26 December 2012

Kuliner Spesial di Bandung : Tentang Arang, Swike dan Keju


Berhubung minggu lalu aku ngerasa ganteng banget, maka aku putusin untuk wara wiri ke Bandung. Tapi setelah dipikir2, ternyata tidak ada korelasi logis antara Bandung, kegantengan dan wara wiri. Mungkin kita bisa paksakan untuk menghubungkan kegantengan dengan kota Bandung. Kenapa? Karena Bandung adalah sarang tempat makhluk2 keceh dan sekseh berkumpul. Yah, kayak aku ini *ditimpuk barudak Bandung*

The truth is, aku ada urusan di Bandung. Aku membunuh anak tikus, dan sekarang dituntut Pengadilan Negeri Bandung untuk menyediakan keju setahun penuh untuk keluarga yang ditinggalkan sebagai ganti rugi. Ebuset!! Yang ada juga, barang2ku waktu kuliah dulu masih berceceran di Bandung. Lebih tepatnya, dikosan temenku. Ada beberapa kotak yang isinya mayoritas buku2 tercinta yang gak akan aku kasih tau judulnya ama kamu semua, beberapa jaket usang dan pakaian yang modelnya ketinggalan jaman, gitar yang belum pernah kupakai, serta celana dalam bolong2 akibat ulah tikus yang aku bunuh tadi. Kasihan.. tikusnya.

Nah, karena aku adalah seorang pecinta wanita traveler sejati, maka aku pun tidak membuang kesempatan ini untuk sekali lagi mengenal Bandung dengan cara yang berbeda, yaitu hunting makanan 'plus+plus'. Mengapa kegiatan ini begitu spesial? Itu semua karena aku spesial *orang disebelah aku langsung muntah*. Bukan, tapi karena susah untuk mendapatkan makanan yang demikian di kota lain, bahkan mungkin gak akan ditemukan dimanapun selain di Bandung.

Oke. Langsung ke pokok permasalahan ya. Bandung memang sudah lama dikenal sebagai kota Kembang, makanya banyak makanan enak disana. Apa hubungannya, cuk? Ah, entahlah, terlalu banyak julukan yang diberikan untuk kota yang satu ini, ada Kota Kembang, Paris van Java, barometer fashion Indonesia, kota dengan seribu FO, kota kuliner, dll. Pokoknya banyak banget. Aku aja sampai bingung dulu aku kuliah di kota apa, Bandung atau Paris van Java? Eh, sama aja ya? Baiklah, aku tau kalau aku melebih2kan. Maafkan aku Esmeralda. Sumpah, tak akan kuulangi perbuatan konyol ini.

Berangkat jam 5 dari Jakarta, aku tiba di Bandung hampir tengah malam, saat matahari sudah lama kembali keperaduannya, saat 'bondon' mulai beraksi di jalanan dan saat pasar Ciroyom lagi rame banget, sampai2 bau pasar itu tercium dari jarak 2 KM. Pokoknya keluar gerbang tol Pasir Koja biasanya udah pukul 9 atau 10 malam, lalu dilanjutkan dengan naik angkot ke arah Ciroyom, ganti lagi naik angkot Ciroyom-Lembang, lalu sampailah aku di tempat tujuanku di daerah Kampus UPI. Begitu terus selama aku kerja di Jakarta.
Gedung Isola di Kampus UPI

Karena waktu itu hormonku lagi gak benar (dan aku benar2 kedinginan), ide gila langsung bermunculan di otakku yang renta ini. Kalau bisa, aku gak usah tidur malam ini, menggila di pekatnya malam Bandung!!

Begitulah. Berbekal ide gila yang diatas, bermunculan ide2 sinting lainnya. Apa yang harus aku lakukan biar gak usah tidur?

Ngeronda? Udah biasa..

Ajeb-ajeb di Embassy di Ciwalk? Takut gak diizinin masuk. Bukan apa2, tampangku itu tampang alim2, yang bakal susah bersinergi dengan kodisi di dalam tempat ajeb2 yang demikian.

Ngondek di simpang Dago? Pasaranku udah turun, gak bakal untung!! Selain itu terlalu banyak saingan disana, aku bakal kalah telak.

Jaga lilin? Udah lama gak ngepet, udah lupa juga apa mantranya, jadi bakal gagal.

Maen kartu? Boseenn!!

Trus apa dong?!

Aha!!

