11 April 2013

100rb ke Pulau Kemaro, NO BARGAIN!!




Kali kedua kedatanganku ke Palembang aku sempatkan untuk singgah sebentar ke Pulau Kemaro. Sebenarnya sejak kunjungan pertamaku, kakakku (yang merupakan donatur perjalanan kalau aku pergi ke Palembang) sudah menawarkan untuk mengunjungi Pulau Kemaro. Tapi aku yang lebih suka perjalanan petualangan ini menolak dengan halus sambil beralasan bahwa di pulau itu tidak ada hal menarik yang bisa dilakukan. Tidak ada SRT, tidak ada trekking dan tidak ada Kora Kora *menurut nganaaa?!* Bagiku, awalnya, Pulau Kemaro hanyalah seonggok tanah yang menyembul ditengah (agak kepinggir sih) Sungai Musi. Dan sekarang, bagiku, Pulau Kemaro tetap hanya sebentuk pulau kecil tanpa suguhan atraksi apapun. 

Kecuali untuk beberapa hal…

Oh iya, bagi yang belum tau, Pulau Kemaro adalah pulau kecil yang (katanya) berada ditengah-tengah Sungai Musi. Pulau ini bisa dicapai dengan menggunakan jasa penyewaan getek (sampan mesin kecil dengan muatan 6-8 orang), berenang, teleportasi atau kalau kalian memiliki kemampuan seperti Biksu Shaolin, kalian bisa berjalan (sambil sesekali berlari) diatas air untuk mencapai tempat ini. Tapi bagaimana pun juga, sangat disarankan untuk menggunakan jasa sewa getek, karena selain lebih wajar dan bebas dari kontroversi, media penyebrangan dengan menggunakan getek dapat membantu penduduk lokal (yang memiliki getek dan kebetulan menyewakannya) mendapatkan penghasilan. Istilah lainnya, sewa getek merupakan sumber pencaharian mereka sehari-hari.

Pulau Kemaro merupakan tempat dimana suku Tionghoa yang ada di sekitar Palembang mengadakan dan merayakan Imlek. Katanya sih, disana ada pura yang menjadi tempat sembahyang. Jadi kalau Imlek tiba, tempat ini akan sangat padat dan rame oleh orang-orang bermata sipit dan berbaju merah. Ada juga legenda yang melingkupi tempat itu, tentang kisah cinta antara 2 sejoli. Mereka cowok dan cewek #yaiyalah!! Yang satu pribumi dan yang satu lagi keturunan Tionghoa. Gue gak tau yang pribumi itu cowoknya atau ceweknya. Dan gue juga gak tau yang keturunan Tionghoa itu ceweknya atau cowoknya #dibahas. Tapi yang pasti, tempat itu panas sekalee, seperti nama tempatnya “Kemaro”, yang berarti KEMARAU!! Entah bagaimana kisah cinta mereka sehingga muncul Pulau Kemaro. Dan entah apa yang telah mereka perbuat dulu sehingga sangat jarang turun hujan di Pulau Kemaro (pada saat musim kemarau).

Oleh karena itu, mari kita cari tau.. *tarakdungces* *salah backsound* 

Ada 2 titik utama tempat mangkal getek yang akan membawa kita ke Pulau Kemaro. Titik yang pertama dan paling terkenal terletak di bawah Jembatan Ampera disamping Pasar 16. Diantara barisan kapal besar dan kecil yang ada disana, terdapat beberapa getek yang siap membawa kita menyusuri Sungai Musi dan mengantarkan kita sampai ke Pulau Kemaro. Dari Jembatan Ampera menuju Pulau Kemaro dapat ditempuh dalam waktu 1 jam, padahal jaraknya tidak begitu jauh. Hal ini kemudian menjadi wajar karena getek itu bergerak sangat lambat. Jika dikonversikan dengan kecepatan sepeda motor, kapal kecil itu bergerak dengan kecepatan 10 kmph. Dan harga yang harus dibayar untuk menaiki getek itu adalah sebesar 100rb - 150rb PP. 

Aku belum tau dimana titik kedua berada, tapi kakakku tau. Dan sekarang kami sedang menuju kesana…

Di dalam mobil sewaan ini ada sekitar 7 orang, termasuk supir yang punya mobil ini yang sudah kami anggap sebagai abang sendiri. “Kak”, begitu kami memanggilnya, merunut kepada tata karma di Palembang. Aku lupa namanya, tapi dia orang asli Palembang yang bertempat tinggal di daerah OKI (Ogan Komering Ilir). Dia suka ngomong pakai bahasa Palembang dan ngomongnya cepat banget. Alhasil, aku gak pernah mengerti satu katapun yang dai ucapkan, kecuali “apo dio?” dan “Idak ado”. Ada 3 mahasiswa Unsri yang kosannya merupakan tempatku menginap, seorang sepupu kemudian aku dan kakakku. Saat itu kami baru saja beranjak dari Jembatan Ampera.

