13 January 2013

Kembali ke Palembang: Tentang Batak dan Sepeda Motor

Wara wiri ke Palembang selalu membawa cerita tersendiri bagiku. Dengan kakakku bekerja disana, maka perjalanan akan terasa semakin  asik, menyenangkan, dan GRATIS. Iya, soalnya dia tuh donator yang paling baik hati. Saking baiknya, aku jadi pengen balik kesana terus kesana, dengan hanya membawa pakaian untuk mejeng saja, sekalian morotin dia. Hihihi *evil grins*

Seperti biasa, aku selalu pergi wara wiri menjelang weekend, entah itu Jumat malam sehabis pulang kerja atau Sabtu subuh. Yah, beginilah nasib karyawan swasta yang tidak bisa pergi sesuka hatinya. Demi segenggam berlian dan sekarung mutiara, aku harus bisa berdamai dengan keadaan ini.

Jadi waktu itu tiket PP Jakarta-Palembang sudah ditangan, berangkat Jumat malam dan baik Senin malam. Iya, gue cuti sehari, hari Senin. Aku gak tau cuti dikantor udah minus berapa sekarang. Gak berani ngitung. Aku hanya bisa berdoa supaya gajiku gak minus mengikuti jejak jatah cutiku >_<.

Nah, karena biasanya aku pergi ke bandara dianterin ama paman, kali ini aku harus berangkat sendiri dari kantor. Sengaja pilih penerbangan yang rada malam (jam 9) supaya gak ketinggalan. Ditambah lagi, aku gak tau harus naik angkutan apa dari daerah Kebun Jeruk menuju bandara. Makanya, banyak waktu untuk berpikir.

Namun setelah berpikir keras dalam waktu yang cukup lama, sampai hampir tidak mengerjakan apa2 di kantor, aku belum juga menemukan cara yang cocok, enak, nyaman dan ekonomis dan yang menambah level kegantenganku untuk pergi ke bandara. Teman2 semua pada nyaranin naik taksi, tapi karena aku orangnya anti-mainstream, langsung aku tolak saran mereka. Hasilnya, sekarang aku bingung mau naik apa -__-"

Ujung-ujungnya aku balik lagi kearah Cipondoh, melewati rumah pamanku. Padahal, dari pagi aku udah gendong tas ransel yang akan aku bawa ke Palembang. Tas yang lumayan gede, 40 L. Pengen mampir sebentar ke rumah, tapi gak jadi, takut diketawain karena udah cape2 gendong tas, eh ternyata balik ke rumah juga sebelum berangkat. Jadinya aku cari ojek disekitar rumah, yang kalau menurut penuturan pamanku harganya biasanya 25k-30k.

Tanya sana sini, eh gak ada yang mau anterin. Ada sih, tapi mereka minta harga 50k. Ih, mahal banget. Gue tolak dengan jujur dan adil. Siapa juga yang mau bayar segitu dari Cipondoh ke Bandara. Naik taksi juga gak sampai segitu.

Oke, jarum jam terus bergerak. Waktu terus berjalan.


Sempat kepikiran untuk naik taksi aja, toh udah dekat. Ditambah lagi sekarang lagi mendung banget. Gelap dimana-mana. Nyaris hujan. Kalau naik taksi kan enak, sekali masuk, langsung nyampe. Ada ACnya lagi <- norak banget deh!! Tapi kan aku anti-mainstream, langsung kutolak ide naik taksi tadi.

Pilihan lainnya adalah, naik angkot sampai ke Pintu Air (sebutan untuk wilayah di daerah belakang bandara Sokarno-Hatta, well, rada jauh juga sih sebenarnya), setelah itu naik ojek lewat belakang bandara. Pastinya lebih murah dong, tinggal beberapa kilometer gini. Tapi waktu diangkot menuju pintu air, si supir bilang gak ada ojek disekitaran sana, kalau mau mending sekalian nyari ojek di pasar dekat pintu air. Pasti banyak ojek disana dan wajib ada yang mau nganterin ke bandara.