Berhubung malam itu ada motor yang lagi nganggur di depan rumah kosan teman gue, dan yang punya motor juga lagi ada disitu (ya iyalah), kusarankan untuk berkeliling Bandung di malam hari dengan mengendarai motor. Iya, ini ide yang absurd banget. dingin2 naik motor keliling Bandung itu sama aja dengan cari penyakit. Tapi karena aku udah gilak dari sononya, gak ada yang bisa ngalangin aku dalam melaksanakan ide ini. Pokoknya harus jalan. Titik!!

(Yes, I'm stubborn!!) *bangga*

Awalnya dia gak mau, karena memang idenya absurd banget. Kalau jalan kan bisa siang aja. Tapi aku berkelit, dan mulai bersilat lidah untuk bisa mengajaknya keluar malam itu juga. Akhirnya kata itu terucap juga, hunting makanan malam!!

Dan dia setujuuu!! (dengan syarat, aku yang bayarin. Shit!)

dan perjalanan absurd kami pun mulai..

Perkedel Bondon
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Perkedel Bondon, yang berlokasi di dekat Stasiun Hall Bandung. Bondon dalam bahasa Sunda (kalau gak salah) berarti pelacur. Dan sesuai namanya, untuk bisa makan disana, kami harus berlaku seperti pelacur, pake baju yang kekurangan bahan, make up menor, dan dandanan menggoda (rok mini dan baju yukensi). Engga lah. Dulu sih (kata orang) namanya itu Perkedel Kostes, tapi karena pada saat awal2 dibuka pelanggan tempat ini adalah pelacur, maka namanya berubah secara otomatis menjadi Perkedel Bondon. Dan perlu aku tegaskan, aku bukanlah merupakan pelanggan awal warung perkedel ini, jadi aku jelas2 bukan BONDON!!

Yang sangat disayangkan adalah, kenapa aku gak kesana pada waktu 'dulu' itu? Kan lumayan dapet bondon.. eh, perkedel maksudnya :|

Satu pertanyaan yang sangat penting yang muncul di pikiran orang2 beriman yang rajin main game adalah, kenapa pelanggannya bisa dari kalangan pelacur gitu? jawabannya adalah karena warung Perkedel Bondon ini beroperasi mulai dari jam 11 malam sampe subuh. Itu makanya (dulu) banyak bondon yang makan bondon disana. *bahasaku udah mulai ngawur*

Tempat ini hampir selalu dipenuhi oleh pelanggan yang merupakan mahasiswa dan/atau anak muda lainnya. Pastinya yang keceh dan sekseh kayak aku. Mereka biasanya datang bergerombol, jarang sendiri, dari 3 orang sampai lebih dari 10 orang, bahkan lebih. Kenapa? Karena kalau datang sendiri, pasti bakal garing banget disana. Coba aja kalau gak percaya.

Tempatnya sih gak bagus2 banget, malah kesannya kotor. Secara warung itu terletak entah dijalan masuk pasar atau terminal. Aku kurang perhatikan, soalnya kalau kesana pasti udah malam (ya iyalah!) dan petunjuk2 arah udah mulai kabur tak beraturan <- Alesan! Bilang aja emang gak peduli sama keberadaannya. Hehe. Warung kecil Perkedel Bondon ini hanya bisa diisi oleh sekitar15 orang bersempit-sempitan dan ditambah sekitar 10 orang lagi duduk di bangku yang disediakan di depan warung.
penampakan warung perkedel bondon

Kami sampai disana sekitar jam 12 malam, atau jam 00 subuh? Gak tau. Pokoknya waktu kami sampai disana, warung itu udah di penuhi oleh pengunjung. Mulai dari kursi yang didalam warung, sampai kursi yang disediain di luar warung. Semuanya sudah dihuni. Oke, gak masalah. Kami pun langsung memarkir motor kami di dekat warung itu, gak tahu nasib apa yang sudah menunggu kami ditempat itu.

Lama kami berdiri melihat aktivitas pecari kenikmatan (perkedel bondon) malam itu. Melihat orang2 makan perkedel pakai nasi putih. Eh, kebalik ya? Seharusnya kan makan nasi putih pake perkedel, tapi karena menu utamanya perkedel, ya jadinya makan perkedel pake nasi putih. Beberapa orang sudah lalu lalang mengambil pesanannya, dan sebagian terlihat menyantap gorengan lain yang juga disediakan disana. Kami juga melihat proses pembuatan perkedel itu (perkedel disini dibuat dari ketang asli dan dimasak dengan menggunakan tungku arang gede). Oke, info barusan gak penting. Etapi, justru itu yang membuat perkedel ini jadi spesial (selain dari namanya ya), yaitu di masak dengan menggunakan arang. Jadi fresh from the oven, begitu istilah Sundanya. Hehe

Setelah merasa cukup lama menikmati pemandangan yang tidak menarik tadi, kami memutuskan udah saatnya kami untuk mulai memesan perkedel untuk kami. Masalahnya adalah, kami gak tau bagaimana prosesnya. Langsung pesan seperti yang di warteg2 langgananku atau bagaimana. Selidik penuh selidik, akhirnya kami sampai pada sebuah kesimpulan ilmiah bahwa kami harus mengambil nomor antrian yang disediakan, baru kemudian memesan perkedel yang kami inginkan.

