-date. Walaupun gak sekeren olga syahputra atau ivan gunawan. Siapa juga yang mau jadi kayak mereka? Lo mau?

Satu2nya gambaran gue yang rada benar tentang mereka adalah pakaian adatnya. Mereka memang memakai kain lurus tipis yang bergelantungan dengan sesuatu yang juga bergelantungan di sekitar daerah selangkangan mereka dengan memakai celana renang sekseh didalamnya. Jadi, celana renangnya ya kelihatan. Terus, mereka pakai rompi, tanpa pakaian dalaman, dengan warna senada sambil bawa golok dan perisai kayu dengan warna yang sama. Biasanya warna cerah, tapi banyak juga warna gelap. Pakaian mereka dilengkapi dengan penutup kepala yang berbentuk seperti ekor burung enggang, karena memang dibuat dari ekor burung enggang. Heboh dan keren. Membuat pemakainya lebih perkasa. Gue takjub melihatnya. Tapi, tolong di camkan, gambaran diatas adalah busana adat untuk kaum adam. Bukan untuk kaum hawa. Bayangin aja gimana kaum hawa pakai kain yang bergelantungan di sekitar selangkangan mereka *mulai ngebayangin*, kan gak keceh. Untuk kaum hawa, pakaiannya lebih keren lagi. Pokoknya mantaplah. Yang jadi point utama dari pakaian adat suku dayak yang cewek adalah cincin mereka yang berbentuk ekor burung rangkong. Kalau cowo di kepala, mereka di tangan. Menandakan, cowok itu kepala rumah tangga, dan cewek itu beres2 rumah tangga. #soktahu #ditimpukorangdayak..

Pokoknya, in one way, cewek2nya cantik. Jadi benar kata orang, kecantikan suku dayak itu adalah kecantikan yang alami dan misterius. I somehow got the misterious feeling around them. Not that I got casted by some spells or something, but it's more likely that each of them keeps big secrets with them. And I'm wondering what are their secrets.

Kenapa gue tau? Karena gue udah pernah kesana. Dan, Gratis. Alias, tidak perlu bayar. Alias, hanya perlu bawa diri dan baju aja.

Sebenarnya gue udah lumayan lama pergi ke Palangkaraya. Sekitar akhir tahun 2010. Waktu itu gue masih kuliah di Bandung. Dan karena gue masih kuliah, makanya gue bisa jalan2 gratis ke sana.

Jadi, waktu itu ada Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) Nasional untuk universitas se-Indonesia di adakan disana. Dan karena kampus kami sangat religius, maka kami pun mengusulkan untuk ikut bertanding kesana. Dan, proposalnya disetujui, lengkap dengan ongkos PP naik pesawat, penginapan selama seminggu, makan dan uang saku. Dan, kami pun capcus.

Kebanyakan waktu kami digunakan untuk latihan koor dan tanding. Selain untuk menyesuaikan tenggorokan dan diri dengan cuaca yang nauzubilah panasnya (asli, panas banget... panaaaaaaaaass banget), selayaknya seorang penyanyi, kami juga harus menyiapkan diri untuk tanding.

Ada beberapa lagu yang kami nyanyikan, 3 lagu Musica Sacra (lagu klasik), 2 lagu Gospel and Spiritual (lagunya orang kulit hitam) dan 2 lagu folklore. Untuk lagu folklore sendiri kami membawakan lagu berbahasa sunda yang berjudul Abdi Moal Mundur (Abdi Setia) dan lagu berbahasa dayak ngaju yang berjudul Oh Adingkoh! karya Gerhard Gerre (dengar lagunya disini). Lagu yang terakhir disebutkan itu susahnya minta ampun. Sumpah - susu tumpah!! Soalnya suara orang dayak itu cempreng tapi tetap bulat kalau nyanyi. Apalagi pas bagian karungut-nya (nyanyian khas dayak), ampun DJ. Hihihi..

Dibawah contoh kata2 dalam lagu dayak tsb. Maknanya gue lupa lagi, padahal gue dulu juga sempat belajar bahasa dayak ngaju ama teman.

Oh adingkoh jebakena..(oh adikku yang cantik..)
Tahi dia manduikan sungei, katining danum manampah atei mipen..(udah lama gak mandi ke  sungai, bla bla bla.. pokoknya membuat jadi kabita aja)
Tahi dia hasupa adingkoh sayang, biti benengkoh ije huyung hanyang..(udah lama gak ketemu adikku sayang, bla bla bla sempoyongan..)
Wisma Unio, tempat menginap yang benar2 nyaman.

