17 June 2013

I cannot speak English

I used to say that I’m good in English.

Itulah yang sering aku katakan dulu. Pengalamanku dari kecil mengatakan kalau aku jago bahasa Inggris, padahal sih kalau dibandingkan sama Cinta Laura yang ngomongnya becyek kayak bebyek, bahasa Inggrisku ini gak ada apa apanya. Yah, perbandingannya sih begini: Cinta Laura itu Dragon, sementara aku ini hanya cicak. Jadi kalau diadu, yang menang tetap aku, karena Dragon udah punah dari kapan tahun. Yakale Cinta Laura jadi Dragon.

Tapi aku tetap bangga terhadap kemampuan bahasa Inggrisku. 

Kenapa?

Simply because I’ve known English for too long now.

Ditilik dari pengalamanku bergumul dengan bahas Inggris. Seharusnya sih udah bisa bilang “Udah hyujan, becyekh, enggyak ada ojyek, uang tyinggal gopyek!” seperti gaya Cinta Laura. Well, seharusnya sih.. tapi siapa juga yang mau ngomong kayak gitu? Iya gak? Mihihi 

So, how would I fail to communicate in English? 

That’s what I thought when I about to go to Malaysia, whose national language is English. I took for granted of my English ability, thinking that I would do just fine over there. 

So, I was filled with confidence when I finally went to Kuala Lumpur last month.

It was okay in the airport and plane. When the flight attendant asked me about my seat number, I gave her a precise answer, and everything went smoothly as planned.

Aku bahkan sempat menguping beberapa percakapan para bule yang kutemui ketika mengantri di loket imigrasi and I knew exactly what they were talking about. Yah, walaupun menguping itu diharamkan oleh Kak Seto, tapi apa boleh buat. Aku kan sekalian pengin ngetes kemampuan listening-ku pada tahap yang sebenarnya.

Tapi kemudain sebuah fakta mengejutkanku. I CANNOT SPEAK ENGLISH!!

Pertama kali aku menyadarinya ketika aku tiba di KL Sentral, sebuah stasiun pusat di KL yang melayani berbagai jenis moda transportasi, mulai dari bus, KRL, MRT, dll. Karena merupakan sebuah stasiun besar, banyak toko makanan dan kebutuhan sehari-hari yang dijual di KL Sentral. Gambarannya seperti Stasiun Gambir dengan sistem yang lebih baik, suasana yang lebih bersih dan rapi, dan jenis yang lebih variatif. Ini sih namanya menjatuhkan pesona Stasiun Gambir *diketekin kepala stasiun Gambir*

Jadi waktu itu aku bermaksud untuk membeli sebuah kartu perdana (SIM Card) milik salah satu operator di Malaysia untuk keperluan internet. Kartu yang biasanya aku pakai di Indonesia gak dapet sinyal disana. Jadi, dengan berbekal kemampuan bahasa Inggrisku, aku mendatangi salah satu counter yang khusus menjual perlengkapan hape.

Counter itu cukup besar dan terletak ditengah-tengah Stasiun KL Sentral. Saat itu sudah ada beberapa pelanggan yang mengerubungi tempat itu untuk sekedar mengisi ulang pulsa atau membeli Sim Card baru, seperti yang akan aku lakukan. Satu hal yang pasti: interaksi pelanggan dan penjual saat itu sangat normal.

Aku berjalan mendekati counter itu. Kemudian aku berhenti tepat semeter sebelum aku mencapai counter dan bertatap muka dengan penjualnya. Aku diam. Berusaha mengumpulkan keberanian yang udah lari entah kemana. Bukan apa-apa, hanya saja aku belum pernah ngomong sama foreigner sebelumnya, apalagi ngomong pakai bahasa Inggris. Biasanya aku ngomong pakai bahasa Inggris itu sama orang lokal aja. Itu pun sering ‘salah paham’. Aku salah ngomong, tapi lawan bicaraku tetap paham. Dan aku takut kalau hal itu menjadi kebiasaan bagiku. Bagaimana kalau konsep ‘salah paham’ itu tidak berlaku disini? Masa aku harus pakai bahasa Tarzan? Hubababa Mugga Mugga..

