28 June 2013

Taman Menara Kembar Petronas, KL




Akhirnya, aku bisa  juga poto di depan Menara Kembar, Kuala Lumpur.

Begitu sampai di Kuala Lumpur, aku langsung ambil bus ke KL Sentral dan lanjut naik LRT ke KLCC Suria, sebuah shopping mall yang ada di seberang Menara Kembar. Sebelumnya aku sempat makan brunch di salah satu resto yang ada di Bandara. Restoran ini aku lupa namanya, tapi lumayan terkenal. Waktu aku  tweet tentang restoran ini, banyak orang Indonesia yang pernah ke KL pasti pernah makan disini, soalnya murah. Sekali makan aku kena 13 RM, atau setara dengan 40000 IDR. Padahal aku hanya makan (semacam) sayur lodeh sama nasi putih aja, tapi harganya sampe segitu. Murah banget kan?!

Sampai di KL Sentral sebenarnya sudah agak siang. Sempat gila-gila bentar di KL Sentral untuk ngedapetin tiket dan SIM Card, akhirnya menjelang sore aku berangkat ke KLCC Suria.

Di KLCC Suria aku langsung heboh. Kirain mall di Jakarta beda di Kuala Lumpur itu beda, ternyata sama aja, sama-sama banyak yang jualan. Aku keliling-keliling bentar, sambil liatin amoy-amoy yang pake celana super pendek yang bertebaran di setiap pojok mall. Aseli, manjain mata banget!!

Dihantui oleh rasa penasaran akan harga barang yang dijual di Mall Kuala Lumpur, aku sempat mampir ke sebuah toko yang kalau di Indonesia mirip dengan Top Man. Walaupun aku belum pernah masuk ke toko Top Man sebelumnya, aku tau kalau Top Man itu adalah toko yang menjual lelaki yang top, ya kadang ada juga yang bottom… pakaiannya. Jadi ada baju dan celana gitu, sama footwear juga. Aku juga lupa nama toko itu. Entah kenapa, sekarang jadi suka lupa. Mungkin ini efek usia mudaku. Tapi toko pakaian itu sepertinya sangat terkenal, karena banyak orang yang berbelanja disana. 2 menit aku berkeliling disana, aku langsung memutuskan untuk tidak membeli satu barangpun dari sana. Mahal!! I wasn’t prepared for this. Wajar dong aku gak beli, soalnya aku hanya bawa 250 RM untuk keperluan selama 3 hari di KL.

Sebenarnya saat itu aku langsung pengen potoan di depan Menara Kembar. Tapi karena sebelumnya temanku bilang kalau potoan di sana lebih baik di sore hari, maka aku pun menunggu waktu yang tepat. Waktu itu masih jam 4 dan disana masih panas banget. Aku keliling-keliling mall KLCC lagi. Gak jelas.

Sekitar jam 5 sore, aku langsung keluar dari Mall KLCC untuk potoan. Di area luar KLCC, ada semacam jogging track yang sering dijadikan sebagai tempat potoan dengan latar belakang Menara Kembar. Waktu itu udah sore, tapi cuaca masih terang berderang, seperti masih jam 1 siang. Padahal kalau di Jakarta, jam segini udah lumayan gelap.

Sampai di jogging track, aku langsung cari posisi potoan yang keren, Eh, waktu nyari  spot yang bagus, aku nemu tap water, air kran yang bisa langsung diminum itu. Tingkat kenorakan pun naik mencapai level dewa, aku langsung poto-poto di sambil mangap-mangap nyedot air yang keluar dari kran. Untung banyak yang lewat, aku jadi bahan tontonan gitu disana. Mereka kurang hiburan kali ya? 

Setelah itu aku langsung poto-poto di sana, dengan Menara Kembar jadi background-nya. Yah, walaupun norak, tapi keren juga bisa potoan disana. Bukan hanya aku yang potoan disana, tapi banyak juga penduduk lokal yang menunjukkan aksi-aksi narsis disana. Ada yang berpasang-pasangan, ada yang bergerombol, seperti anak-anak remaja yang masih alay, ada juga yang datang sendiri-sendiri. Mereka yang datang sendirian biasanya minta tolong orang lain yang kebetulan lagi gak sibuk fotoan untuk difotoin.

