21 April 2013

The Frozen Flash


Saat fajar menyingsing di Ranu Kumbolo merupakan moment yang paling dinanti oleh semua pendaki Gunung Semeru. Diselimuti kabut dengan udara yang sangat dingin, Ranu Kumbolo memberikan pesona yang lebih indah daripada setangkai bunga mawar pada hari Valentine. Semua pendaki yang bermalam di Ranu Kumbolo akan segera keluar dari tendanya dan langsung berburu pemandangan saat matahari terbit. Begitu pun aku. Dengan badan menggigil aku mengambil foto temanku yang sudah berpose cantik di spot paling bagus disana. Tanpa disengaja, aku mengambil foto saat orang yang ada disampingku sedang memoto dengan menggunakan flash dari kamera DSRL miliknya. Entah bagaimana prosesnya, flash tersebut terekam difoto ini sehingga meninggalkan kesan cahaya yang terpotong di badan temanku. Awalnya kami berpikir yang aneh-aneh. Selanjutnya, kami sadar bahwa moment yang tepat pada saat mengambil foto tersebut mengakibatkan flash kamera lain tercetak dengan jelas pada poto ini.

Danau OPI, seperti kolam renang pribadi



Selain Sungai Musi yang membelah kota Palembang menjadi dua, ternyata masih ada wisata air lainnya yang terletak tidak jauh dari pusat kota Palembang ini, namanya adalah Danau (buatan) OPI. Oke, tergantung lu letakin pusat kota Palembang-nya dimana, maka lokasi Danau OPI ini pun menjadi relatif, bisa dekat bisa juga jauh, bisa sangat dekat dan bisa juga sangat jauh. Dalam kaca mata batin aku sih, pusat kota Palembang itu ada di Jembatan Ampera, soalnya lokasi itu adalah tempat paling ramai dan sering dikunjungi orang. Ada pasar 16 juga loh!! Makanya aku bilang dekat. Dari Jembatan Ampera, jalan lurus terus ke arah Jakabaring. Di dekat Stadiun Sriwijaya, ada Wisma Atlit yang dulu dana pembuatannya dikorupsi oleh Nazaruddin. Tapi sekarang udah selesai sih. Nah, tempatnya bukan disitu. Dari situ ada bundaran, lu lurus terus kearah OPI (kalau tidak salah melewati lokasi wisata yang berisi berbagai jenis rumah adat Indonesia), setelah itu belok kanan masuk ke Perumahan OPI. Sampai deh!! *aku juga gak tau itu mengarah kemana* LOL

Danau ini terletak ditempat yang rada terpencil dan sepi. Gak ada mall, gak ada angkot, gak ada flash mob. Semua ketenangan yang bisa kau bayangkan akan kau dapati disini. Walaupun pada saat-saat tertentu tempat ini akan dipenuhi oleh pengunjung, namun banyak saat-saat dimana danau ini serasa milik pribadi, seperti yang kualami waktu itu.

Lebih tepatnya sore itu..

Danau OPI ini kecil saja. Tidak lebih besar daripada Danau Toba ataupun Danau Lau Kawar. Bahkan bisa dikelilingi dengan cara berenang. Well, butuh waktu 2 hari sih untuk membuat satu lingkaran penuh di danau itu (kalau yang berenangnya semut). Lebih besar dari air kobokan dan comberan. Tapi intinya, danau ini tidak besar. Di sekeliling danau tersebut terdapat warung2 bambu kecil yang menyediakan berbagai makanan, mulai dari Mie Sop, Jagung Bakar, Es Kelapa Muda dan juga Indomaret. Biasanya pengunjung datang ketempat ini hanya untuk melewati senja dengan damai, melihat sunset yang tidak seberapa dan melakukan wisata air seperti banana boat atau perahu bebek, atau sekedar berenang gratis. Sedangkan aku, aku datang kesitu untuk membeli es kelapa muda dan kacang tanah rebus. 

Waktu itu aku baru selesai berkunjung ke Pulau Kemaro. Setelah numpang makan siang di sebuah mall di tengah kota, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau OPI.

