14 December 2012

Mahameru, Persahabatan dan Perjuangan <- Bukan 5cm



Happy birthday!!

Bukan, bukan untuk aku ataupun kalian. Waktu itu kebetulan salah satu teman tripku berulang tahun. Frantau Baskara namanya (bisa segera di cek di Facebook). Ultah yang keberapa? Sebaiknya jangan tanya. Banyak yang sensitive mengenai masalah ini.

Jadi, atas saran guide kami, Frans dikasih pilihan, mau diceburin atau nyebur sendiri ke danau Ranu Kumbolo. Karena dia gak mau nyebur sendiri, jadi beberapa orang dari kelompok kami mengangkat dia rame-rame dan menceburkannya ke dalam danau, setelah itu kami (aku doing sik) berteriak “Happy Birthday Frans!!”, diikuti dengan koor para pendaki yang kebetulan menyaksikan adegan tak senonoh itu. Enak banget ya bisa ngerayain ultah di Rakum. Januari nanti kesana lagi ah, biar bisa ngerayain ultah disana.

Happy Birthday, Frans!!
Banyak banget kejadian di tempat itu. Setelah kejadian tidak menyenangkan tadi, ada juga kejadian mengenai cowok yang nembak pacarnya tepat di depan danau Ranu Kumbolo. So sweet!! <3 Aku juga mau digituin #eh?

Lanjut~

Perjalanan dilanjutkan dengan mendaki Tanjakan Cinta yang tidak berperikemanusiaan. Tanjakannya terjal banget. Tapi menurut isu nih ya, kalau kita mendaki tanjakan itu tanpa menoleh kebelakang, sambil sesekali (atau seringkali) membayangkan orang pujaan kita, maka cinta kita akan terwujud. Itu legendanya. Dan gak tau ini kebetulan atau tidak, sepasang temanku langsung jadian sesaat setelah mendaki Tanjakan Cinta ini. Wow.. (Eh, benar kan mereka udah jadian? Selamat ya..)



Tanjakan Cinta
Sayangnya, aku belum tau mengenai legenda itu ketika aku mendakinya. Kalau saja aku tau, mungkin aku akan mendakinya tanpa menoleh kebelakang sambil membayangkan gadis manis berjaket putih itu #teteup. Hehe

Sehabis peperangan rohani di Tanjakan Cinta, kami langsung disuguhkan dengan satu lagi pemandangan yang luar biasa indah, Oro Oro Ombo. Entah apa arti nama itu, yang pasti tempat ini A-M-A-Z-I-N-G!! Entahlah, kalau dipikir2 lagi, nama Oro Oro Ombo kurang sesuai dengan keindahan tempat itu. Seharusnya yang kasih nama bisa memilih nama yang lebih ear-catchy, easy listening, dan rada berbau alam gitu seperti grassy-yard (karena banyak rumputnya), Bunga Citra Lestari/Flower Image Forever (karena ternyata disana ada juga bunga yang indah dan abadi), Kembang Nan Rupawan (ini gue ngasal), atau apalah. Hihihi. *woi, pokus woi*

Iya, jadi Oro Oro Ombo itu adalah padang rumput paling luas dan paling indah yang pernah kulihat. Sepanjang mata memandang, hanya ada pemandangan rumput yang terlihat. Memang, pada saat itu rumputnya sedang mengering (aku pernah liat di pideo waktu rumput di Oro Oro Ombo berwarna hijau dan berbunga warna warni), tapi aku suka sekali sensasi yang diberikan tempat itu saat itu. Gradasi warna dari rumput yang kuning, coklat sampai hitam memberikan kesan tenang, teduh, damai dan bebas. Belum lagi kalau kau lihat langit yang sangat cerah yang menemani perjalanan kami, seolah mengijinkan kami untuk menikmati hari yang indah ini dengan bahagia <- ciyeee.. yang lagi bahagia. Dan didepan, dihadapan kami, berdiri tegak puncak Mahameru, menantang kami yang renta ini untuk segera sampai disana. Okesip.


Oro Oro Ombo from Top

We're on Oro Oro Ombo
Sampai di Kalimati hari sudah senja. Rintik rinai hujan sempat turun membasahi tanah yang kering akibat panas matahari sepanjang siang tadi. Dingin pun turut turun mengganti panas dan gerah yang kami rasakan. Tapi kami tidak peduli, kami tetap memasak makanan alakadarnya untuk bekal makan malam kami. Rencananya kami akan segera berangkat ke Arcopodo dan memasang tenda disana, tapi sialnya saat itu kami ketahuan dan tidak diberi ijin oleh ranger setempat. Jadinya kami pasa tenda di Kalimati.

