10 December 2012

Semeru, pendakian yang hampir gagal



Pertama kali aku pergi ke gunung adalah ketika sedang duduk di bangku perkuliahan di sebelah Utara kota Bandung. Ya, Gunung Tangkuban Parahu. Saat itu secara impulsif aku pergi ke Gunung Tangkuban Parahu atas dasar penasaran; penasaran akan hawa pegunungan, penasaran akan kawah yang diisukan berbahaya, dan penasaran pemandangan yang dapat aku nikmati dipuncaknya kelak. And trust me, it was really nothing up there!! Namun, dengan berbekal 70rb saja, aku cukup puas bisa melihat kawah gunung Tangkuban Parahu yang melegenda itu.

Kali kedua, aku coba untuk benar-benar hidup seperti seorang pendaki gunung. Walaupun pada awalnya tujuan pendakianku, bersama teman2 satu tim-ku, adalah Gunung Gede, yang katanya berupa pendakian wisata, namun kami berakhir di Puncak Gunung Pangrango via Geger Bentang, dengan total 15 jam mendaki dan 12 jam turun gunung. Singkatnya, misi untuk menjadi seorang pendaki gunung sukses besar. Pendakian di Gunung Pangrango telah membukakan kedua mataku tentang bagaimana seharusnya mendaki sebuah gunung, apa yang diperlukan selama mendaki, persiapan yang harus dilakoni dan lain sebagainya. Hasilnya, pendakian kedua ini menjadi parameter bagiku dalam mengukur pendakian2 beirkutnya.

Tapi aku salah. Ternyata setiap gunung memiliki cerita masing-masing. Penilaian satu gunung tidak bisa dipakai untuk menilai gunung yang lain. Dan itu yang kualami ketika aku mendaki Gunung Semeru.

....

Wacana untuk mendaki Gunung Semeru telah lama di kumandangkan oleh teman-teman backpacker tempat aku tergabung. Memang, kami sudah terlibat dalam beberapa trip, baik itu ke gua, gunung maupun ke laut. Dan dalam setiap trip, kami selalu membahas trip selanjutnya. Demikian cara kami untuk terus bisa ngetrip bareng secara berkelanjutan. Seperti sinetron saja. Bahkan, sampai sekarang, kami sudah mempunyai rencana sampai bulan Oktober tahun depan. What a plan!!

Awalnya aku tidak bisa ikut mendaki ke Semeru karena tiket KA sudah habis. Sedih memang. Tapi aku berusaha untuk menghibur diri sendiri dengan berbagai pengandaian dan hal pemakluman lainnya. Saat aku sudah berdamai dengan keadaan itu, sambil sesekali iri membayangkan petualangan yang akan kudapati di sana, tiba-tiba angin pengharapan berhembus lembut menerpaku yang sudah sudah hopeless. Salah satu temanku harus mundur dari pendakian ke Semeru karena harus pergi ke negeri seberang pada tanggal yang sama. Sementara tiket sudah dibeli. Bagai ikan yang mendapat pelet dari nelayan, aku menghampiri kesempatan itu. Lobi sana lobi sini, akhirnya aku resmi menjadi salah satu anggota yang akan mendaki Gunung Semeru.

Pendakian tanggal 15-18 November 2012
Meeting point: 14 November@Stasiun Pasar Senen, jam 13.30 WIB
Hatiku senang. Pasti. Walaupun saat itu aku belum memiliki gear yang memadai untuk dapat menaklukkan puncak Mahameru, tapi aku tetap optimis. Pokoknya, harus bisa summit, begitu tekadku dalam hati.

Dengan sedikit sisa tabungan, kucoba melengkapi peralatan tempurku ke Semeru. Sejauh ini, yang kupunya hanya sendal gunung dan sleeping bag. Itu saja. Minim memang untuk seseorang yang mengaku suka berpetualang ke gunung. Satu persatu peralatan mendaki ku beli di toko outdoor di dekat kantor. Matras, kupluk, celana quickdry, dan sebuah carrier Consina 40L siap dibawa pulang malam itu. Sisanya, tinggal pinjam sana pinjam sini. Akhirnya aku jadi mendaki juga.