Sampai di OPI, hari sudah senja. Danau OPI sudah lumayan sepi, hanya terlihat beberapa pasangan yang bekerja keras dalam perahu bebek yang berseliweran di tengah danau. Ada juga 3 orang yang sedang menaiki pisang karet raksasa yang ditarik oleh sebuah speed boat. Iya, aku tau.. itu namanya Banana Boat!! Pada saat setelah mengelilingi danau itu sekali putaran, mereka lalu dihempaskan keluar dari banana boat mereka oleh pengendara boat yang tidak tau diri itu. Lalu mereka terlempar dengan posisi yang tidak sewajarnya kedalam danau. Kasihan mereka, udah bayar mahal malah diperlakukan tidak senonoh oleh yang empunya boat. Keadilan macam apa ini? Tapi anehnya, saat mengambang di permukaan air danau setelah kejadian penganiayaan tadi, mereka malah tertawa dengan senangnya seakan tidak ada anggota keluarga mereka yang sedang berada dalam kesusahan. Mereka tertawa seakan saat itu adalah hari terakhir untuk tertawa. Mereka tertawa dengan sangat lepas. Mereka tertawa sampai-sampai bagian dalam mulut mereka terlihat dengan sangat jelas dari jarak 10 meter. Dafuq??

“I am NOT gonna ride that boat” kataku dalam hati melihat kejadian nyeleneh tersebut.

Tik tok tik tok.. Senja mulai tua dan matahari bersiap untuk kembali ke peraduannya.

Semenjak sampai di Danau OPI 30 menit yang lalu, aku hanya nongki-nongki keceh disalah satu warung sambil menghabiskan kacang tanah yang dibeli tadi sambil ngobrol tentang perkembangan ekonomi dunia ketiga dan pengaruhnya terhadap rencana global market tahun 2015 yang dicanangkan ASEAN. Bohong banget!! Sebenarnya sih bosen juga, soalnya gak ada apa-apa yang dilihat. Akhirnya pada saat yang empunya Banana Boat membereskan barang mereka dan hampir pulang, aku memutuskan untuk mencoba menaikinya barang sekali. Sekalian mengganggu jadwal mereka.

Hihihi..

Baru 30 menit yang lalu bilang gak mau naik Banana Boat, sekarang udah lupa. Dasar!!

Waktu itu udah sepi. 3 orang yang tadi naik Banana Boat udah pergi entah kemana. Pasangan-pasangan yang tadi ada di dalam perahu bebek juga udah pergi untuk melanjutkan kisah cinta mereka ke tahap selanjutnya.. makan malam maksudnya. Praktis hanya kami berlima ditambah pemilik Banana Boat yang ada di tempat itu. Nego harga terjadi, dan cukup alot <- typically me!! Akhirnya kami sepakat untuk membayar 20rb/orang untuk 3 kali putaran. Nego sukses. Muahahaha

Saat itu kami putuskan bahwa Danau OPI menjadi milik pribadi for the rest of the day!!

Ternyata naik Banana Boat di tengah danau yang sepi itu menyenangkan. Kita bisa berteriak sepuas kita tanpa takut gendang telinga orang pecah karena suara kita. Kita juga bisa bergaya aneh-aneh diatas boat sewaktu boatnya berjalan pelan. Kalau boatnya udah jalan kenceng mah, kita hanya bisa pegangan dengan erat biar jangan jatuh. 

Putaran pertama kami hanya melewatinya dengan biasa aja. Aku yang udah khatam sama wahana paling ekstrem di Dufan ini pun ngerasa Banana Boat itu gak seru. Hanya naik boat berbentuk banana, lalu ditarik-tarik ama speed boat, then selesai. Sampai pada akhirnya pada putaran kedua, tanpa aba-aba si supir boat itu membuat manuver sedemikian rupa sehingga kami terjatuh terguling-guling didalam danau itu.

kejadian penganiayaan level dewa
 Blup blup blup..

Satu liter air dengan sukses masuk kedalam hidung dan mulutku. Hoek!!

Untung pakai pelampung, kalau tidak sudah pasti aku berenang dengan gaya dada, yaitu mengucapkan dada(h) sambil tenggelam secara perlahan-lahan (namun pasti) kedalam danau. Danaunya lumayan dalam dan aku gak bisa berenang. Ditambah lagi, air danau membuat daya ambang tubuh seseorang berkurang, sehingga kita akan sukses tenggelam kalau tidak bisa berenang.