Yang paling menyebalkan adalah ketika segerombolan orang India memakan waktu yang cukup lama untuk foto-fotoan disana. Masalahnya, mereka memilih tempat yang kurang tepat. Aku gak bisa moto menara kembar tanpa mereka terlihat di fotoku. Fotoku kotor. KOTOORRR!! Sial!

Satu kejutan yang kutemukan ketika berjalan-jalan sekitar jogging track yang ada disana adalah, ada taman terbuka terhimpit antara Menara Kembar dan KLCC. Gilak. Itu bukan taman bunga biasa seperti yang ada di Indonesia. Tapi taman bermain yang kece badai.





kolam KLCC
Jadi di dalam taman yang lumayan luas itu tersedia beberapa wahana untuk permainan anak-anak. Tipe-tipe wahana seperti yang ada di sekolah playgroung atau TK. Ada kuda-kudaan, ayunan, perosotan, dll. Lebih keren lagi, ada area bermain airnya juga!! Ada air terjun buatan, air mancur, shower-showeran, dan adjacent lake gitu. Dan semuanya terawat dengan baik. Keren gilaaaaakkk!!

Orang Malay emang jago banget dalam menghargai dan menjaga fasilitas umum seperti ini. Mereka tau, taman ini udah dikasih gratis oleh pemerintah (atau kesultanan) kepada mereka, mereka harus ngejaga fasilitas yang ada, biar bisa dipakai untuk waktu yang lama. Kalau fasilitasnya rusak, kan mereka juga yang susah. 

Waktu sampai disana, aku mulai norak lagi. Aku lihat ada kuda-kudaan yang dipasangkan per (spring) dibawahnya, jadi bisa goyang kedepan dan kebelakang gitu. Dan kuda-kudaan ini kecil, hanya bisa dipakai oleh anak-anak umur 5-12 tahun. Tapi, karena aku memang norak, aku naik keatas kuda-kudaan itu dan mulai menggoyangkannya ke depan dan ke belakang. Saking asyiknya aku dalam kenorakanku tersebut, aku gak sadar kalau seorang petugas (seperti satpam) sudah berdiri disampingku sambil memasang muka sangar. Waktu aku lihat dia, aku kaget dan langsung berdiri. “This is for children, not for an adult like you. Shame on you!!” katanya sambil nunjuk-nunjuk aku. “Sorry” jawabku sambil langsung berlalu dari hadapannya. Malu banget aku.


jangan ditiru ya!!

Hal lain, disana gak ada tuh yang namanya pedagang asongan yang membuka lapak di taman untuk jualan. Rapih. Bersih dan tertib. Aku teringat dengan cerita yang ditulis oleh Pandji di blog-nya. Dia bilang waktu itu ada taman kota di Jakarta yang masih enak. Banyak orang datang ke taman itu untuk sekedar santai, membaca buku, jogging, atau sekedar menemani anaknya bermain. Dan lumayan bersih. Tapi kemudian muncul pedagang asongan ditempat itu. Dari satu pedagang, sampai sekarang setiap sudut taman. Selain mereka mengurangi kenyamanan di taman tersebut, mereka juga suka menggoda cewe-cewe yang datang jogging dan bersantai disana. Sekarang, taman itu sepi, hanya dihuni oleh pedagang asongan yang berjuang hidup.

Aku jalan kearah adjacent lake untuk mengambil beberapa poto. Saat itu sudah pukul 7 malam waktu setempat, dan hari masih sangat cerah. Masih seperti jam 3 sore. Jadi aku sempatkan untuk nongki-nongki santai di depan KLCC sambil menikmati air mancur yang tidak memancurkan air. Katanya, pada waktu-waktu tertentu tempat itu akan sangat indah dengan lampu kelap kelip dan tarian dari air mancur tersebut. Tapi mungkin saat itu bukan hari keberuntunganku. Aku hanya bisa duduk disana, diantara sekian ratus orang yang juga menikmati malam yang terang itu, sambil memandang Menara Kembar dan pantulannya didalam air.

23 June 2013

Transportasi di Kuala Lumpur



Satu hal yang susah dilakukan di KL adalah tersesat.

