26 March 2013

Meterai dan Kabut Keparat di Gunung Gede

Akhirnya niat untuk menjejakkan kaki di Surya Kencana kesampaian juga, setelah aku dan teman mendakikku mengadu nasib dan keberuntungan untuk mendaki Gunung Gede pada akhir tahun lalu. Rencananya sih pengen muncak pas pergantian tahun gitu (a.k.a Tahun Baru) biar bisa melihat matahari terbit pertama kali tahun 2013, tapi apa daya, Mama Lauren keburu meninggal, jadi kami hanya bisa mendaki sampai tgl 30 Desember 2012 saja. Itu pun setelah mengorbankan banyak janji-janji palsu yang udah dibuat sebelumnya.

Well, intinya, kami mendaki Gunung Gede!! Titik!!

Seperti biasa, semua peserta dikumpulkan di Terminal Kampung Rambutan jam 8-9 malam untuk kemudian berangkat ke daerah Cibodas dengan bus Rambutan-Bandung yang melalui jalur puncak. Dan seperti biasa, aku yang pertama kali muncul di meeting point yang dijanjikan, kemudian satu-persatu batang hidung temanku muncul membawa harapan palsu. Andai saja ada hukuman bagi yang datang terlambat, pasti saat itu aku sedang makan makanan enak hasil denda, bukannya malah makan sambel yang udah basi yang dijual di dekat Meeting Point kami *sigh* *ijin ke toilet*

Tidak ada yang spesial dalam perjalanan menuju Cibodas. Perjalanan malam itu terasa biasa aja. Aku langsung tertidur pulas begitu bus berangkat dari terminal, dan teman-temanku cekikikan di bangku belakang sambil cerita menggebu-gebu. Dan ketika aku akhirnya terjaga dari tidurku, kami sudah sampai di tujuan dan harus turun keluar dari bus. Teman-temanku masih tertawa cekikikan di bangku belakang, entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya seru sekali. Tapi bagiku, perjalanan itu biasa saja, malah cenderung membosankan!! *salah sendiri tertidur selama perjalanan*

Tampat kami berhenti sekarang sedikit berbeda dengan tempat kami berhenti sewaktu ke Gunung Pangrango dulu. Eh, bukan sedikit berbeda sih, emang totally berbeda. Kalau dulu kami turun di Simpang Cipanas untuk mendaki melalui jalur Cibodas, sekarang kami turun di umm.. aku gak tau nama tempatnya, yang pasti kami akan mendaki dari jalur Gunung Putri, which is a bit further than the previously  mentioned location. *aduh, jadi pen nulis pake Bahasa Inggris nih ^^). Yang pasti, entah alam sedang konspirasi atau konstipasi, tapi kami tidak pernah bisa mendaki Gunung Gede melalui jalur Cibodas. Entah kenapa. Akhirnya kami mendaki melalui Gunung Putri, yang menurutku lebih baik daripada mendaki melalui jalur illegal seperti yang dulu kami lakukan di Gunung Pangrango.

Pada awalnya, kelompok kami ditargetkan akan menginap di rumah tetangga, eh warga yang ada disekitar kaki Kaki Gunung Putri. Tapi karena mungkin kami nyampe di lokasi terlalu malam atau bagaimana, kami berakhir dengan tidur secara biadab diselasar masjid di sekitar sana. Untung mesjidnya dengan baik hati menyediakan karpet kecil untuk dijadikan alas tidur, kalau tidak, pasti kami sudah membuka dan memasang tenda di dalam masjid. Ini kan demi kenyamanan bersama!! #EhSalahYa?

Baru guling-guling untuk menghangatkan badan selama 3 jam, kami sudah harus bangun lagi jam 5 pagi untuk sarapan dan mulai pendakian. Padahal kan baru nemu posisi uwenak untuk tidur. Padahal kan masih ngantuk level maxx. Padahal kan.. ah sudahlah. Kelompok kami tetap bersiap dan mengikuti jadwal yang sudah disusun. Dengan muka kusut dan kondisi masih setengah bermimpi, kami bersiap dan mulai menerima kenyataan bahwa pagi itu.. gerimis!! #NasibMendakiBulanDesember

Sarapan saat gerimis ketika ingin mendaki membuat semua makanan yang disajikan terasa hambar dan mahal. Entahlah, itu karena efek gerimis atau aku memang lagi bokek. Tapi memang tidak banyak yang bisa dijadikan pilihan dari warung makan itu. Hanya ada beberapa jenis lauk yang digoreng dan sayuran yang tidak menggugah rasa lapar. Namun demikian, teh tawar anget yang disodorkan terasa sangat nikmat, bahkan terasa hangat sampai ke perut #yaiyalah. Teh Tawar anget merupakan pilihan paling tepat untuk kondisi yang basah pagi itu, selain kopi panas tentunya.