Tapi kemudian, setelah aku muncul kepermukaan dengan gaya megap-megap, aku merasa adrenalinku terpacu. Ternyata ini yang membuat 3 orang tadi tertawa sangat senang setelah dilemparkan secara tidak beradab dari banana boat yang mereka naiki. Walaupun sedikit kesal, aku pun merasa senang, karena Banana Boat itu ternyata FUN!! Well, FUN hanya pada bagian DILEMPARKAN doang, sih.

Putaran ketiga juga sama, kami tetap dilemparkan keluar dari Banana Boat seperti seekor bekicot yang sedang marah dan melemparkan kutu busuk dari badannya. Walaupun aku sudah mengantisipasi kejadian ini dengan berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945 handle yang disediakan, tapi tetap saja aku terjengkang. Tidak mampu bertahan ditengah gempuran manuver yang ditampilkan si supir. Sial.

Manuver selesai. Aku udah mabok kebanyakan minum air danau dan yang punya Banana Boat juga udah pulang kerumah. Terlintas ide untuk segera pulang dan makan pindang patin, tapi karena udah keburu basah, niat untuk pulang diurungkan, dan kami malah berenang gila-gilaan disana. Mumpung sepi.

Air danau itu unexpectedly, jernih. Sedikit berwarna hijau tosca namun agak pekat. Dan berenang (dengan memakai pelampung) ke tengah danau tidak membuatku gamang seperti waktu snorkeling dulu. Berasa berenang di kolam renang gitu deh. Sampai ditengah danau, kami berhenti sejenak dan memutarkan pandangan ke sekelililing tempat itu. Hanya ada kesepian dan lampu-lampu jalanan yang mulai dinyalakan. Kupejamkan mata sambil menikmati air danau itu mengombang-ambingkan tubuhku. Sekejap kemudian, aku mengigil kedinginan. Hehe

Waktunya pulang!!

11 April 2013

100rb ke Pulau Kemaro, NO BARGAIN!!




Kali kedua kedatanganku ke Palembang aku sempatkan untuk singgah sebentar ke Pulau Kemaro. Sebenarnya sejak kunjungan pertamaku, kakakku (yang merupakan donatur perjalanan kalau aku pergi ke Palembang) sudah menawarkan untuk mengunjungi Pulau Kemaro. Tapi aku yang lebih suka perjalanan petualangan ini menolak dengan halus sambil beralasan bahwa di pulau itu tidak ada hal menarik yang bisa dilakukan. Tidak ada SRT, tidak ada trekking dan tidak ada Kora Kora *menurut nganaaa?!* Bagiku, awalnya, Pulau Kemaro hanyalah seonggok tanah yang menyembul ditengah (agak kepinggir sih) Sungai Musi. Dan sekarang, bagiku, Pulau Kemaro tetap hanya sebentuk pulau kecil tanpa suguhan atraksi apapun. 

Kecuali untuk beberapa hal…

Oh iya, bagi yang belum tau, Pulau Kemaro adalah pulau kecil yang (katanya) berada ditengah-tengah Sungai Musi. Pulau ini bisa dicapai dengan menggunakan jasa penyewaan getek (sampan mesin kecil dengan muatan 6-8 orang), berenang, teleportasi atau kalau kalian memiliki kemampuan seperti Biksu Shaolin, kalian bisa berjalan (sambil sesekali berlari) diatas air untuk mencapai tempat ini. Tapi bagaimana pun juga, sangat disarankan untuk menggunakan jasa sewa getek, karena selain lebih wajar dan bebas dari kontroversi, media penyebrangan dengan menggunakan getek dapat membantu penduduk lokal (yang memiliki getek dan kebetulan menyewakannya) mendapatkan penghasilan. Istilah lainnya, sewa getek merupakan sumber pencaharian mereka sehari-hari.

Pulau Kemaro merupakan tempat dimana suku Tionghoa yang ada di sekitar Palembang mengadakan dan merayakan Imlek. Katanya sih, disana ada pura yang menjadi tempat sembahyang. Jadi kalau Imlek tiba, tempat ini akan sangat padat dan rame oleh orang-orang bermata sipit dan berbaju merah. Ada juga legenda yang melingkupi tempat itu, tentang kisah cinta antara 2 sejoli. Mereka cowok dan cewek #yaiyalah!! Yang satu pribumi dan yang satu lagi keturunan Tionghoa. Gue gak tau yang pribumi itu cowoknya atau ceweknya. Dan gue juga gak tau yang keturunan Tionghoa itu ceweknya atau cowoknya #dibahas. Tapi yang pasti, tempat itu panas sekalee, seperti nama tempatnya “Kemaro”, yang berarti KEMARAU!! Entah bagaimana kisah cinta mereka sehingga muncul Pulau Kemaro. Dan entah apa yang telah mereka perbuat dulu sehingga sangat jarang turun hujan di Pulau Kemaro (pada saat musim kemarau).

