01 April 2013

Postcard from Lyon, France


Beberapa waktu yang lalu aku mendapat sebuah postcard dari teman seperjalananku. Postcard tersebut dia beli di Lyon, France, tapi karena suatu hal, dia mengirimkannya dari Amsterdam. Well, no big deal, kataku dalam hati. yang penting adalah, dia punya niat untuk mengirimiku sebuah postcard.

Jujur kukatakan, ini adalah postcard perjalanan pertama bagiku. Bahkan kalau boleh lebih jujur lagi, ini adalah satu-satunya postcard yang aku miliki. Sebelumnya aku tidak begitu memikirkan tentang hal postcard ini, tapi setelah mendapatkannya, aku pikir, enak juga ya bisa tukar postcard sesama traveler. Walaupun sekarang fungsi postcard sudah tergantikan dengan Instagram, namun aku tetap bangga memiliki sebuah postcard, apalagi berasal dari negara impianku.

Awalnya dia bertanya dari Lyon, "Mau dikirimin postcard gak?"

Aku yang sebelumnya belum pernah mendapat kiriman postcard langsung berahi dan menjawab, "Mauuuu!! Yang ada menara Eiffel ya. Trus yang dari Amsterdam juga. Yang banyak lah!!" Balasku meracau setengah berbusa.

Iya, dari situ aku sadar, aku terlalu maruk dan terlalu kampungan untuk bisa menahan diri. Aku belum sadar bahwa mengirim sebuah postcard aja butuh biaya sekian, apalagi harus mengirim banyak dan harus beli dari tempat-tempat tertentu. Akhirnya aku sepakat untuk dikirimin sebuah postcard dari Lyon.

Setelah proses kirim mengirim selesai, aku senang. Terlalu senang untuk bisa tenang.

Seminggu berlalu aku sudah kalap karena postcard-nya belum juga datang. Sempat kepikiran alamatnya salah atau postcard-nya diambil oleh kurir untuk kepentingan pribadi. Padahal dari hari pertama postcard dikirim, aku udah titip pesan sama HRD kantor, "Kalau ada postcard yang berasal dari Prancis untuk Arga, langsung kasih ke aku ya!!" Sampai HRD kami lupa akan pesan itu, postcardnya belum juga datang.

Kehilangan kesabaran, akhirnya aku tanya temanku yang ternyata sudah pulang ke Indonesia (mendahului postcard yang dikirim minggu sebelumnya).

"Eh, postcard yang lu kirim kok belum nyampe juga sih? Keburu basi nih!!" Ucapku protes.


"Butuh waktu sebulan cuy." Jawabnya. "Kalau mau protes, silahkan protes sama post office, jangan sama gue. Kalau mau cepat dikirim pakai telepon, FB, Email, Western Union, ama Wesel. Mau?" Tambahnya sambil mengomel.

Mendengar omelannya, aku langsung terdiam dan merutuki tingkah lakuku yang norak.

Akhirnya, setelah menanti selama hampir sebulan, postcard impian tersebut datang. Dengan bangga aku memamerkan postcard itu kepada teman-teman kantor, yang ternyata sudah biasa mendapat postcard. Aksi pamer yang gagal dan norak.


Awalnya aku kaget, postcard itu hanya selembar gini ya? Yang ada dipikiranku saat itu adalah postcard yang berbentuk seperti Christmas Card, yang sedikit lebih besar dan berbentuk seperti buku. Tapi ya sudahlah. Aku cukup berterimakasih dengan kiriman postcard ini.

Sekarang postcard itu aku pajang di meja kerjaku, dan setiap kali aku bosan atau jenuh dikantor, aku sempatkan untuk berlibur dengan cara melihat keindahan Lyon seperti yang digambarkan pada postcard itu, dengan harapan suatu hari aku pasti akan mengunjungi Prancis. Pasti. Itu doaku yang masih belum tercapai sampai saat ini. tapi aku yakin akan bisa mencapainya.

Trims untuk @tiar24lan atas kiriman postcard-nya..



No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...