26 December 2012

Kuliner Spesial di Bandung : Tentang Arang, Swike dan Keju


Berhubung minggu lalu aku ngerasa ganteng banget, maka aku putusin untuk wara wiri ke Bandung. Tapi setelah dipikir2, ternyata tidak ada korelasi logis antara Bandung, kegantengan dan wara wiri. Mungkin kita bisa paksakan untuk menghubungkan kegantengan dengan kota Bandung. Kenapa? Karena Bandung adalah sarang tempat makhluk2 keceh dan sekseh berkumpul. Yah, kayak aku ini *ditimpuk barudak Bandung*

The truth is, aku ada urusan di Bandung. Aku membunuh anak tikus, dan sekarang dituntut Pengadilan Negeri Bandung untuk menyediakan keju setahun penuh untuk keluarga yang ditinggalkan sebagai ganti rugi. Ebuset!! Yang ada juga, barang2ku waktu kuliah dulu masih berceceran di Bandung. Lebih tepatnya, dikosan temenku. Ada beberapa kotak yang isinya mayoritas buku2 tercinta yang gak akan aku kasih tau judulnya ama kamu semua, beberapa jaket usang dan pakaian yang modelnya ketinggalan jaman, gitar yang belum pernah kupakai, serta celana dalam bolong2 akibat ulah tikus yang aku bunuh tadi. Kasihan.. tikusnya.

Nah, karena aku adalah seorang pecinta wanita traveler sejati, maka aku pun tidak membuang kesempatan ini untuk sekali lagi mengenal Bandung dengan cara yang berbeda, yaitu hunting makanan 'plus+plus'. Mengapa kegiatan ini begitu spesial? Itu semua karena aku spesial *orang disebelah aku langsung muntah*. Bukan, tapi karena susah untuk mendapatkan makanan yang demikian di kota lain, bahkan mungkin gak akan ditemukan dimanapun selain di Bandung.

Oke. Langsung ke pokok permasalahan ya. Bandung memang sudah lama dikenal sebagai kota Kembang, makanya banyak makanan enak disana. Apa hubungannya, cuk? Ah, entahlah, terlalu banyak julukan yang diberikan untuk kota yang satu ini, ada Kota Kembang, Paris van Java, barometer fashion Indonesia, kota dengan seribu FO, kota kuliner, dll. Pokoknya banyak banget. Aku aja sampai bingung dulu aku kuliah di kota apa, Bandung atau Paris van Java? Eh, sama aja ya? Baiklah, aku tau kalau aku melebih2kan. Maafkan aku Esmeralda. Sumpah, tak akan kuulangi perbuatan konyol ini.

Berangkat jam 5 dari Jakarta, aku tiba di Bandung hampir tengah malam, saat matahari sudah lama kembali keperaduannya, saat 'bondon' mulai beraksi di jalanan dan saat pasar Ciroyom lagi rame banget, sampai2 bau pasar itu tercium dari jarak 2 KM. Pokoknya keluar gerbang tol Pasir Koja biasanya udah pukul 9 atau 10 malam, lalu dilanjutkan dengan naik angkot ke arah Ciroyom, ganti lagi naik angkot Ciroyom-Lembang, lalu sampailah aku di tempat tujuanku di daerah Kampus UPI. Begitu terus selama aku kerja di Jakarta.
Gedung Isola di Kampus UPI

Karena waktu itu hormonku lagi gak benar (dan aku benar2 kedinginan), ide gila langsung bermunculan di otakku yang renta ini. Kalau bisa, aku gak usah tidur malam ini, menggila di pekatnya malam Bandung!!

Begitulah. Berbekal ide gila yang diatas, bermunculan ide2 sinting lainnya. Apa yang harus aku lakukan biar gak usah tidur?

Ngeronda? Udah biasa..

Ajeb-ajeb di Embassy di Ciwalk? Takut gak diizinin masuk. Bukan apa2, tampangku itu tampang alim2, yang bakal susah bersinergi dengan kodisi di dalam tempat ajeb2 yang demikian.

Ngondek di simpang Dago? Pasaranku udah turun, gak bakal untung!! Selain itu terlalu banyak saingan disana, aku bakal kalah telak.

Jaga lilin? Udah lama gak ngepet, udah lupa juga apa mantranya, jadi bakal gagal.

Maen kartu? Boseenn!!

Trus apa dong?!

Aha!!

Berhubung malam itu ada motor yang lagi nganggur di depan rumah kosan teman gue, dan yang punya motor juga lagi ada disitu (ya iyalah), kusarankan untuk berkeliling Bandung di malam hari dengan mengendarai motor. Iya, ini ide yang absurd banget. dingin2 naik motor keliling Bandung itu sama aja dengan cari penyakit. Tapi karena aku udah gilak dari sononya, gak ada yang bisa ngalangin aku dalam melaksanakan ide ini. Pokoknya harus jalan. Titik!!

(Yes, I'm stubborn!!) *bangga*

Awalnya dia gak mau, karena memang idenya absurd banget. Kalau jalan kan bisa siang aja. Tapi aku berkelit, dan mulai bersilat lidah untuk bisa mengajaknya keluar malam itu juga. Akhirnya kata itu terucap juga, hunting makanan malam!!

Dan dia setujuuu!! (dengan syarat, aku yang bayarin. Shit!)

dan perjalanan absurd kami pun mulai..

Perkedel Bondon
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Perkedel Bondon, yang berlokasi di dekat Stasiun Hall Bandung. Bondon dalam bahasa Sunda (kalau gak salah) berarti pelacur. Dan sesuai namanya, untuk bisa makan disana, kami harus berlaku seperti pelacur, pake baju yang kekurangan bahan, make up menor, dan dandanan menggoda (rok mini dan baju yukensi). Engga lah. Dulu sih (kata orang) namanya itu Perkedel Kostes, tapi karena pada saat awal2 dibuka pelanggan tempat ini adalah pelacur, maka namanya berubah secara otomatis menjadi Perkedel Bondon. Dan perlu aku tegaskan, aku bukanlah merupakan pelanggan awal warung perkedel ini, jadi aku jelas2 bukan BONDON!!

Yang sangat disayangkan adalah, kenapa aku gak kesana pada waktu 'dulu' itu? Kan lumayan dapet bondon.. eh, perkedel maksudnya :|

Satu pertanyaan yang sangat penting yang muncul di pikiran orang2 beriman yang rajin main game adalah, kenapa pelanggannya bisa dari kalangan pelacur gitu? jawabannya adalah karena warung Perkedel Bondon ini beroperasi mulai dari jam 11 malam sampe subuh. Itu makanya (dulu) banyak bondon yang makan bondon disana. *bahasaku udah mulai ngawur*

Tempat ini hampir selalu dipenuhi oleh pelanggan yang merupakan mahasiswa dan/atau anak muda lainnya. Pastinya yang keceh dan sekseh kayak aku. Mereka biasanya datang bergerombol, jarang sendiri, dari 3 orang sampai lebih dari 10 orang, bahkan lebih. Kenapa? Karena kalau datang sendiri, pasti bakal garing banget disana. Coba aja kalau gak percaya.