Aku mikir bentar. Mencerna segala kemungkinan. Menghitung rasio keberuntungan. Dan mulai berandai2 tentang keterlambatan, yang berhubungan dengan jarak dan kecepatan. Juga hujan yang menjadi penghalang utama perjalanan kali ini. Kalkulus mulai ambil alih. Kalkulator sangat dibutuhkan saat ini. Dan tabel perkalian entah pergi kemana saat dibutuhkan.

Entah dapet ide dari mana, akhirnya aku mengatakan TIDAK untuk ke pasar pintu air itu. Aku berhenti perempatan dekat kantor Walikota Tangerang, dan lanjut lagi mencari ojek yang bisa mengantarkan aku kebandara. Untungnya, gak perlu mencari jauh, aku sudah menemukan pangkalan ojek. Memang kayaknya, ojek udah jadi komoditas di daerah perkotaan seperti ini. Entahlah, aku juga gak tau arti kata komoditas. Asal main tulis aja, soalnya kata komoditas kedengaran keren di telinga, apalagi jika disandingkan dengan kata ojek <- gak bisa pokus!!

Setelah tawar menawar harga, akhirnya deal harga ojek ke bandara sebesar 35k. Asiikk. Selain bisa cepat nyampe, ternyata murah juga ya. Dia bilang tunggu bentar, mau ngambil sesuatu. Aku pikir karena ini musim hujan, dia mau ambil jas hujan atau sejenisnya untuk menghalau hujan. Ternyata, dia malah pinjem kunci motor dari temannya yang berada disitu. “Pinjem dulu motormu bentar, mau ngantarkan orang ke bandara.” Gitu katanya. Sial banget ya aku. Ckckck. Dan yang lebih sial lagi, dia gak bawa jas hujan. Mudah-mudahan gak turun hujan.

Sambil menunggu dia siap, kusempatkan mengobrol seorang ibu-ibu yang berdiri di samping pangkalan ojek. Aku sempat kasih tau kalau ongkos yang dipatok ama tukang ojek itu terlalu tinggi. “Seharusnya bisa lebih murah” begitu kataku kepadanya. Aku gak tau kalau dia ternyata orang Batak. Dan yang lebih parahnya lagi, dia adalah istri dari orang yang mau ngojekin aku ke bandara, yang minjem motor tadi. Dan ternyata lagi, yang bakal ngojekin aku itu ternyata marga Tampubolon, yang notabene masih semarga samaku, Silalahi. Kancut. Aku gak tau harus bersikap gimana pada saat mengetahui semua fakta diatas. Satu sisi aku senang karena yang ngojekin itu orang Batak, dan semargaku pulak. Disisi lainnya, aku mokal karena sempat bilang kalau dia udah mematok harga terlalu tinggi. This is very awkward!! >_<

Moral lesson: Sepertinya kedepan aku harus bisa menjaga mulutku dari komen2 yang gak penting. Ckckckck

Tanpa menunggu keadaan berubah menjadi lebih aneh, segera kuminta dia melajukan motor pinjaman itu kearah bandara. Untung jalanan tidak begitu macet hari itu. Tidak perlu bersusah payah untuk menyelipkan motor pinjaman ini diantara mobil, angkot dan bus yang terlihat memenuhi jalan saat itu.

Disepanjang perjalanan, kami banyak mengobrol, salah satu kebiasaanku kalau bertemu orang baru. Banyak hal yang kami obrolkan, mulai dari marga, kampung halaman (ternyata dia berasal dari daerah yang sama denganku di Medan sana), kendaraan, sampai masalah cuaca. Dan entah kenapa, sepertinya sudah ditakdirkan waktu kami ngomongin cuaca, hujan tiba2 turun membasahi bumi dan segala isinya, termasuk aku didalamnya. Waktu itu udah lewat gerbang masuk bandara, tapi entah kenapa abang ojek ini tidak mau menepi untuk sekedar meneduh, menunggu hujan reda. Dia malah memacu motornya dengan lebih cepat. Sampai pada satu jembatan dimana banyak pengendara motor yang berteduh, dia menepi.