Keringat mulai bercucuran. Pandangan mulai nanar. Aku merasa pusing dan hampir jatuh. Eh, ini cerita apa sih??

Aku berhenti disana. Menjaga jarak supaya si pemilik toko tidak tahu kalau aku ada disana dan tidak bertanya macem macem. Kalau dia tiba tiba nanya aku, gimana cara jawabnya? Lama aku berdiri disana, mengamati setiap interaksi yang terjadi sambil mencari tau tentang SIM Card yang cocok untukku selama di KL nanti. Dan yang penting, SIM Card itu harus MURAH!!

Seharusnya yang kulakukan adalah datang ke counter dan berkonsultasi sama si pemilik counter. Tapi kemudian aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan. Aku takut kalau aku salah atau gak bisa  ngomong, lalu si pemilik counter tahu aku datang dari Indonesia, lalu dia memandang Indonesia rendah hanya karena aku. Jadi ini bukan sesimpel ngomong “I need a SIM Card for Internet use only. I need it for three till four days so please give me the cheapest one!”, tapi ini menyangkut moral negara. Aku memikul martabat dan harga diri Indonesia di pundakku #halaahh.. Jadi aku hanya mengambil selebaran mengenai SIM Card yang dipajang di depan counter lalu secepat kilat pergi dari situ. Kabuuuurrr!!

Aku mempelajari isi dari selebaran itu. Dan aku gak ngerti sama sekali.

Percuma. Rutukku dalam hati.

Pada akhirnya, setelah tekadku bulat, aku mengarahkan langkahku ke counter itu (lagi). Kali ini aku akan melakukannya for sure.

Pemilik counter itu adalah seorang koko-koko berkulit putih dengan rambut hitam lurus. Sepertinya dia Chinese. Dia dibantu oleh dua orang rekannya di dalam counter itu. Chinese juga.


Aku: Hi.. (sambil tersenyum menahan grogi)
Koko: (mulai memperhatikan aku)
Aku: (keringat mulai bercucuran)
Koko: Hi, what can I do for you?
Aku: (mati)
-the end-
Haha.. Enggaklah. Tapi sumpah, aku degdegan habis waktu itu. Gamang kali ya..
Aku: Umm.. Do you have SIM Card?
Basa basi busuk. Udah jelas-jelas di counternya dipajang semua jenis SIM Card yang ada di KL.
Koko: Yes. They’re all right here (sambil nunjuk ke deretan SIM Card)
Aku: (ngeliatin  SIM Card dengan pandangan kosong).
Hening..
Semenit berlalu..
Koko: What kind of Card you’re looking for?
Aku: (terbata bata) Internet.. Internet only. No call. No Text. Internet. You have? (ucapku seperti orang yang baru belajar ngomong)
Koko:  All of them can be used for internet. This one (katanya sambil nunjuk SIM Card yang merah)is azisufpao sfakldefnosa internet, call, text message cfnaslso aiusofamd ringgit aosfu apsfnasamsh use but alkw ealisfnasf jasf.
Aku: (cengok)…
Koko: (ngelanjutin) This one boapoulk anjeryhu oiasudasbdashf better alsdalkshfals voucher lkasoupsdovsdjv daily lkslakshfa (katanya sambil nunjuk yang biru)
Aku: (masih cengok) Sorry. I don’t..  Repeat please?
Koko: Err.. (mulai emosi)

Note: waktu itu aku lebih terbata-bata daripada yang aku tulis ini. Teman-temanku sampai tertawa mengingat kejadian ini. Huft!!

