12 December 2012

Tentang mendaki Semeru


Keadaan kereta Matarmaja saat itu sangat padat. Hampir tidak ada bangku kosong untuk sekedar meluruskan kaki atau menghirup udara segar sambil menenangkan diri setelah perjuangan untuk bisa sampai di kereta ini. Yang lebih mengejutkan lagi, tempat barang yang berada diatas tempat duduk itu pun penuh. Tidak seperti biasanya. Tapi kali ini aku tersenyum melihat isi dari tempat barang itu: carrier.

Sepanjang mata memandang keatas kereta, hanya carrier yang terlihat. Wajar saja, mayoritas penumpang kereta api ini adalah calon pendaki gunung, entah itu Gunung Semeru, Gunung Bromo atau gunung2 lain yang ada disana. Woohoo!! Seketika darah petualangku mendidih. Rasanya berada di sekeliling orang2 dengan passion yang sama itu seperti bertemu kembali dengan teman lama, teman yang sudah mengenal kita bertahun2 lamanya. It feels like home!

Satu poin plus yang kusadari saat naik KA Matramaja: hampir tidak ada penumpang yang tidak memiliki tempat duduk seperti yang kualami saat naik KA Progo. Semua orang kebagian tempat duduk. Jadi, tidak akan ada tubuh-tubuh yang bergelimpangan di koridor kereta saat malam tiba nanti. Semuanya tidur dengan khusuk di kursi masing-masing.

Hanya saja, karena tidak ada orang tubuh-tubuh bergelimpangan saat itu, pikiran nyelenehku pun mulai beraksi. Aku, yang saat itu didera kantuk yang sangat hebat, langsung mengeluarkan matras dan membukanya. Kegiatan itu diikuti oleh aksi tidur di lantai. Bukan di koridor kereta, tapi di tengah2 tempat duduk, tepat di bawah jendela. Sebodo sama orang yang lagi asik ngobrol diantara bangku itu, aku dengan santainya bilang “permisi” dan memulai aksi tidur tanpa pikir panjang. Woohoo!! Senang banget bisa tidur leluasa di dalam kereta api (walaupun mengganggu kesejahteraan penumpang lain). Hari itu rasanya aku sudah naik kelas menjadi gembel dengan level kegembelan yang lebih keceh dengan tingkat kebrengsekan level maks <- salah gaul!! Hasilnya, tidurku pulas (dari jam 11 sampai jam 3 subuh) dan hatiku damai. Iya, gak nyambung. Biarin aja sik.

Kereta yang membawa kami pergi dari padatnya kota Jakarta akhirnya sampai di Stasiun Kota Lama Malang. Total sekitar 20 jam kami gunakan selama perjalanan ini dan kami tidak menyesal.. Pada umumnya, orang-orang yang akan mendaki Gunung Semeru akan turun di Stasiun Kota Baru. Tapi mengingat tempat itu bakal sangat ramai, terutama pada saat long weekend seperti ini, maka dengan pintarnya TS kami memesan sebuah angkutan umum dan menyuruhnya menjemput kami di Stasiun Kota Lama. Dan benar saja, begitu kami turun dari KA, kami hanya menemukan sepasang pedagang yang sedang duduk di pinggir rel. Sisanya, hanya kami. Baru sekali ini aku berada di stasiun yang sepi seperti ini.

photo by Erlin Sitinjak
Untuk turun dari KA saja kami mendapat masalah. Memang sepertinya kami selalu diminati oleh masalah. Jadi saat itu KA sedang berhenti di St. Kota Lama (waktu itu kami belum lihat plangnya dan beberapa malah belum tau kalau kami akan turun di St. Kota Lama), dan salah satu teman saya nyeletuk tanpa motivasi apapun, seperti candaan yang sering dia lakukan sebelumnya, “Kita turun disini kan?” Karena memang dia sifatnya suka melucu, aku pun menimpali dengan candaan, “Iya, turun saja sendiri. Kalau sudah sampai tujuan, jangan lupa kirim surat ya” kataku setengah tertawa.

Ternyata, ketika waktu berhenti kereta tinggal hitung detik, TS kami secara tidak sengaja melihat plang nama stasiun di sebelah kanan rel. Disitu dengan jelas-jelas tertulis STASIUN KOTA LAMA MALANG. Sontak kami semua kalang kabut mengambil carrier dan segala perlengkapan kami. Dengan masih setengah percaya, kami jalan terburu-buru kearah pintu keluar yang pada saat itu dipenuhi oleh orang-orang yang tidak tau sedang apa. Mereka bercengkerama bergerombol didekat sambungan kereta sehingga menghalangi jalan keluar. Dengan muka panik kami bilang permisi sambil mengatakan bahwa kami akan turun di stasiun ini. Salah satu bapak yang berdiri paling dekat dengan pintu keluar dengan sangat baiknya menginformasikan bahwa kereta ini hanya berhenti sebentar dan akan segera berangkat, dan memang pada saat itu sinyal keberangkatan sudah dinyalakan, dan pemberitahuan tentang keberangkatan pun sudah diumumkan. Tapi dia tetap bergeming, tidak bergerak sedikitpun dan masih menghalangi jalan. Lalu, entah darimana muncul ide itu, aku berkata, “Bapak udah tau keretanya mau berangkat, tapi tetap berdiri disitu. Geser dong!!” Pada akhirnya dia bergeser, dan kami pun keluar satu persatu saat keretanya mulai bergerak. Last minutes banget. Hasilnya, beberapa teman kami tertinggal didalam kereta dan harus turun di Stasiun Kota Baru karena kereta udah keburu bergerak dalam kecepatan yang tinggi. Hihihi

