25 October 2012

Mandalawangi: Edelweiss Garden




Mandalawangi is a name given to a main square located on the top of Mount Pangrango. It is just an ordinary place, if you ask, with a reddish grass and stones blanketing the floor. However, it turns to be an extraordinary place because Edelweiss grows there. Not only one, but a lot of it. They form some schools and scatter all along the place.

This place is like an oase for the mount climber like me. How is it not? After several hours climbing through the dense and moist forest, I can catch open and fresh air to breath. The leaf green colour I used to see while climbing is switched with clear blue sky, without clouds interferring my sight.

I was so amazed when at one moment clouds are passing me , as if I was covered with a mist. As if I was entering another world. It was just sooo cool.

Bonus picture of a small memorial stone built in the centre of Mandalawangi. It is said that the names listed in that stone are all pioneers to climb Mount Pangrango. I do not know the original and full story of it, but let the picture speaks for itself.



22 October 2012

MACET di Jakarta


Entah mengapa aku merasa bahwa Tugu Monas (Monumen Nasional) sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai simbol kota Jakarta - kota yang menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian negara Indonesia yang tercinta ini. MACET (TRAFFIC JAM) adalah kenyataan pahit yang kini menjadi pelambang bagi kota yang mendapat julukan metropolitan karena kegiatan sosial yang berlangsung didalamanya tak kenal waktu.
Foto diatas diambil pada pagi hari, saat dimana matahari bahkan masih bertengger dengan malas diatas gedung2 pencakar langit. Tapi saat itu, macet sudah terjadi dimana mana, Kenyataan ini lah yang membuat aku ingin selalu pergi keluar dan terbebas dari sumpeknya kehidupan di kota Jakarta dan mencari pelarian ke pantai, gunung, gua, dan tempat wisata lainnya yang notabene lebih teduh, sunyi dan alami. Tempat dimana aku bisa menyatu, bersetubuh dan bercerita dengan alam.

Trip to Gunung Kidul - Mengejar KA Progo



Temen gue di St. Lempuyangan
 Acara culinary hunting di Pantai Wediombo berlangsung sukses. Acara itu diakhiri dengan senyum puas, perut kekenyangan, kebanyakan minum karena kepedesan dan berbagai ekspresi positif dari wajah temen2 gue. Hanya gue yang cengok. Kenapa? Karena kan di itinnya di tulis culinary hunting. Gue kira tuh di Pantai Wediombo ada seperti pujasera yang nyediain berbagai jenis makanan laut dan makanan khas daerah Jogja, atau at least makanan endonesia lah, yang ajib ajib gitu. Jadi gitu gue nyampe kesana, tinggal pilih mau makan apa sama mau minum apa. Ternyata gue tertipu. Somplak abis. Yang dimaksud dengan culinary hunting disini ternyata tak lebih dari dari acara makan bareng dengan menu yang dibeli di warung.

12 October 2012

Trip to Gunung Kidul - Culinary Hunting di Pantai Wediombo


*cerita ini lanjutan dari post sebelumnya*

Hari ini sudah hari Minggu dan kereta yang akan membawa kami kembali ke Jakarta akan berangkat dari Stasiun Lempuyangan jam 5 tepat, hanya sekitar 5 jam lagi dari waktu yang ada sekarang. Maka kami segera beranjak dari Pantai Siung untuk menuju Pantai Wediombo dengan tujuan culinary hunting, berharap semua akan berjalan baik2 saja dan tidak ada yang perlu disesalkan dikemudian hari.

09 October 2012

Trip to Gunung Kidul - Rock climbing di Pantai Siung



*Cerita ini lanjutan dari post sebelumnya*

Perjalanan dari Gua Pindul ke Pantai Siung dilanjutkan dengan memakai bus yang sama. Jadi ceritanya busnya udah disewa khusus untuk nganterin kami dari Lempuyangan, ke Gua Jomblang, terus ke Gua Pindul, dilanjutkan ke Pantai Siung, mampir sebentar ke Pantai Wediombo, dan terakhir kembali lagi ke Lempuyangan. Walaupun busnya sudah seikit reyot (sama seperti Kopaja/Metro Mini di Jakarta), tapi sang supir dengan lihai memaikan setirnya di jalanan yang meliuk2 naik dan turun di wilayah Gunung Kidul ini. Sampai tanpa terasa kami tiba di Pantai Siung. Benar2 gak ada yang ngerasa udah nyampe, soalnya kami semua ketiduran di dalam bus, kehabisan nyawa setelah selesai cave tubing di Pindul. Jadi gak terasa. Hehe

Rencananya, sesampainya di Pantai Siung, kami akan perkenalan dan latihan rock-climbing, karena tujuan kami main ke sini adalah untuk mencoba rock-climbing, bukan untuk berenang. Tapi apa daya, kami aja nyampainya udah jam 9-10 malam, jadi gak mungkin kami latihan rock-climbing di tengah malam, di tebing yang tajam dan terjal yang sangat tidak bersahabat dengan nyawa.

Alhasil, malam itu kami habiskan dengan acara lenjeh2 gak jelas di rumah penjaga pantai yang menjadi tempat kami menginap. Pemilik rumah ini lah yang besok akan membimbing kami untuk merasakan rock-climbing. Pemilik rumah ini lah yang menyediakan makam malam ketika kami sampai di Pantai Siung. Dan pemilik rumah ini jugalah yang menyediakan kopi dan segala keperluan kami selama berada disana. Gue sampe bingung, sebenarnya yang tinggal disitu siapa sih? Doeraemon? Kok serba bisa sih?

