31 May 2013

[Spoiler] Rinjani

pos 1 - a moment to rest

Baru satu jam mendaki, tapi teriknya matahari memaksa kami untuk berteduh barang sejenak di Pos 1. Sambil berteduh, kami bertegur sapa dengan sesama pendaki. Berkenalan, bertukar cerita dan saling menyemangati satu yang lainnya.


Promo. Pramugari. AirAsia



Maskapai penerbangan di Indonesia memiliki ciri khas masing masing. Kalau G*ruda Indonesia mungkin bisa membanggakan diri dengan harga tiketnya yang sangat mahal, L*on Air juga bisa menyombongkan diri dengan potensi delay yang sangat tinggi (sampai-sampai jargon L*on Air adalah “kalau ada yang lebih telat, kami ganti selisih tiketnya. Nyahahaha). Diantara semua maskapai yang pernah aku naikin, aku paling suka dengan AirAsia. Pertama karena promonya. Kedua karena pramugarinya.

AirAsia itu adalah salah satu maskapai yang paling pengertian terhadap nasib kantong dan dompet pekerja ‘kerah putih’ seperti aku. Saat orang orang lagi ribut dan kacau dengan masalah kenaikan BBM, AirAsia malah ribut ngasih promo tiket ke berbagai tujuan. Saat Eyang Subur sering khilaf dan nikah lagi, AirAsia malah memanjakan aku dengan iming iming tiket murah. Saat Arya Wiguna sibuk gonta ganti pasangan, AirAsia kasih promo lagi!! AirAsia memang perhatian banget sama aku, jadi pengin malu *cubit cubit mesra AirAsia*

Terhitung udah beberapa kali AirAsia mengadakan promo gila-gilaan. Mulai dari free ticket, free seat (apa bedanya sama free ticket?), tiket 0 rupiah (ini juga, apa bedanya sama dua promo diawal tadi?), tiket 8000 rupiah, sampai terakhir promo buy 1 get 2 tickets. Hebatnya, promo AirAsia itu gak mandang waktu Dia gak punya jam kali ya. Baru 2 minggu yang lalu kasih promo, sekarang udah kasih promo yang lain lagi. Tiket yang dibeli kemaren belon kepake, sekarang harus udah beli tiket lagi. Uang dari manaaa???? *kais kais tanah* Akibatnya, aku harus sering sering puasa untuk nabung. Akibatnya, aku harus sering sering lihat kalender tahun depan (promo AirAsia biasanya untuk penerbangan tahun berikutnya) supaya kalau ada promo lagi, aku udah hapal dimana ada libur panjang atau potensi harpitnas. Sampai-sampai temanku manggil aku demit kalender. Mihihi

Namun, walaupun aku selalu standby membuka website AirAsia setiap hari dan sudah khatam jadwal liburan tahun depan, tetap saja aku gak pernah dapet tiket promo.  Selalu saja aku kehabisan promonya. Entah karena koneksi internetku yang memang dari keturunan siput dan keong, atau karena internet orang lain itu temenan ama cheetah dan kuda, jadi waktu aku buka website AirAsia, promonya udah habis karena koneksi internetku lambat. Atau kemungkinan lebih besar, aku udah dapet promonya, tapi malah stuck di “Waiting Room” websitenya. Dan gak bisa proceed lagi. Begitu terus. Sampai sekarang!! *nyungsep dibawah pohon tomat*

Akhirnya, karena udah putus asa, aku merasa lebih baik kalau Audrey Tapiheru balas mention aku dan ngajak makan malam bareng beduaan. Eh, salah, itu mah harusnya ditulis di buku wishlistku. Aku merasa kalau lebih baik aku titip booking tiket promo ama temenku yang terkenal gesit dalam hal hunting tiket promo dengan tujuan mana saja. Akhirnya pada waktu aku lagi ngupil, dia mengabarkan bahwa ada promo ke KL, Malaysia. Langsung saja aku lanjutkan ngupil sambil bilang sama dia: “BUNGKUS GAN!!” 