Aku pikir, dia bakal mengeluarkan jas hujan. Ternyata dia mengaku gak bawa jas hujan. Damn!! “Ya udah, berteduh sebentar juga gak masalah, manatau hujannya reda bentar lagi” kataku padanya setelah motor berhenti dengan sempurna. Tapi dia malah tersenyum dan berkata, “Dekat lagi kok, tanggung. Kita lanjut aja ya.”

Yah apa boleh buat T_T

“Pakkei ma jakket on na, ase unang maraek ho (pakai aja jaket ini, biar kau gak basah)” katanya dalam bahasa Batak sambil membuka jaket yang dia pakai dan memberinya kepadaku.
“Ah, baen ma. Tongkin nai do (gak usah, bentar lagi gini kok)” jawabku sambil menolak jaketnya.
“Bah, marsahit anon ho?! Pakkei ma na (bah, sakit nanti kau?! Ini, pakailah)” katanya memaksa.

Ya udah, aku pakai jaketnya, sementara dia kehujanan waktu motor kembali dipacu menuju tempat parkir bandara. Kali ini dengan kecepatan tinggi untuk meminimalisir efek basah pada tubuh. Segala mobil disalip, sementara hujan becek. Oh God, semoga motor ini tidak terpeleset dan kami tidak terpelating keluar jalan. Untungnya, kami sampai dengan selamat.

Awalnya aku mikir, karena yang ngojekin aku ini orang Batak, satu marga dan dongan sahuta (kampung halamannya sama), maka aku bisa minta nego lagi masalah ongkos tadi. Setidaknya bisa jadi 25k lah. Tapi, sampai disana aku gak tega. Dia udah basah2an gitu, masih mau kasih jaketnya buat ku pakai. So Sweett ^^. Akhirnya dengan kesadaran penuh, aku kasih uang selembar 50k dan tidak meminta kembalian. “Udah bapatua, kembaliannya buat beli kopi aja nanti diwarung” ujarku waktu dia mau mengambil kembalian dari saku celananya.

Sesaat aku merasa senang udah bisa memberikan uang buat beli kopi untuknya. Sesaat kemudian, aku sedih, karena ternyata ongkosnya lebih mahal daripada naik taksi. Kena hujan lagi. Basah lagi. Belum lagi tadi ribet banget dijalan. Mamaaa… *nangis sambil berlari ke pelukan mama* T_T

Tapi kalau gak begitu, perjalananku gak akan seru. Akhirnya aku memutuskan bersyukur karena udah naik ojek ke bandara. Thanks God!!

Sesampainya di bandara di Palembang, atas saran kakakku, aku dijemput oleh 3 orang mahasiswa Unsri Batak (lagi) dengan memakai 2 sepeda motor. Kalau tahun lalu, aku dan kakakku memakan waktu 1 jam dari bandara ke Indralaya, sekarang kami hanya memerlukan 30 menit untuk sampai di kosan mereka, di daerah kampus Unsri.

Gila, cepet banget bos. Gua aja kaget.

Di awal perjalanan, semuanya berjalan dengan mulus. Motor dipacu dalam kecepatan normal sambil kami berkenalan. Sesaat setelah keluar dari kota Palembang, motor dipacu dengan kecepatan gila, sampai2 aku hampir selalu tutup mata selama perjalanan itu. Tutup mata karena angin kuat menerpa wajahku, dan tutup mata karena ngeri. Tapi lebih sering tutup mata karena ngeri. Ngeri kalau tiba2 kami dilindes bus atau truk yang lewat.

evening in palembang
Saat itu udah jam 11 malam, dan kami akan melewati jalur lintas Sumatera yang notabene dilewati oleh truk2 besar, bus dan mobil2 besar lainnya (seperti gambar diawal postingan ini). Kalaupun ada mobil pribadi, pasti yang sejenis Pajero Sport, Panther dan sebangsanya. Sementara lebar jalan hanya bisa dilalui 2 mobil. Jam2 segitu adalah jam dimana bus mulai banyak memadati jalur lintas dari dan ke Pelabuhan Bakauheni. Gilanya lagi, mereka tetap frontal menyalip bus/truk sementara dari arah berlawanan sedang ada bus/truk yang lain yang sudah dekat. Dengan memanfaatkan sisi kecil diantara kedua bus, mereka dengan lihainya memainkan motor mereka ke kiri dan ke kanan melewati semua rintangan. Sementara aku? Aku hanya duduk termangu di kursi belakang sambil banyak-banyak berdoa. Berdoa dengan brutal >_<

