28 September 2012

#4 Palembang - Teluk Gelam yang Tenggelam


Hello there!!

It's been ages since I published my last post in this blog <-- ciri ciri blogger murtad.

Wait, gue gak murtad kok. It's just, I've been very very busy recently. Many things happened and I just tried to catch up with everything. So, this little blog of mine is a bit abandoned over here. I'm sorry, 'kay?! *kedip kedip genit*

Lanjut~

Jadi, ceritanya kami udah nyampe di tempat kakak gue kerja, yang nota bene di daerah dimana dia ngontrak rumah untuk tinggal selama kerja. Selain numpang tinggal, gue juga tidur ama makan disitu. Gue juga pipis ama boker (yaik!) disitu. Soalnya gak ada hotel atau mostel di daerah sekitarnya.

Disana tuh ya, tanahnya gersang banget. Debu beterbangan kesana sini mencoba mencemari paru paru gue yang sehat dan bersih ini. Ya gue gak mau kalah lah. Gue lawan itu debu. Gue keluarin jurus pamungkas gue, yaitu jurus DERITA SERIBU TAHUN. Akan gue kirim derita yang berumur seribu tahun ini ke markas besar debu yang beterbangan itu.

Bohong banget! Yang ada gue gak keluar kemana mana, mingkem di rumah selama kakak gue kerja. Bukannya gue gak mau jalan, hanya saja, gue gak bisa jalan. Satu-satunya motor yang tersedia dibawa kerja ama kakak gue. Mau naik angkot, gak ada. Soalnya itu kan daerah perlintasan. Lintas Sumatera bagian Timur gitu istilahnya. Yang ada hanya truk dan truk. Selain itu, ya truk lagi.

Eh, ada sejenis angkutan yang mereka bilang taksi. Jadi, angkutan itu sebenarnya sejenis elf warna merah yang digunakan untuk mengangkut penumpang. Prototypenya ada kok di Jakarta. Bedanya, elf yang di Palembang itu isinya ventilasi semua, alias kaca jendelanya di copot semua, alias angin masuk ke dalam mobil itu semua yang membuat semua keluarga kutu dan ketombe yang ada dikepala gue beterbangan. Mereka merasa seperti ada topan badai yang menimpa kepala dan rambut gue. Huehehe. *tips jitu untuk menyingkirkan ketombe yang membandel* #bolehdicoba *wink*

Setelah tepar berperang dengan debu dan panasnya cuaca di OKI, gue memutuskan untuk pergi mencari sesuap kenikmatan di daerah sekitar. Gue pun merengek2 minta dibawain jalan. Konon katanya, di daerah deket2 situ ada danau yang cantik jelita. Ibarat Luna Maya yang lagi kasmaran. Bayangin gimana cantiknya tuh. Mata berbinar cerah, pipi merona merah, pipi juga bersemu karena cinta, bulu mata lentik karena pakai Maybeline, hidung yang mancung, dll. *ini ceritanya apa sih?*


Teluk Gelam. Itu lah nama danau yang akan kami kunjungi. Setelah kakak gue stress dengerin rengekan gue, akhirnya dia setuju juga untuk pergi kesana, walaupun katanya dia udah bosen. Kami pergi kesana sore hari, setelah kakak gue pulang kerja, naik motor yang hebat itu lagi. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Itu gue yang bawa. Kalau Velentino Rossi yang bawa mungkin bisa jadi 10 menit, dengan konsekwensi pakaian sobek2 begitu sampai di TKP. Kalau Ivan Gunawan yang bawa, gue gak tau dah kapan sampainya.

Sampai di TKP keadaan sepi. "Aseek, bisa bebas maen nih", pikir gue dalam hati. Tapi ternyata, setelah dilihat2 lagi, hanya gue dan kakak gue yang ada di kawasan Teluk Gelam itu. Gila, serem juga. Apa-apaan ini?

Danaunya lumayan luas, tapi gak seluas Danau Toba. Kami coba mengelilingi danau itu pakai motor. Eh, ternyata bisa. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit. Airnya hijau, bukan karena jernih, tapi karena lumut. Ada beberapa spot yang disediakan untuk mandi, dan ada juga beberapa spot yang disediakan untuk lenjeh2, mandang2, pacaran dan kegiatan lain selain mandi. Ada jembatan bagus banget yang menghubungkan satu sisi danau ke sisi lain. Keberadaan jembatan itu membuat suasana serasa di London Bridge. Iya benar. London Bridge versi disaster. -___-

London Bridge Versi Disaster
Kalau menurut penuturan kakak gue, tampat ini dulu ramai dikunjungi orang. Ingat ya, orang. Bukan serigala. Saking banyaknya orang, akhirnya ada beberapa pihak swasta yang ingin mengambil keuntungan dari ketenarannya. Mereka membuat wilayah itu menjadi wilayah pribadi dan mendirikan kolam renang, hotel dan beberapa pusat olahraga outdoor disana. Hasilnya? Masyarakat malah niggalin itu danau. Kasihan Teluk Gelam, menjadi korban kapitalis dari kaum yang tak berperi-wisatadidanau-an. #SalahGaul #CMIIW

 Karena gak menemukan apapun atau siapapun disana, akhirnya kami hanya potoan aja. Jepret sana, jepret sini. Gaya sana, gaya sini. Heboh pokoknya. Mumpung gak ada orang, jadi bisa menggila sepuasnya.

Capek potoan, gue malah memutuskan untuk berenang di kolam yang disediakan disamping danau. Bayar berapa ya kemaren? Lupa. Tapi sekitar 20000an gitu. Byur byur byur.. Selesai berenang, pulang.

Jump for Joy
Yaah, pulang~

Iya, pulang. Soalnya gak ada kegiatan lagi. Sepi banget. Sumpeh - susu tumpeh! Lagian hari udah malam juga.

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...