Entah kemana arah yang dituju, aku tidak tau. Walaupun Kota Palembang sebenarnya tidak terlalu besar, tapi sistem transportasi dan arah jalan di tempat ini masih sedikit membingungkanku. Bahkan duduk dikursi depan disamping supir tidak membuatku mengerti kearah mana mobil ini sedang berjalan. Tapi pada akhirnya mobil kami menuju sebuah tempat yang rada sepi dipinggir kota.

Ternyata kami berhenti didekat pabrik Pusri disamping sungai Musi. Di bibir sungai tertambat dengan manis beberapa getek yang siap disewakan. Pemiliknya yang sebelumnya duduk bergerombol sambil bercengkerama di salah satu getek disana langsung mendatangi kami dengan senyum yang mengambang. Uang masuk, begitu pikirnya. Sambil menanti dia sampai, aku memperhatikan keadaan sekelilingku. Kulepaskan pandanganku kearah Sungai Musi, ternyata Pulau Kemaro yang kami tuju sudah terlihat… dan dekat banget. Kurang lebih 50 meter jauhnya.

Satu hal yang muncul dipikiranku: kalau dekat begini pasti biaya sewa getek gak bakal lebih dari 50rb.  Yes, murah!!

Pemilik getek itu menghampiri kami dengan senyumnya yang sekarang nampak seperti dipaksakan. Walaupun sebenarnya sudah tau tujuan kami, dia dengan ramahnya bertanya “Mau kemana?” dalam Bahasa Indonesia. Kakakku langsung menjelaskan keinginan kami untuk menyeberang ke Pulau Kemaro dan ingin menyewa getek si bapak itu dalam Bahasa Palembang. Katanya kalau melakukan transaksi (terutama yang berhubungan dengan ongkos transportasi) di Palembang usahakan memakai bahasa setempat, karena kalau tidak, kita akan dibohongi. Sudah banyak kasusnya. Ciyus *cross fingers*

Setelah semua keinginan tersampaikan dengan baik dan tanpa gontok-gontokan, mulailah tawar menawar harga. Mereka masih menggunakan bahasa setempat, sedangkan aku yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa mengeluarkan hape dan mulai poto-poto. Matahari sudah naik semakin tinggi diperaduannya dan proses nego harga belum juga selesai. Pasalnya, si empunya getek ini mematok harga 100rb PP dari lokasi kami ke Pulau Kemaro yang jaraknya dekat banget. Kalau kata Kevin Anggara, rolling 20 kali juga nyampe. Kakakku melakukan perlawanan sengit dengan mengatakan ongkos dari Ampera ke Pulau Kemaro juga 100rb PP, seharusnya bisa lebih murah kalau kami berangkat dari lokasi sekarang. Tapi si empunya getek tidak mau kalah, dia mengeluarkan jurus andalannya dengan mengatakan “Kalau tidak mau ya terserah”. Dia tau kalau kami tidak akan pernah bisa sampai ke Pulau Kemaro kalau tidak menggunakan getek-nya. Dan kembali ke Jembatan Ampera adalah hal yang sia-sia.

Saat itu, aku berharap berteman dengan Doraemon dan menggunakan pintu kemana saja. Atau kalau Doraemon itu hanya khayalan, aku berharap menjadi seperti Biksu Shaolin, yang bisa berjalan diatas air. Tapi boro-boro jalan diatas air, berenang aja aku gak bisa :)

Akhirnya kami mengalah. Kami siap membayar 100rb untuk menyebrang ke Pulau Kemaro dan kembali ketempat sekarang dengan catatan dia mau membawa kami keliling Pulau Kemaro dengan geteknya. Dia meng-iya-kan saja, kemudian menyiapkan geteknya untuk kami naiki.

Geteketeketeketeketeketeketek…. 

Kami mulai menyeberang Sungai Musi menuju Pulau Kemaro.