Tempatnya sih gak bagus2 banget, malah kesannya kotor. Secara warung itu terletak entah dijalan masuk pasar atau terminal. Aku kurang perhatikan, soalnya kalau kesana pasti udah malam (ya iyalah!) dan petunjuk2 arah udah mulai kabur tak beraturan <- Alesan! Bilang aja emang gak peduli sama keberadaannya. Hehe. Warung kecil Perkedel Bondon ini hanya bisa diisi oleh sekitar15 orang bersempit-sempitan dan ditambah sekitar 10 orang lagi duduk di bangku yang disediakan di depan warung.
penampakan warung perkedel bondon

Kami sampai disana sekitar jam 12 malam, atau jam 00 subuh? Gak tau. Pokoknya waktu kami sampai disana, warung itu udah di penuhi oleh pengunjung. Mulai dari kursi yang didalam warung, sampai kursi yang disediain di luar warung. Semuanya sudah dihuni. Oke, gak masalah. Kami pun langsung memarkir motor kami di dekat warung itu, gak tahu nasib apa yang sudah menunggu kami ditempat itu.

Lama kami berdiri melihat aktivitas pecari kenikmatan (perkedel bondon) malam itu. Melihat orang2 makan perkedel pakai nasi putih. Eh, kebalik ya? Seharusnya kan makan nasi putih pake perkedel, tapi karena menu utamanya perkedel, ya jadinya makan perkedel pake nasi putih. Beberapa orang sudah lalu lalang mengambil pesanannya, dan sebagian terlihat menyantap gorengan lain yang juga disediakan disana. Kami juga melihat proses pembuatan perkedel itu (perkedel disini dibuat dari ketang asli dan dimasak dengan menggunakan tungku arang gede). Oke, info barusan gak penting. Etapi, justru itu yang membuat perkedel ini jadi spesial (selain dari namanya ya), yaitu di masak dengan menggunakan arang. Jadi fresh from the oven, begitu istilah Sundanya. Hehe

Setelah merasa cukup lama menikmati pemandangan yang tidak menarik tadi, kami memutuskan udah saatnya kami untuk mulai memesan perkedel untuk kami. Masalahnya adalah, kami gak tau bagaimana prosesnya. Langsung pesan seperti yang di warteg2 langgananku atau bagaimana. Selidik penuh selidik, akhirnya kami sampai pada sebuah kesimpulan ilmiah bahwa kami harus mengambil nomor antrian yang disediakan, baru kemudian memesan perkedel yang kami inginkan.

Proses pencarian nomor antrian juga gak semudah proses buang air kecil (yang tinggal hanya membuka resketing celana dan biarkan air kecilnya mengalir keluar). Bukan sesimpel itu. Entah dimana nomor antrian itu diletakkan dan entah udah antrian keberapa sekarang. Yang pasti, waktu kami lagi linglung mengenai nasib kami dalam dunia per-perkedelan ini, aku mendapati sebuah nomor antrian bertuliskan angka 9 terletak di meja di dekat kami berdiri. Sempat senang karena sudah mendapat nomor antrian, kami mendengar nomor undian, eh antrian 11 dipanggil dan sekitar 2 plastik lumayan gede perkedel berpindah tangan. Wow, berapa puluh perkedel tuh dibawa pulang?

Intinya, sekarang udah antrian no 12. Dan nomor antrian yang kami dapat itu udah lewat, gak akan diproses lagi. Shit!!

Akhirnya setelah heboh gak bisa menemukan nomor antrian, aku langsung bertanya kepada salah satu dari sedikit pelayan yang ada disitu. Darinya aku dapet info kalau nomor antrian hanya disediain 40 nomor dan semuanya udah dipakai oleh orang2 yang antri malam itu. Sial. Gimana dong?!

Satu2nya jalan adalah menunggu sampai semua nomor antrian selesai dilayani, kemudian kembali lagi ke awal antrian. Dan sekarang nomor antrian yang akan di layani adalah nomor 12, artinya, 28 nomor antrian lagi sebelum giliran kami.

Kapan selesainyaaa??

Hanya gara2 perkedel 1000 rupiah per biji, aku harus ngantri berjam2 seperti mengantri sembako di kelurahan?! No way!! Mengantri sembako masih lebih berperikemanusiaan. Ini hanya mengantri perkedel yang (kata orang) rasanya biasa aja?! Big NO!!

Sebagai imbalan karena kami udah datang disana, akhirnya kami hanya membeli sedikit gorengan seperti perkedel jangung, tahu isi, dll. untuk disantap sambil membuang sial.

Note: kalau kau sampai di warung perkedel ini tanpa tau seluk beluk pemesanan perkedelnya, kau hanya akan berakhir duka tanpa mendapatkan perkedel yang kita harapkan. Pasalnya, pelayan disini tidak akan menanyakan apa yang kau butuhkan. No, di tempat ini bukan pembeli yang menjadi raja, tapi penjualnya lah yang menjadi raja. Prinsip mereka (barangkali): kalau mau silahkan, kalau gak mau ya gak apa2 juga, masih banyak ikan di laut. Haha

Madtari
Karena memang udah kelaparan, akhirnya kami memacu motor tua temanku ke daerah Dago. Desas desus disana ada warung keceh yang buka 24 jam, Madtari namanya. Yang spesial dari warung ini adalah ketersediaan KEJU yang luar biasa berlimpah. Gak tanggung2, untuk seporsi indomie keju, kau akan mendapati gunung keju menutupi indomie yang seharusnya menjadi sajian utama dari hidangan itu. Haha

Pokoknya kalau ketempat ini, kau akan muntah karena kebanyakan keju!!

Aku lupa dimana lokasi persisnya, pokoknya cafe Madtari tidak berada tepat di jalan Dago. Kau harus masuk beberapa meter ke arah kanan jalan (kalau kau datang dari arah simpang Dago), dan tadaa... cafenya ada disebelah kiri jalan,

Dulu sih katanya Madtari ini hanya warung pinggir jalan biasa yang berada di pinggir jalan yang becek dan kurang baik. Tapi karena ada permasalahan lahan dan sejenisnya (CMIIW), akhirnya mereka buka gedung baru yang lebih baik dan lebih cozy, dilengkapi dengan banyak colokan untuk sekedar charge hape, laptop atau tablet di setiap meja yang di dekat tembok. Atau kalau mau sekalian nyetrum mantan yang mutusin kau di tempat ini juga bisa kok, highly recommended.

Sesuai dengan namanya (lagi), kalau mau makan ditempat ini kita harus jadi seperti orang gila (mad) dulu. Kalau gak, kita gak akan diijinin masuk. Di depan pintu masuk cafe ini ada counter yang akan mengecek level kegilaan kita. Kalau kita lulus cek kegilaan, kita bakan diijinin masuk, tapi kalau gak lolos, kita akan disuruh untuk mencoba lagi tahun depan. Good luck with that.