Jadilah aku dapat tiket promo AirAsia yang pertama kali dalam hidupku.

Tujuan: Kuala Lumpur, Malaysia
Harga: Rp. 270.000 PP

Iya, aku tau. Itu bukan harga termurah untuk penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur PP. Tapi untuk seorang traveler dengan budget yang sangat ketat, mendapatkan promo seperti itu merupakan sebuah pencapaian besar. AKU BERHASIL DAPAT TIKET PROMO!! 

Dari situlah kemudian aku naik AirAsia untuk pertama kalinya…

Hal pertama yang aku suka dari AirAsia adalah, maskapai ini punya terminal sendiri, Terminal 3. Yah, walaupun dia ditemani oleh M*andala Air *gagal sensor*, tapi setidaknya hal ini bisa mengurangi jumlah calon penumpang. Kan ribet aja kalau banyak orang yang ngeliat aku di bandara, lalu teriak teriak minta tanda tangan dan foto bareng *merasa tenar* *udah, timpuk aja*. Bukan apa apa, soalnya kalau banyak orang, berarti banyak antrian. Kalau banyak orang, berarti gak kebagian tempat duduk di waiting room. Kalau banyak orang, ah sudahlah..

Terminal 3 Soekarno-Hatta adalah terminal paling baru yang dibangun di  bandara Soetta, khusus untuk AirAsia dan M*andala Air. Karena hanya melayani 2 maskapai tersebut diatas, maka terminal ini tidak berukuran sebesar Changi airport *ya iyalah*. Kecil, simple, busy yet tidy. Pokoknya, dibandngkan sama terminal 2 (kecuali milik G*ruda Indonesia), terminal ini jauh lebih baik. Waiting roomnya juga cozy banget. Waktu itu, untuk penerbangan ke KL, kami menunggu di satu ruangan agak besar yang beralas karpet tebal seperti yang ada di ruang tamu, dan 2 gate untuk menuju pesawat. In short, it was cozy. Pelayanannya pun superb. Asli, ini pengalaman baru. Dan pengalaman seperti ini sangat jarang ditemui di Indonesia, apalagi untuk yang namanya MURAH.
waiting room terminal 3 soetta
Yang menjadi poin plus dari AirAsia sebenarnya adalah PRAMUGARINYA!!! Well, bagi beberapa orang pramugaranya. Maskapai mana coba yang masih pakai pramugara? Kayaknya tinggal AirAsia doang deh.
Ada apa dengan pramugari AirAsia?

Apakah mereka sebenarnya personil JKT48 yang undercover?

Atau mereka nari Gentlement saat lepas landas?

Bukan, bro. Pramugari AirAsia itu adalah sebentuk pemandangan yang menyegarkan mata.

Loh, bukannya semua pramugari itu menyegarkan mata?

Yang ini beda. Kalau pada umumnya pamugari memakai rok pandang dan kemeja lengan panjang (walaupun ada kemeja lengan pendek) tertutup yang terbuat dari bahan satin atau sutra, pramugari AirAsia itu melayani penumpang dengan menggunakan celana Jeans warna item dan kemeja lengan pendek warnanya gue lupa, kayaknya sih merah. Kalau gitu doang sebenarnya sih biasa aja, hanya saja, kancing atas kemeja pramugarinya dilepas, man. DILEPAS!! Sekali lagi ah, DILEPAS!!!!

picture taken from amekaw.com
Gilak, gahol banget kan?!

