04 November 2012

Pangrango, Pedakian Penyiksaan



Melihat Puncak Gunung Pangrango dari camp Green Ranger di Cibodas membuatku bertanya, sanggupkah aku mendaki sampai ke puncak? Puncak itu terlihat sangat tinggi, dan megah. Ditambah dengan penampakan gunung itu sendiri yang sangat mengintimidasi, membuatku yang hanya setinggi 168 cm ini terlihat begitu mungil dan tak berarti.

Maklum saja, ini adalah pendakian pertamaku. Sebagai seorang pemula, sebenarnya aku ingin agar diperkenalkan dengan pendakian yang mudah, dengan medan yang tidak terlalu ekstrem dan dengan pemandangan yang wah. Dan memang tujuan utama kami, aku dan sekian belas teman pendaki lainnya, sebenarnya adalah Gunung Gede. Menurut penuturan para pendaki yang saya dengar langsung, dan yang saya baca dari forum backpacker, Gunung Gede adalah gunung yang cocok untuk pemula, dalam arti medan yang tidak berat dan pemandangan yang bagus. Tapi apa nyana, untung tak dapat ditolak, kala itu Gunung Gede ditutup dengan alas adanya perbaikan jalur. Kami, yang udah tiba di camp Green Ranger malam sebelumnya tidak bisa berbuat apa apa, hanya bisa meminta pendapat kepada Bang Idhat, panggilan yang dib,erikan kepada ketua (atau pemilik) camp Green Ranger tersebut, yang menjadi kuncen gunung itu.



Green Ranger adalah sebuah sebutan yang merujuk kepada sebuah organisasi lokal yang menyediakan informasi, pendaftaran dan guide kepada para pendaki Gunung Gede. Selian itu, tempat itu juga menjadi titik awal pendakian Gunung Gede dan gunung-gunung lain di sekitarnya. Di tempat ini, kita bisa menginap dan juga melengkapi perlengkapan mendaki kita, logistik dan gear, karena memang mereka juga menjual berbagai jenis perlengkapan mendaki, seperti sepatu gunung, carrier, baju kaos, dll.

Atas saran Bang Idhat pula kami akhirnya memutuskan untuk mendaki Gunung Pangrango. Jalur normal, yang biasanya ditempuh melalui Gunung Putri, tidak bisa digunakan sehingga kami harus melewati jalur yang biasa dipakai oleh SPG (Sekolah Pendakian Gunung) yang notabene lebih ekstrem, terjal dan curam. Ingin menghindar, tapi tidak bisa, dan sudah kepalang tanggung. Akhirnya dengan determinasi tinggi, kami berangkat.

Oh iya, apakah aku sudah bilang kalau kami sebenarnya mendaki secara illegal. Well, kami memang bayar uang masuk, tapi kami tidak dapat ijin dari KNKT (atau apalah sebutannya). Jadi bisa dibilang illegally legal. Kata Bang Idhat tidak masalah, toh banyak yang udah mendaki duluan, ditambah lagi ada satu tim SPG yang saat itu dijadwalkan akan turun gunung. Jadi semuanya dibawah kendali.

Dua orang guide ditugaskan untuk menemani kami mendaki, yang seorang bertugas didepan sebagai navigator, yang seorang lagi bertugas di bagian belakang kelompok dan bertugas sebagai sweeper. Budi dan Ucok, begitu nama mereka. Walaupun mereka berdua berdomisili di Tangerang, mereka sudah sangat hapal dengan keadaan daerah sekitar, termasuk tentang vegetasi dan demografi gunung yang akan kami daki. Istilahnya, mereka sudah khatam dengan hal yang beginian. Sementara kami masih pemula, walaupun ada beberapa teman kami yang sudah pernah mendaki tempat ini sebelumnya.

Kami terdiri dari tiga kelompok: kelompokku yang beranggotakan sekian belas orang, sepasang kekasih yang berasal dari daerah Jakarta, dan satu kelompok lagi yang beranggotakan 4 orang, sepasang suami istri dan 2 orang temannya. Sebenarnya sudah bisa dibayangkan bagaimana susahnya menjadi guide bagi sekian banyak orang, tapi kami masih optimis untuk bisa sampai disana tanpa membuat guide kami tepar ditengah jalan.