Setelah bernyanyi lagu folklore di hari terakhir pertandingan.
Pengumuman di hari selanjutnya.
Setelah semua acara nyanyi bernyanyi selesai, panitia dengan baiknya memberi waktu satu hari untuk explore potensi wisata kota yang sangat panas ini. Satu hari doang. Duaaaaaaaa... *tiba2 terdengar ayu tingting dan pasha ungu nyanyi* #jadi iklan ind*mie..

Dengan waktu yang singkat itu, kami pun menyusun itinerary. Eh, engga ding, itin-nya udah di susun panitia, lengkap dengan bus pariwisata yang akan mengatar kami wara wiri satu hari ini. Ingat, SATU HARI!!

And the travel begins..

Bukit Batu Tangkiling


Pura Bukit Tangkiling
Picture taken from mastris.aaisitha.com
Destinasi pertama adalah bukit Tangkiling. Nama yang lucu untuk tempat yang sakral. Bukit Tangkiling adalah satu2nya bukit di Palangkaraya. Trust me. It's the only one right there (walaupun sebenarnya bukit Tangkiling terdiri dari 9 bukit2 yang tersebar di daerah itu). Selebihnya, Palangkaraya adalah kota yang datar. Bahkan jalan raya di sana lurus dan panjang semua. Jarang ada yang belok2, kecuali persimpangan tentunya.Tempatnya lumayan jauh dari wilayah perkotaan. Tapi tenang saja, di daerah sana masih terdapat pemukiman kok. Jadi sedikit sekali kemungkinan lu akan tiba2 di bacok oleh suku pedalaman. Walaupun kemungkinan itu masih tetap ada. So, beware!

Bukit Tangkiling memiliki suasana yang sejuk. Beda banget ama suasana kota yang feels like hell. Tempatnya nyaman dan teduh. Terus, sebenarnya apa yang ada di bukit ini? Kenapa bukit ini begitu spesial? Nah. berikut jawabannya. Bukit Tangkiling adalah pusat dari kegiatan sakral suku hindu kaharingan setempat, sebuah kepercayaan tradisional suku dayak setempat sebelum agama masuk ke Kalimantan. Jadi disana ada bangunan seperti candi atau pura. Pokoknya bangunan batu yang sangat unik dan tradisional. Bangunan yang lumayan besar itu mereka pergunakan sebagai tempat memberikan sesaji kepada yang mereka sembah. Tempat sesajinya hanya dari bambu biasa yang di ayak jadi seperti pendopo, tapi waktu gue masuk kesana, udah ada berbagai jenis bunga dan seserahan tersaji disana.

Di jalan menuju ke bangunan itu, terdapat rumah2 kecil yang tertutup. Bukan rumah tepatnya, hanya bangunan papan berukuran 1x1meter, setinggi 150 cm, walaupun ada beberapa bangunan yang lebih besar. Temen gue bilang rumah2 kecil itu juga merupakan tempat mereka meletakkan sesajian, tapi tujuannya beda. Selain itu, ada juga rumah yang dijadikan tempat menyimpan mayat atau tengkorak kerabat mereka yang telah meninggal. Kata orang sih. Makanya, sebelum kami menggila di tempat itu, guide yang mendampingi kami sudah wanti2 untuk tidak macem2. Cukup satu macam saja.

Tempat keramat. Gak boleh macem2.

Nemu beginian..
Disana terdapat batu yang super besar. Besaaaaaar banget. Kata orang itu adalah "batu apit dosa". Entah apa maksudnya. Tapi menurut bisik2 yang gue dengar, bila ada orang yang berdosa lewat batu itu, maka yang bersangkutan tidak akan bisa lewat, alias kejepit. Wah, aneh2 aja. Berarti semua orang yang lewat bakal kejepit dong?! Juga ada isu bahwa disana pernah bermukin sebuah kelabang raksasa sebesar nyiru kelapa. Tapi karena pamornya rendah, dia sekarang tidak mau menampakkan dirinya lagi.

Waktu gue pergi kesana, tempat ini masih dalam pembangunan. Jalan menuju bukit ini - kecil, menanjak, dan bolong2, lagi dibangun. Tidak adanya penunjuk jalan untuk mendapatkan tempat ini sering membuat wisatawan kebingungan menentukan arah mata angin. Loh, kok? Pokoknya lagi diperbaiki lah. Dulu kami waktu masuk kesana belum ada entry gate-nya. Sekarang kayaknya udah ada. Dan kalau mau masuk, harus bayar Rp. 1.000. Padahal dulu kami gratis <-- modal gratisan!