Entah kenapa, susah banget untuk bisa tersesat di sana. Aku yang naik sepeda di kompleks rumah aja pernah beberapa kali tersesat, tapi waktu jalan di KL dengan berbagai jenis angkutan malah lancar-lancar aja tuh. Aku bisa jalan-jalan di KL tanpa harus salah tujuan atau sampai di tempat yang tidak diinginkan. Biasanya kan kalau mau pergi ke daerah A, aku selalu berakhir dengan nista di daerah D. Itu juga gak nyadar kalau aku sudah tersesat jauh. Dari situ aku sadar kalau aku payah dalam hal ruang dan navigasi. Makanya kalau bepergian, aku tidak pernah in charge untuk masalah transportasi, temen-temenku udah pada ngerti semua. Hehe

Tapi kemaren waktu di KL, aku nyantai. Walaupun aku belum sempat cari-cari informasi tentang angkutan dari bandara ke pusat kota, aku bisa sampai di Stasiun KL Sentral dengan selamat dan sentosa. Tidak ada acara nyasar. Tidak ada acara salah tujuan. Sampai di KL Sentral dengan selamat. Soalnya di bandara ada layanan bus yang langsung membawa penumpang ke Stasiun KL Sentral, jadi gak mungkin juga nyasar. Di depan bus itu tertulis dengan jelas KL Sentral: 8 RM. Dan ada juga petugas yang membantu penumpang seperti aku supaya tidak salah naik bus. Kalau di Indonesia petugas seperti itu dipanggil calo dan tingkahnya pasti pongah. Kalau disana, kayaknya dipanggil calo juga sih, tapi gak pongah, dan kebanyakan yang jadi petugas itu kalau bukan orang melayu ya orang india. Acha acha meriyaa, tum pagel hotahe~

Sampai di KL, perasaan santai yang aku rasakan tadi berubah menjadi horror. Tempat ini besar sekali. Dan ramai juga. Aku langsung merasa seperti semut di kandang gajah, kecil dan tak berarti. Mau bertanya, gak bisa ngomong bahasa Inggris. Mau naik apa kemana juga aku gak ngerti. Aku hanya bisa berserah kepada Tuhan sambil mengucap “Tolong Baim ya owoh!!

Tapi setelah diperhatikan sebentar, akhirnya aku langsung mengerti tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Yang penting adalah kita tau tujuan kita, karena kalau gak tau, kita pasti bingung harus naik apa dan kemana. Mihihi

suasana di KL Sentral
Di KL Sentral tersedia berbagai moda transportasi dengan tujuan hampir seluruh wilayah di Malaysia, dalam kota dan luar kota. Ada bus, kereta lokomotif, kereta listrik, MRT/LRT dan taksi. Tapi satu hal yang perlu diperhatikan, gak ada angkot. Menurut nganaaa?! 

Shelter bus terdapat di bagian luar gedung KL Sentral. Waktu aku sampai disana, gedung itu kayaknya masih dalam proses renovasi. Namun hal itu tidak mengganggu pelayanan dan jadwal bus yang berangkat. Semua bus terjadwal dengan baik dan berangkat ontime. Walaupun letaknya diluar, namun papan petunjuk arah terpasang dengan jelas sehingga first timer seperti aku bisa menemukan bus ini tanpa kesulitan yang berarti. Aku menggunakan bus dari KL Sentral menuju Genting Highland dan bandara LCCT. Untuk bisa menaiki bus ini, kita harus beli tiket dulu di counter yang disediakan. Beda banget sama yang di Jakarta; kita naik dan nunggu bus sampe penuhnuhuh, baru nanti dimintain ongkosnya. Tingkat efektivitasnya berbeda jauh kan?!

Selanjutnya ada LRT (light rail transit). Aku aku gak ngerti itu jenis kendaraan yang bagaimana. Dia hanya berbentuk kotak, seperti TransJakarta, yang berhenti di setiap stesen yang ditentukan, tergantung jalurnya. Tapi hebatnya, dia bisa bergerak tanpa ada yang nyupirin. Semua yang ada di dalam LRT itu penumpang. No supir, No kenek. Bisa belok kanan atau kiri tanpa benting setir dulu (secara, jalannya diatas rel). Dan yang paling keren, LRT juga bisa tau harus berhenti dimana dan berapa lama. Itu semua seperti mejik(uhibiniu). Kendaraan ini lah yang membuat sistem transportasi yang ada di Malaysia lebih bagus daripada yang ada di Jakarta.