....

Beberapa hari berikutnya, sebuah kabar tentang hilangnya seorang pendaki asal Unibraw Malang menjadi topik utama kelompok kami yang akan mendaki. Muhammad blablabla Iqbal, demikian nama pendaki yang hilang tersebut. Bukan apa-apa, hanya saja pendakian ke Semeru ditutup karena dia. Selama 4 hari kami sibuk membicarakan dia, sambil sesekali berdoa supaya dia lekas ditemukan dan jalur pendakian dibuka kembali. Dan pada hari ke-4, akhirnya, surat kabar memberitahukan bahwa dia berhasil ditemukan didekat mulut jurang di suatu tempat diantara Mahameru dan Kalimati. Untunglah, ujar kami bersama-sama. Selain senang karena dia ditemukan dalam keadaan hidup (walaupun sudah 4 hari tanpa kepastian), akhirnya pendakian dibuka lagi.


Peristiwa ini bukannya menyurutkan semangat kami dalam mendaki, malah semakin membuat kami tidak sabar untuk segera berdamai dengan Semeru.

Kami memang aneh.

...

Berita tentang hilangnya seorang mahasiswa di Gunung Semeru membuat keluargaku kalang kabut. Dengan segala upaya dan alasan, mereka mencoba membujuk aku untuk mengurungkan niatku mendaki gunung Semeru. Tapi apa daya, niatku udah bulat. Walaupun dilarang, aku tetap pergi. Walaupun merasa sedikit bersalah karena sudah murtad dari keluarga.

Selama beberapa hari gencatan senjata terjadi, baik itu melalui telepon maupun pesan teks. Kujabarkan satu persatu alasanku untuk mendaki gunung, sementara keluargaku membuat daftar kenapa aku tidak harus mendaki gunung. Hasil gencatan senjata, aku kalah telak. Tapi bukan aku namanya kalau tidak keras kepala, aku kekeuh ingin mendaki.

...

Belum lagi masalah izin dari keluargaku beres, rencana kami terancam gagal karena pendakian ke Gunung Semeru diisukan tutup lagi dengan alasan over-capacity. Ternyata pada saat yang bersamaan, salah satu merek perlengkapan outdoor dalam negeri (sebut saja Avtech) sedang mengadakan Jambore Nasional di Gunung Semeru. Tebak berapa personil yang ikut serta dalam Jambore itu. Sekitar 1700 orang. Saat itu aku belum bisa membayangkan 1700 orang akan mendaki bersama-sama di gunung yang iisukan sebagai tempat para dewa bertemu. Dimana asyiknya mendaki ramai-ramai begitu?

Oke. Masalah asik atau tidak asik bisa diurus belakangan. Masalahnya sekarang, kapasitas camp site Gunung Semeru itu hanya 600 orang, sedangkan dari Avtech aja udah 1700 orang. Terus, kami yang dari tim independen ini mau diselipin kemana?

Sempat terpikir untuk buat plan B, sekitar Madakaripura dsk, jaga-jaga kalau jalur pendakian masih ditutup ketika kami sampai di Malang nanti. Tapi, dewi fortuna sekali lagi menunjukkan kasihnya kepada kami, beberapa hari sebelum kami berangkat, jalur pendakian dibuka kembali, dengan syarat hanya boleh mendaki sampai Kalimati. That's fine. Yang penting bisa mendaki.

...

14 November 2012, 08.00 WIB

Semangat yang kubawa dari rumah ketika pergi kerja tadi tiba-tiba lenyap secepat kilat ketika aku melihat status FB TS kami (sebutan untuk orang yang mengatur segala keperluan trip). Intinya, sistem tukar-menukar tiket yang kami rencanakan terancam gagal karena tiket yang sudah dibeli tidak bisa di rename. Alhasil, beberapa anggota yang ikut karena 'menggantikan' teman yang berhalangan terancam tidak bisa ikut, dan aku salah satunya.