Ingat waktu diawal post aku katakan kalau pendakian hanya diijinkan sampai Kalimati aja? Ya, sampai sini lah kami.



Tapi dasar, pendaki gunung itu gak bisa dikekang oleh peraturan dan larangan. Justru petualangan yang sedikit beresiko yang diharapkan dapat terjadi. Begitu pula kami. Kami bermaksud untuk menyelinap diam-diam malam nanti ke Puncak Mahameru. Prinsipku, buat apa mendaki kalau tidak sampai puncak?!

Sambil menunggu hujan reda, kusempatkan mampir ke tenda salah seorang peserta dari Jamnas Avtech. Jadi saat itu lebih dari 1/3 wilayah Kalimati sudah berisi tenda warna-warni, dan tenda peserta Avtech memang sudah di khususkan di sekitar posko Kalimati, bahkan sampai dibuat red line sebagai pembatas wilayah kekuasaan Avtech dan wilayah kekuasaan kaum duafa.. eh, independen maksudnya. Jadi saat itu udah jelas yang mana tenda peserta Avtech dan yang mana tenda non-Avtech.

Sunset in Kalimati
Jadi waktu aku sedang ber silaturahim ke tenda salah satu peserta Avtech, aku ceritakan kalau kelompok kami pasti akan Summit Attack dan berangkat malam nanti. Kirain dia bakal ngelarang coz peraturannya udah jelas, gak boleh ke Mahameru, ternyata dia juga bilang kalau hampir semua pendaki yang ada di Kalimati pasti bakal ke Mahameru. Mereka akan melepas atribut dan embel-embel Avtech yang melekat pada diri mereka saat itu, dan pergi Summit dengan status independen. Bisa gitu ya? Hahaha. Intinya, gak akan ada yang bisa melarang kalau semua orang sudah bersatu.

Jadi, ribuan manusia berada selama lebih kurang 4 hari diatas gunung, pasti kau bertanya-tanya tentang bagaimana proses pembuangan limbah tubuh terjadi di tempat itu? Atau singkatnya, gimana bokernya, sob?! Harus kuceritakan atau gak ya? Ah, kuceritakan aja lah :)

Sebenarnya pihak Avtech udah nyediain 2 toilet portable di sekitar Kalimati. Ngakunya sih toilet portable, padahal sebenarnya hanya kotak dari kain+kayu kecil berukuran 1x1 meter yang diletakkan tepat ditengah Kalimati, tanpa saluran pembuangan dan tanpa air bilasan. Jadi kalau kita mendekat ke toilet itu, otomatis bau tak sedap (campuran pipis berbagai jenis pendaki) akan tercium dalam radius sekian meter. And that’s disgusting.

Ada cara lain yang lebih jitu: semak2. Tepat dibelakang tenda para pendaki adalah hutan perdu yang ditumbuhi lumayan banyak semak2. Itulah sasaran pembuangan kali ini. Aku juga ikut dalam proses pembuangan itu. Dengan bermodalkan sebotol air mineral, sebungkus tissue, kayu untuk korek2 tanah, masker untuk nutupin idung, kupluk untuk menyamarkan diri, aku berangkat masuk ke semak2.

Perjalanan harus dilakukan dengan ekstra hati2 karena salah2 kita akan terkena ranjau kuning yang bertebaran dimana2: ada yang terpampang jelas dan ada juga yang tertutup malu oleh selembar tissue.

Oke, sampai sini aku udah mau muntah >_<

Pokoknya gitu lah. Waktu masuk ke hutan, udah ada beberapa orang yang celingak celinguk cari spot yang cozy buat melakukan proses pembuangan, dan aku segera ikut masuk kedalam proses pencarian itu. Dan yang lebih parahnya, waktu aku keluar dari hutan laknat itu, aku secara tidak sengaja (dan tidak pengen sih sebenarnya) melihat salah satu pelaku pembuangan melakukan prosesnya di pinggir jalan setapak yang dipakai orang untuk masuk kedalam hutan. Ya ampun, kalau mau berhajat kan bisa ditempat yang agak tertutup dikit. Ya jangan sampai kelihatan bujurnya gitu juga lah. Ckckckckk..

Dengan menutup mata, hati dan pikiran, kepercepat langkahku keluar dari tempat kotor itu.