Oleh karena itu, mari kita cari tau.. *tarakdungces* *salah backsound* 

Ada 2 titik utama tempat mangkal getek yang akan membawa kita ke Pulau Kemaro. Titik yang pertama dan paling terkenal terletak di bawah Jembatan Ampera disamping Pasar 16. Diantara barisan kapal besar dan kecil yang ada disana, terdapat beberapa getek yang siap membawa kita menyusuri Sungai Musi dan mengantarkan kita sampai ke Pulau Kemaro. Dari Jembatan Ampera menuju Pulau Kemaro dapat ditempuh dalam waktu 1 jam, padahal jaraknya tidak begitu jauh. Hal ini kemudian menjadi wajar karena getek itu bergerak sangat lambat. Jika dikonversikan dengan kecepatan sepeda motor, kapal kecil itu bergerak dengan kecepatan 10 kmph. Dan harga yang harus dibayar untuk menaiki getek itu adalah sebesar 100rb - 150rb PP. 

Aku belum tau dimana titik kedua berada, tapi kakakku tau. Dan sekarang kami sedang menuju kesana…

Di dalam mobil sewaan ini ada sekitar 7 orang, termasuk supir yang punya mobil ini yang sudah kami anggap sebagai abang sendiri. “Kak”, begitu kami memanggilnya, merunut kepada tata karma di Palembang. Aku lupa namanya, tapi dia orang asli Palembang yang bertempat tinggal di daerah OKI (Ogan Komering Ilir). Dia suka ngomong pakai bahasa Palembang dan ngomongnya cepat banget. Alhasil, aku gak pernah mengerti satu katapun yang dai ucapkan, kecuali “apo dio?” dan “Idak ado”. Ada 3 mahasiswa Unsri yang kosannya merupakan tempatku menginap, seorang sepupu kemudian aku dan kakakku. Saat itu kami baru saja beranjak dari Jembatan Ampera.

Entah kemana arah yang dituju, aku tidak tau. Walaupun Kota Palembang sebenarnya tidak terlalu besar, tapi sistem transportasi dan arah jalan di tempat ini masih sedikit membingungkanku. Bahkan duduk dikursi depan disamping supir tidak membuatku mengerti kearah mana mobil ini sedang berjalan. Tapi pada akhirnya mobil kami menuju sebuah tempat yang rada sepi dipinggir kota.

Ternyata kami berhenti didekat pabrik Pusri disamping sungai Musi. Di bibir sungai tertambat dengan manis beberapa getek yang siap disewakan. Pemiliknya yang sebelumnya duduk bergerombol sambil bercengkerama di salah satu getek disana langsung mendatangi kami dengan senyum yang mengambang. Uang masuk, begitu pikirnya. Sambil menanti dia sampai, aku memperhatikan keadaan sekelilingku. Kulepaskan pandanganku kearah Sungai Musi, ternyata Pulau Kemaro yang kami tuju sudah terlihat… dan dekat banget. Kurang lebih 50 meter jauhnya.

Satu hal yang muncul dipikiranku: kalau dekat begini pasti biaya sewa getek gak bakal lebih dari 50rb.  Yes, murah!!

Pemilik getek itu menghampiri kami dengan senyumnya yang sekarang nampak seperti dipaksakan. Walaupun sebenarnya sudah tau tujuan kami, dia dengan ramahnya bertanya “Mau kemana?” dalam Bahasa Indonesia. Kakakku langsung menjelaskan keinginan kami untuk menyeberang ke Pulau Kemaro dan ingin menyewa getek si bapak itu dalam Bahasa Palembang. Katanya kalau melakukan transaksi (terutama yang berhubungan dengan ongkos transportasi) di Palembang usahakan memakai bahasa setempat, karena kalau tidak, kita akan dibohongi. Sudah banyak kasusnya. Ciyus *cross fingers*