Sebenarnya ini gak penting, tapi aku mau kasih tau aja kalau warung makan yang ada diseberang Stasiun Kota Lama itu enaaaak banget. Dan MURAAAHHH!! #PentingBanget #BukanPromosi. Umm.. menunya apa aja ya? Ada nasi soto, nasi pecel, kerupuk, teh manis, deelel. Waktu itu aku makan nasi pecel (special request yang versi jumbo), teh manis, kerupuk, tambah satu gelas teh manis lagi hanya bayar 9500 ajah kakak. Sumpah, gak nyesal.  The best nasi pecel ever (untungnya nyokapku gak pernah buat nasi pecel, jadi aku gak perlu ngerasa jadi anak durhaka gitu, hehehe *ditoyor nyokap*). Kalau kalian kebetulan lewat sana, silahkan mampir.  Jangan sebut namaku, kalian gak bakal dapat diskon.

Ampun deh, udah panjang banget ajah. Padahal belum cerita mengenai awal pendakian loh. Ckckckk.. Could someone please teach me how to write a not-too-long travel story? >_<

Okeh, disingkat aja ya. Ceritanya kami udah selesai makan, lalu naik angkot carteran tadi ke Tumpang (bukan di pasarnya ya). Urus SIMAKSI (dan puji Tuhan bisa terdaftar), lalu sewa truk buat mengantarkan kami ke Ranupani. Sambil menanti truk datang, beberapa kali truk dan jeep yang mengangkut para calon pendaki Gn. Semeru juga melewati tempat kami menunggu. Mereka (walaupun merupakan bagian dari Avtech – yang ditandai dengan raincover yang bertuliskan Avtech gede) ada juga yang membawa bendera organisasinya masing2. Mereka berteriak kegirangan. Membuat aku semakin tidak sabar mendaki Gn. Semeru.

Diantara para calon pendaki, aku juga melihat seorang gadis manis berjaket putih berdiri sambil tersenyum malu2 di salah satu truk yang lewat. Ah, dia.. :) Sayang aku tak sempat mengambil fotonya waktu naik truk itu.

Perjalanan dengan mengendarai truk ke Ranupani merupakan pengalaman baru bagi sebagian orang, and it was great. Apalagi kalau kau duduk diatas kepala truk itu waktu melewati pemandangan Gn. Bromo, benar2 suguhan yang patut dikenang. Ada juga air terjun entah-apa-namanya yang sangat indah (kalau dilihat dari kejauhan). Pokoknya, semuanya seperti sudah disusun begitu indah untuk jadi distraksi dari perjalanan yang sebenarnya mengerikan ini, menanjak, panas, penuh lubang dan jauuuuhh.


waktu di truk
lihat betapa senangnya kami :)
Ketika kami pada akhirnya sampai di Ranupani, keadaan sudah sedikit membaik. Bahkan hujan rintik-rintik menyambut kedatangan kami dengan rinainya yang berselimut dingin. Sepiring nasi rawon dan/atau nasi soto ditimpali dengan segelas teh manis anget (merk naga yang sangat harum) melengkapi suasana teduh hari itu.

Tetapi, suasanya teduh itu tidak bertahan lama melihat fakta bahwa desa ini sekarang dipadati oleh beberapa ratus pendaki yang berserak dari ujung sampai ujung desa ini. Tidak ada celah yang tidak ditempati oleh pendaki. Semuanya resmi dipakai untuk sekedar duduk mengobrol atau melengkapi perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendaki nanti. Kami pun dengan sukses menyempil diantara gerombolan orang banyak itu, sambil memeriksa anggota kelompok dan melengkapi persediaan logistic untuk 3 hari kedepan.

berangkaaatttt!!
Setelah semua aman, kami pun berangkaaaatt!! *pasang pose ultraman* Tidak lupa, sebelumnya kami berdoa dan pemanasan, untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan selama mendaki <- contoh yang baik, kalau bisa ditiru ya! *wink*

Seperti yang sudah banyak dikabarkan di berbagai website pendakian, jalur pendakian di Semeru ini cukup landai. Hanya saja, welcome track yang cukup terjal diawal pendakian lumayan menguras tenaga. Kurang lebih beberapa ratus meter kami mendaki, kami langsung ngos-ngosan, padahal sebelumnya kondisi kami masih prima. Tapi setelah lewat welcome track tadi, jalur pendakian menjadi sangat landai dan bersahabat dengan kondisi kaki para pendaki pemula.