Saat itu aku sedang mengerjakan tugas kantor yang sebentar lagi akan selesai. Konsentrasiku buyar dan aku tidak bisa fokus. Aaargh.. kenapa ada masalah lagi sih? Rutukku dalam hati sambil mencoba fokus mengerjakan tugasku. Pasalnya, aku tidak akan bisa izin pulang jam 12 nanti kalau tugasku belum selesai. Untungnya, belum lama aku menyiksa diri dengan bekerja tanpa konsentrasi yang cukup, temanku mengabari bahwa namaku masuk dalam daftar anggota yang berhasil diselamatkan dalam proses tukar-menukar nama itu. Walaupun masih ada juga anggota yang tidak bisa ikut karena karcisnya tidak bisa di rename. Dengan semangat yang mekar, aku menyelesaikan tugasku saat itu juga.

14 November 2012, 10.30 WIB

Jadwal keberangkatan kami tinggal hitung menit saja. Hanya 1,5 jam lagi. Tugasku udah selesai, jadi bisa santai. Seperti biasa, dalam trip kali ini, aku pergi bersama rekan sekantor yang sudah lebih dulu malang melintang dalam dunia mendaki gunung. Jadi, selain satu tim dalan kerjaan di kator, kami juga satu tim dalam mendaki gunung.

Saat sedang santai, tiba-tiba telepon di mejaku berbunyi, ditujukan untuk temanku itu, yang posisinya ada disamping meja kerjaku. Tak perlu lama, kabar tentang adanya meeting segera beredar. Temanku ikut meeting, sementara aku tidak. Sejenak aku tertawa melihat nasib temanku itu, sejenak kemudian aku stress memikirkan bagaimana caranya supaya kami berdua bisa cabut dari kantor pukul 12 tepat.

Bukan apa-apa, hanya saja meeting di kantorku itu tidak pernah tidak lama. Dari yang awalnya dijanjikan hanya memakan waktu 30 menit, pasti ujung-ujungnya sampai 3 jam. Dan itu juga yang akan dialami temanku itu. Tanpa semangat dia berjalan ke ruang meeting. Dia bahkan masih sempat pinjem buku catatanku, karena dia memang tidak bawa perlengkapan lain selain yang untuk mendaki gunung, Sementara aku? Aku dengan santainya makan siang di pantry, sambil janjian dengan seorang teman yang berangkat dari daerah Bitung dengan mobil kantornya. Istilah kerennya, aku mau nebeng. Kalau bisa, aku dan temanku itu. Nebeng sampai Stasiun Senen.

14 November 2012, 12.30 WIB

Entah bagaimana prosesnya akhirnya temanku bisa kabur dari acara meeting yang diadakan pada saat yang sangat tidak diinginkan itu. Dan sudah 30 menit kami menunggu di tempat yang dijanjikan, tapi teman yang menjemput belum juga muncul. Memang saat itu lagi macet parah dan panasnya sangat menyengat. Jadi dengan sabar kami menunggu berjejalan dibawah payung pedagang gorengan yang kebetulan mangkal disitu.

jakarta macet
percayalah, hari itu lebih parah dari sini!!
Tak lama, temanku datang dengan mobil dan supir yang siap mengantarkan kami. Awalnya kami akan menjemput seorang teman lagi di daerah Slipi, tapi niat itu kami urungkan mengingat waktu yang semakin sempit, sementara macet tak memberi sedikit peluangpun bagi kami untuk bisa bergerak dengan normal.
Kami memilih jalur tercepat yang kami tau, lewat Tomang. Yang kami tidak tau, ternyata jalur itu macetnya lebih parah dibanding yang di Kebun Jeruk. Sementara jam sudah menunjukkan pukul 13.30, kami baru mulali menyusuri Tomang dengan cara mengulat. Kereta berangkat jam 14.05, berarti setengah jam lagi.

Kami mulai menghitung mundur sementara mobil bergerak dengan sangat lambat, sambil sesekali berhenti lama menunggu macet terurai.

Jam 13.50, kami masih di Harmoni

dan masih macet.. parah.