Sumpah. Aku beneran gak ngerti apa yang dibilang si koko itu. Singlish itu ternyata lebih susah daripada British. Padahal kalau dengar lagi bahasa Inggris, aku bisa ngerti apa yang dibilang. Tapi Singlish is something else. Entah bagaimana bahasa Inggirs dengan sedikit sentuhan melayu dan dituturkan oleh Chinese membuat hal yang familiar menjadi aneh. Ditambah lagi dengan kemampuan bahasa Inggrisku yang level kecebong, transaksi jual beli itu pun berakhir dengan gagal.

Transaksi berikutnya terjadi di hotel. Saat itu kami lagi menunggu kamar hotel kami dibersihkan. Jadi kami duduk duduk dengan santai di lobi hotel sambil memperhatikan interior hotel berbintang ini dengan seksama. Alih-alih istirahat, aku langsung mendatangi receptionist hotel dan menanyakan tentang SIM Card yang murah.

Kali ini bahasa Inggrisnya versi India.

Walaupun masih belum familiar, tapi aku lebih ngerti bahasa Inggris yang dituturkan orang India daripada bahasa Inggris yang dituturkan oleh orang China. Dan untungnya aku sering nonton video Stand Up comedy-nya Russel Peters  yang masih memakai Indian English, jadi lebih bisa nerima aja. And thanks to the Indian guy, I could finally buy the perfect SIM Card for me.

Ngomong pakai bahasa Inggris itu ribet, keculai untuk yang udah terbiasa. Kita perlu merangkai apa yang akan kita ucapkan didalam bahasa Indonesia, kemudian kita terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, lalu terakhir kita harus ucapkan dengan pronounciation yang tepat. Dan itu tidak mudah, apalagi untuk penutur asing kayak aku. Aku lebih memilih untuk menulis 10 artikel berbahasa Inggris daripada bertutur dalam bahasa Inggris.

Tapi kemudian sebenarnya masalah utamanya ada pada mental sih. I know that I wasn’t mentally ready at that time. Aku belum pernah ngobrol ama bule sebelumnya, dan ketika dihadapkan pada kondisi diatas, aku langsung gamang. Takut salah.

Padahal setelah kejadian itu, aku lancar2 aja kok ngomong pakai bahasa Inggris. Waktu mendaki gunung Rinjani juga aku bertemu dengan banyak pendaki dari Luar Negeri. Ada 3 cewek cakep dan seksi dari Australia. Ada Chinese dari Malaysia yang suka ngomongnya banyak. Ada orang Thailand yang dengan senang hati aku panggil dengan sebutan Sumarti. Dan aku bisa ngobrol dengan santai ama mereka. Tidak ada gamang lagi. Tidak ada rasa takut salah lagi.

Jadi intinya sih, mentalnya siap.

Image taken from here


27 comments:

  1. Hahhah..can't stop laugh when read this blog. (*^^)v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Just wait for the complete story later in Bandung :D

      Delete
  2. Pernah ngalamin hal yang (kurang lebih) sama, sewaktu ada tamu bule di sekolahan, berasa lidah di gigit kucing, apa yang ada di pikiran gak sama dengan apa yang keluar di mulut :))

    Salam kenal dari sesama penghuni Jamban Blogger

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal penghuni Jamban!!

      Ada yang pengalamannya sama nih. Rasanya pengen dipotong tuh lidah, biar ngomongnya gak pabalatak :D

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Indonglish is better than Singlish, I must say

    ReplyDelete
  5. Singlish emang agak susah di mengerti, perucapannya beda soalnya haha

    btw, follow back ya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sipp!!

      harus banyak2 berlatih lagi nih!! *brb ke singapur*

      Delete
  6. Hahaaha. Salam kenal ya. :)
    Ngakak yang ketemu sama koko pakai singlish.
    Aih, kapan ya gue bisa keluar negeri. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga :D

      disana emg pakai kalau gak pakai singlish, pakai bahasa mandarin ama india. Lu pilih mana?