Mungkin sudah menjadi keahlian mereka untuk bisa menyalip bus/truk besar dalam keadaan seperti itu. Soalnya, memang itulah yang mereka hadapi selama tinggal disana, truk besar dan jalan yang kecil. Selama perjalanan itu, aku perhatikan sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, speedometer motor yang kutumpangi menunjukkan angka dibawah 80 kmph. Ini adalah rekor dalam hidupku.

Menurut penuturan kakakku, waktu aku akhirnya sampai dengan selamat di tujuan, mereka memang membawa motor selalu dengan attitude yang seperti itu. Ibarat mereka pembalap liar yang memiliki nyawa cadangan. Mereka hanya tertawa kecil menimpali ucapan kakakku, sementara aku menangis bersyukur (bila perlu sambil tahajud) karena bisa sampai dengan selamat.

Thank you God, I'm (still) alive!!

07 January 2013

Kaleidoskop 2012 - Awal dari segalanya


Happy New Year all...

Walaupun tanggal 1 January 2013 kemaren rumah kami karena hujan yang tidak berperi-kemanusiaan, tapi dengan semangat 45 aku menyapa kalian semuwah..

Happy New Year. I  wish you a better year ahead *taburin confetti*

Karena setahun sudah berlalu, dan aku masih saja ganteng keren jomblo, demi nama resolusi tahun baru, aku harus mengevaluasi perjalananku pada tahun 2012 kemaren dan membuat resolusi baru untuk setahun kedepan. Sebenarnya sih resolusi utamananya pengen dapet jodoh, tapi harus diselingi oleh backpacking juga, ujung2nya resolusi tahun depan jika ditulis secara singkat dan gamblang adalah: mencari jodoh sambil backpacking!! #PromosiAbis

Kalau ada yang mau, langsung PM ane aja ya. Hahaha

Oke.

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku mulai mengenal Julia Perez dunia backpacking untuk pertama kali. Ya memang dibutuhkan dada yang besar lapang untuk bisa hidup sebagai seorang backpacker sejati. Juga dibutuhkan bokong yang asoy tekad yang bulat untuk bisa menerima semua tantangan selama perjalanan. Dan aku punya keduanya: dada yang besar lapang dan bokong yang asoy tekad yang bulat.

Blog ini aja baru muncul ke dunia maya pada bulan Mei 2012. Selama itu, sudah banyak hal lain yang kulalkukan untuk pertama kalinya semenjak hidupku. Aku mulai kenal snorkeling dan kena racun karang, aku tau rotan itu berduri karena mendaki gunung, panjat tebing pakai sepatu yang kekecilan, liat stalaktit dan stalagmit di gua terbaik di Indonesia, tangan yang lecet gara2 SRT-an (single rope technique) setinggi 60 meter tanpa kaos tangan, hypotermia karena ketiduran di atas gunung, dll. Banyak banget pelajaran berharga yang udah aku alami selama setahun kebelakang. Dan semuanya menempa aku menjadi aku yang lebih baik. Senangnyaa~

Januari 2012 - Danau Toba
Waktu itu aku baru selesai wisuda (dan baru resign kerja jadi online journalist di Jakarta), jadi aku putuskan pulang kampung ke Medan. Rumahku ada di daerah PTPN 4 Bah Butong dan hanya memakan beberapa puluh menit saja ke Danau Toba. Kebetulan disana juga ada rumah oppung dan tulangku. Jadi beberapa kali aku ke Danau Toba untuk sekedar berenang, pesta ikan bakar yang masih segar, belajar naik solu (perahu kertas sampan) dan sekalian nyari cewek Batak yang mau jadi pacarku. Hasilnya, kalian semua tau. Sampai sekarang aku masih jomblo. Tapi aku senang, soalnya selama 4 tahun kuliah, baru kali itu aku pulang kampung, ketemu teman2 sepermainan, ketemu mantan yang ternyata udah punya pacar baru yang lebih cakep (#nyesek), bernostalgia bersama di kampung halaman, dan yang paling utama, ketemu nyokap dan makan masakan nyokap. Hehe