Siapa coba yang gak suka liat belahan da.. eh, lihat pramugari gaul begitu? *mata lope lope* Selain itu, pramugarinya cakep cakep lagi. Seksi dan berkarakter. Bening dan becahaya *iya, ini gue lebay* 

Begitu aku masuk ke dalam pesawat, balahan da.. eh, senyuman mereka langsung menyapaku, sambil bertanya “where is your seat?” Iya, kebetulan pesawat yang aku tumpangi itu milik Malaysia, jadi semua pramugarinya bukan orang Indonesia, melainkan orang Melayu dan India. Dan bahasa yang dipakai pun bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa melayu dan Inggris. “17A” jawabku sambil memandang belaha.. ehm, memandang kedalam pesawat yang sudah dipadati oleh penumpang yang sedang memasukkan barang mereka kedalam kabin. Dia lalu menunjuk ke bagian tengah pesawat, menandakan posisi tempat dudukku. “Thanks” kataku sambil berlalu. Padahal tanpa ditunjuk pun sebenarnya aku udah tau. Tapi, namanya juga penyedia jasa, harus bisa menangkap dan menyenangkan hati pengguna jasanya kan?! Dan, dalam hal ini mereka sukses. Well, menurutku pribadi sih *smirk*

Belum puas aku memandangi… pemandangan diluar jendela (kursi A itu di dekat jendela), salah satu pramugari itu datang ke barisan tempat dudukku dan membantu salah sorang penumpang memasukkan barang ke kabin. Dia mengangkat tangannya tinggi tinggi untuk menyusun kabin supaya barang seseorang tadi bisa masuk. Pada saat dai mengangkat tangannya, kemejanya yang kebetulan ngepas itu pun terangkat sedikit.Man, lu tau kan apa yang aku lihat?? Yang pokoknya aku ngelihatin aja lah, sampai puas. Untungnya, proses membenahi barang barang diatas kabin itu tidak sebentar, jadi aku bisa sedikit lebih lama melihat pemandangan itu. IT WAS AMAZING!!

Sialnya, penumpang yang duduk didepanku itu bule, jadi badannya agak gede. Waktu pramugari pramugari kece tadi sedang memperagakan tata cara menggunakan alat alat keselamatan seperti biasa, aku harus mendongak supaya bisa melihat setidaknya satu pramugari yang didepanku sedang beraksi. Kalau biasanya aku acuh gak acuh, kali ini aku harus melihat dari awal sampai akhir. Well, sayang aja kalau pemandangan seperti itu terlewatkan, soalnya setelah ini mereka pasti akan kembali ke tempat duduk mereka dan aku tidak bisa menikmati pemandangan itu lagi. Karena aksi mendongak tadi, aku harus merelakan leherku pegal pegal selama penerbangan.

Ah, pegal mah bisa dipikirin belakangan. Ya gak??

Ah, sudahlah..

13 May 2013

Passport Jalur Surga dan Neraka


Entah kenapa, kalau mendengar kata Imigrasi, aku pasti langsung membayangkan mimpi buruk. Bahkan perihal mengenai imigrasi ini lebih parah dari mimpiku yang paling buruk sekalipun. Padahal kalau mimpi buruk sekali aja aku bisa langsung kejang-kejang disertai dengan mulut berbuih dan tatapan mata nanar. Eh, salah. Itu mah waktu aku salah makan jamur yang dimasak tetangga. Kalau mimpi buruk aku pasti harus di-opname 3-hari-3-malam karena badan lemas dan kekurangan cairan tubuh. Itu mimpi buruk ngapain aja sih, kok sampe kekurangan cairan tubuh? Gak taunya, mimpiku yang paling buruk itu adalah mimpi ketika aku muntaber gitu, jadi efeknya kerasa sampai waktu bangun tidur.

Tapi ciyus, kalau dipikir-pikir, aku akan menolak usulan untuk berurusan dengan imigrasi atau segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Lebih baik aku makan durian, bebek betutu, saksang dan nasi rawon  sampai kenyang daripada harus berurusan dengan mereka *diketekin petugas imigrasi*

Tapi kenyataan emang terkadang bisa bertindak sangat kejam. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan dimana aku harus berdoa meminta kekuatan untuk dapat bertahan dan survive ketika pada akhirnya aku harus MENGURUS PASSPORT di kantor Imigrasi.