Proses pencarian nomor antrian juga gak semudah proses buang air kecil (yang tinggal hanya membuka resketing celana dan biarkan air kecilnya mengalir keluar). Bukan sesimpel itu. Entah dimana nomor antrian itu diletakkan dan entah udah antrian keberapa sekarang. Yang pasti, waktu kami lagi linglung mengenai nasib kami dalam dunia per-perkedelan ini, aku mendapati sebuah nomor antrian bertuliskan angka 9 terletak di meja di dekat kami berdiri. Sempat senang karena sudah mendapat nomor antrian, kami mendengar nomor undian, eh antrian 11 dipanggil dan sekitar 2 plastik lumayan gede perkedel berpindah tangan. Wow, berapa puluh perkedel tuh dibawa pulang?

Intinya, sekarang udah antrian no 12. Dan nomor antrian yang kami dapat itu udah lewat, gak akan diproses lagi. Shit!!

Akhirnya setelah heboh gak bisa menemukan nomor antrian, aku langsung bertanya kepada salah satu dari sedikit pelayan yang ada disitu. Darinya aku dapet info kalau nomor antrian hanya disediain 40 nomor dan semuanya udah dipakai oleh orang2 yang antri malam itu. Sial. Gimana dong?!

Satu2nya jalan adalah menunggu sampai semua nomor antrian selesai dilayani, kemudian kembali lagi ke awal antrian. Dan sekarang nomor antrian yang akan di layani adalah nomor 12, artinya, 28 nomor antrian lagi sebelum giliran kami.

Kapan selesainyaaa??

Hanya gara2 perkedel 1000 rupiah per biji, aku harus ngantri berjam2 seperti mengantri sembako di kelurahan?! No way!! Mengantri sembako masih lebih berperikemanusiaan. Ini hanya mengantri perkedel yang (kata orang) rasanya biasa aja?! Big NO!!

Sebagai imbalan karena kami udah datang disana, akhirnya kami hanya membeli sedikit gorengan seperti perkedel jangung, tahu isi, dll. untuk disantap sambil membuang sial.

Note: kalau kau sampai di warung perkedel ini tanpa tau seluk beluk pemesanan perkedelnya, kau hanya akan berakhir duka tanpa mendapatkan perkedel yang kita harapkan. Pasalnya, pelayan disini tidak akan menanyakan apa yang kau butuhkan. No, di tempat ini bukan pembeli yang menjadi raja, tapi penjualnya lah yang menjadi raja. Prinsip mereka (barangkali): kalau mau silahkan, kalau gak mau ya gak apa2 juga, masih banyak ikan di laut. Haha

Madtari
Karena memang udah kelaparan, akhirnya kami memacu motor tua temanku ke daerah Dago. Desas desus disana ada warung keceh yang buka 24 jam, Madtari namanya. Yang spesial dari warung ini adalah ketersediaan KEJU yang luar biasa berlimpah. Gak tanggung2, untuk seporsi indomie keju, kau akan mendapati gunung keju menutupi indomie yang seharusnya menjadi sajian utama dari hidangan itu. Haha

Pokoknya kalau ketempat ini, kau akan muntah karena kebanyakan keju!!

Aku lupa dimana lokasi persisnya, pokoknya cafe Madtari tidak berada tepat di jalan Dago. Kau harus masuk beberapa meter ke arah kanan jalan (kalau kau datang dari arah simpang Dago), dan tadaa... cafenya ada disebelah kiri jalan,

Dulu sih katanya Madtari ini hanya warung pinggir jalan biasa yang berada di pinggir jalan yang becek dan kurang baik. Tapi karena ada permasalahan lahan dan sejenisnya (CMIIW), akhirnya mereka buka gedung baru yang lebih baik dan lebih cozy, dilengkapi dengan banyak colokan untuk sekedar charge hape, laptop atau tablet di setiap meja yang di dekat tembok. Atau kalau mau sekalian nyetrum mantan yang mutusin kau di tempat ini juga bisa kok, highly recommended.

