08 November 2012

Saat ingin bepergian ke Yogyakarta beberapa bulan yang lalu



Sebelumnya aku dan kelompokku sudah sepakat akan bertemu di salah satu SPBU di daerah Lebak Bulus, sebut saja SPBU Lebak Bulus. Lalu aku yang baru beberapa bulan tinggal di Jakarta dengan yakin dan penuh kesadaran menjanjikan akan tiba disana pada waktu yang ditentukan, jam 7 malam.

Sebagai orang baru, aku menyelidiki jalur paling aman dan paling mudah dimengerti, karena sebelumnya aku sangat sering tersesat. Aku tidak mau pengalaman yang sama terulang lagi. Setelah bertanya sana sini, dan mencari referensi di Internet, aku pun memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi yang katanya bakal terbebas dari macet, Transjakarta.

Pulang kantor kupacu kakiku menuju shelter busway yang memang berlokasi tidak jauh dari kantorku. Sebelumnya aku sudah ijin dari atasan untuk pulang lebih awal supaya tidak terlambat sampai di meeting point. Tujuan akhir: shelter Kebayoran Lama Bungur. Tempat itu yang dijanjikan teman-temanku sebagai shelter terdekat dengan SPBU Lebak Bulus.

Duduk dalam bus yang nyaman dan ber-AC, aku kagum dengan keindahan kota Jakarta. Untungnya belon macet. Beberapa anak SMA yang duduk disebelahku dengan santainya tertidur seolah mereka tidak peduli dengan keadaan bus yang sudah lumayan ramai. Beberapa orang dengan seragam PNS juga tampak santai mengobrol di salah satu sudut bus. Ada juga pemuda dan pemudi yang tampil modis duduk di kursi sebelah, sepertinya mereka anak kuliahan. Dan aku, seorang pegawai swasta kampungan yang baru beberapa kali menggunakan jasa transportasi Transjakarta, yang saat itu dengan tanpa malu memandangi penumpang bus ini satu persatu.

Sekitar jam 6 aku sampai di shelter Kebayoran Lama Bungur. Aku turun dari bus dan langsung ke menyeberang ke bahu jalan. Sebelumnya aku sempat bertanya kepada salah satu petugas yang ada di shelter busway,

"SPBU Lebak Bulus dimana ya, mbak?" tanyaku dengan sopan sesuai dengan norma yang berlaku.
"Itu, disana" katanya sambil menunjuk kearah yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.
"Makasih ya" jawabku sambil tersenyum, sebuah kebiasaan yang sudah kutanam dari dulu.

...

Sudah hampir 30 menit aku menanti di SPBU yang ditunjuk mbak tadi, tapi belum ada satupun batang hidung temanku yang kelihatan. Iseng, aku bertanya kepada salah satu pengunjung yang kebetulan baru keluar dari toilet,

"Mas, ini SPBU Lebak Bulus kan ya?" tanyaku.
"Bukan!" katanya. "SPBU Lebak Bulus disebelah sana tuh!" Ujarnya lagi sambil menunjuk ke arah yang tidak jelas.
"Jauh ya mas?" tanyaku lagi, kali ini sambil menunjukkan muka sedikit kaget dan sedih.
"Lumayan sih. Dari sini kamu bla bla bla." jawabnya sambil menjelaskan cara mencapai SPBU yang kumaksud.

Okeh, aku nyasar!

Perjalanan ke SPBU yang kedua kulanjutkan dengan berjalan kaki. Hari itu sudah jam cukup sore, sehingga tidak begitu panas. Anak anak sekolahan terlihat memenuhi jalan yang akan kulalui, tapi sedihnya tidak ada angkutan umum yang melewati daerah itu. Mas yang tadi memang menyarankan untuk naik ojek, tapi segera kutolak mengingat jarak yang kutempuh tidak terlalu jauh, dan harga ojek yang terkadang lebih mahal daripada jatah makanku sehari.

Akhirnya aku jalan, ditimpali cetoteh anak sekolah yang menunggu dijemput orang tua atau supir mereka. Jauh aku berjalan sampai akhirnya aku menemukan sebuah angkot.

"SPBU Lebak Bulus bang?" tanyaku memastikan.
"Iya!" jawabnya sekenanya.

Aku naik dan mewanti-wanti supir untuk menurunkanku di SPBU Lebak Bulus.

Jam 7 lewat sedikit supir menurunkan aku di sebuah SPBU yang memang berada di Lebak Bulus. Baik banget memang dia. Kupacu langkahku ke area SPBU untuk menemukan teman-teman kelompokku dan minta maaf atas keterlambatanku. Tapi, teman kelompokku tidak ada. Ah, paling sebentar lagi juga mereka akan datang, pikirku.

