30 September 2012

Trip to Gunung Kidul - Sinar Surgawi di Gua Jomblang


Akhirnya, setelah penantian yang cukup panjang, walaupun tak sepanjang menanti sebuah jabang bayi brojol, gue berangkat juga backpacking ke Yogyakarta, tepatnya kedaerah Gunung Kidul. Ini adalah trip gue setelah sebelumnya, atau lebih tepatnya bulan lalu, gue pertama kali ke Dufan, itu juga karena diskon <-- dasar, modal gratis dan diskonan!!

Trip ini berbeda dari trip2 gue sebelumnya. Kalau dulu gue pernah caving, sekarang gue bakal susur gua. Loh, apa bedanya bero? Beda aja pokoknya. Hehe..

Dulu gue udah pernah publish tentang rencana backpacking ini (gue bilang ‘dulu’ karena memang gue sempat hiatus dari dunia blog karena hal hal yang diinginkan. Ampuni saya!!). Kalau gak percaya, cek aja disini.

Jadi, tibalah waktunya kami pergi.

Jeng jeng jeng!!
*stel musik dulu, biar keceh*

Kamis malam itu,tepatnya tanggal 20 September 2012, sesaat setelah gue pulang kerja, gue langsung packing. Gak peduli kaki masih bau karena kaos kaki belum diganti 2 hari, ketek masih basah, perut yang lagi konser dangdut, atau tatapan aneh sepupu gue, gue langsung bongkar lemari dan pilih2 pakaian yang akan gue bawa besok. Rencananya kami langsung berangkat dari kantor. Jadi gue harus bisa memilih pakaian yang tepat untuk dipakai di perjalanan, acara susur gua, acara di pantai, dan acara di kantor (kerja maksudnya). Jangan sampai gue salah kostum, atau yang paling buruk, gak bawa kostum sama sekali. Gue orangnya memang paling kepo kalau masalah pakaian, soalnya pakaian gue itu masih dikit banget, typical anak rantau yang irit. Jadi susah untuk memilih pakean yang cocok dipakai di saat2 tertentu, ya kayak caving ini.

Alhasil, pilihan gue jatuh kepada satu2nya celana pantai yang gue punya (itu pun dikasih ama temen gue yang dari Bali, dulu sekali) sebagai amunisi untuk main di pantai, satu celana pendek yang sengaja gue beli di Bandung buat trip ini (belinya bareng temen gue yang kasih celana renang tadi), celana dalam 2 biji (ini yang beli bukan temen gue, tapi nyokap gue), satu celana jins untuk dipakai kerja, 3 potong kaos oblong (ditambah satu lagi kaos untuk gue kerja setelah trip), sebuah kemeja hoodie lengan panjang warna kuning kotak kotak untuk menangkis dingin, perlengkapan mandi dan sendal gunung yang baru gue beli atas desakan temen kerja gue.

Setelah selesai packing, tas gue, yang selalu gue pakai kemana pun dalam keadaan slim dan fit, berubah menjadi seperti ikan buntal kebanyakan makan bawang goreng, penuh sesak dengan pakaian dan amunisi2 lainnya untuk trip kali ini. Biarlah sekali ini dia kelihatan seperti tas yang sehat, tas yang diperhatikan oleh pemiliknya. -__-"

Di kantor, gue gak bisa konsentrasi bekerja. Gak ada kerjaan yang selesai, karna memang gue lagi gak ada kerjaan. Gue hanya bisa menyemangati teman kantor gue, yang kebetulan jadi TS dalam trip ini, yang lagi kebanjiran kerjaan. Saking banjirnya, dia gak sabar pengen cepat2 jam 5, biar dia langsung punya alesan cabut dari kantor dan dari kerjaan yang tidak berperikemanusiaan itu. Untungnya, kerjaan dia selesai tepat jam 5. Dia emang keren! *thumbs up*

Setelah beres2 di tempat kerja, sekalian minta dukungan doa dari rekan kerja, kami langsung capcus menuju meeting point, sebuah cafetaria di Stasiun Pasar Senen, Jakpus. Info mengatakan bahwa kereta yang akan kami tumpangi berangkat jam 8.35. Sekarang masih jam 5. Berarti masih sempat ngesot dijalan sambil sesekali joged Shuffle dan Gangnam Style. Oke, yang 2 terakhir rada ekstrim. Intinya, kami gak perlu buru2. Masih ada waktu untuk menimanti macet dan sumpeknya kota Jakarta tercinta ini.