Untuk bisa menggunakan LRT, kita harus beli koin dulu. Koin ini berfungsi sebagai tiket masuk ke dalam stesen disana. Nah, koin ini bisa didapatkan di setiap ticketing machine yang ada di gate stesen, dan ticketing machine yang ada disana itu semuanya self-service. Jadi, jangan harap kau bakal dilayani disini.

penampakan koin tiket
Ticketing machine-nya juga sangat user oriented, maksudnya mudah dipahami oleh pengguna awam. Walaupun sudah menggunakan teknologi touchscreen, tapi tidak membuat orang yang gaptek seperti aku jadi seperti orang bego yang baru kenal sama teknologi. Pasalnya, tampilannya sangat sederhana dan petunjuk yang digunakan sangat menolong. Misalnya, untuk membeli koin (tiket) ke Ampang Park (stesen dekat hotel kami), aku tinggal memilih stesen tujuan melalui peta yang ditampilkan di layar utama mesin itu, kemudian menentukan jumlah koin yang ingin dibeli. Layar akan menunjukkan harga koin yang akan kita beli, biasanya sih harganya 1 RM (Rp 3.000,-) dan paling mahal 2.5 RM (Rp 7.500,-). Kalau kita ingin membeli lebih dari 1 koin, maka mesin itu otomatis akan mengalikan harga koin dengan jumlah yang akan kita beli. Setelah itu, kita harus memasukkan uang pembayaran ke dalam mesin (prinsipnya seperti vending machine). Jangan khawatir, mesinnya bisa ngeluarin kembalian kok. Biasanya receh, satu sen, dua sen, sampai 5 sen. Setelah pembayaran selesai, kita tinggal ambil koin kita di pocket yang disediakan, beserta kembaliannya, kalau ada.

Ngomong-ngomong soal receh. Karena mesin ini mengeluarkan kembalian dengan serampangan, receh yang dikeluarkan didalam pocket tidak terkumpul di satu tempat, atau istilahnya berceceran. Jadi sering aku mampir ke setiap mesin untuk mengecek kemungkinan ada receh yang tertinggal di pocket kembalian, dan sering pula aku ketemu receh yang lupa diambil sama pemiliknya. Hasilnya, sampai hari terakhir aku di Kuala Lumpur, aku bisa mengumpulkan lebih dari 1 RM hanya dari kembalian yang tercecer di mesin (note: 1 RM itu sama dengan 10 sen). Lumayan, bisa beli 1 roti canai hanya dari memungut receh. Mihihi

Setelah itu kita nunggu LRTnya datang deh. Biasanya datang setiap 5-10 menit gitu, dan hanya ada 2 jalur per stesen, jadi gak bakal mungkin bisa salah jalur/tujuan. Disetiap escalator/tangga yang mengarah ke tempat menunggu LRT (hampir semua tempat menunggu LRT ada dibawah tanah atau di atas, semacam flyover), pasti ada papan pengumuman tentang tempat-tempat yang akan disinggahi setiap jalur. 

 Biasanya kan kalau di Jakarta orang-orang nunggu TransJakarta atau kereta sambil sumpe-sumpelan, sampai yang mau turun pun kesusahan, makanya di shelter TransJakarta, bus biasanya berhenti dulu untuk nurunin penumpang, terus maju dikit ke pintu di depannya untuk naikin penumpang. Tapi di Kuala Lumpur, LRT hanya berhenti sekali, dan itu pun hanya sebentar, tapi penumpang bisa turun dan naik dengan leluasa. Tidak ada dorong-dorongan. Tidak ada gontok-gontokan. Penumpang yang akan masuk antri dengan tertib disebelah kanan dan kiri pintu LRT (ada gambarnya di lantai), sehingga penumpang yang akan keluar bisa bergerak bebas ditengah-tengah antrian tadi. Padahal gak ada petugas yang berjaga loh, tapi semua bisa tertib gitu. Kece badai lah. 