Yup, pernyataan diatas bohong banget. Yang ada juga kita harus gila akan keju untuk bisa menikmati sajian terbaik dari cafe ini. Dari berbagai jenis hidangan yang disediakan (roti bakar, pisang bakar, mie goreng, mie rebus, dll), yang terbaik adalah yang memakai keju. Sebab tanpa keju, makanan di Madtari akan sama aja dengan makanan dimanapun.

Oke. Jadi waktu datang kesana aku pesan Mie Goreng Keju dan Pisang Bakar, sementara temanku memesan Mie Rebus Telor Keju dan Roti Bakar Keju Coklat.

Siap untuk melihat penampakannya?

Well, here they go:

keju everywhere
Sumpah, kejunya gak main2. Bahkan, saking berlimpahnya, kadang ada kotak kecil keju yang belum selesai diparut, dimasukkan begitu saja  kedalam gunung keju itu. Cafe yang sangat loyal.

Di cafe ini kita gak perlu antri, berdiri atau stress karena gak kebagian tempat duduk. Dengan ukuran gedung yang lumayan lapang, cafe ini mampu menampung lebih dari 50 orang. Proses pemesanannya juga enak, kita datang, langsung cari meja kosong, liat papan menu yang tersedia di setiap meja, alu pesan deh. Semua pelayannya cowok, gak ada cewek. Tapi jangan takut, mereka gak gigit orang kok. Mereka baik, suka membantu, suka senyum, rajin menabung dan rajin mengaji. Ciyus.

Pokoknya pelayanan disini mantap deh. Pesanannya juga cepat datang dan cepat habis. Soalnya sensasi kebanjiran keju itu rasanya enak banget. Walaupun (mungkin) rasa roti/pisang nya biasa aja, tapi karena kejunya banyak, jadi enak deh.

Note: keju yang dipakai disini adalah keju asli dan lumayan terkenal. Sering muncul di iklan di tipi kok.

Untuk menghabiskan semangkuk mie goreng keju, aku membutuhkan sekitar 45 menit. Gilak, lama banget kan?! Iya, soalnya aku makan sambil mein hape sih, makanya lama. Kebanyakan waktu untuk meanan hape dibandingkan dengan waktu makannya. Tapi beneran, baru setengah jalan, aku langsung dihinggapi perasaan enek dan begah. Indomie goreng yang sedikit asin ditimpali dengan keju yang rada asin membuat perutku berontak. Tapi aku tidak menyerah. Aku percaya, kalau mie keju itu sebenarnya enak *lalu muntah dikejauhan*

Untuk harganya sendiri gak terlalu mahal, standar kantong anak muda lah. Terserah anak muda yang mana, yang penting duitnya harus banyak.Bihihihi *dijejelin uang kertas*

Anyway folks, sebenarnya masih banyak tempat kuliner spesial lain yang pantas dicoba di Bandung. Tapi waktu itu kami memang datang agak larut malam, jadi banyak tepat makan keceh yang udah tutup.

Salah satu tempat yang ingin kami kunjungi malam itu adalah Cibadak, sebuah nama jalan dimana mayoritas orang Cina (tapi ada orang lokal juga kok) berjualan makanan di warung2 tenda biru. Beberapa makanan disana terbuat dari daging babi, lalu ada swike (kodok or katak?), dan banyak juga makanan standar lainnya sejenis nasi goreng yang dijamin halal.  Aku pernah makan disana beberapa kali dan masakan makanannya semuanya amazing. Sayang waktu kami kesana malam itu, jalananannya udah sepi. PEdagangnya udah pada pulang.

Anyway, Cibadak is another must visit spot for culinary hunter!!

Konspirasi dalam permainan Lompat Tali

Sekelompok anak terlihat bermain lompat tali di samping Danau Toba. Apa yang kurang dari keadaan diatas? Ternyata diperlukan konspirasi untuk mengalahkan lawan main kali ini. Itu sebabnya adik manis yang memakai celana pink terlihat sedang membisikkan sesuatu kepada 'lawan jaga'nya. Game is not fun without conspiracy, isn't it?

Foto diatas diambil beberapa waktu lalu ketika aku mengunjungi rumah oppung-ku di Sipolha, Danau Toba. Ternyata di era serba digital sekarang ini, permainan tradisional masih dipelihara dengan baik oleh sekelompok anak-anak di wilayah Barat kepulauan Indonesia. Sambil menunggu oppung-ku mengambil ikan nila di keramba yang terlihat dikejauhan sana, aku menikmati permainan mereka sambil mengingat-ingat masa kecilku dulu.

Nostalgia yang sempurna!

*diposkan dalam rangka mengikuti turnamen foto perjalanan di sini*

17 December 2012

Mount Semeru in Pic

Sunrise on Ranu Kumbolo

Taking Photograph of  Sunrise

Late Sunrise

Savannah

Ranu Kumbolo from Top
Another Savannah
Oro Oro Ombo
Walking through Oro Oro Ombo
Lavender?
Kalimati
Mahameru
Sunset on Kalimati
Sunrise during Summit to Mahameru
Finally, wedhus gembel

Please visit this link for the complete story about this trip.

16 December 2012

Warna-warni di Ranu Kumbolo, Semeru

Ranu Kumbolo, yang terkenal dengan legenda dan misteri yang melingkupi tempat itu, pagi itu berubah menjadi sebuah desa warna-warni yang diapit oleh bukit savana dan danau Ranu Kumbolo itu sendiri. Beberapa ratus tenda yang merupakan milik pendaki yang tergabung dalam Jambore Nasional Avtech pada hari itu berhasil memberikan warna yang ceria pada teduhnya warna savana dengan langit biru pantulan bukit savana sebagai latar belakangnya. Benar-benar pemandangan yang sangat jarang ditemukan di Indonesia.

15 December 2012

Enjoying Ranu Kumbolo


Masih pagi di Ranu Kumbolo. Saat itu matahari sudah duduk diperaduannya di balik bukit savana yang melingkupinya. Walaupun demikian, udara saat itu masih sangat dingin. Setidaknya begitu yang kurasakan.

Ternyata udara dingin yang dirasakan olrh mayoritas pendaki di tempat ini tidak menghentikan niat bapak ini dari keinginannya memancing ikan di situ. Dengan segera, dia mengeluarkan kailnya dan mulai menapakkan kakinya ke bongkahan batu yang ada di dekat bibir danau. Setelah sampai, dia langsung melemparkan mata kailnya dan mengambil posisi santai.

Entah berapa lama dia bertahan dalam posisi itu. Dan entah berapa lama dia tidak mendapat seekor ikanpun sebagai hasil dari usahanya memancing.

Kemudian aku sadar, tujuan utama bapak itu bukanlah untuk menangkap ikan, tapi untuk menikmati keindahan Ranu Kumbolo. Sambil tenang diam menikmati dinginnya suhu bekas air di kaki, semilir angin menerpa wajah dan tangan memegang ujung kail, serasa jiwa kita bersatu dengan indahnya Ranu Kumbolo.