Kami tiba di St. Senen dan bertemu dengan 10 orang lainnya yang sudah janjian sebelumnya. Setelah saling tegur sapa (sok kenal gitu deh!!), kenalan bagi yang belum kenal (disini baru kenalan, haha), bagi2 tiket Superbowl KA dan makan malam, kami langsung naik ke KA Progo yang akan membawa kami ke St. Lempuyangan di Yogyakarta. Karena emang mungkin lagi musim peak kami gak dapet seat yang satu gerbong. Akhirnya, dengan perjuangan yang sanggup membuat air kobokan menjadi kering, kami mendapat tiket dengan 2 kategori seat, sebagian di ekonomi-ac dan sebagian lagi di ekonomi-non ac. Dan, entah kesialan apa yang menimpa gue, gue kebagian seat di ekonomi-non ac. Baiklah.

Bisa dikatakan gue beruntung kebagian seat yang non ac, soalnya gue benci banget ama yang namanya kedinginan. Tanpa ac atau kipas angin pun, suasana di dalam kereta ekonomi yang gue naikin cukup adem kok. Jendela kereta yang terbuka terasa cukup memberikan hawa kenikmatan bagi jiwa jiwa yang kepanasan. Selain itu, di kereta non-ac, sewaktu subuh di stasiun setelah Cirebon (gue lupa namanya), gue dibangunkan ama suara merdu pengamen yang kualitasnya gak kalah ama vokalis Kangen Band. Super banget deh. Gue yakin yang ginian gak ada di kereta yang ac. Hiburan lainnya, ya itu, setiap berhenti pasti ada yang tereak "Akuwa akuwa!! Mijon mijon!!" yang menganggu pendengaran gue yang sebenarnya pengen tidur. Arrggghhh!!
Suasana di KA Ekonomi Progo
Yang paling keren, sekitar sejam setelah kereta berangkat dari Stasiun Senen, banyak penumpang yang bergelimpangan gak jelas di lorong2 kereta. Parah banget. Jadi kondisinya itu kayak korban perang di kemah penampungan. Dengan beralaskan koran dan/atau karung yang mereka bawa sendiri, mereka main tidur gitu aja, sambil ngalangin jalan. Pantesan sesaat sebelum gue naik KA, banyak pedagang koran yang tereak, "Korannya kakaakk, 2000 aja, buat persiapan di kereta!!" Gue pikir buat persiapan apa, ternyata buat persiapan tidur ngampar toh. Lagian, kenapa tukang loper korannya berubah jadi alay gitu? Ckckck..

Rencana kami untuk sampai di Lempuyangan sebelum jam 6 pagi tidak terealisasi. Mungkin karena kami naik kereta ekonomi, kami jadinya nyampainya telat. Padahal kami berangkatnya on time loh. On time lebih sedikit lah. Tapi telatnya banyak banget. Akhirnya perjalanan yang seharusnya diawali dengan cave tubing di Gue Pindul, harus diganti dengan caving di Gua Jomblang, karena alasan yang akan gue kasitau nanti. Penasaran kaaann??

---

Gua Jomblang
Oke. Bus yang jemput kami udah datang. Peserta trip yang janjian ketemuan di Lempuyangan juga udah ditemukan berceceran di stasiun. Setelah pipis berjamaah, kami pun berangkat. Woohoo!!

Dari Lempuyangan ke Bantul ke Wonosari jalannya masih bersahabat. Mendaki sedikit ke kawasan Gunung Kidul, pemandangan yang diberikan super banget. Kayak puncaknya Bogor gitu. Kita bisa lihat lenskep kota Yogyakarta. Gitu menikung ke kiri, jalanan mulai gak beres. Kecil dan banyak lobang. Dan pada akhirnya ketika menikung ke kanan, menuju Jalan Jomblang, disitulah kami mulai merasakan bus 3/4 yang melakukan off-road. Jalanan tanah yang terjal, dengan permukaan yang tidak rata mengocok perut kami semua. Kalau saja busnya di set untuk off-road, pasti kami udah pada mabok didalam. Tapi, karena kendaraan yang kami pakai hanya bus butut yang berjuang untuk tetap berfungsi, perjalanan di jalan yang tidak berperikemanusiaan itu pun dilakukan dengan sangat perlahan, demi keselamatan bangsa dan negara, dan juga si buah hati. Jambu mete yang sedang berbuah dan pohon jati yang sedang meranggas menemani perjalanan kami yang menyiput seperti ulat.