Acara lenjeh2 diikuti oleh acara makan malam dengan menu ikan bakar lumayan gede yang udah dingin (yang ujung2nya dibakar lagi sampe gosong biar hanget), sambel Jawa yang pedesnya lumayan menyiksa dan lalapan seadanya, ditimpali dengan teh manis hangat. Menu yang cocok sekali untuk suasana pantai yang dinginnya menusuk sukma. Kami bahkan sempat bermain kartu remi, sekedar untuk menghangatkan suasana dan mengakrabkan diri dengan sesama anggota kelompok. Walaupun pada akhirnya hanya ejek2an yang terdengar diantara gelak tawa kami.

Pagi tiba. Walaupun pemilik rumah yang kami tempati ini sudah terlebih dahulu mengatakan bahwa tidak akan terlihat sunrise dari berbagai sisi Pantai Siung, tetapi ada beberapa teman gue yang tetap bangun lebih awal hanya untuk mengambil foto sunrise. Hasilnya? Seperti yang diharapkan. Tidak ada foto sunrise. Dan tidak ada foto siluet. Yang ada hanya foto sinar matahari yang dihalangi bukit dan awan. Dan percayalah, itu bukan foto sunrise yang ingin lu lihat.

05 October 2012

Trip to Gunung Kidul - Cave Tubing di Gua Pindul


Sumpah, itu bukan gue!!
*cerita ini lanjutan dari post sebelumnya*

Petualangan di Gua Jomblang kami akhiri dengan bahagia, bagi sebagian orang. Tawa dan komentar positif terdengar dari bibir teman2 trip gue, ini juga bagi sebagian orang. Kami bertujuh, yang memilih menggunakan SRT untuk naik keatas gua tadi, sebenarnya juga ingin tertawa bahagia seperti mereka, tapi apa daya, kami kehabisan nyawa sesaat setelah kami tiba diatas gua. Semuanya kecapekan. Alhasil, kami menggunakan waktu yang ada untuk istirahat. Gue sendiri lebih memilih tidur telentang di tempat istirahat yang disediakan. Sekedar melemaskan dan mengistirahatkan lengan gue yang rasanya pengin lepas. Asiknyaaa~

Belum puas istirahat, kami harus pergi lagi. Katanya sih harus ngejar waktu, biar sampe di Gua Pindul gak kemaleman. Trus gue mikir, gimana caranya ngejar waktu ya? Emang waktunya lari2? Kan gak punya kaki? #dibahas -__-

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalanan off-road yang gersang yang kami lalui waktu datang tadi. Tapi kali ini kami gak pusing lagi, soalnya udah ada pengalaman waktu datang tadi. Apalagi di perjalanan kali ini kami punya bahan obrolan, tentang SRT yang menantang, tentang Jambu Mete (Jambu Monyet) yang dimakan temen gue, tentang pakean yang kotor, dan tentang petualangan yang akan kami hadapi di Gua Pindul. Woohoo!! Semuanya bersemangat. Apalagi tadi udah makan dan istirahat. Ibaratnya tuh ya, baterai nyawanya udah dicas sampe level 87%. Cukuplah untuk menggila di Gua Pindul nanti.


Janjinya sih perjalanan dari Gua Jomblang menuju Gua Pindul hanya akan memakan sekitar 30 menitan aja. Tapi apa kata, janji tinggal janji. Soalnya, kalau dihitung-hitung, perjalanan kami lebih dari 30 menit *sebenarnya gak ada yang hitung sih, hanya pake feeling aja*. Walaupun masih di daerah Gunung Kidul, tapi tetep, jalanan yang kecil yang naik turun, belok kiri dan kanan menghambat kami untuk bisa tepat waktu. Ditambah lagi supir bus yang gak hapal jalan. Err.. jadilah kami sampai di TKP kesorean. Sekitar jam berapa ya? Jam 4 atau jam 5? Ah, lupa!! Pokoknya udah sore aja.
Suasana yang gue bayangkan tentang Gua Pindul itu 100% melenceng. Gue pikir tuh ya, Gua Pindul bakalan sepi dan berada di tengah2 hutan rimba yang masih banyak terdapat macan kumbang-nya. Ternyata, Gua Pindul itu rame banget. Rame oleh pengunjung dan berada di tengah2 perkampungan. Yaahhh~, gak bisa alay deh!

Waktu kami masuk ke wilayah wisata Gua Pindul, kami harus bayar entah berapa. TS-nya yang tau. Selesai bayar, kami langsung disambut oleh beberapa warung pinggir jalan yang menyediakan makanan dan minuman dengan embel2 'Pindul' dibelakangnya. Seperti Bakso Pindul, Mie Ayam Pindul, Es Jeruk Pindul, Air Mineral Pindul, dll. *yang 2 terakhir gue bohong, tapi yang 2 di awal gue serius*. Selain warung2 kecil tadi, ada juga beberapa bangunan yang menjadi pusat kegiatan dari tempat wisata Gua Pindul ini. Ada tempat penitipan barang lah. Ada kamar ganti lah. Ada kamar mandi lah. Ada toko souvenir lah. Banyak deh. Gue aja bingung, ini gua atau mall sih?! Meuni lengkap pisan.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...