Malamnya, seperti yang direncanakan, hampir semua pendaki keluar dari tenda mereka dan bergerak menuju Mahameru. Tepat jam 11 malam kami keluar dari tenda, dan waktu kami keluar, barisan cahaya yang berasal dari senter dan headlamp terlihat bersinar dan membelah gelapnya malam. Barisan lurus berwarna putih memanjang dari ujung Kalimati sampai hilang ditengah hutan di ujung jalan. Bahkan seberkas cahaya senter terlihat bergerak perlahan di tengah jalan menuju Puncak Mahameru, sedangkan kami, kami baru mau berangkat. It’s gonnna be a long night. Pikirku dalam hati.
Makanan selama mendaki
Benar saja, perjalanan kali ini berasa sangat lama. Selain karena jalur awalnya yang sangat terjal, juga karena banyaknya orang yang memadati jalan setapak waktu itu. Istilahnya macet lah. Bayangin film Lord of the Rings waktu orang2 pada ngungsi ke Helm’s Deep, itu kan rame banget tuh. Yah, kayak gitu lah. Rame dan tak terkendali.  Tak ada sejengkal pun dari jalan menuju Mahameru yang tidak di-occupy. Beh, bahasanya belepotan. Cckckck

Tanpa terasa (padahal udah ngos-ngosan), akhirnya kami tiba di bukit berpasir. Awal pedakian dan permulaan penderitaan. Memang, puncak Mahameru sudah terlihat dari titik ini, tapi butuh beberapa stok nyawa dan beberapa serep semangat untuk bisa mencapainya. Awalnya jumlah pasirnya hanya sedikit, gak begitu tebal. Tapi beberapa jam kemudian, ketebalan pasir mencapai level yang tidak manusiawi, sehingga untuk mendapatkan pijakan yang kuat aja butuh doa yang panjang dan khusuk dulu. Hihihi

Total sekitar 4-5 jam kami habiskan dari awal trek berpasir itu  untuk bisa mencapai puncak Mahameru. Dan diantara 4-5 jam itu, banyak kejadian yang tak terduga yang kami alami. Dari mulai kesetiaan, penghianatan, putus asa, desperate (apa bedanya ama putus asa?), tidak egois dan rendah hati <- ini apa sih? Mendaki gunung atau kisah orang lagi pacaran? Segitu banget deskripsinya.


Sunrise while summit attack
Jadi gini, sesaat sebelum mendaki kami sudah sepakat dan janji untuk selalu bersama, bagaimana pun keadaannya nanti, selama Summit Attack ini kami tidak boleh terpisah. Pasalnya, ada beberapa orang dari kelompok kami yang kondisi fisiknya tidak se-prima anggota yang lainnya, jadi pasti bakal lama dan tertinggal, juga bakal sering istirahat. Nah, jaga2 kalau ditengah jalan dia udah gak kuat lagi, kami juga sudah sepakat untuk membatalkan pendakian ke Mahameru dan pulang bersama2. Itu lah arti dari kelompok. Itulah arti dari sebuah tim. Itulah arti dari sahabat. Dan itulah arti dari toleransi.

Tapi pada prakteknya, kelompok kami tercerai berai. Kaum yang lemah tertinggal dibelakang, kaum lainnya sedang berusaha mengeluarkan semua tenaga mereka mendaki di tengah kelompok, sementara kaum sisanya sudah entah dimana disuatu tempat jauh didepan sana.

Disinilah semuanya mulai di uji..

Yang pertama Andis (TS kami yang sangat tangguh) dan Fiersa (yup, that indie singer from Bandung) yang bertugas menjadi sweeper. Mereka harus rela tertinggal jauh dibelakang dan merelakan waktu mereka terbuang demi membantu dan menemani Intan, salah satu anggota kelompok kami yang fisiknya tak sekuat tekadnya untuk bisa sampai ke puncak. Walaupun pada akhirnya mereka bisa sampai di puncak sekitar jam 7 dengan selamat. Tentu sebagai bayarannya, mereka tidak bisa menikmati sunrise di puncak Mahameru.


Yang kedua, Miftah (mas haji) yang harus merelakan tongkat mendakinya dipinjam Tiar, yang saat itu sudah seperti wanita yang berumur 3 abad, yang tidak sanggup menggerakkan kakinya lagi barang satu langkahpun. Padahal saat itu Miftah sendiripun sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh. Tapi itu semua dilakukan atas nama persahabatan, solidaritas dan kasih sayang #eh?