Tapi akhirnya, kami sampai juga. Thanks God!! *relieved*

Gak pake sarapan dan acara istirahat2 lainnya, kami langsung siap2 untuk masuk gua Jomblang. Sebagian masih sempat ganti baju, termasuk gue. Semua memakai baju yang dirasa nyaman dipakai ditempat yang nantinya dipastikan gak adkan ada nyaman2nya. Kalau teman2 yang lain ganti baju dengan yang warna hitam atau yang bewarna gelap, gue ganti celana dari yang warna hitam ke warna putih. Mantap kan gue? Gue blon tau kalau ternyata nanti celana gue kotor parah karena lumpur. T.T

Tempat ganti Baju yang sekelas Resort
Mulut Gua Vertikal
Sebelum petualangan benar2 dimulai, guide mengumpulkan kami dan  memberikan petunjuk2 dan arahan2 yang perlu diperhatikan selama caving di Gua Jomblang. Sambil harap2 cemas, guide juga menjelaskan tentang SRT (Single Rope Technique), teknik yang menggunakan sebuah tali untuk turun dan naik gua vertikal. Bukannya malah tenang karena udah dikasih tau tentang petualangan yang akan kami lalui, kami malah makin parno karena si guide berkata terlalu jujur mengenai medan yang akan dilalui. Huft!!

Sembari menunggu pengelola menginstall semua perlengkapan, kami pun diberi suguhan teh poci, sambil sebagian milih2 sepatu boot yang ada. Sebenarnya caving ini harus menggunakan seragam caving, itu loh, kayak baju naruto. Tapi, ternyata pengelola hanya memiliki 3 seragam naruto, eh, caving, sementara kami ada 18 orang. Jadilah 15 orang lainnya caving dengan memakai baju biasa. Harness, boot dan helm disediakan dalam jumlah yang melimpah. Yang kurang hanya seragam caving-nya doang.
Menikmati amenities yang disediakan
Rasanya? Mending gak usah tanya deh!!
Pemasangan harness dll..
Untuk ukuran HTM yang mahal, tempat ini terawat dengan baik. Kamar ganti yang disediakan tergolong wah, mirip resort gitu. Hanya saja, ya itu tadi, fasilitas yang disediakan masih minim. Sangat disayangkan, saudara-saudara setanah air.

Setelah semua persiapan okeh, satu persatu kami diturunkan kedalam gua dengan kedalaman 60 meter dengan menggunakan tali yang di katrol dari atas. Sumpah - susu tumpah - pengalaman menggantung diketinggian 60 meter itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Bukan hanya digantung, tapi kita juga akan masuk kedalam perut bumi. Wow. Rasanya seperti diculik oleh sekelompok bajak laut tikus berpedang, disekap di dalam kabin yang gelap, lalu diikat dengan tali bekas jangkar dan dijadikan makanan ikan hiu (karena hidup banyak rasa, Kopi Goodd*y juga banyak rasa!!) *tiba2 iklan kopi*. Bukanlah, tapi rasanya itu fantastis. Sambil diturunin, kita bisa melihat hutan purba yang ada di dasar gua vertikal.
Siap2 turun



Setelah semua sampai di dasar gua vertikal, kita langsung dihadapkan sama hutan purba yang katanya selalu dirawat oleh pengelola tempat itu. Mengapa dinamakan hutan purba? Karena konon katanya pohon dan tumbuh2an yang ada di hutan dengan ukuran 2x lapangan futsal itu sudah ada sejak dulu kala. Banyak akar2 panjang yang terjulur dari dinding gua, memberikan kesan tua dan seram. Tapi tenang aja, gak ada yang perlu ditakutin, kan ada guidenya <-- padahal sebenarnya guidenya lah yang perlu ditakutin. Haha :D