Setelah semua keinginan tersampaikan dengan baik dan tanpa gontok-gontokan, mulailah tawar menawar harga. Mereka masih menggunakan bahasa setempat, sedangkan aku yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa mengeluarkan hape dan mulai poto-poto. Matahari sudah naik semakin tinggi diperaduannya dan proses nego harga belum juga selesai. Pasalnya, si empunya getek ini mematok harga 100rb PP dari lokasi kami ke Pulau Kemaro yang jaraknya dekat banget. Kalau kata Kevin Anggara, rolling 20 kali juga nyampe. Kakakku melakukan perlawanan sengit dengan mengatakan ongkos dari Ampera ke Pulau Kemaro juga 100rb PP, seharusnya bisa lebih murah kalau kami berangkat dari lokasi sekarang. Tapi si empunya getek tidak mau kalah, dia mengeluarkan jurus andalannya dengan mengatakan “Kalau tidak mau ya terserah”. Dia tau kalau kami tidak akan pernah bisa sampai ke Pulau Kemaro kalau tidak menggunakan getek-nya. Dan kembali ke Jembatan Ampera adalah hal yang sia-sia.

Saat itu, aku berharap berteman dengan Doraemon dan menggunakan pintu kemana saja. Atau kalau Doraemon itu hanya khayalan, aku berharap menjadi seperti Biksu Shaolin, yang bisa berjalan diatas air. Tapi boro-boro jalan diatas air, berenang aja aku gak bisa :)

Akhirnya kami mengalah. Kami siap membayar 100rb untuk menyebrang ke Pulau Kemaro dan kembali ketempat sekarang dengan catatan dia mau membawa kami keliling Pulau Kemaro dengan geteknya. Dia meng-iya-kan saja, kemudian menyiapkan geteknya untuk kami naiki.

Geteketeketeketeketeketeketek…. 

Kami mulai menyeberang Sungai Musi menuju Pulau Kemaro.

Baru naik, duduk dan mencari spot yang enak didalam getek, kami sudah harus turun dari getek karena sudah sampai. Benar kan, jaraknya dekat banget *menggerutu*

Setelah keluar dari getek kecil yang mahal itu, kami segera berjalan kearah gerbang masuk Pulau Kemaro. Berfoto sejenak, kita masuk ke wilayah kekusasaan Kemaro dan langsung disambut dengan pedagang Es Kelapa beserta gubuk tempat dia jualan yang sudah reyot. Kebetulan hari itu sepi, bahkan sangat sepi. Hanya ada kami ber-7, beberapa pedagang, dan 2 kelompok pengunjung yang jumlahnya tidak sampai menghabiskan jumlah jadi di kedua tanganku. Artinya, kenyamanan pasti terjamin, ga bakal ada rebut-ribut dan desak-desakan.

Then, what’s to expect in this place?

To be honest, I expected nothing!! And there was really nothing there.

Okelah, ada bangunan utama berbentuk persegi empat yang mirip klenteng milik keturunan Tionghoa yang didominasi dengan warna merah dan kuning cerah. Bangunan ini dihiasi dengan banyak patung-patung besar dan kecil. Di bagian depan bangunan ini, yang berfungsi seperti teras, digantung banyak lampion bulat berwarna merah, sekedar pengingat bahwa kita lagi berada di lingkungan dan wilayah suku Tionghoa. Sepertinya bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat berdoa bagi suku Tionghoa. Pasalnya, dibagian dalam bangunan tersebut terdapat benda seperti dupa yang diatur sedemikian rupa (kesimpulan ini aku ambil berkat pengalaman ku menonton pilem India waktu kecil dulu). And trust me, mereka terlihat hampir sama.

Bergerak sedikit kearah kiri, kita akan bertemu dengan sebuah batu besar yang dicorat-coret oleh pengelola tempat ini. Entah kenapa, disetiap tempat wisata yang ada di Indonesia, batu merupakan media yang paling sering dipakai untuk menunjukkan sebuah kejadian. Ada batu gantung di Danau Toba, ada batu Apit Dosa di Bukit Tangkiling, ada batu malin di Padang, dan ada batu batu lainnya di daerah lainnnya. Dan batu besar yang ada di tempat ini juga tidak lepas dari sebuah kejadian – legenda tentang kisah cinta yang kuceritakan diawal tadi. Well, sebenarnya sih batu tersebut tidak terlibat dalam kegiatan cinta mereka, hanya saja batu tersebut ditulisi kisah tentang mereka. Batu tersebut diubah menjadi notebook – atau biar lebih keren disebut stonebook, karena berfungsi sebagai wadah tulisan yang menceritakan sejarah terjadinya sebuah tempat atau sejarah yang terjadi disebuah tempat.