Momok yang paling menakutkan dari datang ke kantor imigrasi untuk mengurus passport adalah proses yang memerlukan beberapa hari dan antrian yang tidak manusiawi. Bayangkan antrian yang dapat membuatmu sesak nafas, dan kalikan itu dengan tiga, well, empat kalau ada masalah birokrasi. Sangat tidak menyenangkan. Dan hal itu sudah terangkum rapi di otakku ketika waktu kuliah dulu teman-temanku cerita kalau mengurus passport itu bisa bikin orang cepat tua, darah tinggi dan mati muda. Membuat passport itu tidak cukup sehari, kawan. Kita harus datang beberapa kali untuk menyerahkan dokumen ini itu, ditanya ini itu, lalu ada sesi pemotretan, dlsb yang menyita cukup banyak waktu. Dih, mereka tidak tau apa kalau waktu itu uang? Berarti mereka sudah secara tidak langsung membuang uangku selama 3 hari. Ganti!!

Selain itu, disamping harga membuat passport yang lumayan sedikit mahal (kalau diakumulasikan, harga membuat passport baru sama dengan 10x makan enak di The Cost), kita juga akan diperlakukan seperti orang yang mengantri sembako di kantor kelurahan. Entah kenapa pelayanan publik di negara ini tidak selalu terlaksana dengan tertib. Tanya kenapa?!

Sejak saat itu, aku sudah memasukkan kantor Imigrasi kedalam daftar “Tempat yang tidak seharusnya dikunjungi!” yang urutannya persis dibawah penjara.

Tapi itu dulu, waktu aku masih kuliah, waktu aku tidak punya uang.

Sekarang, setelah aku bekerja, setelah aku tau indahnya travelling, dan setelah aku tau bahwa penting bagi seorang traveler untuk mengunjungi negeri lain selain Indonesia, aku harus mengunjungi kantor Imigrasi untuk mengurus passport. Aku harus traveling ke luar negeri. Dengan berat hati, seberat Rikishi saat lagi melakukan aksi Smack Down, aku menghapus kantor Imigrasi dari daftar itu, walaupun tetap, aku masih tidak begitu suka dengan tempat itu.

Untungnya sekarang ada sistem online, jadi aku bisa mengurangi jatah kunjungan ke kantor Imigrasi sebanyak 1 hari dan itu juga berarti aku bisa menghemat cutiku untuk keperluan yang lebih penting dari sekedar mengurus passport, travelling misalnya. Yang tidak untungnya, aku harus membawa semua dokumen asli untuk verifikasi dokumen pada hari kunjungan kesana, and I don’t have it with me at the moment.

Pada dasarnya, proses pembuatan passport itu melingkupi tahap pengisian formulir pada hari pertama, foto dan wawancara + verifikasi dokumen pada hari kedua, dan akhirnya pengambilan passport (kalau udah jadi) pada hari ketiga, ditambah hari keempat kalau ada proses birokrasi yang menghalangi jalanmu. Namun dengan adanya layanan passport online, maka tahap pengisian formulir dapat dilakukan dengan cara online tanpa harus datang ke kantor Imigrasi.

Dengan bersenjatakan KTP, fotocopy Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran yang sudah di scan sebelumnya, aku membuka website Imigrasi (www.imigrasi.go.id) dan langsung memilih menu layanan passport online. Memilih jenis passport (24 halaman, 48 halaman, passport TKI, passport online, etc.), mengisi data standar (nama, alamat, no. KTP, alamat, nomor sepatu, jumlah mantan, etc.), upload dokumen yang udah disiapin tadi, lalu pilih tanggal dan lokasi kantor Imigrasi yang akan dikunjungi. Langkah pertama selesai. Mudah kan?

Ya, mudah memang, namun berujung maut.