Yang pertama kali yang harus dilakukan ketika sampai di dasar gua adalah menyentuh semua yang ada disana, pohon, batu, daun, buah dll. Secara, semuanya udah purba cuy. Kapan lagi bisa nyentuh pohon purba? Jarang2 kan?! Hanya ada disini, Jadi jangan ragu2 apalagi sungkan. Hajar bleh!! #SalahGaul -__-

Sebelum masuk ke gua horizontal yang ada disana, kami diajak untuk melihat jamur kayu yang berbentuk melingkar yang (sepertinya) hanya ada di Gua Jomblang. Menurut gue sih, jamurnya mirip ama jamur payung, bedanya jamur kayu yang disini ada embel2 purba-nya. *jamur payung kalah telak*
Jamur Kayu Purba yang melegenda
Dari sini petualangan sebenarnya dimulai. Mulut gua yang besar menganga sudah menanti kami dari tadi, seolah siap untuk menelan kami kedalam kegelapan yang abadi. Sepanjang hidup gue, ini adalah mulut gua terbesar yang pernah gue lihat. *ngakunya sih sepanjang hidup, tapi sebenarnya gue baru 2 kali tuh ketemu gua. Haha*

Kami turun lagi, menuju kedalam perut gua. Untungnya pengelola udah menyihir tempat ini supaya mudah dilalui. Mereka membuat jalur dari batu yang membentuk anak tangga. Jadi kalau lu gak ada kerjaan, lu bisa masuk sambil menghitung jumlah batu dari awal penelusuran sampai ke titik berhenti pertama di dalam gua nanti. Hehehe
(Seharusny) Foto full team

Turun lagi kebawah
Gue pikir karena awalnya udah menantang banget, petualangan di dalam gua akan menantang juga, atau setidaknya bisa berdarah-darah sedikit lah kalau keluar dari gua nanti. Tapi ternyata, jalurnya pendek banget. Udah gitu, gak ada tantangannya sama sekali. Hanya ada sedikit lumpur dan turunan yang akan membuatmu waswas. Diameter gua yang besar, ditambah penerangan listrik yang mereka persiapkan, dan jalur yang sudah di settlle sebelumnya membuat petualangan kali ini membosankan. Begitulah pikirku. Sampai kami tiba di ujung gua yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari mulut gua tempat kami masuk tadi, kenyataan membuktikan ternyata pikiranku itu salah.

Yang kulihat didalam gua itu gak bisa dilukiskan dengan kata2. Bukan, bukan moster atau alien. Bukan juga manusia purba. Tapi keindahan.

Indah.. Indah banget!! Seperti surga yang diturunkan langsung kedalam Gua Jomblang.

Apaan sih masbero? Gak jelas deh!!

Ini yang gue maksud.
Alien atau manusia purba tuh?

Sinar Sorgawi
Paparan sinar matahari yang masuk kedalam gua melalui celah2 pohon diatas sana membentuk suatu cahaya surgawi yang sangat indah. Serius, gue tiba2 terbayang surga. Gue pikir surga itu ya seperti itu. Rancak banar, begitu kata orang Padang. Ojo nesu, begitu kata orang Solo.

Oke. Gue gambarin secara mendetil lagi ya. Jadi tuh, sinar yang datang dari atas itu, atau kita sebut saja sinar surga, walaupun sebenarnya belum ada yang benar2 melihat sinar surga, atau bahkan belum ada bukti bahwa sinar surga itu ada #dibahas, membentuk tiang2 cahaya yang membentur stalakmit yang ada di dasar gua, tempat kami berdiri, atau disebut juga titik pemberhentian. Selain paparan cahaya itu, ada juga titik2 air yang menetes dari stalaktit yang membasahi dan mengukir stalakmit yang ada dibawah. Kesan teduh dan basah yang dihasilan dari perpaduan sinar dan tetesan air itu benar2 indah dan menenangkan, dan gak ada duanya, walaupun mungkin ada tiganya.

