15 August 2012

#3 Palembang - Lintas Palembang Naik Sepeda Motor

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk pergi ke tempat kakak gue kerja di daerah OKI (Ogan Komering Ilir). OKI adalah salah satu kabupaten di Palembang yang terkenal rawan. Pernah dengar Mesuji kan? Yah, tujuan kami deket2 situ. Dan satu hal yang menarik, kami pergi naik motor, yang diestimasikan akan memakan waktu 3 jam.

Di pikiran gue, 3 jam naik motor di jalur lintas propinsi (iya, memang jalur lintas) yang panas menyengat bukanlah ide yang baik. Tapi apa boleh buat, kakak gue aja bisa, masa gue gak bisa. Lagian, kami memang harus sekalian bawa motor kakak gue balik ke OKI.
Karena perjalanan kami melewati Jembatan Ampera, kami pun mampir (lagi) untuk sekedar lenjeh2 disana. Eh, gak sekedar lenjeh2 deng, kami mampir ke Pasar 16 yang berada tepat disamping Jembatan Ampera, Kami masuk ke museum apa ya namanya? Dia terletak di seberang Pasar 16 itu. Ada puncaknya loh. Kami masuk dan mulai memanjat ke pucak museum itu. Satu hal, museumnya sepi banget.
Museumnya yang berbentuk segi enam (atau 8 yah? lupaaa..) itu sempit. Museumnya terdiri dari 6 atau 7 lantai, dan setiap lantai hanya bisa dimasuki oleh maksimal 8 orang. Isinya sih mayoritas poto2 jaman dulu, poto tentang perjuangan orang Sumatera, poto tentang pahlawan2 yang dulu berjuang di tanah Sriwijaya dan juga patung kepala entah siapa. Ada juga lantai yang menampilkan berbagai jenis senjata api yang pernah dipakai orang penjajah dan pahlawan Indonesia, mulai dari manual handgun sampai mini canon yang unyu banget.

Kami juga sempat poto2an di depan Benteng Kuto Besak. gue gak tau tempat apa itu. Gue juga gak tau sejarah tempat itu. Yang pasti, waktu gue potoan, baterai kamera kami tiba2 habis dan memorinya rusak. Aneh, padahal gak ada diapa2in loh. Yaaaaah~


Sepeda motor kakak gue yang jadi korban kali ini
Perjalanan kami lanjutkan ke OKI. Pertama kami melewati Stasiun Kereta Api satu2nya yang ada di Palembang. Tapi kami gak mampir, soalnya di Bandung ama Jakarta juga gue udah bosen naik KA. Jadi ya kami gak ngapa2in, hanya numpang lewat aja.

Jam pertama berhasil dilewati. Tapi panasnya itu loh, nauzubilah!! Panas banget. Tepat satu jam, kami sampai di daerah Indralaya. Nah, kalau disini, kami mampir dulu ke Unsri (Universitas Sriwijaya), soalnya dulu temen baik gue pernah kuliah disini beberapa bulan, tapi karena gak tahan, dia akhirnya pulang kampung ke Medan. Payah.

Memang sih, Unsri itu ada dipelosok banget. Gimana ya bilangnya, di kota Palembangnya aja gue gak rada bosen, gimana di Unsri yang notabene gak menyediakan tempat buat hang-out bagi mahasiswanya kalau lagi bosen? Masa mau hang-out di rawa-rawa yang ada disana? udah gitu, kerena kampus Unsri terletak di daerah lintas Sumatera, banyak truk2 yang lalu lalang di belakang kampusnya. Gak secure banget.

Terus, gue pernah dengar entah darimana, katanya kalau mahasiswa Unsri lagi bosen, mereka tinggal berburu babi hutan aja di daerah kampus dan kalau kebetulan dapet, langsung aja dipanggang on site. Ada gitu? Keren parah. Gue juga mau dong!!

Mencoba menodai Unsri
Setelah ninggalin jejak yang gak penting di Unsri, perjalanan berlanjut. Kali ini lebih sedikit truk dan bus yang terlihat. Tetapi, lebih banyak rumah2 tradisional orang Palembang yang terlihat. Eh, hampir semua ding. Hampir semua rumah yang kami lewati adalah rumah tradisional mereka. Gue gak tau itu rumah adat atau bukan, tapi bentuknya mirip semua.

Rumah orang Palembang itu sepertu rumah panggung setengah beton (tapi banyak juga yang semuanya terbuat dari papan). Karena merupakan rumah panggung, jadi harus naik pakai tangga. Anehnya itu, tangganya itu tidak pernah langsung menuju depan rumah, tapi selalu menuju samping rumah, baik itu samping kiri maupun samping kanan. Karena memang pintunya ada di samping, Gak pernah pintu rumah orang Palembang tepat di depan. Tanya kenapa?!

Sepanjang perjalanan, gue juga lihat banyak rawa di sebelah kiri jalan. Ya, lebih banyak disebelah kiri jalan. Mungkin karena di Indonesia ada budaya "kalau jalan di sebelah kiri" kali ya, makanya rawanya juga mayoritas ada disebelah kiri. Yang lebih hebatnya lagi, banyak orang yang naik sampan di rawa itu. Mereka menggerakkan sampannya bukan pakai dayung, tapi pakai tombak/kayu/pancang panjang gitu. Kayak di luar negeri aja.

Jasm kedua, kami tiba di Kayu Agung, salah satu kecamatan di Palembang. Gak pake lama, kami langsung cari warung untuk makan siang. Gitu doang. Setelah makan siang kami lanjut ke Lempuing, tujuan kami yang sesungguhnya.

Daerah yang kami lewati semakin kelam. Gak ada lagirawa. Gak ada lagi rumah penduduk. Yang ada hanya kebun sawit di kanan dan kiri jalan. Hanya ada beberapa truk dan bus yang lewat, jadi kami bisa memacu motor yang kami bawa ke kecepatan 80-100 KM/ jam.

Gak tau kenapa, tepat sejam setelah keberangkatan kami dari Kayu Agung, kami sampai di rumah kontrakan kakak gue. Tempatnya menyeramkan. Untung kakak gue udah pindah ke daerah Kayu Agung.

Next post will be about hidden lake in Lempuing, Kayu Agung!!

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...