For me, that was the best way to enjoy Ranu Kumbolo.

14 December 2012

Mahameru, Persahabatan dan Perjuangan <- Bukan 5cm



Happy birthday!!

Bukan, bukan untuk aku ataupun kalian. Waktu itu kebetulan salah satu teman tripku berulang tahun. Frantau Baskara namanya (bisa segera di cek di Facebook). Ultah yang keberapa? Sebaiknya jangan tanya. Banyak yang sensitive mengenai masalah ini.

Jadi, atas saran guide kami, Frans dikasih pilihan, mau diceburin atau nyebur sendiri ke danau Ranu Kumbolo. Karena dia gak mau nyebur sendiri, jadi beberapa orang dari kelompok kami mengangkat dia rame-rame dan menceburkannya ke dalam danau, setelah itu kami (aku doing sik) berteriak “Happy Birthday Frans!!”, diikuti dengan koor para pendaki yang kebetulan menyaksikan adegan tak senonoh itu. Enak banget ya bisa ngerayain ultah di Rakum. Januari nanti kesana lagi ah, biar bisa ngerayain ultah disana.

Happy Birthday, Frans!!
Banyak banget kejadian di tempat itu. Setelah kejadian tidak menyenangkan tadi, ada juga kejadian mengenai cowok yang nembak pacarnya tepat di depan danau Ranu Kumbolo. So sweet!! <3 Aku juga mau digituin #eh?

Lanjut~

Perjalanan dilanjutkan dengan mendaki Tanjakan Cinta yang tidak berperikemanusiaan. Tanjakannya terjal banget. Tapi menurut isu nih ya, kalau kita mendaki tanjakan itu tanpa menoleh kebelakang, sambil sesekali (atau seringkali) membayangkan orang pujaan kita, maka cinta kita akan terwujud. Itu legendanya. Dan gak tau ini kebetulan atau tidak, sepasang temanku langsung jadian sesaat setelah mendaki Tanjakan Cinta ini. Wow.. (Eh, benar kan mereka udah jadian? Selamat ya..)



Tanjakan Cinta
Sayangnya, aku belum tau mengenai legenda itu ketika aku mendakinya. Kalau saja aku tau, mungkin aku akan mendakinya tanpa menoleh kebelakang sambil membayangkan gadis manis berjaket putih itu #teteup. Hehe

Sehabis peperangan rohani di Tanjakan Cinta, kami langsung disuguhkan dengan satu lagi pemandangan yang luar biasa indah, Oro Oro Ombo. Entah apa arti nama itu, yang pasti tempat ini A-M-A-Z-I-N-G!! Entahlah, kalau dipikir2 lagi, nama Oro Oro Ombo kurang sesuai dengan keindahan tempat itu. Seharusnya yang kasih nama bisa memilih nama yang lebih ear-catchy, easy listening, dan rada berbau alam gitu seperti grassy-yard (karena banyak rumputnya), Bunga Citra Lestari/Flower Image Forever (karena ternyata disana ada juga bunga yang indah dan abadi), Kembang Nan Rupawan (ini gue ngasal), atau apalah. Hihihi. *woi, pokus woi*

Iya, jadi Oro Oro Ombo itu adalah padang rumput paling luas dan paling indah yang pernah kulihat. Sepanjang mata memandang, hanya ada pemandangan rumput yang terlihat. Memang, pada saat itu rumputnya sedang mengering (aku pernah liat di pideo waktu rumput di Oro Oro Ombo berwarna hijau dan berbunga warna warni), tapi aku suka sekali sensasi yang diberikan tempat itu saat itu. Gradasi warna dari rumput yang kuning, coklat sampai hitam memberikan kesan tenang, teduh, damai dan bebas. Belum lagi kalau kau lihat langit yang sangat cerah yang menemani perjalanan kami, seolah mengijinkan kami untuk menikmati hari yang indah ini dengan bahagia <- ciyeee.. yang lagi bahagia. Dan didepan, dihadapan kami, berdiri tegak puncak Mahameru, menantang kami yang renta ini untuk segera sampai disana. Okesip.


Oro Oro Ombo from Top

We're on Oro Oro Ombo
Sampai di Kalimati hari sudah senja. Rintik rinai hujan sempat turun membasahi tanah yang kering akibat panas matahari sepanjang siang tadi. Dingin pun turut turun mengganti panas dan gerah yang kami rasakan. Tapi kami tidak peduli, kami tetap memasak makanan alakadarnya untuk bekal makan malam kami. Rencananya kami akan segera berangkat ke Arcopodo dan memasang tenda disana, tapi sialnya saat itu kami ketahuan dan tidak diberi ijin oleh ranger setempat. Jadinya kami pasa tenda di Kalimati.

Ingat waktu diawal post aku katakan kalau pendakian hanya diijinkan sampai Kalimati aja? Ya, sampai sini lah kami.



Tapi dasar, pendaki gunung itu gak bisa dikekang oleh peraturan dan larangan. Justru petualangan yang sedikit beresiko yang diharapkan dapat terjadi. Begitu pula kami. Kami bermaksud untuk menyelinap diam-diam malam nanti ke Puncak Mahameru. Prinsipku, buat apa mendaki kalau tidak sampai puncak?!

Sambil menunggu hujan reda, kusempatkan mampir ke tenda salah seorang peserta dari Jamnas Avtech. Jadi saat itu lebih dari 1/3 wilayah Kalimati sudah berisi tenda warna-warni, dan tenda peserta Avtech memang sudah di khususkan di sekitar posko Kalimati, bahkan sampai dibuat red line sebagai pembatas wilayah kekuasaan Avtech dan wilayah kekuasaan kaum duafa.. eh, independen maksudnya. Jadi saat itu udah jelas yang mana tenda peserta Avtech dan yang mana tenda non-Avtech.

Sunset in Kalimati
Jadi waktu aku sedang ber silaturahim ke tenda salah satu peserta Avtech, aku ceritakan kalau kelompok kami pasti akan Summit Attack dan berangkat malam nanti. Kirain dia bakal ngelarang coz peraturannya udah jelas, gak boleh ke Mahameru, ternyata dia juga bilang kalau hampir semua pendaki yang ada di Kalimati pasti bakal ke Mahameru. Mereka akan melepas atribut dan embel-embel Avtech yang melekat pada diri mereka saat itu, dan pergi Summit dengan status independen. Bisa gitu ya? Hahaha. Intinya, gak akan ada yang bisa melarang kalau semua orang sudah bersatu.