Februari 2012 - Masa Pencarian Kerja
Setelah pulang kampung dan gagal memacari seorang cewek Batak, aku pun kembali lagi ke Jakarta, berniat mencari pekerjaan dan mencoba peruntungan di kota yang sebentar lagi akan tenggelam ini. Tidak ada keahlian khusus yang kumiliki, bahkan sebagai seorang jurusan Bahasa Inggris, aku bisa dibilang lulusan gagal karena tidak bisa berbahasa Inggris sebaik dan semumpuni Justin Bieber atau Jennifer Lawrence. Huhu. Beberapa kemampuan yang kukuasai dengan baik adalah tertawa dengan kencang walaupun tidak ada hal yang lucu terjadi, bernyanyi dipinggir jalan dengan muka mesum, membuat orang kesal dengan mudah dan membuka tutup botol dengan memakai gigi. Itu doang. Dan aku ragu bisa mendapatkan pekerjaan di Jakarta dengan kemampuan itu. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang..

Maret 2012 - Borobudur dan Ciater
Pada bulan ini, aku berkesempatan untuk mengunjungi 2 tempat sekaligus. Kayaknya ini adalah bulan keberuntungan bagiku, soalnya selain (pada akhirnya) diterima kerja, aku juga berkesempatan untuk mengunjungi Borobudur dan Ciater untuk pertama kali. Dan yang lebih hebatnya lagi, kedua trip ini gratiiiiisss!! Sekali lagi ah, GRATIS!! Yang satu dari pemuda gereja, yang satu lagi dari kantor. Enak banget deh. Di tempat ini aku pertama kalinya naik flying fox di Ciater. Aduh, aku sampai ingin malu mengakuinya, padahal 4 tahun aku di Bandung, tapi selama itu belum pernah sealipun aku pergi ke Ciater. Tapi, ketika aku udah kerja di Jakarta, eh,kantorku malah outing ke Ciater. Itu semua udah di atur sama yang diatas.

April - Mei 201 - Fokus Kerja
Bulan ini aku gak pergi kemana2, fokus sama kerjaan. Tujuannya adalah supaya masa 3 bulan probation period-ku berjalan dengan sukses dan aku diterima kerja sebagai karyawan tetap. Dan hasilnya, aku berhasil!! Berhasil!! Berhasil!! Kata Dora the Explorer. Selain itu, bulan ini aku juga sekalian mengumpulkan karat demi karat emas untuk dijadikan modal kawin <- jodoh aja belum punya, udah mikirin kawin -__-"

Juni 2012 - Gua Buniayu, Sukabumi
Ini adalah pengalaman backpacking gue yang sebenarnya untuk pertama kali. Diajak ama teman kantor gue yang udah banyak makan asam garam (sekalian ama merica dan bawangnya) dunia backpacking, gue pun meng-iya-kan untuk ikut dan akhirnya merasakan serunya pengalaman caving sampai kedalaman sekian puluh meter. Karena ini adalah pengalaman caving aku yang pertama kali, aku langsung menjadikannya sebagai patokan kalau mau caving di masa yang akan datang. Haha. Selain caving, aku juga sempat merasakan bagaimana roppeling di air terjun blablabla (aku lupa namanya) yang ada disana.

Juli 2012 - Medan
Waktu itu aku lagi ada wawancara di salah satu perusahaan BUMN di Medan, jadi aku jabanin cuti dari kantor dan terbang ke Medan. Sayangnya aku gak lolos seleksi karena aku kebanyakan nyengir selama wawancara itu. Sekalian buang sial, aku pun menghabiskan waktu seminggu di Medan hanya untuk wara-wiri gak jelas, mulai dari hunting durian, liat monumen Sisingamangaraja, dll. Yah, walaupun aku gak masuk ke BUMN, setidaknya aku jadi bisa jalan2 di Medan, kota kelahiranku yang belum pernah aku eksplor sebelumnya. Hihi