Yang ketiga, Bang Budi, guide kami, yang tentu saja kondisinya sangat prima dan bisa menaklukkan gunung pasir ini dalam sekejap. Tapi dia harus rela mundur dari pendakian dan kembali ke tenda kami di Kalimati demi mengantarkan Desy, salah satu anggota kami yang sakit, yang tidak kuat lagi mendaki. Dari situlah rasa itu kemudian muncul, berkembang dengan pesat, dipupuk dengan perhatian dan akhirnya berbuahkan cinta yang bersambut. Uhuy.. Sekali lagi selamat yaa~


Yang keempat, ranger kami, Mas Apok (disingkat dari kata Apocalipto, sebuah judul pilem jaman dulu, karena memang dia mirip sama pemeran utamanya) yang harus bersusah-susah menarik, menjaga dan menyemangati Dyfa, ummi kami dalam trip kali ini. Ya, ini masalah usia. Wkkwwkwk... Entah usaha apa aja yang sudah mereka lakukan, sampai akhirnya mereka sampai di Mahameru setelah kami semua selesai poto2an dan istirahat.


Yang ke lima, aku, yang sudah bersusah-susah membawakan kamera DSRL Erlin dengan tujuan supaya nanti di Mahameru bisa dipoto beberapa kali dan supaya nanti setelah pulang aku ditraktir makan enak (dan beneran ditraktir loh!). Saat hampir mencapai puncak, kelompok aku dan Erlin bertemu dengan  gadis manis berjaket putih, yang saat itu ditinggal oleh kelompoknya sendirian. Aku tau dia kuat dan perkasa. Tapi saat itu keadaannya seperti serigala yang kehilangan kawanannya, sepi tak berujung.

Kuhabiskan sedikit jalan pendakian bersamanya, bercerita bersama sambil menghitung langkah yang telah kami buat. Tapi entah karena alasan apa, akhirnya aku meninggalkan gadis manis berjaket putih itu sendirian. Aku memang bodoh!! Ya, maafkan aku. Mungkin daintara kelompok kami, hanya aku yang paling tidak pengertian dan yang paling tidak tahan uji. Akhirnya aku sampai di pucak jam 6 tepat dan langsung disambut oleh muntahan abu Gn. Semeru. Aku senang. Kemudian sedih. I left my team behind my back. I’m sorry guys, but I’ve learnt my lesson!! Won’t do it again *cross finger*


Yang terakhir, Frantau (sosok yang wajahnya merupakan gabungan antara Afgan dan Teuku Wisnu). Selama mendaki dia selalu sendiri. Sering kali dia bersama kelompok kami, tapi kemudian dia selalu mendaki di depan dan istirahat lagi sampai kami menghampirinya. Begitu terus.  Ada yang salah dengan anak ini, begitu pikirku. Hehehe

Dan Suci, yang rela berkorba tidak ikut Summit Attck demi menjaga tenda dan segala perlengkapan kami. Special thaks for her!!

Moral lesson: When you climb, do never leave your friend behind, for whatever reason it may. It’s the climb that matters. The top of the mountain is the bonus you get when you’re done conquering yourself in the process. Well, I’m just saying!!

Selain cobaan iman, tanjakan pasir itu juga menyediakan cobaan fisik. Batu2 besar dan kecil bekas muntahan gunung tertanam dengan tidak stabil disepanjang jalur pendakian. And you know what? There were moments when the rocks fell down from the top when someone misstepped on them. The rocks would be detached from the sand that was holding it and went down toward the climbers behind us.

Dan waktu itu ada batu gede banget (hampir seukuran gallon aqua) yang jatuh dari atas dan meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi. Sontak semua orang berteriak histeris dan berusaha menghindar. Yang lebih berbahaya lagi, bentuk batu itu tidak bulat, jadi dia jatuh dengan arah yang gak stabil, kadang ke kiri dan kadang ke kanan. Intinya, waktu batu itu jatuh, semua orang yang berada dibawah berstatus BAHAYA. Semua memiliki peluang untuk kena.

Hebatnya, ada satu bapak pendaki yang bersedia menahan laju batu gede itu. Dia mengambil ancang2 sementara beberapa orang dibawahnya juga bersiap untuk menahan dia dengan membuat jaring tangan supaya dia tidak jatuh terlalu jauh. Pada saat batu itu menghantam bapak itu, aku gak tau jelas, tapi kayaknya batu itu menghantam kepalanya, dia terjatuh beberapa meter kebawah, terjungkang tanpa perlawanan. Dan setelah dia berhenti dari jatuh, dia juga berhenti bergerak, terdiam dalam keadaan tergeletak di tanah. Entah amal atau kebaikan apa sudah dia buat, dia selamat dari kecelakaan itu. Hanya luka memar (dan sedikit darah) di kening sebelah kiri saja yang dideritanya, selebihnya dia tetap kuat dan tegar untuk mendaki sampai ke puncak.