Tepat jam 7 pagi, kami berangkat dan mengurus pendaftaran SIMAKSI (mendaftar untuk mendaki). Entah mengapa perasaanku langsung tidak enak begitu melihat pengurus SIMAKSI dan bangunan yang mereka gunakan sebagai kantor itu. EH, btw, SIMAKSI itu singkatan dari apa sih? Yah, pokoknya gitu lah. Akhirnya kami TIDAK diijinkan mendaki karena ada 2 orang teman kelompok kami yang memakai sendal ketika sedang mendaftar. Padahal peraturannya kan, setiap calon pendaki harus memakai sepatu selama mendaki (atau setidaknya ketika mendaftar SIMAKSI). Setelah nego sana-sini, kedip sana-sini, buka sana-sini, akhirnya si bapak petugas itu mau berdamai juga. Dia mengijinkan kami mendaki dengan satu syarat. Bukan, kami bukan disuruh striptease sambil nari Harlem Shake. Bukan. Syaratnya adalah, kami harus menulis surat pernyataan untuk bertanggung jawab atas segala kemungkinan kecelakaan yang terjadi karena memakai sandal selama mendaki. Sebenarnya kalau nulis surat seperti itu sih mudah, gak perlu kelabakan. Yang membuat kami menjadi seperti orang yang kehilangan harapan adalah, surat tersebut harus ditanda-tangani dengan menggunakan Meterai 6000, sejumlah orang yang tidak memakai sepatu pada hari itu. Kalau ada 10 orang yang tidak memakai sepatu, berarti harus ada 10 Meterai 6000. In that case, berarti harus ada 2 Meterai 6000. 

DAN MEREKA TIDAK MENYEDIAKAN METERAI KEPARAT ITU!!

Ih, parah banget deh pokoknya. Mana di lokasi itu gak ada warung yang menjual materai lagi. Beberapa pilihan yang tersedia adalah: menyewa angkot untuk membeli materai di jalan utama yang jarak tempuhnya sekitar 1 jam, striptease sambil menari Harlem Shake, atau lebih parah, mendaki tanpa kedua teman kami yang memakai sandal pembuat masalah itu.  Dan tidak ada satu pilihan pun yang menarik dan menyenangkan. Well, kecuali pilihan kedua sih. We would be very honored to striptease and do Harlem Shake in front of them. *langsung berobat ke RS Jiwa terdekat*


Setelah semua harapan terasa menjauh (iya, aku lebay banget), ternyata ada salah seorang temanku yang membawa Meterai 6000 di dompetnya. DAN DIA MEMBAWA 2 METERAI. Perfect!! Aku gak tau sih bawa-bawa materai untuk tujuan apa, tapi aku bersyukur banget karna dia udah repot-repot bawa meterai ke Gunung Gede, seolah-olah dia tau bakal membutuhkan meterai tersebut disana. Sialnya, aku gak jadi striptease dan Harlem Shake disana. Iya, sial!! -_-a

Seperti tentara yang baru menyelesaikan sebuah mission impossible, kami bergerak meninggalkan gedung Sekretariat Gede Pangrango dengan langkah gontai!!

Diiringi gerimis dan semangat yang hampir patah, kami mulai mendaki sambil tetap menjaga formasi 4-2-4 yang dirasa cukup untuk bertahan dan menyerang. Karena Gunung Gede adalah gunung untuk pendaki pemula, aku pikir medan yang akan kami lalui tidak akan membuat kami keringetan. Kami mendaki sambil tertawa sepanjang perjalanan (awal). Padahal, begitu sampai pada tangga di awal pendakian, kami sudah kehabisan tenaga. Itu masih awal banget loh, belum juga sampai di Pos 1, tapi kami sudah bertambah tua beberapa tahun. 


Memang sih, tangga yang menjadi pembuka jalur pendakian ke Gunung Gede bisa dibilang tidak berperikemanusiaan, terjal dan tak berujung. Untungnya tempat itu cukup teduh dan nyaman, serta menenangkan, sehingga tekad kami untuk tetap mendaki tidak terbang terbawa angin yang melintas. Hutan yang terbentang sepanjang tangga itu begitu terawat dan sehat. Cocok dijadikan cover sebuah kalender perhutani. Keren lah pokoknya.

