07 December 2012

Trip to Semak Daun: Kapal yang membawa sengsara



Berawal dari keinginan untuk menikmati perjalanan dengan aman, nyaman dan sentosa serta penuh hikmah, perjalanan kami ke Pulau Semak Daun berakhir dengan nista, duka, lara dan penuh isak tangis, tapi juga penuh dengan kenangan dan perjuangan hidup. Ibaratnya, hidup dan mati kami terletak pada perjalanan kali ini. *drama level maks*

Jadi ceritanya, berdasarkan pengalaman teman-temanku yang sudah pernah ngetrip ke daerah kepulauan seribu, kapal penyeberangan yang berangkat dari Pelabuhan Muara Angke itu sangat-sangat tidak recommended. Gak aman, nyaman dan menyenangkan. Well, bukannya bermaksud mencoreng nama baik perusahaan kapal penyeberangan yang ada disana, hanya saja untuk kapal yang berkapasitas 300 orang, kapal penyeberangan itu biasa mengangkut 500+ penumpang (tiba2 teringat KA ekonomi, nasibnya sama). Belum lagi masalah ketiadaan pelampung dan bau di lokasi pelabuhan yang berasal pasar ikan, membuat kami kepikiran untuk mencoba alternatif lain yang dijanjikan lebih aman, nyaman, terkendali dan bisa membuat kami jadi lebih ganteng dan cantik. #eh

Setelah berembuk dan berdiskusi panjang lebar, akhirnya aku dan 17 teman ngetrip lainnya memutuskan untuk menggunakan kapal penyeberangan yang berangkat dari Pelabuhan Kali Adem, pelabuhan baru yang lokasinya gak jauh dari pelabuhan Muara Angke.

Katanya, kapal dari Kali Adem tidak akan mengangkut penumpang lebih dari kapasitasnya. Yang jelas jadi lebih nyaman dan aku bisa koprol di kapal tanpa mengganggu oang lain.
Katanya, setiap penumpang akan mendapat satu life vest untuk digunakan di saat-saat terjadi tsunami dan topan badai yang menyerang kapal saat menyebeang. Yang jelas jadi lebih aman <-- disini nih masalah hidup dan matinya :D
Katanya, harga tiketnya kapal di pelabuhan baru sama aja dengan  yang di pelabuhan Muara Angke.
Katanya, pelabuhan Kali Adem itu bersih dan tidak bau. Poin ini penting sekali untuk kesehatan.
Katanya  pelabuhan Kali Adem itu lebih aman dari pelabuhan Muara Angke. Bahkan kita bisa menitip kendaraan roda 2 dan roda 4 selama beberapa hari ditempat itu tanpa takut harus kehilangan salah satu atau salah banyak onderdilnya.
Katanya, masih sedikit yang tau keberadaan pelabuhan baru ini.
Katanya, kita bisa kayang ditempat ini tanpa harus merasa malu.
Katanya, tempat ini enaaakk.
Pokoknya ajib banget lah.

Diiming-imingi oleh kenyataan diatas, kami pun semakin berahi untuk mencoba pelabuhan yang baru diresmikan awal tahun 2012 itu. Setelah ditelisik lagi mengenai lokasi pelabuhan dan jadwal kapal, ternyata timbul beberapa masalah. Ah, kenapa harus ada masalah sih? *empar masalah ke laut*

Ternyata, kapal yang beroperasi di pelabuhan Kali Adem hanya ada 2 jenis, kapal Kerapu dan Lumba Lumba. Masing-masih hanya bermuatan maksimal 20 penumpang. Tidak lebih, boleh kurang. Oke, masih ada kesempatan dapet tiket.
Ternyata, jumlah kapal yang beroperasi di pelabuhan Kali Adem hanya sekitar 5 kapal. Tidak lebih, boleh kurang. Dan 5 kapal yang tersedia ditujukan untuk 2 destinasi, Pulau Harapan dan Pulau Tidung. Kesempatan mulai menurun sebanyak 50%.
Ternyata, kapal hanya berangkat 2 kali setiap harinya, jam 7 pagi dan jam 1 siang. Tidak lebih, boleh kurang, tergantung keberadaan penumpang. Dafuq?!
Ternyata, tiket hanya boleh dibeli 15 menit sebelum keberangkatan kapal. Tidak boleh di pesan sebelum hari keberangkatan, dan tidak boleh diwakilkan. Keadaan semakin runyam.
Ternyata, pada saat itu, kapal Lumba Lumba sedang tidak dioperasikan, yang notabene membuat kesempatan mendapat tiket semakin tipis.
Ternyata, dari isu-isu yang beredar, orang-orang pada rebutan dalam hal membeli tiket. Bahkan tidak jarang sampai kehabisan tiket. Trus, gimana ceritanya sama kami yang berjumlah 18 orang ini?
Ternyata, ternyata ternyata ternyata... Terlalu banyak hal yang tidak diperkirakan sebelumnya.