Satu kata untuk dia, SALUT!!

Puncak Mahameru adalah tempat terindah yang mungin bisa kau bayangkan. Hamparan awan berarak dibawah kita, membentuk lautan putih tebal dan lembut, seperti melihat ke tumpukan raksasa kapas putih. Bergerak mengikuti arah mata angin diantara birunya langit lepas. We were on the top of Java Island, 3676 masl, and we were happy.




The feeling was undescribeable. We felt the cold, but we were burnt by sun at the same time. We were tired, yet we were so happy. We saw clouds, a class of mountains, sun and wedhus gembel. We even saw our tents far down below us. They were just like small colorful dots in the middle of Kalimati. We’ve had enough, but we wanted more. All the feelings were just mixed in our heart, brought a tingling sensation to shout, to let them free and fly amongst mountain’s air.

Ah, this is heaven.

This is freedom.

This is achievement.

This is LIFE.

And above all, this is INDONESIA!!

Thanks God, I live in Indonesia. *sembah sujud sambil ngucap sukur sambil berurai air mata*

PS: Oh iya, semalam aku baru nonton 5cm bersama gadis manis berjaket putih, sekalian merayakan ulang tahunnya. Happy birthday!!

Happy Birthday, Chintyaaaa~

17 comments:

  1. another well written masterpiece. Always be a fan of yours :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kakakkk..
      Happy bday ya :)

      Delete
  2. Bonar! Gw ngefans ama tulisan lo! Terharu :') jd keinget lagi perjuangan dan pengorbanan temen2 khususnya andis dan fiersa. Terima kasih yaaa teman2. itu foto gw! x_x itu hanya untuk kepentingan acting semata ko':p btw itu lo lihai bener menceritakan kisah puppy nya :p

    ReplyDelete
  3. Bonar! Gw ngefans ama tulisan lo! Terharu :') jd inget perjuangan dan pengorbanan teman2, terutama andis dan fiersa, terima kasih ya teman2 semuanya :) sudah boleh bergabung bertualang bersama kalian, semoga next time gw boleh bergabung lagi ya. Itu foto gw!x_x itu hanya untuk keperluan acting semata ko' :p btw, anda lihai sekali dlm menceritakan kisah puppy :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. dopost nih :(
      next time ndaki bareng lagi ya

      Delete
  4. Si Budi si raja Rimba ternyata bisa jatuh cinta juga ya... Kirain cuma cinta ama Hutan, Gunung dan Alam... BTw EPLENK SANts kapan lo balek ke Hutan Sebenarnya di TNKS Hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Emang bang budi robot ya, ga bisa jatuh cinta?
      Btw, ini temannya bang budi ya? Siapa? Biar salamnya disampein.
      Thanks udah mampir :D

      Delete
  5. Ada semangat membara dihati mereka untuk berdiri disana dalam pikiran diriku,hanya satu keinginan ku dihati “aku akan membawa kalian kesana dengan selamat sampai tujuan hingga kita kembali lagi”..,tapi aku bangga pd kalian yg bisa sampai dpuncak trianggulasi 3676mdpl,.maafkan saya yg tidak bisa mnghantar kpuncak mahameru. kalian saudara2 ku is the best lah..."salam persaudaraan selama-lama nya.!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam persaudaraan juga sepuh *sambil hormat*

      Delete
  6. " Saat hampir mencapai puncak, kelompok aku dan Erlin bertemu dengan gadis manis berjaket putih, yang saat itu ditinggal oleh kelompoknya sendirian. Aku tau dia kuat dan perkasa. Tapi saat itu keadaannya seperti serigala yang kehilangan kawanannya, sepi tak berujung. " ---> Ini maksudnya chintya juga apa another gadis manis berjaket putih??
    ihiiiyyyyyy....!!

    ReplyDelete
  7. Wow keren banget, sumpah...
    Februari nanti gw mau ke sana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau lihat yang lebih kerennya lagi nonton filem 5cm atau liat dokumentasi gue di http://bonarodo.blogspot.com/
      Semangat ya gan, ingat untuk selalu jaga kelestarian hutan dan gunung.
      Salam rimba!!

      Delete
  8. Ya ampuuunnn keren banget benget.. Awesome. Jadi makin ga sabar nunggu bulan Februari.
    thanks 4 sharing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks for visiting this blog.
      Semangat ya mendaki bulan februari. Satu hal yang kujanjikan, Semeru itu memang indah banget!! :D

      Delete
  9. Salut sama pengalaman kalian dan udh ngebuat tulisan yang bikin aku ketawa sendiri. Berhasil deh

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...