Cagar Satwa (atau apalah namanya)
masih berada di sekitar bukit Tangkiling, kami lalu di bawa ke sebuah tempat yang tidak jelas apa tujuannya. Sebenarnya ini sih kayak kebun binatang, tapi hanya ada kurang dari 10 binatang disana. Jadi, disamping tempatnya yang lumayan lapang dan teduh,(sangat cocok untuk kegiatan outdoor), selebihnya tidak ada alasan datang kesini. Tapi, karena kami sudah terlanjur datang kesini, maka kami pun mulai eksplorasi. Melihat seekor burung, seekor landak, beberapa binatang lain, dan beberapa buaya. That's it. Gak ada lagi. Hehehe..
Hiburan yang paling menarik di tempat itu: melempar buaya dengan kayu.

Penangkaran Orang Utan Nyaru Menteng milik BOS (Orangutan Information Center)

Perjalanan dilanjutkan dengan memasuki wilayah perhutani, tidak sampai 2 hari perjalanan dari bukit Tangkiling, namanya Orangutan Information Center. Sesuai dengan namanya, ini adalah pusat penelitian, pendidikan, pengembang-biakan, dan pelestarian saudara2 kita semua, yaitu orang utan. Tempatnya, udah pasti lebih teduh dari bukit yang tadi, secara tampat ini berada di tengah hutan. Typically perhutani deh.

Disini terdapat sebuah bangunan rumah yang berfungsi sebagai information center. Tepat di belakangnya, dibatasi dengan kaca yang tebal, adalah kandang orang utan yang sangat luas. Sebenarnya ada keinginan untuk explore ke dalam hutannya dan berinteraksi langsung dengan primata unik yang menjadi saudara jauh gue itu, tapi apa daya, untuk hari itu kegiatan seperti itu tidak diperbolehkan. Katanya, kalau hari2 yang lain sih boleh. Mungkin karena banyak yang datang kali ya. Padahal ada bocoran kalau di dalam itu keren banget. Kita bisa menemukan tanah yang becek dengan air gambut yang berwarna merah. Tapi tenang aja, kita gak bakal jalan ditanah berair itu, karena udah disediakan jembatan papan untuk melihat tumbuhan endemik disana. #sedih..


Akhirnya kami masuk kerumah yang terbuat dari papan tersebut. Gelap, dan sengaja dibuat gelap. Mungkin biar pancahayaannya sesuai dengan daya tangkap indra orang utan tersebut <-- asumsi prematur.

Tempat tersebut unik, dengan gerbang dari semen yang berbentuk kayu cemara, membentuk kanopi sebagai tempat bertenggernya nama dari tempat ini. Setelah itu, kita akan disuguhkan dengan pintu masuk yang berbentuk tirai yang (seolah-olah) terbuat dari akar dan rumbai tanaman. Sepertinya pihak pengelola ingin men-domestikasikan semua pengunjung tempat itu dengan suasana yang berbau hutan dengan cara menyuguhkan arboretrum disana. Suasana di dalam rumah itu lumayan sempit, dengan pencahayaan hanya dari kandang orang utan tersebut. Banyak kursi dan meja yang terbuat dari semen berbentuk potongan pohon pinus bertebaran di ruangan itu. Kursi2 tersebut diatur supaya menghadap layar monitor yang menggantung di depan kandang orang utan yang sedang memainkan video tentang orang utan. Padahal gue lagi pengen nonton Harry Potter waktu itu. Tapi gak di izinin. Di atap terdapat daun2 merayap yang terbuat dari plastik, walaupun hampir terlihat nyata karena penerangan yang minim di dalam. Disepanjang didingnya ditempeto poto atau sekedar informasi mengenai orang utan, tempat itu dlsb. Ada satu sisi dinding yang full dilukis (atau ditempeli) dengan pemandangan hutan. Heboh banget. Didalamnya ada gambar bunga bangkai, harimau sumatera, beberapa hewan lainnya dan beberapa pohon. Di depannya, ada patung gorilla hitam seukuran orang dewasa. Serem.

Ini tumbuhan merayap yang gue maksud.
Hanya terlihat beberapa orang utan di kandang. Katanya sih masih ada beberapa ekor lagi di tempat lain. Sewaktu kami liatin, para orang utan itu cuek aja. Mungkin, mental artis mereka sepertinya udah terasah dengan baik. Gue aja masih suka salting kalau dilihatin orang banyak. Apalagi banyak yang motoin gue, bisa merah padam muka gue. Hihihi.. Jadi aja kami hanya liatin para orang utan itu yang sedang bermain, makan dan melakukan aktivitas mereka masing2. Karena kelihatannya mereka sedang sibuk, akhirnya kami pun pulang. Gak baik ganggu orang (utan) yang lagi sibuk.