Dan dari batu bersejarah tersebut, akhirnya aku mengetahui bahwa cinta mereka terlarang, man! 

Sebenarnya suguhan utama dari tempat ini adalah sebuah bangunan ikonik tinggi yang sampai terlihat dari luar pulau. Sebuah pagoda megah berwarna merah-kuning menyala yang berdiri tegak ditengah pulau. Pagoda itu terletak tidak jauh dari lokasi tempat batu bersejarah tadi diletakkan. Hanya melangkah (gak pake roll) 20 kali, kita akan sampai di samping pura itu.

Entah kenapa, pagoda itu terlihat Chinese banget #yaiyalah. Selain bentuk dan warnanya yang melambangkan kejayaan keturunan Tionghoa, oranmen-ornamen yang disusun dan dibangun disekitar pagoda  itu juga menegaskan bahwa wilayah itu memang dikhususkan untuk keturunan mereka. Disamping sebelah kanan dan kiri tangga masuk pagoda tersebut bertengger sepasang naga hijau yang gagah, sementara di sebelah kiri pagoda tersebut, walaupun sedikit terpisah, terdapat sebuah patung-yang-aku-gak-tau-apa-namanya berwarna emas menyala. Kalau menurut penerawangan batinku, patung itu melambangkan kesuksesan dan kekayaan. Bukannya sok tau atau gimana, hanya saja selain berwarna emas yang menujukkan kekayaan, patung itu juga memakai kalung gede banget yang berwarna emas juga. Dia juga memegang lampu ajaib dan semacam gelang yang dipegang di tangan kirinya yang berwarna emas. Kaya banget kan dia?! Tapi walaupun kaya, sepertinya hidupnya gak bahagia. Dia terkurung didalam sebuah pagar kayu berwarna warni dan tidak bisa hidup bebas. Dibandingkan dengan punya uang banyak tapi gak bisa hidup bebas, aku lebih memilih menjadi orang kaya yang hidupnya bebas *menurut nganaaa??*


Ada juga gambar berbentuk 2 dimensi yang diukir didepan pagoda utama tadi. Letaknya cukup jauh sih dari patung naga tadi, tapi emang lokasinya ada di depannya. Berjalan sekitar 15 langkah kearah sungai Musi, maka kau akan melihat beberapa wajah yang sangat familiar dari keluarga Sun Go Kong terukir dengan manis disebuah tembok setinggi pinggang orang dewasa. Aku lupa nama lengkap mereka, tapi aku tau nama panggilan mereka. Ada biksu, siluman babi, si monyet Go Kong, siluman kerbau, dll. Warnanya juga lucu-lucu. Sayangnya, tempatnya agak tidak terurus, becek dan kotor.

Satu kekurangan tempat ini, pengunjung tidak boleh masuk ke dalam pagoda tadi. Bukan hanya pengunjung sih, presiden juga gak boleh masuk. Apalagi Eyang Subur, buat apa dia masuk kesitu? Pagoda itu dimasuki hanya untuk keperluan maintenance doang. Padahal kan enak kalau kita boleh masuk, bisa poto-poto gitu deh ^^

Saat itu masih jam 10, tapi matahari sudah bersinar terik dan kami merasa seperti terpanggang. Peluh menetes deras dari kening, dan turun ke pipi, lalu berhenti di dagu untuk kemudian diberangkatkan ke tanah. Kaos bagian belakang juga udah mulai basah oleh keringat. Tapi kami tetap menahan nafsu kami, tidak tergoda oleh tatapan memanggil pedagang es kelapa yang ada disana. Untuk mendinginkan diri, kami berteduh di bawah pohon beringin super besar yang dipagari pakai bambu warna-warni, persis seperti nasib patung emas tadi.

Di bawah pohon rindang yang sejuk itu, kami duduk ngobrol disalah satu tempat duduk yang disediakan. Tak sampai 10 menit, kami langsung bosan. Gak tau mau ngapain lagi. Selain memang karena hawanya panas, Pulau Kemaro juga sudah kehabisan atraksi untuk disuguhkan kepada kami.