Jadi, ribuan manusia berada selama lebih kurang 4 hari diatas gunung, pasti kau bertanya-tanya tentang bagaimana proses pembuangan limbah tubuh terjadi di tempat itu? Atau singkatnya, gimana bokernya, sob?! Harus kuceritakan atau gak ya? Ah, kuceritakan aja lah :)

Sebenarnya pihak Avtech udah nyediain 2 toilet portable di sekitar Kalimati. Ngakunya sih toilet portable, padahal sebenarnya hanya kotak dari kain+kayu kecil berukuran 1x1 meter yang diletakkan tepat ditengah Kalimati, tanpa saluran pembuangan dan tanpa air bilasan. Jadi kalau kita mendekat ke toilet itu, otomatis bau tak sedap (campuran pipis berbagai jenis pendaki) akan tercium dalam radius sekian meter. And that’s disgusting.

Ada cara lain yang lebih jitu: semak2. Tepat dibelakang tenda para pendaki adalah hutan perdu yang ditumbuhi lumayan banyak semak2. Itulah sasaran pembuangan kali ini. Aku juga ikut dalam proses pembuangan itu. Dengan bermodalkan sebotol air mineral, sebungkus tissue, kayu untuk korek2 tanah, masker untuk nutupin idung, kupluk untuk menyamarkan diri, aku berangkat masuk ke semak2.

Perjalanan harus dilakukan dengan ekstra hati2 karena salah2 kita akan terkena ranjau kuning yang bertebaran dimana2: ada yang terpampang jelas dan ada juga yang tertutup malu oleh selembar tissue.

Oke, sampai sini aku udah mau muntah >_<

Pokoknya gitu lah. Waktu masuk ke hutan, udah ada beberapa orang yang celingak celinguk cari spot yang cozy buat melakukan proses pembuangan, dan aku segera ikut masuk kedalam proses pencarian itu. Dan yang lebih parahnya, waktu aku keluar dari hutan laknat itu, aku secara tidak sengaja (dan tidak pengen sih sebenarnya) melihat salah satu pelaku pembuangan melakukan prosesnya di pinggir jalan setapak yang dipakai orang untuk masuk kedalam hutan. Ya ampun, kalau mau berhajat kan bisa ditempat yang agak tertutup dikit. Ya jangan sampai kelihatan bujurnya gitu juga lah. Ckckckckk..

Dengan menutup mata, hati dan pikiran, kepercepat langkahku keluar dari tempat kotor itu.

Malamnya, seperti yang direncanakan, hampir semua pendaki keluar dari tenda mereka dan bergerak menuju Mahameru. Tepat jam 11 malam kami keluar dari tenda, dan waktu kami keluar, barisan cahaya yang berasal dari senter dan headlamp terlihat bersinar dan membelah gelapnya malam. Barisan lurus berwarna putih memanjang dari ujung Kalimati sampai hilang ditengah hutan di ujung jalan. Bahkan seberkas cahaya senter terlihat bergerak perlahan di tengah jalan menuju Puncak Mahameru, sedangkan kami, kami baru mau berangkat. It’s gonnna be a long night. Pikirku dalam hati.
Makanan selama mendaki
Benar saja, perjalanan kali ini berasa sangat lama. Selain karena jalur awalnya yang sangat terjal, juga karena banyaknya orang yang memadati jalan setapak waktu itu. Istilahnya macet lah. Bayangin film Lord of the Rings waktu orang2 pada ngungsi ke Helm’s Deep, itu kan rame banget tuh. Yah, kayak gitu lah. Rame dan tak terkendali.  Tak ada sejengkal pun dari jalan menuju Mahameru yang tidak di-occupy. Beh, bahasanya belepotan. Cckckck

Tanpa terasa (padahal udah ngos-ngosan), akhirnya kami tiba di bukit berpasir. Awal pedakian dan permulaan penderitaan. Memang, puncak Mahameru sudah terlihat dari titik ini, tapi butuh beberapa stok nyawa dan beberapa serep semangat untuk bisa mencapainya. Awalnya jumlah pasirnya hanya sedikit, gak begitu tebal. Tapi beberapa jam kemudian, ketebalan pasir mencapai level yang tidak manusiawi, sehingga untuk mendapatkan pijakan yang kuat aja butuh doa yang panjang dan khusuk dulu. Hihihi

Total sekitar 4-5 jam kami habiskan dari awal trek berpasir itu  untuk bisa mencapai puncak Mahameru. Dan diantara 4-5 jam itu, banyak kejadian yang tak terduga yang kami alami. Dari mulai kesetiaan, penghianatan, putus asa, desperate (apa bedanya ama putus asa?), tidak egois dan rendah hati <- ini apa sih? Mendaki gunung atau kisah orang lagi pacaran? Segitu banget deskripsinya.


Sunrise while summit attack
Jadi gini, sesaat sebelum mendaki kami sudah sepakat dan janji untuk selalu bersama, bagaimana pun keadaannya nanti, selama Summit Attack ini kami tidak boleh terpisah. Pasalnya, ada beberapa orang dari kelompok kami yang kondisi fisiknya tidak se-prima anggota yang lainnya, jadi pasti bakal lama dan tertinggal, juga bakal sering istirahat. Nah, jaga2 kalau ditengah jalan dia udah gak kuat lagi, kami juga sudah sepakat untuk membatalkan pendakian ke Mahameru dan pulang bersama2. Itu lah arti dari kelompok. Itulah arti dari sebuah tim. Itulah arti dari sahabat. Dan itulah arti dari toleransi.

Tapi pada prakteknya, kelompok kami tercerai berai. Kaum yang lemah tertinggal dibelakang, kaum lainnya sedang berusaha mengeluarkan semua tenaga mereka mendaki di tengah kelompok, sementara kaum sisanya sudah entah dimana disuatu tempat jauh didepan sana.

Disinilah semuanya mulai di uji..

Yang pertama Andis (TS kami yang sangat tangguh) dan Fiersa (yup, that indie singer from Bandung) yang bertugas menjadi sweeper. Mereka harus rela tertinggal jauh dibelakang dan merelakan waktu mereka terbuang demi membantu dan menemani Intan, salah satu anggota kelompok kami yang fisiknya tak sekuat tekadnya untuk bisa sampai ke puncak. Walaupun pada akhirnya mereka bisa sampai di puncak sekitar jam 7 dengan selamat. Tentu sebagai bayarannya, mereka tidak bisa menikmati sunrise di puncak Mahameru.


Yang kedua, Miftah (mas haji) yang harus merelakan tongkat mendakinya dipinjam Tiar, yang saat itu sudah seperti wanita yang berumur 3 abad, yang tidak sanggup menggerakkan kakinya lagi barang satu langkahpun. Padahal saat itu Miftah sendiripun sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh. Tapi itu semua dilakukan atas nama persahabatan, solidaritas dan kasih sayang #eh?