Transportasi lain juga begitu. Mereka semua pada taat peraturan. Pernah sekali waktu aku menyebrang jalan di depan Pasar Seni. Jadi waktu itu aku lagi buru-buru, jadi tanpa pikir panjang aku langsung menyebrang ketika hampir tidak ada kendaraan yang lewat di jalan itu. Hanya ada satu taxi yang jaraknya masih sekian puluh meter. Dan kondisi saat itu adalah lampu hijau untuk kendaraan dan lampu merah untuk pejalan kaki. Tapi aku cuek aja, wong sepi gini. Selesai aku menyebrang, supir taxi yang tadi datang menghampiriku dipinggir jalan. Dia marah karena aku menyebrang sewaktu lampu untuk pejalan kaki masih menyala merah. Dia bilang itu berbahaya, walaupun saat itu lagi tidak ada kendaraan yang lewat. Okay, noted! Hal yang biasa di Jakarta, ternyata tidak applicable di sana.

Berkaca pada sistem transportasi yang ada di Jakarta, sistem transportasi yang ada di Kuala Lumpur terbilang jauh lebih maju dan ramah terhadap pengguna. Bukannya aku gak cinta Indonesia atau Jakarta, tapi gak bisa dipungkiri kalau transportasi di Malaysia itu jauh lebih baik daripada transportasi di Indonesia. Ngapain dulu anggota DPR jauh-jauh study banding mengenai sistem transportasi ke benua sebelah kalau ternyata di Malaysia (dan mungkin Singapore) sistem transportasinya juga udah layak dicontoh??

Ini juga sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan beberapa orang: ngapain jauh-jauh traveling ke Luar Negeri kalau yang di dalam negeri belum terjamah semua?

Sering aku mendapati pertanyaan seperti itu dan sering kesal juga akhirnya. Padahal aku baru sekali ke luar negeri, itu juga hanya ke Malaysia, tapi aku langsung mendapat predikat “tidak cinta Indonesia” dari orang lain. Ah, sudahlah.. kok jadi curhat??

Intinya, I learnt a lot from Malaysia and its people, khususnya mengenai moral dalam berkendara dan menggunakan jalan umum.

So, I suggest you to travel overseas and learn something from the country you visited.

17 June 2013

I cannot speak English

I used to say that I’m good in English.

Itulah yang sering aku katakan dulu. Pengalamanku dari kecil mengatakan kalau aku jago bahasa Inggris, padahal sih kalau dibandingkan sama Cinta Laura yang ngomongnya becyek kayak bebyek, bahasa Inggrisku ini gak ada apa apanya. Yah, perbandingannya sih begini: Cinta Laura itu Dragon, sementara aku ini hanya cicak. Jadi kalau diadu, yang menang tetap aku, karena Dragon udah punah dari kapan tahun. Yakale Cinta Laura jadi Dragon.

Tapi aku tetap bangga terhadap kemampuan bahasa Inggrisku. 

Kenapa?

Simply because I’ve known English for too long now.

Ditilik dari pengalamanku bergumul dengan bahas Inggris. Seharusnya sih udah bisa bilang “Udah hyujan, becyekh, enggyak ada ojyek, uang tyinggal gopyek!” seperti gaya Cinta Laura. Well, seharusnya sih.. tapi siapa juga yang mau ngomong kayak gitu? Iya gak? Mihihi 

So, how would I fail to communicate in English? 

That’s what I thought when I about to go to Malaysia, whose national language is English. I took for granted of my English ability, thinking that I would do just fine over there. 

So, I was filled with confidence when I finally went to Kuala Lumpur last month.

It was okay in the airport and plane. When the flight attendant asked me about my seat number, I gave her a precise answer, and everything went smoothly as planned.

Aku bahkan sempat menguping beberapa percakapan para bule yang kutemui ketika mengantri di loket imigrasi and I knew exactly what they were talking about. Yah, walaupun menguping itu diharamkan oleh Kak Seto, tapi apa boleh buat. Aku kan sekalian pengin ngetes kemampuan listening-ku pada tahap yang sebenarnya.

Tapi kemudain sebuah fakta mengejutkanku. I CANNOT SPEAK ENGLISH!!