Agustus 2012 - Bandung
Bagiku, Bandung adalah hometown kedua setelah Medan. Entah kenapa, setiap kali kesepian, aku selalu ingin datang ke Bandung, ketemu teman2 kuliah dulu, merasakan ademnya suhu disanan dan mencicipi bondon. Tak ada yang lebih nikmat dibandingkan dengan kegiatan diatas. Heuheu

September 2012 - Gunung Kidul, Yogyakarta
Sekali lagi, teman kantorku ngadain open trip ke Gunung Kidul, dengan tujuan Gua Jomblang, Goa Pindul, Pantai Siung dan Pantai Wediombo. Sejauh ini, perjalanan ini merupakan perjalanan yang paling mahal dan paling berkesan. Disana aku ngelihat sinar sorgawi, nyobain (literally) rock climbing, cave tubing dan hunting kuliner. Pokoknya keren banget lah. Dari situ niatku untuk menjelajahi Indonesia sampai ke ujung2nya mulai terbentuk dengan pasti.

Oktober 2012 - Gunung Pangrango dan Semak Daun
Bulan ini aku mendaki gunung untuk yang pertama kalinya (dulu pernah sih naik Gunung Tangkuban Parahu, tapi itu gak dianggap sebagai mendaki gunung, hanya berwisata ke gunung). Rencananya sih pengen ke Gunung Gede, yang jalurnya gak ekstrem2 banget, tapi malah berujung ke Gunung Pangrango lewat jalur Geger Bentang karena Gunung Gede waktu itu lagi di tutup atas isu kebakaran. Pendakian pertama itu pun menjadi sebuah pendakian penyiksaan bagi kami karena mayoritas anggota kelompok kami adalah nubi dalam mendaki gunung. Pokoknya kalau mendengar kata Geger Bentang, itu adalah nightmare bagi kami. Hihi

Dua minggu setelah mendaki Gunung Pangrango, walaupun badan kami masih belum sepenuhnya pulih, kami memutuskan untuk merayakan hari Sumpah Pemuda di Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu. Disini aku snorkeling untuk yang pertama kali, dan langsung kena racun karang. Pokoknya norak lah.

November 2012 - Gunung Semeru
Pendakian kedua, kuberanikan diri untuk ikut ke Gunung Semeru, puncak tanah Jawa yang terkenal sebagai tempat para dewa berkumpul membahas masa depan umat manusia dan segala nyamuk yang ada di Indonesia. Meski tanpa restu orang tua, aku tetap pergi kesana bermodalkan sayap2 patah dan gelas2 kaca yang sudah retak. Perjuangan 4 hari mendaki mengajariku banyak hal dan aku sadar, aku sedang berkembang <- perkembangan yang sangat telat. Tapi ciyus, Gunung Semeru dan Puncak Mahameru adalah pemandangan terindah yang pernah kulihat sampai saat ini. Aku sungguh bersyukur bisa mendaki kesana.

Desember 2012 - Palembang dan Gunung Gede
Desember adalah bulan memorial sekaligus bulan gambling bagiku. Aku pergi ke Palembang untuk kedua kalianya dan mengunjungi tempat2 yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, seperti Pulau Kemaro, OPI, dll (postingannya menyusul). Aku juga baru pertamakali merasakan Mie Celor, Martabak Har dan Pindang di tempat ini. Semuanya enak cuy. Tapi sial, uangku habis buat ongkos PP naik pesawat T.T

Akhir bulan Desember aku juga sempat ke Gunung Gede. Rencananya sih bakalan tahun baruan disana, tapi apa daya, perijinan SIMAKSI gak memperbolehkan kami untuk melewati pergantian tahun di puncak Gunung Gede, jadi kami hanya sampai tanggal 30 Desember saja disana. Awalnya kupikir mendaki Gunung Gede itu gampang. Ternyata mendaki Gunung Gede lewat jalur Gunung Putri itu kesannya hampir sama dengan mendaki Gunung Pangrango vis Geger Bentang.

...

Semoga tahun ini petualangan yang terbaik siap menghampiriku..

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...