Yang ketiga, Bang Budi, guide kami, yang tentu saja kondisinya sangat prima dan bisa menaklukkan gunung pasir ini dalam sekejap. Tapi dia harus rela mundur dari pendakian dan kembali ke tenda kami di Kalimati demi mengantarkan Desy, salah satu anggota kami yang sakit, yang tidak kuat lagi mendaki. Dari situlah rasa itu kemudian muncul, berkembang dengan pesat, dipupuk dengan perhatian dan akhirnya berbuahkan cinta yang bersambut. Uhuy.. Sekali lagi selamat yaa~


Yang keempat, ranger kami, Mas Apok (disingkat dari kata Apocalipto, sebuah judul pilem jaman dulu, karena memang dia mirip sama pemeran utamanya) yang harus bersusah-susah menarik, menjaga dan menyemangati Dyfa, ummi kami dalam trip kali ini. Ya, ini masalah usia. Wkkwwkwk... Entah usaha apa aja yang sudah mereka lakukan, sampai akhirnya mereka sampai di Mahameru setelah kami semua selesai poto2an dan istirahat.


Yang ke lima, aku, yang sudah bersusah-susah membawakan kamera DSRL Erlin dengan tujuan supaya nanti di Mahameru bisa dipoto beberapa kali dan supaya nanti setelah pulang aku ditraktir makan enak (dan beneran ditraktir loh!). Saat hampir mencapai puncak, kelompok aku dan Erlin bertemu dengan  gadis manis berjaket putih, yang saat itu ditinggal oleh kelompoknya sendirian. Aku tau dia kuat dan perkasa. Tapi saat itu keadaannya seperti serigala yang kehilangan kawanannya, sepi tak berujung.

Kuhabiskan sedikit jalan pendakian bersamanya, bercerita bersama sambil menghitung langkah yang telah kami buat. Tapi entah karena alasan apa, akhirnya aku meninggalkan gadis manis berjaket putih itu sendirian. Aku memang bodoh!! Ya, maafkan aku. Mungkin daintara kelompok kami, hanya aku yang paling tidak pengertian dan yang paling tidak tahan uji. Akhirnya aku sampai di pucak jam 6 tepat dan langsung disambut oleh muntahan abu Gn. Semeru. Aku senang. Kemudian sedih. I left my team behind my back. I’m sorry guys, but I’ve learnt my lesson!! Won’t do it again *cross finger*


Yang terakhir, Frantau (sosok yang wajahnya merupakan gabungan antara Afgan dan Teuku Wisnu). Selama mendaki dia selalu sendiri. Sering kali dia bersama kelompok kami, tapi kemudian dia selalu mendaki di depan dan istirahat lagi sampai kami menghampirinya. Begitu terus.  Ada yang salah dengan anak ini, begitu pikirku. Hehehe

Dan Suci, yang rela berkorba tidak ikut Summit Attck demi menjaga tenda dan segala perlengkapan kami. Special thaks for her!!

Moral lesson: When you climb, do never leave your friend behind, for whatever reason it may. It’s the climb that matters. The top of the mountain is the bonus you get when you’re done conquering yourself in the process. Well, I’m just saying!!

Selain cobaan iman, tanjakan pasir itu juga menyediakan cobaan fisik. Batu2 besar dan kecil bekas muntahan gunung tertanam dengan tidak stabil disepanjang jalur pendakian. And you know what? There were moments when the rocks fell down from the top when someone misstepped on them. The rocks would be detached from the sand that was holding it and went down toward the climbers behind us.

Dan waktu itu ada batu gede banget (hampir seukuran gallon aqua) yang jatuh dari atas dan meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi. Sontak semua orang berteriak histeris dan berusaha menghindar. Yang lebih berbahaya lagi, bentuk batu itu tidak bulat, jadi dia jatuh dengan arah yang gak stabil, kadang ke kiri dan kadang ke kanan. Intinya, waktu batu itu jatuh, semua orang yang berada dibawah berstatus BAHAYA. Semua memiliki peluang untuk kena.

Hebatnya, ada satu bapak pendaki yang bersedia menahan laju batu gede itu. Dia mengambil ancang2 sementara beberapa orang dibawahnya juga bersiap untuk menahan dia dengan membuat jaring tangan supaya dia tidak jatuh terlalu jauh. Pada saat batu itu menghantam bapak itu, aku gak tau jelas, tapi kayaknya batu itu menghantam kepalanya, dia terjatuh beberapa meter kebawah, terjungkang tanpa perlawanan. Dan setelah dia berhenti dari jatuh, dia juga berhenti bergerak, terdiam dalam keadaan tergeletak di tanah. Entah amal atau kebaikan apa sudah dia buat, dia selamat dari kecelakaan itu. Hanya luka memar (dan sedikit darah) di kening sebelah kiri saja yang dideritanya, selebihnya dia tetap kuat dan tegar untuk mendaki sampai ke puncak.

Satu kata untuk dia, SALUT!!

Puncak Mahameru adalah tempat terindah yang mungin bisa kau bayangkan. Hamparan awan berarak dibawah kita, membentuk lautan putih tebal dan lembut, seperti melihat ke tumpukan raksasa kapas putih. Bergerak mengikuti arah mata angin diantara birunya langit lepas. We were on the top of Java Island, 3676 masl, and we were happy.




The feeling was undescribeable. We felt the cold, but we were burnt by sun at the same time. We were tired, yet we were so happy. We saw clouds, a class of mountains, sun and wedhus gembel. We even saw our tents far down below us. They were just like small colorful dots in the middle of Kalimati. We’ve had enough, but we wanted more. All the feelings were just mixed in our heart, brought a tingling sensation to shout, to let them free and fly amongst mountain’s air.

Ah, this is heaven.

This is freedom.

This is achievement.

This is LIFE.

And above all, this is INDONESIA!!

Thanks God, I live in Indonesia. *sembah sujud sambil ngucap sukur sambil berurai air mata*

PS: Oh iya, semalam aku baru nonton 5cm bersama gadis manis berjaket putih, sekalian merayakan ulang tahunnya. Happy birthday!!

Happy Birthday, Chintyaaaa~

12 December 2012

Tentang mendaki Semeru


Keadaan kereta Matarmaja saat itu sangat padat. Hampir tidak ada bangku kosong untuk sekedar meluruskan kaki atau menghirup udara segar sambil menenangkan diri setelah perjuangan untuk bisa sampai di kereta ini. Yang lebih mengejutkan lagi, tempat barang yang berada diatas tempat duduk itu pun penuh. Tidak seperti biasanya. Tapi kali ini aku tersenyum melihat isi dari tempat barang itu: carrier.

Sepanjang mata memandang keatas kereta, hanya carrier yang terlihat. Wajar saja, mayoritas penumpang kereta api ini adalah calon pendaki gunung, entah itu Gunung Semeru, Gunung Bromo atau gunung2 lain yang ada disana. Woohoo!! Seketika darah petualangku mendidih. Rasanya berada di sekeliling orang2 dengan passion yang sama itu seperti bertemu kembali dengan teman lama, teman yang sudah mengenal kita bertahun2 lamanya. It feels like home!

Satu poin plus yang kusadari saat naik KA Matramaja: hampir tidak ada penumpang yang tidak memiliki tempat duduk seperti yang kualami saat naik KA Progo. Semua orang kebagian tempat duduk. Jadi, tidak akan ada tubuh-tubuh yang bergelimpangan di koridor kereta saat malam tiba nanti. Semuanya tidur dengan khusuk di kursi masing-masing.