Sesuai dengan namanya (lagi), kalau mau makan ditempat ini kita harus jadi seperti orang gila (mad) dulu. Kalau gak, kita gak akan diijinin masuk. Di depan pintu masuk cafe ini ada counter yang akan mengecek level kegilaan kita. Kalau kita lulus cek kegilaan, kita bakan diijinin masuk, tapi kalau gak lolos, kita akan disuruh untuk mencoba lagi tahun depan. Good luck with that.

Yup, pernyataan diatas bohong banget. Yang ada juga kita harus gila akan keju untuk bisa menikmati sajian terbaik dari cafe ini. Dari berbagai jenis hidangan yang disediakan (roti bakar, pisang bakar, mie goreng, mie rebus, dll), yang terbaik adalah yang memakai keju. Sebab tanpa keju, makanan di Madtari akan sama aja dengan makanan dimanapun.

Oke. Jadi waktu datang kesana aku pesan Mie Goreng Keju dan Pisang Bakar, sementara temanku memesan Mie Rebus Telor Keju dan Roti Bakar Keju Coklat.

Siap untuk melihat penampakannya?

Well, here they go:

keju everywhere
Sumpah, kejunya gak main2. Bahkan, saking berlimpahnya, kadang ada kotak kecil keju yang belum selesai diparut, dimasukkan begitu saja  kedalam gunung keju itu. Cafe yang sangat loyal.

Di cafe ini kita gak perlu antri, berdiri atau stress karena gak kebagian tempat duduk. Dengan ukuran gedung yang lumayan lapang, cafe ini mampu menampung lebih dari 50 orang. Proses pemesanannya juga enak, kita datang, langsung cari meja kosong, liat papan menu yang tersedia di setiap meja, alu pesan deh. Semua pelayannya cowok, gak ada cewek. Tapi jangan takut, mereka gak gigit orang kok. Mereka baik, suka membantu, suka senyum, rajin menabung dan rajin mengaji. Ciyus.

Pokoknya pelayanan disini mantap deh. Pesanannya juga cepat datang dan cepat habis. Soalnya sensasi kebanjiran keju itu rasanya enak banget. Walaupun (mungkin) rasa roti/pisang nya biasa aja, tapi karena kejunya banyak, jadi enak deh.

Note: keju yang dipakai disini adalah keju asli dan lumayan terkenal. Sering muncul di iklan di tipi kok.

Untuk menghabiskan semangkuk mie goreng keju, aku membutuhkan sekitar 45 menit. Gilak, lama banget kan?! Iya, soalnya aku makan sambil mein hape sih, makanya lama. Kebanyakan waktu untuk meanan hape dibandingkan dengan waktu makannya. Tapi beneran, baru setengah jalan, aku langsung dihinggapi perasaan enek dan begah. Indomie goreng yang sedikit asin ditimpali dengan keju yang rada asin membuat perutku berontak. Tapi aku tidak menyerah. Aku percaya, kalau mie keju itu sebenarnya enak *lalu muntah dikejauhan*

Untuk harganya sendiri gak terlalu mahal, standar kantong anak muda lah. Terserah anak muda yang mana, yang penting duitnya harus banyak.Bihihihi *dijejelin uang kertas*

Anyway folks, sebenarnya masih banyak tempat kuliner spesial lain yang pantas dicoba di Bandung. Tapi waktu itu kami memang datang agak larut malam, jadi banyak tepat makan keceh yang udah tutup.

Salah satu tempat yang ingin kami kunjungi malam itu adalah Cibadak, sebuah nama jalan dimana mayoritas orang Cina (tapi ada orang lokal juga kok) berjualan makanan di warung2 tenda biru. Beberapa makanan disana terbuat dari daging babi, lalu ada swike (kodok or katak?), dan banyak juga makanan standar lainnya sejenis nasi goreng yang dijamin halal.  Aku pernah makan disana beberapa kali dan masakan makanannya semuanya amazing. Sayang waktu kami kesana malam itu, jalananannya udah sepi. PEdagangnya udah pada pulang.

Anyway, Cibadak is another must visit spot for culinary hunter!!

2 comments:

  1. salam BLOGGER dan salam kenal dari blogger asal kota padang, sumatra barat.
    maaf,saya masih Newbie
    yozidahfilputra.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga, saya blogger dari.. dari mana ya?? Asal Medan, Sumut. Kuliah di Bandung, dan sekarang kerja di Jakarta. Well, bilang aja blogger Indonesia..

    Makasih udah mampir!! :D

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...