Antrian tas di depan loket
Tapi, bukan traveller namanya kalau tidak memiliki ide untuk mensiasati keadaan seperti ini *evil grin*. Akhirnya diputuskan bahwa 7 diantara kami akan menginap di pelabuhan semalam sebelum keberangkatan untuk mengantri tiket. Dengan harapan, ketujuh orang ini dapat mewakili 18 orang dalam pertarungan hidup dan mati demi mendapatkan tiket ke Kepulauan Seribu.

Pertarungan dimulai.

Untuk bisa sampai di pelabuhan Kali Adem aja aku (dan seorang teman yang janji ketemuan di Grogol) harus bertanya kesana kemari. Awalnya sih udah pasti mau naik angkot jurusan Grogol-Muara Angke, tapi pas aku tanya salah satu supir angkot tersebut mengenai keberadaan pelabuhan baru tersebut, dia malah gak tau. Ih, ini gimana ceritanya sih? Katanya kalau naik angkot itu udah pasti nyampe. Nah ini? Supir angkotnya aja gak tau, apalagi aku yang taunya hanya jalan dari rumah ke kantor?  >_<

Karena penasaran, aku pun bertanya lagi sama orang-orang yang ada disana, sama pak polisi, sama pejalan kaki, tukang becak dan pedagang gorengan, pengamen sampai tukang salon, tapi gak ada satupun dari mereka yang tau. Hampir desperate, akhirnya aku ketemu juga ama satu supir angkot yang tau pelabuhan Kali Adem. Tuhan masih bersama kami ternyata *sembah sujud dijalanan*

Tapi apa lacur, masih jauh perjalanan kami ke pelabuhan, sang sopir tiba2 bilang kalau jalanan sekitar pelabuhan macet parah, jadi dia gak bakal kesana. Intinya, dia mau nurunin kami disuatu tempat sebelum pelabuhan. Saat itu penumpang yang tersisa hanya kami berdua. Sontak aku berontak. Berteriak hingga serak. Gak terima dong. Masa keputusan yang diambil bersifat sepihak. Mana aku gak hapal daerah sana lagi. Aku protes menuntut keadilan. Lagian, darimana dia tau kalau jalanan disana itu macet? Bilang aja gak mau rugi karena harus nganterin 2 orang ke pelabuhan yang jauh itu. *mulai emosi*

Akhirnya aku nego. Awalnya dia minta 15rb/orang sampai pelabuhan Muara Angke. Aku emosi lagi. Lha wong biasanya juga hanya 5000 kok. Tawar menawar terjadi lagi, kali ini cukup alot, akhirnya kami dia setuju untuk nganterin kami ke pelabuhan baru dengan ongkos 20rb untuk 2 orang. Gpp lah, pikirku. Daripada kami menua dijalan antah berantah ini.

Setelah melewati pasar ikan yang baunya gak ketulungan, supir berhenti tepat di depan SPBU di samping jalan masuk pelabuhan. "Udah sampai" begitu katanya. "Kalian tinggal ikutin jalan ini aja masuk kedalam, itu langsung mengarah ke pelabuhan" tambahnya sambil menunjuk kearah gang gelap di samping SPBU.

"Yakin ini pelabuhan baru bang?" tanyaku penuh selidik, masih belum turun dari angkot. "Kok katanya tempatnya bersih ya? Sementara ini kotor banget."
"Iya, ini tempatnya" katanya gusar.
Karena gak mau adu ngotot lagi sama supir, akhirnya aku menyerahkan ongkos sejumlah yang dijanjikan diawal.

Setelah menerima ongkos dari aku, supir itu langsung memacu angkotnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kami yang masih dalam kebingungan.

Mudah-mudahan benar ini tempatnya.

Segera kulangkahkan kakiku dari jalanan becek tempat kami diturunkan ama supir sial itu. Bukan, bukan ke arah pelabuhan, tapi kearah segerombol bapak-bapak yang sedang makan malam di warung sekitar. Mau menanyakan apakah tempat ini benar2 pelabuhan baru atau tidak. Hasilnya.. SHIT!! Kami ditipu. Kami yang sekarang diturunin di pelabuhan lama. Dan supir yang mengantar kami udah kabur duluan. Kuda buntung. Kelinci somplak. Perkutut peang. Segala macam gerutu keluar dari mulutku. Sial banget ditipu sopir angkot.

Lesson learnt, jangan percaya sama supir angkot <- kayaknya udah pernah nulis ginian di post sebelumnya -___-"

Gak ada pilihan lain, kami naik becak kayuh dari pelabuhan lama menuju pelabuhan baru, 15rb untuk dua orang. Dih, niat mau ngirit gak naik taksi, ujung-ujungnya sama aja. Terima nasib aja deh.

