07 November 2012

Ketika keluarga menjadi penghalang



Ternyata masalah terbesar bagi para traveller (termasuk didalamnya backpacker) adalah keluarga, atau setidaknya begitu yang kualami.

Selama ini aku berpikir bahwa masalah utamanya adalah uang dan cuti (waktu). Ternyata aku salah. Aku tetap bisa pergi backpacking walaupun jumlah saldo di tabungan sudah tinggal 5 digit. Itu tidak masalah. Aku juga bisa mengunjungi tempat-tempat keren dan keceh di sekitar tempat aku kerja pada waktu weekend, seperti yang selama ini aku lakukan. I'm fine with that! Tapi kalau keluarga sudah bilang "No!", aku bingung bagaimana harus memberikan pembelaan.
...
"Dukung doa ya, minggu depan aku mau ke Jawa. Mau mendaki Gunung Semeru." Tulisku di grup WhatsApp keluargaku.

"Aku tidak mendukung!!!" Balas kakak ketigaku, atas alasan aku ini laki-laki Batak, yang sudah harus memikirkan masa depan. Dia malah berargumen tentang kejadian dulu aku sering hiking dari SMP sampai SMA di kampung halaman (Memang semenjak SMP, aku harus berjalan sekitar 7 KM untuk sampai ke sekolah, melewati perladangan penduduk dan kebun teh milik PTPN IV. Dan aku melakukan itu sampai SMA. Walaupun kadang aku beruntung mendapatkan tumpangan motor dari orang sekampung yang kebetulan lewat atau menumpang truk yang saat itu mengangkat hasil teh dari kebun ke pabrik dan sebaliknya).

"Mending uangnya ditabung untuk keperluan lain!" Tulis abang ipar dari kakak keduaku, yang saat itu mengetahui keadaan keuanganku yang menipis.

"..." Abang pertamaku tidak masuk dalam grup, jadi dia tidak bisa berkomentar. Seandainya dia masuk, aku yakin dia juga tidak akan mengijinkan aku pergi.

Kakak keempatku, yang tepat diatasku, tidak memberikan komentar apa-apa mengenai hal ini. Tapi pernah dia mengatakan untuk berhenti dari kegiatanku yang terlalu sering bepergian. Memang, diantara keluargaku, hanya aku yang suka travelling. Jadi mungkin mereka rada kurang berterima dengan cara hidup yang asing bagi ini. Gaya hidup yang, menurut mereka, hanya buang-buang uang saja.

Dikesempatan lain, mereka bilang, "Boleh ikut trip, tapi jangan keseringan. Ingat rumah. Rumah itu bukan tempat singgah doang, tempat kamu menumpang tidur. Bukan. Rumah itu tempat dimana keluarga berkumpul. Kalau kamu sering pergi, bagaimana kamu bisa berkumpul dan mengenal keluargamu?" Okeh. Dan aku langsung terdiam mendengarkan ceramah yang demikian.

Pamanku, yang kebetulan aku dirumahnya sampai sekarang, malah bilang jangan ikutin kehidupan orang lain yang selalu bepergian tak jelas arah dan tujuannya. Masalahnya, aku bukan ikut-ikutan, tapi malah aku yang mengajak mereka untuk pergi.

Memang, keluarga itu penting. Aku akui itu. Apalagi sebagai orang Batak, aku sangat diajarkan untuk menomor-satukan keluarga dibanding apapun juga, kecuali Tuhan pastinya. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain keluarga, begitu kata mamaku dulu. Makanya, tidak heran kalau orang batak bisa langsung mengakrabkan diri dengan orang Batak lainnya walaupun baru pertama kali bertemu, asal keduanya dihubungkan dengan suatu ikatan yang dinamakan tutur, sebutan orang Batak untuk merunut silsilah keluarganya dan mencari hubungan antara marga mereka.

Aku pun jadi bingung harus bagaimana sekarang..

Bukan hanya aku, teman-teman backpacker yang lain juga merasakan hal yang sama. Beberapa dari mereka malah mendapat teguran yang lebih keras daripada yang aku terima. Perbedaan cara pandang antara anak yang mencintai travelling dan orang tua yang memikirkan masa depan anaknya menjadi sebuah barrier yang susah untuk ditembus.

Bagaimana cara mengatasinya?

Pada saat-saat seperti itulah, saat dimana aku langsung iri pada Mbak Dina dan Christopher McCandless. Ingin aku rasanya menjadi seperti mereka.

Mbak Dina dan suaminya memutuskan untuk menjual apartemen mereka dan mulai hidup nomaden, berpindah dari satu negara ke negara lainnya. Mereka tidak melupakan keluarganya dan tetap pulang kampung kalau sewaktu-waktu dibutuhkan. Mereka melakukan round the world (RTW) trip sampai sekarang dan tetap bahagia. Tidak ada tekanan dari keluarga dan orang lain. Memang, mereka mengakui bahwa memutuskan untuk hidup nomaden itu berat dan harus dipikirkan dengan matang. Tapi kesudahannya, dengan tekad yang bulat, mereka bisa survive sampai sekarang.

Christoper McCandless juga begitu. Dia memilih untuk menghilangkan dirinya dari lingkaran hidup sosial, termasuk keluarganya, dengan membakar kartu identitas dan kartu kreditnya, memberikan semua tabungannya untuk sumbangan dan mulai hidup nomaden, tanpa apapun dan tanpa siapapun. Walaupun akhirnya dia mati, tapi aku menghargai keputusan yang dia buat, atas dasar tekanan yang diberikan lingkungannya kepadanya. Bukannya dia tidak mampu menghadapi tekanan itu, dia hanya muak melihat bagaimana orang-orang mengikuti cara-cara konvensional dalam melangsungkan hidup.

Wah, arah tulisanku sepertinya mulai melenceng.

Tapi intinya begitu. Kadang halangan terbesar untuk menjadi seorang traveller/backpacker adalah keluarga.

Mengutip dari notesnya dustysneaker,

We travelers just can’t win, can we?

But, it's my life anyway. I just wanna live while I'm alive - this is the way I live it!

2 comments:

  1. Betul banget kalo bilang sebuah ijin dari keluarga itu menentukan, tetapi mau bertahan sampai kapan "zona nyaman" yang harus kita terima? Yah mungkin setiap orang punya pemikiran beda-beda juga, bro. Kalau aku sih menjelaskan tentang pencarian jati diri selama bepergian ke berbagai tempat, jadi nyokap juga memahaminya :)
    Kasih alasan yang jelas tanpa memikirkan keegoisan diri aja saat menyampaikan niat lepas dari zona nyaman tersebut, biar keluarga juga bisa memahami maksud kita.
    Salam kenal kawan ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, benar banget. Tengkyu ya, atas komen agan akhirnya aku ngomongin lagi ama mereka dan gue dapet ijin pergi Semeru bulan lalu. Hehehe

      Delete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...