Danau Tahai
Namanya sih rada kotor, ada unsur "tai"-nya gitu. Walaupun terpisah. Tapi ketika diucapkan dengan cepat, "Tahai" akan terdengar seperti "taai". Gak percaya? Coba aja. Tapi tolong, jangan mencobanya dihadapan orang tua kalian. Bisa berabe.

Danau Tahai adalah danau hutan bakau. Artinya, Danau Tahai itu danau. That's it.

Yang spesial dari danau ini adalah warna airnya yang merah. Bukan merah seperti darah, tapi seperti coca cola. Atau seperti itulah. Hal ini dikarenakan air tanah gambut yang dihasilkan oleh hutan bakau disekitar danau tersebut. Mantap banget. Tapi seram. Hiiii..

Selain warna airnya yang berbeda, daya tarik dari danau ini adalah rumah apung. Jadi, ada beberapa warga yang rumahnya terletak di tengah danau itu. Walaupun hanya terbuat dari kayu dan papan, tapi rumahnya bagus, cocok untuk dijadikan ikon danau itu.

Ditambah lagi, pengelola danau Tahai menyediakan track dan jembatan yang terbuat dari kayu untuk dapat mengelilingi dan menyeberangi danau ini. Jadi kita bisa pergi ke bagian manapun dari danau ini, kecuali ke hutan bakaunya. Jembatannya adalah hal yang plus di tempat ini. Seperti yang ada di film A Little Crazy Thing Called Loved. Itu loh, yang waktu si P'Shone ama cewek itu lagi duduk2 di jembatan kayu. Nah, kurang lebih seperti itulah. Bedanya, yang disini udah bolong2. Penyangganya udah banyak yang lepas. Trus, gak ada batas kanan kiri jembatannya. Tapi bagus kok. Suer. Udah gitu, masih kuat lagi. Paling kalau mau nyebrang, harus banyak2 berdoa. Hihihi

Track untuk menyusuri danau.
Jembatan ada di belakang banget, sebelah kanan.
Kata pengelolanya sih, danau ini dalam banget. Ya iya lah, namanya juga danau. Tapi tetap aja, waktu gue datang kesitu, banyak anak sekolahan setempat yang lompat dari puncak jembatan itu ke dalam danau dan berenang dengan puasnya. Waktu temen gue mau coba juga, guide kami ngancem gak akan tanggung jawab. Yah.. Gak jadi deh.

Yang bisa dilakukan disini adalah naik sampai atau perahu bebek. Dapat disewa dari pengelola tempatnya. Gak mahal kog.

Jembatan Kahayan

Picture taken from ronald0579.wordpress.com
Inilah satu2nya tempat wisata yang keren di dalam kota. Kami sering melewatinya waktu mau pergi atau pulang dari tempat pertandingan ke tempat penginapan. Pemandangannya bagus, gak usah ditanya lagi. Cuacanya panas, itu juga gak usah ditanya lagi. Kita bisa lihat kota Palangkaraya dari atas jembatan, jadi kayak city view point gitu. Mirip London Bridge-lah. Ebuset!! Jauh banget perbandingannya.

Jembatan ini bisa dibilang deperti jembatan ampera yang di Palembang. Bedanya, jambatan kahayan membelah sunagi kahayan, sementara jembatan ampera membelah sungai musi, bukan sungai ampera. Yah, gitulah kira2. #Gak penting..

Selain lenjeh lenjeh dan mandang2, kita juga bisa coba susur sungai kahayan. Sayang, waktu itu gue gak ikut susur sungai kahayan karena alasan tertentu. Hehehe..

4 comments:

  1. Hahaha..ngakak bca byngn prtma x tentang org dayak..tp emang kya y itu stigma yg ada d pkran org yg blm tau ttg kalmntn...btw cewek dayak asli y putih loh..he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, orang dayak emang putih2, cakep lagi (walaupun temen2 dayak gue mayoritas hitam, huhuhu). Tapi karena media sering tunjukin yang buruk2 ttg orang pedalaman, jadinya gambaran yang didapat ya gitu. Padahal bedanya 180 derajat.

      Agan dayak ya??

      Delete
  2. Semangat mengindonesiakan indonesia...
    semangat Indonesia!!
    salam anak negeri

    Blogwalking & Mengundang juga blogger Indonesia hadir di
    Lounge Event Tempat Makan Favorit Blogger+ Indonesia

    Salam Spirit Blogger Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam anak negeri!! *sambil hormat*

      Makasih udah mampir.

      Mari kita majukan dunia blog di Indonesia.

      Delete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...