Jadi ini alasannya kenapa masuk ke Gua Jomblang itu harus jam 10-11 pagi (atau siang?), supaya sinar mataharinya itu benar2 membentur dasar gua, bukannya malah membentur dinding gua. Soalnya sewaktu kami mau kembali ke mulut gua, sinar mataharinya sudah gak beraturan lagi, dan udah gak seindah dulu lagi, dulu waktu gue pacaran. Huhuhu.. #kode

Konon, legenda mengatakan bahwa Iklan Rokok Djarum pernah mengambil set di Gua Jomblang, tepat di bawah sinar surga itu. Kesannya wow banget. Gua gak habis pikir gimana cara mereka menurunkan semua peralatan syuting ke dasar gua, dan bagaimana mereka melakukan set syuting di dalam gua yang notabene gak applicable. Tapi semuanya sudah terjadi. Nasi sudah menjdi bubur. Lu gak bisa menyalahkan Djarum yang udah syuting disitu. Itu hak mereka dong. *mulai ngawur*

Tiba2, semua peserta caving berlomba untuk potoan di spot itu. Bagi yang kebetulan gak bawa kamera, salah satunya adalah gue, harus pinter2 nempel ama yang bawa kamera, dan merayu mereka buat gantian potoannya. Bagi yang bawa kamera DSRL, mulai mencari sudut terbaik untuk mengabadikan moment yang berharga ini. Kelompok dengan kamera tipe ini secara ajaib tiba2 berubah menjadi potograper propesional. Bagi yang membawa kamera yang water-proof, langsung mengambil spot yang paling dekat ke arah sumber cahaya, yang dimana terdapat tetesan2 air dari stalaktit yang masih aktif. Bagi yang hanya bawa kamera pocket, mereka dengan birahi poto2 tanpa mengindahkan peraturan dan estetika potograpi. Soalnya tanpa diutak-atik juga, hasilnya pasti bagus banget. Satu2nya masalah disini adalah bagaimana caranya menyelipkan kepala atau badan di dalam poto yang mengabadikan sinar surgawi itu.

Hanya saja, jangan menginjak stalakmit yang ada disana, dan jangan lupakan masalah keselamatan dalam berpose, misalnya melepas helm, pose sambil lompat ke arah batu, dll.


Ada yang potoan sambil pegang scarf betuliskan
"INDONESIA"

Ada yang potoan sambil hampir tahajud
Ada juga yang kayak gini. *gue maksudnye*
Setelah puas berpoto ria. Perjalanan dilanjutkan dengan menuruni gua sedalam 15-20 meter lagi. Apa yang ada di bawah? Yang ada dibawah adalah sungai. *kayak main tebak2an ama anak SD*. Iya, jadi dibawah itu ada sungai yang mengalir. Lumayan deras juga sih alirannya. Jadi hati2 kalau melangkah. Bisa2 lu kepleset dan menabrak batu2 yang ada di pinggir dan dasar sungai. Dan, naik keatas gua tinggal nama. *amit amit*

Agak ke hulu aliran sungai tadi, ternyata ada bagian yang membentuk seperti sebuah kolam, yang alirannya tidak deras dan yang lumayan dalam juga. Uwoww.. Masih memakai harness lengkap, kami semua mandi disana, kecuali beberapa orang yang gak bisa berenang. Mereka hanya duduk2 manis disamping kolam itu. Ada juga temen gue yang gaya berenangnya ekstrim banget, hampir nabrak batu mulu kerjaannya. Ngeri gue.

Selain berenang, kolam itu juga menyediakan sarana untuk lompat2. Kayak waterboom banget yah. Karena ada sarananya, kami pun main lompat aja dari batu yang besar yang ada di bagian sungai yang dalam. Pertama sih rada gak takut, tapi setelah si guidenya maen lompat aja dengan cara serampangan, kami pun mengikuti, tetap dengan cara serampangan. Hasilnya, ada beberapa yang terbentur batu yang ada di dasar sungai. But, it's worthed lah.

Airnya dingin banget. Sumpah. Setelah mandi, kita dengan badan gemetar naik ke atas lagi, ketempat sinar surgawi tadi. Bedanya, sekarang namanya bukan sinar surgawi lagi, tapi sinar aja. Sinar doang. Sinar tok. Soalnya udah gak indah lagi. Huh..