Itulah yang kurasakan selanjutnya ketika aku pada akhirnya datang subuh-subuh ke kantor Imigrasi yang ada di samping Kota Tua. Masih jam 7 tapi orang-orang udah pada antri membludak didepan loket-entah-apa. Suram. Tidak mau ikut-ikutan arus, aku hanya duduk di kursi tunggu yang disediakan di luar kantor Imigrasi tanpa tau harus berbuat apa. Kantor itu baru akan beroperasi jam 8, artinya masih ada waktu sejam untukku mempelajari proses yang akan berlangsung, mengenal saingan dalam mendapatkan passport dan juga mempersiapkan mental untuk setiap hal yang akan terjadi nanti.

Ketika pada akhirnya kantor Imigrasi resmi beroperasi pada jam 8 hampir tepat (telat dikit), semua orang berhamburan menuju pintu masuk sehingga antrian yang dibuat pada awal hari tadi menjadi kacau balau. Dan sulit rasanya menahan hasrat untuk tidak terlibat diantara para perusuh itu. Pada akhirnya, aku berada ditengah-tengah orang yang berebut masuk pintu masuk, berjejalan, walaupun aku sebenarnya tidak tau apa yang harus aku lakukan didalam nanti. Well, yang penting seru aja dulu, urusan ngapain didalam dipikirkan belakangan. Muahaha

Untungnya petugas keamanan langsung turun tangan, menertibkan kaum perusuh dan menyuruh kami mengantri dengan tertib. Beberapa omelan protes terdengar dari kejauhan. Beberapa orang saling menyalahkan, dan beberapa orang lagi hanya bengong menghadapi kenyataan yang ada. Aku ada pada kelompok terakhir. Blank!! What should I do?

Sambil ngobrol kepada sesama pengantri ditempat itu, aku akhirnya tau apa yang harus kulakukan. Maklum, aku kan baru sekali ini berkunjung kesini. Intinya, aku harus masuk kedalam, ambil nomor antrian (yang khusus untuk online application), minta formulir, isi formulir, antri lagi, kalau nomor antriannya dipanggil, maju, lalu verifikasi dokumen sekalian nyerahin formulir yang diisi tadi, kalau lolos tunggu sampai jam 1 siang, antri lagi, lalu potoan, antri bentar, akhirnya wawancara. Selesai deh perjuangan hari itu. Namun kasusku beda. Setelah perjuangan yang aku lakukan dari subuh, akhirnya aku harus tereliminasi di babak verifikasi dokumen. Ini cerita apa sih?! Jadi seperti cerita ajang pencarian bakat. Hueheuhe

Masalahnya adalah saat itu aku gak bawa KK yang asli, dan sebagai gantinya aku membawa ijazah asli. Aku pikir bakalan lancar-lancar aja, soalnya aku membawa 3 dari sekian banyak dokumen yang disyaratkan. Ternyata 3 dokumen wajib yang disyaratkan itu (KTP, KK, Akte/Ijazah) tidak bisa diganggu gugat. Padahal saat itu KK ku lagi ada di provinsi sebelah, yang aku bawa hanya fotokopinya doing. Sial!! Tau gitu aku tunda dulu kedatanganku dan mengambil KK yang asli *cakar-cakar kantor imigrasi*

Padahal sat itu aku sudah membawa uang senilai 255rb untuk biaya pembuatan passport. Tapi apa daya, penolakan dari mbak petugas imigrasi itu sungguh membuatku sakit hati. Aku pakai uang itu untuk makan disekitar Stasiun Kota sambil menunggu bus yang akan membawaku ke kantor. Padahal pada awalnya aku sudah niat gak ngantor hari itu.

Satu hal yang aku pelajari hari itu, diperlukan antri yang banyaaaak sekali pada hari pertama di kantor Imigrasi. And trust me, antri di kantor Imigrasi sangat berbeda dengan antri di bank. Selain itu, jumlah orang yang datang pada saat pembuatan passport itu bisa membuatmu pusing, banyaknya banget banget.