Jalur pendakian kami adalah puncak Gunung Geger Bentang, diselingi dengan ISHOMA, turun melewati lembah yang menghubungkan Geger Bentang dan Pangrango, kemudian mendaki lagi menuju Gunung Pangrango. Dan kalau boleh aku bilang, ini adalah pendakian yang paling tidak berperi-kemanusiaan. Bahkan salah satu teman saya, yang sebelumnya pernah mendaki Gunung Rinjani (yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia), mengatakan bahwa jalur yang kami pilih ini lebih menantang dibandingkan dengan semua gunung yang pernah dia daki sebelumnya. Lebih susah, lebih tidak manusiawi dan lebih ekstrem dalam berbagai hal dan pengertian.

Untuk mencapai Puncak Geger Bentang, kami menghabiskan sekitar 5-6 jam. Jam 7 kami berangkat dari camp dan tiba di Puncak Geger Bentang bertepatan dengan jadwal makan siang. Itu pun selama perjalanan (padahal masih awal sekali), beberapa temanku sudah mulai kelihatan letih dan kehabisan tenaga. Alhasil carrier mereka yang berukuran 32+5 L itu harus dibawakan oleh sweeper. Malah salah satu temanku yang paling tambun harus merelakan kakinya lecet-lecet dan berdarah setelah sebelumnya jatuh dalam aksi webbing di jalur pendakian. Ya, jalurnya memang sangat ekstrem, sehingga kami harus menggunakan webbing di satu kesempatan.

Ditengah perjalanan kami bertemu dengan beberapa kelompok yang sudah terlebih dahulu mendaki. Kelompok biasa saja, seperti kami. Tapi ada satu kelompok yang benar2 membuat aku salut, yaitu kelompok SPG yang saya sebutkan diawal tadi. Sebuah kelompok besar yang terdiri dari sekumpulan pria dan wanita. Yang membuat aku salut adalah fakta bahwa mereka semua membawa carrier 80L dan dalam kondisi yang masih segar. Ditambah lagi, kelompok mereka sangat teroganisir dengan  baik. Ketua kelompoknya, seorang bapak yang sudah berumur hampir setengah abad, benar2 memperhatikan setiap anggota kelompoknya, terutama anggota yang perempuan. Istilahnya, no member left behind.

ISHOMA di Puncak Geger Bentang
 Setelah masak, makan siang, sholat dan istirahat secukupnya, kami melanjutkan perjalanan. Guide mengatakan bahwa perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak bayangan Pangrango adalah sekitar 7 jam. Artinya, masih tidak terlalu gelap waktu kami tiba nanti untuk mendirikan tenda. Entahlah, itu mereka mengukur demikian dengan mempertimbangkan keadaan kami atau tidak. Atau sebenarnya itu adalah pengukuran yang mereka buat berdasarkan kemampuan mereka?

Setelah tujuh jam kami mendaki lagi (setelah melewati hutan perdu, bergumul dengan rotan berduri yang menghalangi jalan, bersitegang dengan pacet yang menempel tanpa permisi, dan kehabisan makanan dan minuman, tenaga dan semangat), kami istirahat di satu poin dimana sudah terdapat vegetasi puncak gunung. Atau begitu yang dikatakan guide. Dia juga berjanji bahwa tempat yang kami tuju hanya tinggal berjarak sekian ratus meter lagi, dan bisa diraih dalam waktu 30 menit. Janji itu membuat kami yang sudah kehilangan semangat dan tenaga ini menjadi tersenyum, walaupun hanya berbentuk kuluman.

Tapi apa lacur, kami mendaki dan tetap mendaki tanpa menemukan tempat yang dimaksud. 30 menit berubah menjadi 1 jam. 1 jam menjadi 2 jam. 2 jam menjadi 3 jam. Sampai pada waktu beberapa teman kami tidak mampu lagi berjalan, dan beberapa diantaranya terkena hipotermia, kami masih jauh dari kata sampai. Sementara jarum jam sudah menunjukkan jam 9 malam lewat sedikit.

Kelompok pendaki terpisah-pisah. Beberapa dari kami ikut dengan navigator menuju puncak bayangan. Beberapa hanya berjalan dengan sisa tenaga yang ada. Beberapa lagi hanya diam bergeming sambil memulihkan tenaga, termasuk aku. Sementara dibelakang, jauh sekali, sweeper kelabakan mengangkat sekian banyak carrier yang berukuran tidak kecil sambil tetap menyemangati temanku yang tepar.