Enaknya mendaki di Semeru yaitu treknya yang sudah jelas, berbentuk dan kelihatan. Sepetak jalan sudah terbentuk dengan mulusnya, entah itu sengaja dibentuk atau secara alami menjadi begitu akibat terlalu sering dilewati orang <- apa bedanya? Tapi ada juga trek yang memang dibuat komblok (atau batako?), maksudnya mungkin supaya jalannya gak longsor. Jadi sebenarnya,  walaupun kamu mendaki sendirian, sangat susah untuk bisa kesasar di Gunung Semeru ini. Lha wong jalurnya udah jelas kok.

trekking
Enaknya lagi, disepanjang jalur pendakian, sudah terdapat banyak papan pengumuman yang dibuat oleh entah siapa (aku gak terlalu memperhatikan pembuatnya) yang memberikan informasi mengenai nama dan ketinggian tempat saat itu. Sayang, tidak ada papan informasi mengenai suhu udara saat itu, soalnya aseli dingin banget. Kalau misalnya ada informasi mengenai suhu udara kan kita bisa jadi lebih knowledgeable gitu. Hehehe *ditimpuk papan pengumuman*

Sepanjang jalan, dari Ranupani sampai Ranu Kumbolo trek yang kami lewati itu adalah trek hidup dan mati, kayak yang di lagu2 gitu, jurang disebelah kiri dan tebing di sebelah kanan. Jadi kita (mungkin) akan mati kalau berjalan terlalu ke kiri (masuk jurang), dan kita akan tetap hidup kalau kita berjalan di jalan yang benar, disebelah kanan maksudnya. Hahaha #SalahGaul

Oh, sebagai tambahan. Karena Gunung Semeru pada saat itu di gang-bang oleh ribuan orang, maka pendaki yang istirahat di sepanjang pinggir jalan terlihat memperindah pemandangan ketika mendaki waktu itu. Cowok, cewek, oma-oma dan bahkan sampe dede kecil terlihat istirahat seadanya di pinggir trek. Selonjoran, tidur telentang atau duduk santai bergerombol sambil mengobrol, ada ada saja kegiatan mereka waktu istirahat. Untungnya, aku sempat bertemu dengan gadis manis berjaket putih itu waktu dia istirahat. Ingin hati mengajaknya mendaki bersama kelompok kami, tapi sayang, gak diijinin sama ketua kelompoknya. Saat ingin berpisah, dia sempat senyum kepada kami (atau begitu yang kubayangkan ^^). Ah, rupanya lelah mendaki gunung masih menyisakan senyuman indah diwajahnya, pikirku senang.

kabut yang menemani perjalanan kami
Kami juga istirahat kok. Sering malah. Dari Pos 1 sampai Pos 4, sekitar 5 jam kami mendaki, terhitung entah berapa kali kami istirahat. Sampai2 guide kami memanggil kami sebagai kelompok pendaki woles (kalau dibalik jadi selow). Hahaha. Ada2 aja. Thanks for whoever invented that term, it really represents our group. However, I love my climbing partners and that “gadis manis berjaket putih” as well. They are the best. *peluk mereka satu satu*

Sampai di Ranu Kumbolo merupakan suatu pencapaian bagi kami. Dan kami puas saat itu walaupun pada malam ketika kami pertama kali melihat Ranu Kumbolo, tempat itu tak jauh beda bila dibandingkan dengan sebuah pasar malam: ramai dan berisik. Sungguh. Orang-orang berteriak bersahut-sahutan, aroma indomie rebus bertebaran di angkasa (yang dengan sengaja menghampiri kami yang sedang kelaparan), juga lampu2 itu dan sampah-sampah yang terlihat disepanjang jalan, membuat Ranu kumnolo yang terkenal dengan legenda dan misterinya menjadi tempat yang sanat biasa, bahkan cenderung dibenci. Sial.

sunrise di Ranu Kumbolo, with me signing peace with my two fingers #penting
photo by Erlin Sitinjak

rame banget bok!!
Namun, ketika besok paginya kami bangun, dengan badan yang menggigil karena suhu yang sangat rendah (aku gak tau berapa derajat karena gak ada papan pengumuman mengenai suhu disana), aku melihat satu lagi karya tangan Tuhan yang luar biasa. Bersyukur banget aku bisa menyaksikan pemandangan seperti itu. Sinar matahari yang mengintip dari celah V kedua bukit di seberang danau Ranu Kumbolo bagaikan sihir yang bisa memukau siapa aja. Keren banget men!!

Walau sinar matahari pagi itu belum bisa menghalau udara dingin ditempat itu, namun sudah banyak orang yang keluar tendanya untuk mengabadikan momen berharga itu. Dengan melawan dingin, mereka berpose, memoto dan bergaya sampai puas. Disitulah, ketika pagi itu, aku melihat sisi ceria Ranu Kumbolo. Deretan tenda warna-warni di tepi danau mennggantikan sebentar sisi tenang dan teduh danau itu yang biasanya dirasakan ketika berada disekitar Ranu Kumbolo.


Sebenarnya aku mau lanjut menulis, tapi karena ini sudah kepanjangan, lanjutannya besok aja ya :)

__bersambung__

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...