Hanya saja, karena tidak ada orang tubuh-tubuh bergelimpangan saat itu, pikiran nyelenehku pun mulai beraksi. Aku, yang saat itu didera kantuk yang sangat hebat, langsung mengeluarkan matras dan membukanya. Kegiatan itu diikuti oleh aksi tidur di lantai. Bukan di koridor kereta, tapi di tengah2 tempat duduk, tepat di bawah jendela. Sebodo sama orang yang lagi asik ngobrol diantara bangku itu, aku dengan santainya bilang “permisi” dan memulai aksi tidur tanpa pikir panjang. Woohoo!! Senang banget bisa tidur leluasa di dalam kereta api (walaupun mengganggu kesejahteraan penumpang lain). Hari itu rasanya aku sudah naik kelas menjadi gembel dengan level kegembelan yang lebih keceh dengan tingkat kebrengsekan level maks <- salah gaul!! Hasilnya, tidurku pulas (dari jam 11 sampai jam 3 subuh) dan hatiku damai. Iya, gak nyambung. Biarin aja sik.

Kereta yang membawa kami pergi dari padatnya kota Jakarta akhirnya sampai di Stasiun Kota Lama Malang. Total sekitar 20 jam kami gunakan selama perjalanan ini dan kami tidak menyesal.. Pada umumnya, orang-orang yang akan mendaki Gunung Semeru akan turun di Stasiun Kota Baru. Tapi mengingat tempat itu bakal sangat ramai, terutama pada saat long weekend seperti ini, maka dengan pintarnya TS kami memesan sebuah angkutan umum dan menyuruhnya menjemput kami di Stasiun Kota Lama. Dan benar saja, begitu kami turun dari KA, kami hanya menemukan sepasang pedagang yang sedang duduk di pinggir rel. Sisanya, hanya kami. Baru sekali ini aku berada di stasiun yang sepi seperti ini.

photo by Erlin Sitinjak
Untuk turun dari KA saja kami mendapat masalah. Memang sepertinya kami selalu diminati oleh masalah. Jadi saat itu KA sedang berhenti di St. Kota Lama (waktu itu kami belum lihat plangnya dan beberapa malah belum tau kalau kami akan turun di St. Kota Lama), dan salah satu teman saya nyeletuk tanpa motivasi apapun, seperti candaan yang sering dia lakukan sebelumnya, “Kita turun disini kan?” Karena memang dia sifatnya suka melucu, aku pun menimpali dengan candaan, “Iya, turun saja sendiri. Kalau sudah sampai tujuan, jangan lupa kirim surat ya” kataku setengah tertawa.

Ternyata, ketika waktu berhenti kereta tinggal hitung detik, TS kami secara tidak sengaja melihat plang nama stasiun di sebelah kanan rel. Disitu dengan jelas-jelas tertulis STASIUN KOTA LAMA MALANG. Sontak kami semua kalang kabut mengambil carrier dan segala perlengkapan kami. Dengan masih setengah percaya, kami jalan terburu-buru kearah pintu keluar yang pada saat itu dipenuhi oleh orang-orang yang tidak tau sedang apa. Mereka bercengkerama bergerombol didekat sambungan kereta sehingga menghalangi jalan keluar. Dengan muka panik kami bilang permisi sambil mengatakan bahwa kami akan turun di stasiun ini. Salah satu bapak yang berdiri paling dekat dengan pintu keluar dengan sangat baiknya menginformasikan bahwa kereta ini hanya berhenti sebentar dan akan segera berangkat, dan memang pada saat itu sinyal keberangkatan sudah dinyalakan, dan pemberitahuan tentang keberangkatan pun sudah diumumkan. Tapi dia tetap bergeming, tidak bergerak sedikitpun dan masih menghalangi jalan. Lalu, entah darimana muncul ide itu, aku berkata, “Bapak udah tau keretanya mau berangkat, tapi tetap berdiri disitu. Geser dong!!” Pada akhirnya dia bergeser, dan kami pun keluar satu persatu saat keretanya mulai bergerak. Last minutes banget. Hasilnya, beberapa teman kami tertinggal didalam kereta dan harus turun di Stasiun Kota Baru karena kereta udah keburu bergerak dalam kecepatan yang tinggi. Hihihi

Sebenarnya ini gak penting, tapi aku mau kasih tau aja kalau warung makan yang ada diseberang Stasiun Kota Lama itu enaaaak banget. Dan MURAAAHHH!! #PentingBanget #BukanPromosi. Umm.. menunya apa aja ya? Ada nasi soto, nasi pecel, kerupuk, teh manis, deelel. Waktu itu aku makan nasi pecel (special request yang versi jumbo), teh manis, kerupuk, tambah satu gelas teh manis lagi hanya bayar 9500 ajah kakak. Sumpah, gak nyesal.  The best nasi pecel ever (untungnya nyokapku gak pernah buat nasi pecel, jadi aku gak perlu ngerasa jadi anak durhaka gitu, hehehe *ditoyor nyokap*). Kalau kalian kebetulan lewat sana, silahkan mampir.  Jangan sebut namaku, kalian gak bakal dapat diskon.

Ampun deh, udah panjang banget ajah. Padahal belum cerita mengenai awal pendakian loh. Ckckckk.. Could someone please teach me how to write a not-too-long travel story? >_<

Okeh, disingkat aja ya. Ceritanya kami udah selesai makan, lalu naik angkot carteran tadi ke Tumpang (bukan di pasarnya ya). Urus SIMAKSI (dan puji Tuhan bisa terdaftar), lalu sewa truk buat mengantarkan kami ke Ranupani. Sambil menanti truk datang, beberapa kali truk dan jeep yang mengangkut para calon pendaki Gn. Semeru juga melewati tempat kami menunggu. Mereka (walaupun merupakan bagian dari Avtech – yang ditandai dengan raincover yang bertuliskan Avtech gede) ada juga yang membawa bendera organisasinya masing2. Mereka berteriak kegirangan. Membuat aku semakin tidak sabar mendaki Gn. Semeru.

Diantara para calon pendaki, aku juga melihat seorang gadis manis berjaket putih berdiri sambil tersenyum malu2 di salah satu truk yang lewat. Ah, dia.. :) Sayang aku tak sempat mengambil fotonya waktu naik truk itu.

Perjalanan dengan mengendarai truk ke Ranupani merupakan pengalaman baru bagi sebagian orang, and it was great. Apalagi kalau kau duduk diatas kepala truk itu waktu melewati pemandangan Gn. Bromo, benar2 suguhan yang patut dikenang. Ada juga air terjun entah-apa-namanya yang sangat indah (kalau dilihat dari kejauhan). Pokoknya, semuanya seperti sudah disusun begitu indah untuk jadi distraksi dari perjalanan yang sebenarnya mengerikan ini, menanjak, panas, penuh lubang dan jauuuuhh.


waktu di truk
lihat betapa senangnya kami :)
Ketika kami pada akhirnya sampai di Ranupani, keadaan sudah sedikit membaik. Bahkan hujan rintik-rintik menyambut kedatangan kami dengan rinainya yang berselimut dingin. Sepiring nasi rawon dan/atau nasi soto ditimpali dengan segelas teh manis anget (merk naga yang sangat harum) melengkapi suasana teduh hari itu.