Si abang becak ini ternyata cukup baik. Aku lupa siapa namanya. Tapi aku ingat, sepanjang perjalanan dia banyak bercerita dengan kami. Aku juga sempat bercerita tentang susahnya mencapai tempat ini dan supir angkot yang menipu kami tadi. Dia hanya bilang, "Makanya kudu hati-hati. Jaman sekarang, orang rela ngelakuin apa aja demi uang." Okeh. Lesson learnt (again), kudu hati-hati!!

Enaknya naik becak kayuh itu, kita bisa nikmati angin malam bernuansa pantai (kebetulan rutenya gak ngelewatin pasar ikan yang baunya gak ketulungan itu) dan keadaan wilayah sekitar. Perjalanan semakin afdol ketika si abang becak mulai menceritakan jengkal demi jengkal wilayah yang kami lewati. Tidak sampai 30 menit kami naik becak pindah pelabuhan, tapi sudah banyak informasi yang berpindah antara abang becak dan aku. Mulai dari rumah susun yang kami lewati, tempat pengasinan ikan (pembuatan ikan asin), pembuatan sirip ikan hiu (yang tempatnya kami lewati), dll. Untungnya tidak ada perpindahan rasa antara abang becak dan aku. Kalau dipikir pikir, beruntung juga kami naik becak ini, jadi berasa wisata malam di pelabuhan Muara Angke. Makasih abang becak. Muah..

keadaan di dalam pelabuhan
Sampai di pelabuhan Kali Adem, kami pikir hanya kami yang punya ide untuk menginap sambil ngantri tiket kapal. Ternyata, sudah banyak juga orang yang duduk-duduk di sekitar dermaga itu sambil bercengkerama, semetara tas mereka dijejerkan didepan loket pembelian tiket, petanda antrian untuk membeli tiket besok pagi. Terhitung, sudah ada lebih dari 10 tas yang dijejerkan disana. Tanpa pikir panjang, kami segera menjejerkan tas kami di belakang antrian itu. Selebihnya, kami segera menuju tempat duduk terdekat sambil menunggu 5 teman kami yang katanya sedang dalam perjalanan.

Setibanya teman kami, kami mulai menyusun lagi barang2 kami di belakang antrian sampai bisa mewakili 18 orang. Akibatnya, selain carrier, tenda dan sleeping bag, bungkusan tempat sabun dan bungusan perlengkapan makan pun menjadi korban. Dengan tanpa mengurangi fungsi dan makna keberadaan mereka di bumi ini, kami menjejerkan barang2 itu sedemikian rupa, sehingga membentuk formasi antri berjumlah 18 orang. Bagus!!

Jarum jam sudah menunjukkan jam 10 malam, tapi kami masih asik bersenda gurau sambil bermain kartu, sekedar mengusir kantuk yang datang tanpa diundang. Permainan yang lumayan absurd, dimana 6 pemain bekerja sama untuk membuat seorang pemain tidak kalah. Apapun diusahakan, yang penting pemain yang satu itu tidak sampai kalah. Pasalnya, tadi kami sempat belanja sedikit logistik dengan menggunakan uangnya. Semoga saja, dengan dia terus menang, dia akan lupa sama uang yang dikeluarkan tadi, atau malah menganggap utang kami lunas. Benar-benar absurd.

asik main kartu

 Saking asiknya kami bermain, kami gak sadar kalau sudah banyak orang yang membuat antriannya di jejeran barang2 tadi. Bahkan ada yang sengaja menyelipkan barangnya ditengah-tengah antrian, dengan harapan bisa dapet tiket lebih cepat dan tidak ketahuan sama orang lain. Bodohnya, dia gak tau kalau sebenarnya dia menyelipkan barangnya ditengah-tengah jejerang barang kami. Ya jelas ketahuan lah. Wkatu kami cek keadaan barang kami, sontak kami kaget karena ada barang pemisah antara tasku dan bungkusan tempat sabunku. Somplak abis.


ini nih yang harus menang,
itu lagi di sogok pake uang dua ribuan
Kalau kau pikir kami terima begitu saja masalah ini, kau salah besar. Kami langsung protes (padahal disitu lagi gak ada orang, hanya kami bertujuh saja) sambil mempertanyakan siapa yang sudah berlaku tidak fair dalam dunia antri-mengantri ini? Untungnya, sebelum kekesalan kami berubah menjadi marah, dan kemarahan kami menjelma menjadi bencana bagi keberlangsungan umat manusia, salah seorang petugas keamanan pelabuhan itu datanng menghampiri kami dan bertanya apa yang salah. Kami jelaskan dengan gamblang dan terbuka mengenai permasalahan yang ada. Kronologis dan detail setiap kejadian kami paparkan dengan cara yang seksama. Ibarat lagi demo meminta revisi UU kesetaraan gender di depan gedung MPR. Petugas itu hanya bisa manggut-manggut tanpa bisa menimpali.