Sambil menunggu, aku membeli persediaan makanan di convenience store yang ada di SPBU. Tapi aneh, kok mereka belum sampai juga ya? Akhirnya aku telepon koordinator kelompokku.  Hasilnya, aku salah tempat. Bukan SPBU yang ini, tapi yang satu lagi, yang dekat kuburan, dan bus yang akan membawa kami ke Yogyakarta sudah mau berangkat.

Okeh, aku nyasar lagi!!

Karena udah stress, akhirnya aku langsung menghampiri tukang ojek terdekat dan menyuruhnya untuk ngebut dan mengantarkan aku ke SPBU LEBAK BULUS YANG DEKAT KUBURAN.

Bagus!!

Moral lesson, jangan mudah percaya sama supir!!

picture taken from paradise.co.id

07 November 2012

Ketika keluarga menjadi penghalang



Ternyata masalah terbesar bagi para traveller (termasuk didalamnya backpacker) adalah keluarga, atau setidaknya begitu yang kualami.

Selama ini aku berpikir bahwa masalah utamanya adalah uang dan cuti (waktu). Ternyata aku salah. Aku tetap bisa pergi backpacking walaupun jumlah saldo di tabungan sudah tinggal 5 digit. Itu tidak masalah. Aku juga bisa mengunjungi tempat-tempat keren dan keceh di sekitar tempat aku kerja pada waktu weekend, seperti yang selama ini aku lakukan. I'm fine with that! Tapi kalau keluarga sudah bilang "No!", aku bingung bagaimana harus memberikan pembelaan.
...
"Dukung doa ya, minggu depan aku mau ke Jawa. Mau mendaki Gunung Semeru." Tulisku di grup WhatsApp keluargaku.

"Aku tidak mendukung!!!" Balas kakak ketigaku, atas alasan aku ini laki-laki Batak, yang sudah harus memikirkan masa depan. Dia malah berargumen tentang kejadian dulu aku sering hiking dari SMP sampai SMA di kampung halaman (Memang semenjak SMP, aku harus berjalan sekitar 7 KM untuk sampai ke sekolah, melewati perladangan penduduk dan kebun teh milik PTPN IV. Dan aku melakukan itu sampai SMA. Walaupun kadang aku beruntung mendapatkan tumpangan motor dari orang sekampung yang kebetulan lewat atau menumpang truk yang saat itu mengangkat hasil teh dari kebun ke pabrik dan sebaliknya).

06 November 2012

Indonesia, surga bagi para travellers


Beberapa hari yang lalu aku update status Facebook yang sudah sangat lama sekali terbengkalai.

Sebulan lalu aku bertemu dengan gua.
2 minggu lalu aku berteman dengan gunung.
Kemarin aku bercengkerama dengan laut.
Entah kemana hidup ini akan membawaku..


05 November 2012

Pangrango, the untold story



Mendaki Gunung Pangrango tanpa persiapan itu sama saja dengan cari masalah. Pasalnya medan yang ekstrem tidak akan mau memberikan toleransinya kepada pendaki yang memiliki kondisi fiisk yang lemah. Mungkin pendaki dengan fisik yang lemah akan bisa mendaki Gunung Gede atau Papandayan tanpa masalah. Tapi hal itu tidak berlaku di Gunung Pangrango. Kalau kau lemah, bersiaplah mengalami rasa capek yang luar biasa, diomelin teman2 pendaki lainnya, dicaci maki guide, dan masih banyak hal tidak enak lainnya.

04 November 2012

Pangrango, Pedakian Penyiksaan



Melihat Puncak Gunung Pangrango dari camp Green Ranger di Cibodas membuatku bertanya, sanggupkah aku mendaki sampai ke puncak? Puncak itu terlihat sangat tinggi, dan megah. Ditambah dengan penampakan gunung itu sendiri yang sangat mengintimidasi, membuatku yang hanya setinggi 168 cm ini terlihat begitu mungil dan tak berarti.

Maklum saja, ini adalah pendakian pertamaku. Sebagai seorang pemula, sebenarnya aku ingin agar diperkenalkan dengan pendakian yang mudah, dengan medan yang tidak terlalu ekstrem dan dengan pemandangan yang wah. Dan memang tujuan utama kami, aku dan sekian belas teman pendaki lainnya, sebenarnya adalah Gunung Gede. Menurut penuturan para pendaki yang saya dengar langsung, dan yang saya baca dari forum backpacker, Gunung Gede adalah gunung yang cocok untuk pemula, dalam arti medan yang tidak berat dan pemandangan yang bagus. Tapi apa nyana, untung tak dapat ditolak, kala itu Gunung Gede ditutup dengan alas adanya perbaikan jalur. Kami, yang udah tiba di camp Green Ranger malam sebelumnya tidak bisa berbuat apa apa, hanya bisa meminta pendapat kepada Bang Idhat, panggilan yang dib,erikan kepada ketua (atau pemilik) camp Green Ranger tersebut, yang menjadi kuncen gunung itu.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...