Pertama kali aku menyadarinya ketika aku tiba di KL Sentral, sebuah stasiun pusat di KL yang melayani berbagai jenis moda transportasi, mulai dari bus, KRL, MRT, dll. Karena merupakan sebuah stasiun besar, banyak toko makanan dan kebutuhan sehari-hari yang dijual di KL Sentral. Gambarannya seperti Stasiun Gambir dengan sistem yang lebih baik, suasana yang lebih bersih dan rapi, dan jenis yang lebih variatif. Ini sih namanya menjatuhkan pesona Stasiun Gambir *diketekin kepala stasiun Gambir*

Jadi waktu itu aku bermaksud untuk membeli sebuah kartu perdana (SIM Card) milik salah satu operator di Malaysia untuk keperluan internet. Kartu yang biasanya aku pakai di Indonesia gak dapet sinyal disana. Jadi, dengan berbekal kemampuan bahasa Inggrisku, aku mendatangi salah satu counter yang khusus menjual perlengkapan hape.

Counter itu cukup besar dan terletak ditengah-tengah Stasiun KL Sentral. Saat itu sudah ada beberapa pelanggan yang mengerubungi tempat itu untuk sekedar mengisi ulang pulsa atau membeli Sim Card baru, seperti yang akan aku lakukan. Satu hal yang pasti: interaksi pelanggan dan penjual saat itu sangat normal.

Aku berjalan mendekati counter itu. Kemudian aku berhenti tepat semeter sebelum aku mencapai counter dan bertatap muka dengan penjualnya. Aku diam. Berusaha mengumpulkan keberanian yang udah lari entah kemana. Bukan apa-apa, hanya saja aku belum pernah ngomong sama foreigner sebelumnya, apalagi ngomong pakai bahasa Inggris. Biasanya aku ngomong pakai bahasa Inggris itu sama orang lokal aja. Itu pun sering ‘salah paham’. Aku salah ngomong, tapi lawan bicaraku tetap paham. Dan aku takut kalau hal itu menjadi kebiasaan bagiku. Bagaimana kalau konsep ‘salah paham’ itu tidak berlaku disini? Masa aku harus pakai bahasa Tarzan? Hubababa Mugga Mugga..

Keringat mulai bercucuran. Pandangan mulai nanar. Aku merasa pusing dan hampir jatuh. Eh, ini cerita apa sih??

Aku berhenti disana. Menjaga jarak supaya si pemilik toko tidak tahu kalau aku ada disana dan tidak bertanya macem macem. Kalau dia tiba tiba nanya aku, gimana cara jawabnya? Lama aku berdiri disana, mengamati setiap interaksi yang terjadi sambil mencari tau tentang SIM Card yang cocok untukku selama di KL nanti. Dan yang penting, SIM Card itu harus MURAH!!

Seharusnya yang kulakukan adalah datang ke counter dan berkonsultasi sama si pemilik counter. Tapi kemudian aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan. Aku takut kalau aku salah atau gak bisa  ngomong, lalu si pemilik counter tahu aku datang dari Indonesia, lalu dia memandang Indonesia rendah hanya karena aku. Jadi ini bukan sesimpel ngomong “I need a SIM Card for Internet use only. I need it for three till four days so please give me the cheapest one!”, tapi ini menyangkut moral negara. Aku memikul martabat dan harga diri Indonesia di pundakku #halaahh.. Jadi aku hanya mengambil selebaran mengenai SIM Card yang dipajang di depan counter lalu secepat kilat pergi dari situ. Kabuuuurrr!!

Aku mempelajari isi dari selebaran itu. Dan aku gak ngerti sama sekali.

Percuma. Rutukku dalam hati.

Pada akhirnya, setelah tekadku bulat, aku mengarahkan langkahku ke counter itu (lagi). Kali ini aku akan melakukannya for sure.

Pemilik counter itu adalah seorang koko-koko berkulit putih dengan rambut hitam lurus. Sepertinya dia Chinese. Dia dibantu oleh dua orang rekannya di dalam counter itu. Chinese juga.