      Delete
  7. so.. pas gath wajib ngajarin gue..
    emang, nulis lebih gampang dari ngomong huahaha..
    pas gue di Malaysia, untung orang2 sana masih ngerti bahasa indonesia dikit :))

    nggak usah pake bahasa Inggris deh huahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayoo gathering!! *padahal masih lama*

      Delete
  8. kunjungan pertama :D

    aku juga pernah ngalamin hal yg hampir sama, mewawancarai bule disebuah mall.
    asli, semuanya buyar. bulenya keasikan ngomong nah akunya cuma bisa cengar-cengir sok ngerti. hehehe :p

    emang ya mau gak mau kita harus mengusai bahasa inggris.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyapp.. di USA anak2 aja udah bisa bicara bahasa Inggris dengan lancar. Masa kita kalah??!!

      Delete
  9. Nice story nar :)
    Padahal anak sastra Inggris yang nulis nih, apalagi kalo gw yang casciscus in English ya :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kakak suci gak bisa ngomong bahasa Inggris, kepada siapa anak woles supertramp akan bertanya lagi??

      Delete
  10. Yang gue tau dari bahasa Inggris cuma 'Oh yes,oh no, and Oh my God'.. *sungkem*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyahaha..

      Oh yes, oh no.. pleaseee!!

      Delete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. wih arya nge blog!

    but you're prettier good at english than me :p
    'cause you ever had talking to foreign people.

    I just used my english grammar when I tweet with a flirting word to flirt somegirl in twitter :p


    *sorryforbadgrammar xp

    -

    mampir balik ke blog gue plus follback dong,huehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. again, it's Arga!! :(

      Yeah, you can use English to flirt some hot girls, and it works. Trust me :D

      Delete
  13. haha aiiih belum pernah ngomong sama bule :| pernahnya ngomong berhadapan sama laptop doang (?) T_ #komenmacamapaini

    ReplyDelete
  14. Hahahaha ini kocak sih xD padahal ngomong bahasa indonesia aja.. mereka ngerti kok bang.. aku kalau di KL ngobrol pake bahasa indo mulu (berasa bahasa indonesia itu bahasa internasional) :p bahasa inggrisku jg pas2an parah, dan entah kepedean atau gimana, entah di malay, spore, thailand, korea, bahkan arab aku masih bodo amat sama bahasa inggrisku yg parah itu, yg penting mereka ngerti hehehe. Btw ini blognya lucu, cerita jalan2nya unik2 gitu. ^^ great job !

    ReplyDelete
  15. Hahahaha ini kocak sih xD padahal ngomong bahasa indonesia aja.. mereka ngerti kok bang.. aku kalau di KL ngobrol pake bahasa indo mulu (berasa bahasa indonesia itu bahasa internasional) :p bahasa inggrisku jg pas2an parah, dan entah kepedean atau gimana, entah di malay, spore, thailand, korea, bahkan arab aku masih bodo amat sama bahasa inggrisku yg parah itu, yg penting mereka ngerti hehehe. Btw ini blognya lucu, cerita jalan2nya unik2 gitu. ^^ great job !

    ReplyDelete
  16. Artikel yang sangat menarik :D

    http://clayton88.blogspot.com | http://kagumiterus.blogspot.com/ |
    http://informasiberitatop.blogspot.com | http://www.layardewasa.top | http://http://pkcinema.com | http://bit.ly/1sAwovI | http://bit.ly/1sUU8dl | http://bit.ly/1ZIdBJv | http://bit.ly/1YjeNnK | http://bit.ly/1WKgJqp | http://bit.ly/1ZIehP9 | http://bit.ly/1sAwovI | http://bit.ly/1UobCKp | http://bit.ly/1S0ZSYr | http://bit.ly/1ZIehP9 | http://bit.ly/1UL7Ia5 | http://bit.ly/1WKgJqp | http://bit.ly/1YjeNnK |

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...