Perjalanan dilanjutkan sampai Pos 1, yang ditandai dengan gapura di ujung tangga yang terbuat dari semen itu. Satu persatu temanku sampai di Pos 1 dengan nafas tersengal-sengal. Bayangkan, di gunung mana pendaki tersengal-sengal kelelahan ketika mencapai Pos 1? Hanya di gunung Gede, bro!

Gerimis berhenti ketika kami melanjutkan mendaki menuju pos-pos selanjutnya. Penjual Nasi Uduk bergantian muncul diiringi dengan kabut yang menutupi jarak pandang kami. Sempat kami membeli beberapa makanan di ‘warung ‘ yang ada di pinggir jalur pendakian untuk sekedar memberi supply karbohidrat bagi tubuh yang kedinginan ini. Tapi apa yang kami dapat? Selain harganya yang mahal, kami juga mendapat ENERGEN COKLAT RASA KAYU. Yupp, rasa kayu. Padahal seharusnya mah Energen coklat itu rasa coklat. Tapi hukum itu tidak berlaku di Gunung Gede. Semua Energen (dan minuman seduh lainnya) akan berubah menjadi rasa kayu regardless the original flavor of your drinks. Mengapa? Secara ilmiah susah dijelaskan, tapi secara pengalaman, itu semua diebabkan oleh alat yang digunakan untuk mengaduk Energen yang diseduh, yaitu SEBUAH KAYU!! That’s why!!


Tempat Kejadian Perkara Energen rasa kayu
Aku dan teman-teman juga sempat mencicipi nasi uduk yang dijajakan oleh seorang Bapak-Tua-Tidak-Terlalu-Kurus yang kebetulan melewati kami ketika jam makan siang. Karena sudah kelaparan dan memang sudah waktunya untuk makan siang, kami pun memanggil si Bapak dan mulai nego harga. Parah banget ya, di hutan juga masih sempat nawar. Setelah kesepakatan terjadi, kami pun mulai menyantap nasi dari bungkusan yang disediakan si pedagang itu. Rasanya, bweeeekk.. Kering, keras, dingin, dan tidak enak.  Tapi yah, karena gak ada pilihan lagi, Nasi Uduk itu pun dengan sukses meluncur kedalam perut kami, tanpa minum. Dan kami masih sempat potoan dengan si Bapak-Panjual-Nasi-Uduk-yang-Memberi-Potongan-Harga-Beberapa-Ribu-Rupiah itu.
Penjual Nasi Uduk
Banyak hal lucu yang terjadi selama perjalanan menuju SurKen. Karena pada waktu itu sangat banyak pendaki yang datang ke Gunung Gede, jadi hampir semua jalur pendakian dipenuhi oleh pendaki lain, baik itu yang sedang istirahat maupun yang sedang berjalan tertatih. Pada satu kesempatan, ada sekelompok pendaki yang menarik perhatian kami, dimana seorang dari kelompok mereka membawa kompor minyak yang gede (mereknya aku lupa) dengan cara menggendongnya di belakang (seperti menggendong carrier). Ya ampun, kan bisa bawa trangia atau kompor portable gitu, atau bisa ditutupin pake plastik ama kain biar gak ketahuan. Ckckck.. Ada juga temen kelompokku yang dari awal sampai akhir pendakian selalu bernyanyi, seolah bernyanyi itu adalah sumber kekuatannya dalam mendaki. Yang menjadi masalah adalah, yang dia nyanyikan itu hanya bagian reff-nya saja, itu pun hanya 5 kata pertama, ada rasa yang tak biasaaaa~ Begitu terus diulang-ulang sampai Surya Kencana.

Kabut semakin centil ketika kami mencapai pos terakhir sebelum Surya Kencana. Sejujurnya, aku lupa ada berapa pos yang harus dilewati sebelum akhirnya kami mencapai SurKen. Tapi, supaya terliha berpengetahuan luas, akhirnya aku memakai kata “pos terakhir sebelum SurKen". Dan ketika kami pada akhirnya mencapai Surya Kencana, gerimis turun menambah dinginnya hari itu. Terpaksa kami berteduh di bawah warung salah satu pedagang disana, menunggu gerimis reda sambil melihat-lihat tingkah laku para pendaki lain yang jumlahnya tidak terhitung (kayak orang kurang kerjaan aja ngitung-ngitung pendaki). Melihat kesibukan pendaki yang membuka tenda mereka dan menyemangati pendaki lain yang baru tiba di SurKen (posisi kami saat itu dekat dengan jalur masuk SurKen).