Mungkin sudah menjadi kode etis bagi para pendaki gunung untuk mengatakan, "sebentar lagi akan sampai di puncak" walaupun kenyataannya tidak begitu. Tapi aku tetap termakan oleh ucapan itu, demi mencapai titik akhir pendakian. Tetap saja, semangat dan tenaga yang kukumpulkan terasa tidak berguna di tengah gelapnya malam, dinginnya cuaca dan kondisi kaki yang tidak memadai.

Dengan tergopoh-gopoh, dan dengan hanya berbekal headlamp dan senter, kami, setelah 15 jam pendakian, akhirnya sampai di puncak bayangan, sebuah lokasi datar yang berukuran hanya 1/3 lapangan futsal. Sebagian langsung mendirikan tenda dan memasak makan malam, sebagian lagi pergi mencari sumber air. Maklum, kami sudah kehabisan air minum, sementara besok untuk turun gunung juga dipastikan akan membutuhkan air. Setelah semua selesai, kami pergi tidur, diiringi oleh suara hening dan desau angin yang menjadi lagu pengantar tidur kami.

...


Summit attack kami pagi itu sudah sangat terlambat. Matahari sudah bertengger dengan indahnya diatas gunung, sementara kami baru memulai pendakian kami ke puncak. Walaupun begitu aku, dan beberapa teman yang ikut summit attack, masih tetap terkesima dengan semburat warna emas dan jingga bercampur dengan birunya langit yang dipantulkan matahari pagi itu.  Perpaduan warna yang menarik, dan sangat indah. Selain itu, tepat dibawah kami, terdapat lautan awan yang membentuh gumpalan-gumpalan busa yang sangat indah. Baru kali ini aku melihat pemandangan seindah itu (foto selengkapnya disini).


pose cantik di Mandalawangi
 Taman Edelweiss, yang di tempat ini disebut Mandalawangi, merupakan sebuah padang rumput seukuran lapangan bola yang berisi tanaman Edelweiss dan tanaman berwarna jingga lainnya. Walaupun sinar matahari saat itu sudah menyengat, tapi kami tetap merasa kedinginan. Ditempat itu juga kami menemukan sebuah mata air yang airnya sangat segar. Segera kami isi beberapa botol untuk dijadikan bekal nanti.

Di ketinggian 3019 mdpl, kami puas menyaksikan kebesaran Tuhan, sebuah pemandangan yang bisa membuat siapa saja takjub. Gunung, awan, matahari, pohon2 mati, bung edelweiss, biru langit dan berbagai hal lainnya secara gantian memanjakan mata ini. Benar-benar pengalaman yang luar biasa.

...

Perjalan pulang kami  tidak semulus yang kami harapkan. Dari jam 11 siang kami berangkat dari tempat berkemah, kami tiba di area persawahan penduduk sekitar jam 12 malam, itu pun sempat diselingi oleh hujan yang tidak terlalu deras dan medan yang masih tetap terjal dan curam. Perjalanan yang mustahil bagi mereka yang bermental lemah dan berkemauan rendah.
Pendakian kali ini memang luar biasa. Setelah pendakian, bukannya aku jera, malah ketagihan. Ingin rasanya mendaki dan mendaki lagi untuk melihat ciptaan Tuhan yang lain, yang lebih indah dan megah. Makanya, pertengahan November nanti, aku akan mendaki Gunung Semeru lagi. Tidak sabar ingin melangkahkan kaki di hutan yang penuh dengan tantangan lagi.

Note: Lengkapnya kami mendaki 15 jam pada hari pertama dan 12 jam turun gunung pada hari kedua. Mantap!!

7 comments:

  1. Mandalawangi......someday i'l be there....

    ReplyDelete
    Replies
    1. good luck with that, i've got enough already..
      tapi memang tempatnya recommended kok, buat ngelatih fisik.

      Delete
  2. waahh...pangrango..
    jadi inget ma gie
    pengen liad padang edelweis disana...
    kapan ya bisa ke situ... :D
    .
    mampir balik ya mas
    ghozaliq.wordpress.com
    salam celoteh backpacker :D

    ReplyDelete
  3. hihihi...itu emang jlur pendidikan..bukan buat beginer, buat yang sering naek gunung aja tetep mantep..jadi inget gunung..cikuray....

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi gak nyesal ndaki pertama kali di Pangrango, jadi waktu ke semeru dan rinjani, gak tertatih lagi

      Delete
  4. Adakan yg punya nomer contak green rangernya?

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...