Setelah semua unek-unek kami keluar, disertai sedikit sumpah serapah dan sumpah pemuda, akhirnya keputusan dibuat. Barang yang nyempil itu harus dipindahkan ke antrian paling ujung. Saat itu, itulah solusi yang paling bisa kami terima. Kami gak tau kalau ternyata besok pagi masalah ini akan jadi lebih runyam :(

tidur gaya gembel
Masalah beres, hati pun lega. Untuk menghidari kejadian serupa, kami sudahi bermain kartunya dan mulai menjada barang kami di antrian. Sengaja kami tari satu bench kesamping antrian supaya kami bisa memonitor bagaimana segala kejadian di wilayah sengketa ini.

Baru beberapa menit saja duduk berjaga sambil bercerita, kantuk mulai datang menyergap. Solusi, bikin kopi. Untungnya kami bawa kompor portable dan persediaan kopi, jadi bisa ngopi ngopi keceh sambil jagain barang. Jangan harap kau bisa membeli kopi atau perlengkapan lainnya disini. Jangankan warung, toilet pun tidak ada. Bayangkan, GAK ADA TOILET!! Jadi kami harus menahan segala nafsu kami yang berhubungan dengan pembuangan sampai besok pagi, sampai alam mulai bersahabat. #SalahGaul

Sambil menanti pagi datang, aku mulai melihat-lihat keadaan sekitar. Dilihat sekilas, dermaga ini tidak lebih dari bangunan baru yang terbengkalai. Hanya ada satu gedung kosong, dan beberapa koridor yang melompong. Tidak ada fasilitas, tidak ada orang. semuanya kosong. Jelas bahwa pelabuhan ini baru diresmikan.


yaahh.. hujaann >_<
Baru sebentar kopi selesai dibuat, hujan turun.. dan lebat. Alamak. Kami pun kalang kabul karena tempat kami mengantrikan tas dan barang2 kami berada ditempat terbuka, bukan di dalam gedung. Alhasil, kami harus memindahkannya atau menutipunya dengan sesuatu yang waterproof. Karena tidak mau repot, kami memilih pilihan kedua. Menutupi barang2 yang terkena hujan dengan sebuah raincover. Lumaya membantu. Tapi akibatnya, kami tidak bisa lagi duduk di menjagai barang kami di samping antrian, kami harus masuk kedalam satu2nya gedung yang ada disana untuk berteduh, bersama beberapa orang yang sudah terlebih dahulu tidur.


tidur dengan lebih terhormat
Call me parno or whatever, tapi kami gak mau kejadian semalam terulang lagi. Jadi malam itu kami tidak tidur dan tetap menjaga barang kami, sampai matahari muncul di ufuk barat. Waktunya untuk menarik sedikit nafas.

Tapi perjuangan kami belum berakhir...
 
berteduh sambil tetap jaga barang
Sesampainya di Pulau Pramuka, tempat kami menyewa kapal ojek, entah kenapa nama kapal yang kami sewa harus bernama KM Mega Mendung. Hasilnya, belum semenit kami menaiki kapal itu, hujan yang sangat deras turun dan membasahi kami semua yang ada dikapal. Siaaaaaalll!!! Pengen rasanya teriak. pantai itu seharusnya sunny, cerah dan panas, bukannya malah hujan!! *kemudian emosi*

Entah kesalahan apa yang sudah kami perbuat, hujan terus membasahi kapal kami dan segala isinya, termasuk carrier dan makanan, sampai kami tiba di Pulau Semak Daun. Air yang hijau dan bening, gugusan pulau2 kecil di sepanjang perjalanan, kapal2 lain yang melintas tidak bisa mengurangi rasa kesal hari itu.

Kenapa harus hujan sih?
Kenapa hari ini?
Kenapa gak lusa aja?

Sampai akhirnya kami tiba di Pulau Semak Daun. Dan semangatku langsung pulih melihat keindahannya ^^

__bersambung__

5 comments:

  1. hoho..penuh pengorbanaan ya..tpi itu yg bikin crta lbih seru..

    ReplyDelete
  2. "Jangan Percaya sama supir angkot"
    dr hati banget kyk nya? hahahaha,,

    ReplyDelete
  3. mantaaaap.....................

    ReplyDelete
  4. Bahasa dramatisny bikin enak dibaca.. keren ini tulisan..

    ReplyDelete
  5. Wihhn kirainn kapalnya kenapa napa, dan membludak banget, antiklimaks haha

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...