Aku: Hi.. (sambil tersenyum menahan grogi)
Koko: (mulai memperhatikan aku)
Aku: (keringat mulai bercucuran)
Koko: Hi, what can I do for you?
Aku: (mati)
-the end-
Haha.. Enggaklah. Tapi sumpah, aku degdegan habis waktu itu. Gamang kali ya..
Aku: Umm.. Do you have SIM Card?
Basa basi busuk. Udah jelas-jelas di counternya dipajang semua jenis SIM Card yang ada di KL.
Koko: Yes. They’re all right here (sambil nunjuk ke deretan SIM Card)
Aku: (ngeliatin  SIM Card dengan pandangan kosong).
Hening..
Semenit berlalu..
Koko: What kind of Card you’re looking for?
Aku: (terbata bata) Internet.. Internet only. No call. No Text. Internet. You have? (ucapku seperti orang yang baru belajar ngomong)
Koko:  All of them can be used for internet. This one (katanya sambil nunjuk SIM Card yang merah)is azisufpao sfakldefnosa internet, call, text message cfnaslso aiusofamd ringgit aosfu apsfnasamsh use but alkw ealisfnasf jasf.
Aku: (cengok)…
Koko: (ngelanjutin) This one boapoulk anjeryhu oiasudasbdashf better alsdalkshfals voucher lkasoupsdovsdjv daily lkslakshfa (katanya sambil nunjuk yang biru)
Aku: (masih cengok) Sorry. I don’t..  Repeat please?
Koko: Err.. (mulai emosi)

Note: waktu itu aku lebih terbata-bata daripada yang aku tulis ini. Teman-temanku sampai tertawa mengingat kejadian ini. Huft!!

Sumpah. Aku beneran gak ngerti apa yang dibilang si koko itu. Singlish itu ternyata lebih susah daripada British. Padahal kalau dengar lagi bahasa Inggris, aku bisa ngerti apa yang dibilang. Tapi Singlish is something else. Entah bagaimana bahasa Inggirs dengan sedikit sentuhan melayu dan dituturkan oleh Chinese membuat hal yang familiar menjadi aneh. Ditambah lagi dengan kemampuan bahasa Inggrisku yang level kecebong, transaksi jual beli itu pun berakhir dengan gagal.

Transaksi berikutnya terjadi di hotel. Saat itu kami lagi menunggu kamar hotel kami dibersihkan. Jadi kami duduk duduk dengan santai di lobi hotel sambil memperhatikan interior hotel berbintang ini dengan seksama. Alih-alih istirahat, aku langsung mendatangi receptionist hotel dan menanyakan tentang SIM Card yang murah.

Kali ini bahasa Inggrisnya versi India.

Walaupun masih belum familiar, tapi aku lebih ngerti bahasa Inggris yang dituturkan orang India daripada bahasa Inggris yang dituturkan oleh orang China. Dan untungnya aku sering nonton video Stand Up comedy-nya Russel Peters  yang masih memakai Indian English, jadi lebih bisa nerima aja. And thanks to the Indian guy, I could finally buy the perfect SIM Card for me.

Ngomong pakai bahasa Inggris itu ribet, keculai untuk yang udah terbiasa. Kita perlu merangkai apa yang akan kita ucapkan didalam bahasa Indonesia, kemudian kita terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, lalu terakhir kita harus ucapkan dengan pronounciation yang tepat. Dan itu tidak mudah, apalagi untuk penutur asing kayak aku. Aku lebih memilih untuk menulis 10 artikel berbahasa Inggris daripada bertutur dalam bahasa Inggris.

Tapi kemudian sebenarnya masalah utamanya ada pada mental sih. I know that I wasn’t mentally ready at that time. Aku belum pernah ngobrol ama bule sebelumnya, dan ketika dihadapkan pada kondisi diatas, aku langsung gamang. Takut salah.

Padahal setelah kejadian itu, aku lancar2 aja kok ngomong pakai bahasa Inggris. Waktu mendaki gunung Rinjani juga aku bertemu dengan banyak pendaki dari Luar Negeri. Ada 3 cewek cakep dan seksi dari Australia. Ada Chinese dari Malaysia yang suka ngomongnya banyak. Ada orang Thailand yang dengan senang hati aku panggil dengan sebutan Sumarti. Dan aku bisa ngobrol dengan santai ama mereka. Tidak ada gamang lagi. Tidak ada rasa takut salah lagi.

Jadi intinya sih, mentalnya siap.

Image taken from here


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...