Baru naik, duduk dan mencari spot yang enak didalam getek, kami sudah harus turun dari getek karena sudah sampai. Benar kan, jaraknya dekat banget *menggerutu*

Setelah keluar dari getek kecil yang mahal itu, kami segera berjalan kearah gerbang masuk Pulau Kemaro. Berfoto sejenak, kita masuk ke wilayah kekusasaan Kemaro dan langsung disambut dengan pedagang Es Kelapa beserta gubuk tempat dia jualan yang sudah reyot. Kebetulan hari itu sepi, bahkan sangat sepi. Hanya ada kami ber-7, beberapa pedagang, dan 2 kelompok pengunjung yang jumlahnya tidak sampai menghabiskan jumlah jadi di kedua tanganku. Artinya, kenyamanan pasti terjamin, ga bakal ada rebut-ribut dan desak-desakan.

Then, what’s to expect in this place?

To be honest, I expected nothing!! And there was really nothing there.

Okelah, ada bangunan utama berbentuk persegi empat yang mirip klenteng milik keturunan Tionghoa yang didominasi dengan warna merah dan kuning cerah. Bangunan ini dihiasi dengan banyak patung-patung besar dan kecil. Di bagian depan bangunan ini, yang berfungsi seperti teras, digantung banyak lampion bulat berwarna merah, sekedar pengingat bahwa kita lagi berada di lingkungan dan wilayah suku Tionghoa. Sepertinya bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat berdoa bagi suku Tionghoa. Pasalnya, dibagian dalam bangunan tersebut terdapat benda seperti dupa yang diatur sedemikian rupa (kesimpulan ini aku ambil berkat pengalaman ku menonton pilem India waktu kecil dulu). And trust me, mereka terlihat hampir sama.

Bergerak sedikit kearah kiri, kita akan bertemu dengan sebuah batu besar yang dicorat-coret oleh pengelola tempat ini. Entah kenapa, disetiap tempat wisata yang ada di Indonesia, batu merupakan media yang paling sering dipakai untuk menunjukkan sebuah kejadian. Ada batu gantung di Danau Toba, ada batu Apit Dosa di Bukit Tangkiling, ada batu malin di Padang, dan ada batu batu lainnya di daerah lainnnya. Dan batu besar yang ada di tempat ini juga tidak lepas dari sebuah kejadian – legenda tentang kisah cinta yang kuceritakan diawal tadi. Well, sebenarnya sih batu tersebut tidak terlibat dalam kegiatan cinta mereka, hanya saja batu tersebut ditulisi kisah tentang mereka. Batu tersebut diubah menjadi notebook – atau biar lebih keren disebut stonebook, karena berfungsi sebagai wadah tulisan yang menceritakan sejarah terjadinya sebuah tempat atau sejarah yang terjadi disebuah tempat.

Dan dari batu bersejarah tersebut, akhirnya aku mengetahui bahwa cinta mereka terlarang, man! 

Sebenarnya suguhan utama dari tempat ini adalah sebuah bangunan ikonik tinggi yang sampai terlihat dari luar pulau. Sebuah pagoda megah berwarna merah-kuning menyala yang berdiri tegak ditengah pulau. Pagoda itu terletak tidak jauh dari lokasi tempat batu bersejarah tadi diletakkan. Hanya melangkah (gak pake roll) 20 kali, kita akan sampai di samping pura itu.

Entah kenapa, pagoda itu terlihat Chinese banget #yaiyalah. Selain bentuk dan warnanya yang melambangkan kejayaan keturunan Tionghoa, oranmen-ornamen yang disusun dan dibangun disekitar pagoda  itu juga menegaskan bahwa wilayah itu memang dikhususkan untuk keturunan mereka. Disamping sebelah kanan dan kiri tangga masuk pagoda tersebut bertengger sepasang naga hijau yang gagah, sementara di sebelah kiri pagoda tersebut, walaupun sedikit terpisah, terdapat sebuah patung-yang-aku-gak-tau-apa-namanya berwarna emas menyala. Kalau menurut penerawangan batinku, patung itu melambangkan kesuksesan dan kekayaan. Bukannya sok tau atau gimana, hanya saja selain berwarna emas yang menujukkan kekayaan, patung itu juga memakai kalung gede banget yang berwarna emas juga. Dia juga memegang lampu ajaib dan semacam gelang yang dipegang di tangan kirinya yang berwarna emas. Kaya banget kan dia?! Tapi walaupun kaya, sepertinya hidupnya gak bahagia. Dia terkurung didalam sebuah pagar kayu berwarna warni dan tidak bisa hidup bebas. Dibandingkan dengan punya uang banyak tapi gak bisa hidup bebas, aku lebih memilih menjadi orang kaya yang hidupnya bebas *menurut nganaaa??*