Sambil tetap menghitung mundur, kami mulai berandai-andai. Dengan kondisi seperti ini, kecil sekali harapan kami untuk tiba tepat waktu. Doa kami paling utama adalah supaya KA delay. Doa kami kedua adalah supaya secara ajaib macet ini segera terurai. Tapi doa kami tidak dikabulkan begitu saja - jalanan tetap macet, dan teman2 kami sudah kalang kabut di stasiun.

Okeh. Kami tidak bakalan sampai tepat waktu. Kami sedih dan mulai memikirkan rencana lain. Apa lacur, kami yang sudah pamit sama teman-teman kantor, keluarga dan teman-teman lainnya, harus kembali lagi membawa carrier kami yang segede gaban pulang ke rumah/kos hanya karena ketinggalan KA? Tidak, kami tidak terima. Perjalanan harus dilakukan. Kalau tidak ke Semeru, ke Gunung Gede juga boleh. Atau ke gunung mana lah, yang penting tetap mendaki.

Sambil tetap countdown, kemungkinan-kemungkinan lain mulai bermunculan. Papandayan, Gede, dan tempat-tempat lain meluncur begitu saja dari mulut kami. Keinginan untuk berteriak kencang mulai terpikirkan, sekedar untuk membuanggeram dan kesal. Sementara sang supir duduk dengan santai di belakang setir sambil mendengarkan lagu dangdut yang berkumandang dari speaker mobil.

Kegelisahan kami rupanya berbuah baik. Sang supir segera membanting setir ke kanan mengambil jalur busway yang saat itu kebetulan sepi. Dengan mengabaikan aturan lalu lintas dan moral dalam berkendara, dia menginjak gas dalam-dalam dan memacu mobil dalam kecepatan tinggi. Dewi fortuna sepertinya masih enggan meninggalkan kami.

14.04, kami tiba di Stasiun Senen

Suara pengeras di Stasiun Senen mengabarkan bahwa KA Matramaja akan segera berangkat. Kami segera turun dari mobil dan berlari ke pintu masuk. Tidak lupa mengatakan terimakasih kepada supir yang mengantarkan.

Sementara karcis kami masih dipegang oleh TS, kami berlomba sampai di depan pintu masuk. Untungnya, TS masih setia menanti kami di pintu masuk, walaupun kereta nyaris berangkat. Setelah cek identitas, kami segera berlari ke arah kereta. Dan dengan nafas yang masih ngos-ngosan, kulangkahkan kakiku naik ke dalam kereta Matramaja.

Sampai didalam, kau tak tau bagaimana senangnya aku.

Kalau bisa, aku sujud di dalam kereta hanya untuk mengucapkan terima kasih atas kesempatan itu.

Kalau bisa, aku teriak menunjukkan aku sangat senang berada di dalam kereta itu saat itu.

Tapi tidak bisa. Aku hanya tersenyum sambil memeluk dan menyalami teman-temanku yang sudah menanti di dalam KA. Senang bisa melihat mereka saat itu juga. Senang bisa bersama mereka di dalam kereta saat itu juga.

Sambil aku mengingat semua perjuangan yang kulalui hari itu, kereta mulai melaju menginggalkan Stasiun Senen...


photo by Erlin Sitinjak
... dan petualangan menaklukkan Mahameru pun dimulai...

10 comments:

  1. lanjuuut gan...pengen tau gimana suasana ramenya pas disana..:-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha
      ditunggu aja gan.. masih sibuk kerja inih :(

      Delete
  2. perjuangannya bener - bener ya, ditunggu cerita selanjutnya pas di semeru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, it was really SOMETHING..
      Lanjut gan bacanya.. thx udah sudi mampir :D

      Delete
  3. Dramatis sekali dan bikin deg-degan deh ini ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. kami kayak orang yang kebakaran jenggot, gelisah tak menentu di dalam mobil.
      Abyway, makasih udah baca2 dan komen gan. Ditunggu kunjungan berikutnya. Hahaha

      Delete
  4. Ditunggu cerita penaklukan Mahamerunya.. Salam kenal #CelotehBackpacker

    ReplyDelete
  5. wah, udah menggapai mahameru.
    aku aja baru sampai bromo nih #GakNanya :D

    ReplyDelete
  6. sungguh pengalaman tak terlupakan bang (y)

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...