Tetapi, suasanya teduh itu tidak bertahan lama melihat fakta bahwa desa ini sekarang dipadati oleh beberapa ratus pendaki yang berserak dari ujung sampai ujung desa ini. Tidak ada celah yang tidak ditempati oleh pendaki. Semuanya resmi dipakai untuk sekedar duduk mengobrol atau melengkapi perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendaki nanti. Kami pun dengan sukses menyempil diantara gerombolan orang banyak itu, sambil memeriksa anggota kelompok dan melengkapi persediaan logistic untuk 3 hari kedepan.

berangkaaatttt!!
Setelah semua aman, kami pun berangkaaaatt!! *pasang pose ultraman* Tidak lupa, sebelumnya kami berdoa dan pemanasan, untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan selama mendaki <- contoh yang baik, kalau bisa ditiru ya! *wink*

Seperti yang sudah banyak dikabarkan di berbagai website pendakian, jalur pendakian di Semeru ini cukup landai. Hanya saja, welcome track yang cukup terjal diawal pendakian lumayan menguras tenaga. Kurang lebih beberapa ratus meter kami mendaki, kami langsung ngos-ngosan, padahal sebelumnya kondisi kami masih prima. Tapi setelah lewat welcome track tadi, jalur pendakian menjadi sangat landai dan bersahabat dengan kondisi kaki para pendaki pemula.

Enaknya mendaki di Semeru yaitu treknya yang sudah jelas, berbentuk dan kelihatan. Sepetak jalan sudah terbentuk dengan mulusnya, entah itu sengaja dibentuk atau secara alami menjadi begitu akibat terlalu sering dilewati orang <- apa bedanya? Tapi ada juga trek yang memang dibuat komblok (atau batako?), maksudnya mungkin supaya jalannya gak longsor. Jadi sebenarnya,  walaupun kamu mendaki sendirian, sangat susah untuk bisa kesasar di Gunung Semeru ini. Lha wong jalurnya udah jelas kok.

trekking
Enaknya lagi, disepanjang jalur pendakian, sudah terdapat banyak papan pengumuman yang dibuat oleh entah siapa (aku gak terlalu memperhatikan pembuatnya) yang memberikan informasi mengenai nama dan ketinggian tempat saat itu. Sayang, tidak ada papan informasi mengenai suhu udara saat itu, soalnya aseli dingin banget. Kalau misalnya ada informasi mengenai suhu udara kan kita bisa jadi lebih knowledgeable gitu. Hehehe *ditimpuk papan pengumuman*

Sepanjang jalan, dari Ranupani sampai Ranu Kumbolo trek yang kami lewati itu adalah trek hidup dan mati, kayak yang di lagu2 gitu, jurang disebelah kiri dan tebing di sebelah kanan. Jadi kita (mungkin) akan mati kalau berjalan terlalu ke kiri (masuk jurang), dan kita akan tetap hidup kalau kita berjalan di jalan yang benar, disebelah kanan maksudnya. Hahaha #SalahGaul

Oh, sebagai tambahan. Karena Gunung Semeru pada saat itu di gang-bang oleh ribuan orang, maka pendaki yang istirahat di sepanjang pinggir jalan terlihat memperindah pemandangan ketika mendaki waktu itu. Cowok, cewek, oma-oma dan bahkan sampe dede kecil terlihat istirahat seadanya di pinggir trek. Selonjoran, tidur telentang atau duduk santai bergerombol sambil mengobrol, ada ada saja kegiatan mereka waktu istirahat. Untungnya, aku sempat bertemu dengan gadis manis berjaket putih itu waktu dia istirahat. Ingin hati mengajaknya mendaki bersama kelompok kami, tapi sayang, gak diijinin sama ketua kelompoknya. Saat ingin berpisah, dia sempat senyum kepada kami (atau begitu yang kubayangkan ^^). Ah, rupanya lelah mendaki gunung masih menyisakan senyuman indah diwajahnya, pikirku senang.

kabut yang menemani perjalanan kami
Kami juga istirahat kok. Sering malah. Dari Pos 1 sampai Pos 4, sekitar 5 jam kami mendaki, terhitung entah berapa kali kami istirahat. Sampai2 guide kami memanggil kami sebagai kelompok pendaki woles (kalau dibalik jadi selow). Hahaha. Ada2 aja. Thanks for whoever invented that term, it really represents our group. However, I love my climbing partners and that “gadis manis berjaket putih” as well. They are the best. *peluk mereka satu satu*

Sampai di Ranu Kumbolo merupakan suatu pencapaian bagi kami. Dan kami puas saat itu walaupun pada malam ketika kami pertama kali melihat Ranu Kumbolo, tempat itu tak jauh beda bila dibandingkan dengan sebuah pasar malam: ramai dan berisik. Sungguh. Orang-orang berteriak bersahut-sahutan, aroma indomie rebus bertebaran di angkasa (yang dengan sengaja menghampiri kami yang sedang kelaparan), juga lampu2 itu dan sampah-sampah yang terlihat disepanjang jalan, membuat Ranu kumnolo yang terkenal dengan legenda dan misterinya menjadi tempat yang sanat biasa, bahkan cenderung dibenci. Sial.

sunrise di Ranu Kumbolo, with me signing peace with my two fingers #penting
photo by Erlin Sitinjak

rame banget bok!!
Namun, ketika besok paginya kami bangun, dengan badan yang menggigil karena suhu yang sangat rendah (aku gak tau berapa derajat karena gak ada papan pengumuman mengenai suhu disana), aku melihat satu lagi karya tangan Tuhan yang luar biasa. Bersyukur banget aku bisa menyaksikan pemandangan seperti itu. Sinar matahari yang mengintip dari celah V kedua bukit di seberang danau Ranu Kumbolo bagaikan sihir yang bisa memukau siapa aja. Keren banget men!!

Walau sinar matahari pagi itu belum bisa menghalau udara dingin ditempat itu, namun sudah banyak orang yang keluar tendanya untuk mengabadikan momen berharga itu. Dengan melawan dingin, mereka berpose, memoto dan bergaya sampai puas. Disitulah, ketika pagi itu, aku melihat sisi ceria Ranu Kumbolo. Deretan tenda warna-warni di tepi danau mennggantikan sebentar sisi tenang dan teduh danau itu yang biasanya dirasakan ketika berada disekitar Ranu Kumbolo.


Sebenarnya aku mau lanjut menulis, tapi karena ini sudah kepanjangan, lanjutannya besok aja ya :)

__bersambung__

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...