Satu-satunya pilihan, pulang!!

Kami melihat bapak si empunya getek mahal itu duduk keceh di dalam geteknya sambil sesekali menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Tepat ketika dia meruncingkan bibirnya untuk mengeluarkan asap, aku memanggilnya dan memintanya mengantarkan kami keliling Pulau Kemaro. Gak tau dia salah ngisep rokok atau memang dia mengalami Short Term Memory Loss, dia gak setuju mengantarkan kami keliling pulau itu. Padahal kan kesepakatan diawal sudah jelas, KELILING PULAU KEMARO. Tapi doi berdalih, katanya tidak mungkin mengeliling pulau ini secara literal melalui jalur air. Itu sih menurut dia. Menurutku, dia hanya gak mau rugi. Sial!!


Akhirnya dia hanya mengantarkan kami sebentar melihat Pabrik Pusri yang notabene dekat dengan tempat kami memarkir mobil.

For 100k, we should’ve got more!!

04 April 2013

I grew up here


I grew up here, in this forest. This tree is my house, where I planned to spend my little simple and perfect life in.

It was perfect that day; the sun was nice and the weather was mild. I was about to take a little walk in the vicinity when suddenly you came and looked at me with that glint in your eyes. I didn't know what to do. Attacking you was useless, you wouldn't be harmed with my tiny harmless teeth. I was powerless. So I just stood still, hoping you would ignore my presence and kept going with your climbing. The thing is, you just didn't want to ignore me. Once you saw me, you started to grab me and play with me for your own pleasure. I knew you looked cool by doing that, but I didn't like it. Please understand me!! I just wanna live normally without your disturbance. And one more thing, please keep this forest green. I grew up here!!

01 April 2013

Menabung itu...

... merupakan hal yang paling sering diucapkan seorang backpacker, tetapi paling jarang dilakukan.

Mitosnya, pengiritan harus ditegakkan supaya akhir bulan sisa duitnya bisa ditabung. Kenyataannya, sehari sebelum gajian, backpacker janjian untuk kopi darat. Selama kopdar, sekian nominal menghilang. Cring.. Yang paling sering terjadi dari sebuah kopi darat para backpacker adalah, rencana perjalanan beberapa bulan kedepan. Terlalu banyak racun yang ditawarkan pada setiap kopdar, sehingga sangat sulit untuk menolaknya. Bahkan rompi anti racun yang telah dipersiapkan sebelumnya tidak akan kuat menghadapi ajakan nge-trip ke tempat-tempat eksotis yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.

"Eh, sebulan lagi Hari Raya Waisak, kita ke Borobudur yuk liat perayaannya. Lu hunting tiket KA ya!!"

"Pengen ke pantai nih, ke Kepulauan Seribu yuk, kita mantai sambil snorkeling. Sekalian nunggu trip ke Yogya. Minggu depan deal ya!!"

"Ke gunung juga kayaknya asik. Ke Merbabu yuk, katanya disana sunrise-nya keren banget. Mumpung musim panas nih, kalau musim hujan pasti ketutupan kabut. Cariin tiketnya juga ya!!"

Itu masih rencana kelompok, belum lagi rencana pribadi. Beli trangia, beli baju, senter, jaket, dll. masih perlu dipikirkan untuk keberlangsungan perjalanan berikutnya.

Cring cring cring..

Sekian nominal mengalir deras dari tabungan tanpa bisa dibendung.

Hasilnya?

Seminggu setelah gajian, nominal di rekening tabungan menurun drastis. Padahal itu belum termasuk uang kos, uang makan, bensin/ongkos. Apalagi kirim uang ke bonyok. Keuangan langsung mencapai titik dasar and we are desperately hoping for more money!! Mulai rajin lihat kalender, menghitung berapa hari lagi sampai tanggal gajian tiba. Kalau kalender menunjukkan tanggal gajian masih lama, mulai lihat kontak di hape dan cari pinjaman untuk menyambung hidup. Tipikal anak kos yang jomblo banget ya.

Padahal seharusnya menabung itu dilakukan sesaat setelah gaji masuk rekening untuk tujuan keselamatan dan keberlangsungan hidup. Sehingga walaupun kita berahi pengen jalan-jalan, jumlah nol di rekening masih bisa terjaga. Jangan tiba-tiba pertengahan bulan gigit jari sambil siyok melihat jumlah tabungan. Jangan sampai lah.