Ada juga gambar berbentuk 2 dimensi yang diukir didepan pagoda utama tadi. Letaknya cukup jauh sih dari patung naga tadi, tapi emang lokasinya ada di depannya. Berjalan sekitar 15 langkah kearah sungai Musi, maka kau akan melihat beberapa wajah yang sangat familiar dari keluarga Sun Go Kong terukir dengan manis disebuah tembok setinggi pinggang orang dewasa. Aku lupa nama lengkap mereka, tapi aku tau nama panggilan mereka. Ada biksu, siluman babi, si monyet Go Kong, siluman kerbau, dll. Warnanya juga lucu-lucu. Sayangnya, tempatnya agak tidak terurus, becek dan kotor.

Satu kekurangan tempat ini, pengunjung tidak boleh masuk ke dalam pagoda tadi. Bukan hanya pengunjung sih, presiden juga gak boleh masuk. Apalagi Eyang Subur, buat apa dia masuk kesitu? Pagoda itu dimasuki hanya untuk keperluan maintenance doang. Padahal kan enak kalau kita boleh masuk, bisa poto-poto gitu deh ^^

Saat itu masih jam 10, tapi matahari sudah bersinar terik dan kami merasa seperti terpanggang. Peluh menetes deras dari kening, dan turun ke pipi, lalu berhenti di dagu untuk kemudian diberangkatkan ke tanah. Kaos bagian belakang juga udah mulai basah oleh keringat. Tapi kami tetap menahan nafsu kami, tidak tergoda oleh tatapan memanggil pedagang es kelapa yang ada disana. Untuk mendinginkan diri, kami berteduh di bawah pohon beringin super besar yang dipagari pakai bambu warna-warni, persis seperti nasib patung emas tadi.

Di bawah pohon rindang yang sejuk itu, kami duduk ngobrol disalah satu tempat duduk yang disediakan. Tak sampai 10 menit, kami langsung bosan. Gak tau mau ngapain lagi. Selain memang karena hawanya panas, Pulau Kemaro juga sudah kehabisan atraksi untuk disuguhkan kepada kami.

Satu-satunya pilihan, pulang!!

Kami melihat bapak si empunya getek mahal itu duduk keceh di dalam geteknya sambil sesekali menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Tepat ketika dia meruncingkan bibirnya untuk mengeluarkan asap, aku memanggilnya dan memintanya mengantarkan kami keliling Pulau Kemaro. Gak tau dia salah ngisep rokok atau memang dia mengalami Short Term Memory Loss, dia gak setuju mengantarkan kami keliling pulau itu. Padahal kan kesepakatan diawal sudah jelas, KELILING PULAU KEMARO. Tapi doi berdalih, katanya tidak mungkin mengeliling pulau ini secara literal melalui jalur air. Itu sih menurut dia. Menurutku, dia hanya gak mau rugi. Sial!!


Akhirnya dia hanya mengantarkan kami sebentar melihat Pabrik Pusri yang notabene dekat dengan tempat kami memarkir mobil.

For 100k, we should’ve got more!!

10 comments:

  1. Replies
    1. Haha.. Cerita anda juga menginspirasi saya. Keep writing yaa :)

      Delete
  2. Hehehe. Saya warga Palembang yang belum pernah kesana tapi ingin kesana. Membaca tulisan ini, wow, what a suprise. Menuliskan apa yang dirasakan itu keren. Sebenarnya pulau Kemarau memang bukan pulau untuk atraksi, kecuali saat Cap Gomeh. Yang benar adalah ia tempat ibadah. Dijadikan tempat wisata juga agak maksa kalau kondisinya seperti itu. Begitulah. Palembang minim tempat wisata alam. Salam.

    ReplyDelete
  3. Waduh, niatnya pas ke Palembang nanti pengen kesana tapi ngelihat tempatnya yang sepi dan cuma itu - itu aja jadi mengurungkan niat deh,,

    salam

    ReplyDelete
  4. bang, itu sewa getek 100 rb biaya per orang apa bertujuh?

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Menurutku yg tulus artikel ini terlalu sombong gaya bicaranya.....
    dr awal baca ampe akhir isinya cuma ngeluh aja...

    ReplyDelete
  7. Menurutku yg tulis artikel ini terlalu sombong gaya bicaranya.....
    dr awal baca ampe akhir isinya cuma ngeluh aja...

    ReplyDelete
  8. Sekarang sewa getek tuh 200-250rb bro...

    ReplyDelete
  9. Sekarang sewa getek tuh 200-250rb bro...

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...