Kedinginan, kelaparan, udah jam 3, kita sarapan di dalam gua. Bayangin aja sarapan jam 3 sore. Hebat banget kan kami? Makanan yang disediakan berupa ayam goreng dan entah sayur apa. Gue, mewakili teman2 yang ikut caving, curiga bahwa sebenarnya ayam yang digoreng, yang kami makan itu, adalah ayam purba. #eh

Waktunya pulang.

Beberapa orang memilih untuk naik 'dunia atas' dengan cara ditarik. Tapi ada 7 orang yang sok jago yang memilih untuk naik dengan menggunakan SRT, dan gue salah satunya. Kita udah pasang harness yang khusus untuk SRT; ada jammer, ada footloop, ada chest harness, ada helm, ada sepatu boot, dan ada doa dari temen2 yang lain. Awalnya gue pikir gampang, soalnya gue udah pernah roppeling sebelumnya. Tapi ternyata, SRT adalah kegiatan yang menbutuhkan keihklasan dalam menjalaninya <-- kayak puasa aja. Bayangin aja, naik sendiri melalui seutas tali, dengan bersenjatakan jammer dan footloop ke ketinggian 60 meter. Gue jadi teringat perkataan beberapa orang yang pernah menggunakan SRT, "Put your trust in your rope". Hahaha

on my way up
Hasil dari SRT adalah: kelingking gue lecet karna gak pake sarung tangan, lengan gue rasanya mau putus, jantung berdetak labih kencang, muka pucat pasi, kepuasan jiwa petualang terpenuhi, dan pede level maks. Woohoo!!

Selanjutnya, cave tubing di Gua Pindul!!

17 comments:

  1. Keren bro tulisan lo, lengkap banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih belajar kakakk suci.. Tulisannya masih kaku banget sih ToT

      Delete
    2. Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















      Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

      Delete
  2. wahh jadi ceritanya di kereta progo masih ada yg ngampar gitu? katanya ga boleh lg yg ngampar, semua harus pd duduk rapih kaya dikelas.. jadi bijimana tuh? rencana november mau naek progo + bawa sepeda nih masbrow..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih. Gue juga rada kaget waktu liat ternyata masih banyak banget yang ngampar gitu. Seriusan, semua gerbong dan sambungan kereta dipake buat ngampar. Penuh.. Bawa sepeda? wah, kayaknya susah bro. Untung2 klu penumpangnya sepi, klu rame banget alamat sepeda harus dibuat di sambungan kereta, dan harus dijaga sepanjang perjalanan.

      Delete
  3. Replies
    1. Menurut penuturan TS gue, biaya masuk kesini kalau perorang 450rb, tapi kalau kelompok (min 20 orang)jadi 380rb. Kenapa mahal? Soalnya tempat itu udah dibeli ama resort. Kamar mandi n kamar ganti-nya aja udah gaya cottage ama resort gitu. Keren dah..

      Delete
    2. mahal juga ya..hehehe
      itu boleh sendiri?

      Delete
    3. Kurang tau juga bro.. Kemaren waktu kami lagi caving, ada sepasang suami istri yang pengen ikut dan digabung ke kelompok kami. Tapi gak jadi karena ternyata istrinya lagi hamil muda.
      Silahkan disimpulkan sendiri.. :D

      Delete
  4. Kaka.. minta fotonya ya buat di blog saya juga. Mampir dong http://veeshiera.blogspot.com :D

    ReplyDelete
  5. Waaa...sumpah keren banget fotonya. Jadi kepingin kesana...
    Boleh tahu kontak yang bisa dihubungi untuk telusuri Jomblang nya kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan berkunjung kesana, gak bakal nyesal deh :D
      nih kontaknya, an Mas Chayo : 0811117010

      Delete
  6. okeh2..

    cerita yang sama dengan sudut pandang yang berbeda. Padahal nasibnya sama >_<

    ReplyDelete
  7. mahal yaaaa htm nya ... tapi ya itulah indonesia menawarkan sejuta pesona dan kecantikan nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan sih, tapi terbayar lah waktu lu sampai di dalam. WONDERFUL!!

      Delete
  8. kemaren akhir taun gagal ke jomblang karena paket nya yg mahal,mgkn next time akan ke situ :D

    salam kenal

    ReplyDelete
  9. Keren .... dan aku blm kesampaian kesini. Mesti atur waktu nich :(

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...