Hal lain? Well, seperti desas desus, banyak sekali calo yang menawarkan jasanya ditempat itu. Pada saat aku sedang duduk mengantri sebelum adegan penolakan berdarah itu berlangsung, aku sedang berbicara dengan seorang bapak yang sepertinya tidak familiar dengan proses yang sedang berlangsung, dalam arti “sepertinya dia orang kampung!” Belum selesai dia menceritakan tentang anak-anak yang dibanggakanannya, tiba-tiba seorang petugas dengan memakai serangam coklat yang keluar dari salah satu ruangan di kantor Imigrasi itu datang menghampiri dia dan berkata “Nanti kalau pintunya sudah dibuka, langsung ikut saya ya. Data bapak sudah saya urus semua, tinggal terima beres aja.” Sebenarnya aku mau bertanya, “Data saya gimana, pak?” Tapi aku takut disangka SKSD ama dia. Okesipp!! 

Ada juga 2 orang ibu-ibu kantoran yang sepertinya memegang posisi cukup tinggi diperusahaan tempat dia bekerja. Gayanya sih udah mantap, modis abis. Tapi ngomongnya Batak kali. Untunglah, akhirnya aku bisa memulai obrolan sama mereka dengan memanfaatkan ke-Batak-an kami itu. Dari situ aku tau kalau mereka mewakili perusaahn tempat mereka bekerja untuk mengurus sekian ratus passport dalam waktu yang sangat singkat, dan mereka hanya bisa melakukannya kalau bekerjasama dengan calo atau orang dalam. Padahal kuota membuat passport baru itu terbatas hanya 100. Kalau semua habis hanya untuk mereka, bagaimana kami kaum independen ini?

Intinya, aplikasi passportku ditolak, sementara tanggal kepergian ke negeri seberang tinggal menghitung minggu.

...

Terlepas bagaimana ribet dan susahnya mengurus passport di kantor Imigrasi, aku harus datang lagi kesana demi terlaksananya keamanan dan keadilan di Indonesia rencana jalan-jalan ke negeri seberang. Masalahnya, tiket udah dibeli dari tahun lalu. Hotel udah di booked dan udah dibayar. Gak tanggung-tanggung, hotel berbintang sekian sudah dipesan. Kalah deh jumlah bintang yang ada di lengannya Sutanto dulu. Lokasinya pun asik, di pusat kota. Uang juga udah ditukar sesuai dengan mata uang di negara bersangkutan. Pokoknya udah lengkap banget deh. Hanya tulang rusukku aja yang belum lengkap. Entah dimana dia sekarang. Maaf kalau mendadak curhat!!

Pokoknya passport harus udah selesai dalam waktu dekat.

Sebenarnya males juga kalau harus ke kantor Imigrasi dan memulai semua dari awal lagi. Selain jumlah cuti yang sudah mencapai angka minus, di kantor juga lagi banyak kerjaan. Hal ini menimbulkan perdebatan panjang dalam batinku. Perdebatan itu akhirnya mambawa aku pada sebuah kesimpulan bahawa aku harus memanfaatkan seorang calo demi keberlangsungan cutiku nanti. Walaupun sebenarnya aku tidak mau menyewa jasa seorang calo, namun aku tidak punya pilihan lain. Yah, mau bagaimana lagi.

Untungnya, pada saat aku hampir menghubungi jasa calo yang dianjurkan temanku, teman di gereja tenyata ada yang kerja di kantor Imigrasi. Jadilah aku minta tolong sama dia untuk diuruskan segala prosesnya. Semua dokumen yang dulu aku ajuin sewaktu mengurus passport secara online aku kasih ke dia, ditambah KK asli, biar gak ditolak lagi. Biayanya tentu saja lebih mahal. Uang capek katanya. Padahal mah dia gak capek, hanya mengatur anak buahnya untuk bekerja ini itu.

Tapi yasudahlah. Akhirnya setelah menunggu 3 minggu, passportku jadi juga. Senangnya minta ampun. Hanya ada satu  kekurangan di passport itu, kenapa potonya jelek banget?! Padahal aslinya kan mirip Lionel Messi sehabis cukuran, kenapa yang muncul mirip orang yang ditinggalin pacarnya dan gak makan tiga bulan ya?!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...