Kalau sudah begini pasti langsung ingat pesan orang tua dulu. Menabung itu penting. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.

Yuk ah, menabung!!

*photo credit: http://einvesting.wordpress.com

Postcard from Lyon, France


Beberapa waktu yang lalu aku mendapat sebuah postcard dari teman seperjalananku. Postcard tersebut dia beli di Lyon, France, tapi karena suatu hal, dia mengirimkannya dari Amsterdam. Well, no big deal, kataku dalam hati. yang penting adalah, dia punya niat untuk mengirimiku sebuah postcard.

Jujur kukatakan, ini adalah postcard perjalanan pertama bagiku. Bahkan kalau boleh lebih jujur lagi, ini adalah satu-satunya postcard yang aku miliki. Sebelumnya aku tidak begitu memikirkan tentang hal postcard ini, tapi setelah mendapatkannya, aku pikir, enak juga ya bisa tukar postcard sesama traveler. Walaupun sekarang fungsi postcard sudah tergantikan dengan Instagram, namun aku tetap bangga memiliki sebuah postcard, apalagi berasal dari negara impianku.

Awalnya dia bertanya dari Lyon, "Mau dikirimin postcard gak?"

Aku yang sebelumnya belum pernah mendapat kiriman postcard langsung berahi dan menjawab, "Mauuuu!! Yang ada menara Eiffel ya. Trus yang dari Amsterdam juga. Yang banyak lah!!" Balasku meracau setengah berbusa.

Iya, dari situ aku sadar, aku terlalu maruk dan terlalu kampungan untuk bisa menahan diri. Aku belum sadar bahwa mengirim sebuah postcard aja butuh biaya sekian, apalagi harus mengirim banyak dan harus beli dari tempat-tempat tertentu. Akhirnya aku sepakat untuk dikirimin sebuah postcard dari Lyon.

Setelah proses kirim mengirim selesai, aku senang. Terlalu senang untuk bisa tenang.

Seminggu berlalu aku sudah kalap karena postcard-nya belum juga datang. Sempat kepikiran alamatnya salah atau postcard-nya diambil oleh kurir untuk kepentingan pribadi. Padahal dari hari pertama postcard dikirim, aku udah titip pesan sama HRD kantor, "Kalau ada postcard yang berasal dari Prancis untuk Arga, langsung kasih ke aku ya!!" Sampai HRD kami lupa akan pesan itu, postcardnya belum juga datang.

Kehilangan kesabaran, akhirnya aku tanya temanku yang ternyata sudah pulang ke Indonesia (mendahului postcard yang dikirim minggu sebelumnya).

"Eh, postcard yang lu kirim kok belum nyampe juga sih? Keburu basi nih!!" Ucapku protes.


"Butuh waktu sebulan cuy." Jawabnya. "Kalau mau protes, silahkan protes sama post office, jangan sama gue. Kalau mau cepat dikirim pakai telepon, FB, Email, Western Union, ama Wesel. Mau?" Tambahnya sambil mengomel.

Mendengar omelannya, aku langsung terdiam dan merutuki tingkah lakuku yang norak.

Akhirnya, setelah menanti selama hampir sebulan, postcard impian tersebut datang. Dengan bangga aku memamerkan postcard itu kepada teman-teman kantor, yang ternyata sudah biasa mendapat postcard. Aksi pamer yang gagal dan norak.


Awalnya aku kaget, postcard itu hanya selembar gini ya? Yang ada dipikiranku saat itu adalah postcard yang berbentuk seperti Christmas Card, yang sedikit lebih besar dan berbentuk seperti buku. Tapi ya sudahlah. Aku cukup berterimakasih dengan kiriman postcard ini.

Sekarang postcard itu aku pajang di meja kerjaku, dan setiap kali aku bosan atau jenuh dikantor, aku sempatkan untuk berlibur dengan cara melihat keindahan Lyon seperti yang digambarkan pada postcard itu, dengan harapan suatu hari aku pasti akan mengunjungi Prancis. Pasti. Itu doaku yang masih belum tercapai sampai saat ini. tapi aku yakin akan bisa mencapainya.

Trims untuk @tiar24lan atas kiriman postcard-nya..



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...