Sembari Menunggu di SurKen
 Setelah bosan menunggu, dan gerimis belum juga reda, akhirnya kami putuskan untuk mencari teman kami yang sudah tiba terlebih dahulu untuk memasang tenda di Surya Kencana bagian Barat. Untuk mencapai tempat itu saja kami seperti sudah tidak memiliki tenaga lagi, kelelahan dan kedinginan. Tapi kemudian, kami bernyanyi untuk menjaga tubuh tetap bergerak dan rasa panas bisa kembali menemani tubuh kami.

Kabut semakin menjadi ketika kami melihat tenda kami dari jarak… dekat. Ya, kabut itu membuat jarak pandang kami hanya bisa mencapai sekian meter dan kami tidak tau sepadat apa SurKen saat itu. Yang bisa kami lihat hanyalah putih kabut dan sangat sedikit warna hijau rumput yang ada disepanjang jalan. Bahkan kami yang biasanya terjaga sampai tengah malam hanya untuk sekedar bertukar cerita atau duduk termenung tidak jelas di padang rumput, harus rela untuk tertidur jam 6 sore saat itu. Hal ini dikarenakan rasa dingin yang menusuk kulit kami dan keterbatasan jarak pandang. Jadi, karena tidak ada pilihan lain, setiap orang masuk kedalam tenda masing-masing dan mulai tidur. Walaupun waktu itu masih sangat dini untuk tidur. Well, who cares!! *smirk*

Pagi keesokan harinya, kami terbangun dengan harapan hari ini bakal cerah dan kami bisa menikmati matahari terbit di puncak Gunung Gede. Nyatanya, kami terbangun dengan Sleeping Bag dalam keadaaan lembab dan kabut masih tempil keceh diluar tenda. Sigh!! Dih, kabutnya gak bisa pergi aja apah?!

Yah, apa boleh buat. Dengan kabut yang semakin tebal, kami melakukan Summit Attack pada subuh yang gelap (yaiyalah) dan dingin itu. Ditemani senter, minuman dan beberapa snack yang dimasukkan ke salah satu daypack temanku, kami sampai di puncak Gunung Gede. Ternyata jarak dari SurKen ke puncak itu tidak terlalu jauh ya. Kami sampai sebelum matahari terbit. Dan ketika kami turun beberapa jam kemudian, matahari belum juga terbit. Padahal mah udah terbit dari kapan, tapi gak terlihat karena kabut yang sangat tebal.
Gunung Pangrango yang Menyembul Malu-malu di Balik Awan dan Kabut
Kami berdiri dipuncak dan hanya bisa melihat kabut putih sepanjang mata memandang. Aku masih sabar menunggu matahari terbit di salah satu pohon yang ada di puncak. 2 jam aku berdiri menanti, matahari tak kunjung muncul (karena kabut sialan itu). Akhirnya, dengan muka sedih, aku hanya bisa potoan di tugu yang disediakan disana sambil membayangkan keindahan tempat itu tanpa kehadiran kabut itu. Karena memang tidak bisa melihat apa-apa (bahkan Gunung Pangrango juga tidak kelihatan, hanya mengintip malu dibalik awan), akhirnya kami hanya bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan lantang dan penuh percaya diri di puncak Gunung Gede.
iya, aku ganteng banget ^^

Dan untungnya tidak ada yang mentertawakan kami selama menyanyikan lagu itu.

8 comments:

  1. Replies
    1. Tengkyu..
      and thanks for coming by and reading this blog :D

      Delete
  2. Replies
    1. You too bro.. May luck come to your way!! :D

      Delete
  3. Hahaha.. Ngakak baca catpernya :)
    Eh kalo naek ke Merbabu via Wekas, belum sampe pos I juga udah ngos-ngosan -_-"

    Eniwei salam kenal :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Merbabu? Noted.. tahun depan kesana.

      Salam kenal juga br0, thx for visiting :)

      Delete
  4. Mau ke sana tp msh bingung ngurus simaksi'y.. Boleh minta info ga?
    Btw salam kenal.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. SIMAKSI di Gede Pangrango emang paling eksklusif se Jawa. Gue juga pengin kesana lagi, tapi terhanbat ama SIMAKSI *sigh*

      Delete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...