18 August 2013

[The Not-So] Nekad Traveler


Source: here

Mungkin cerita kali ini bukan cerita tentang sebuah aksi nekad yang bisa membahayakan jiwa. Bukan. Soalnya aku adalah tipe pejalan yang walaupun menyukai tantangan, tapi tetap menomor-satukan keselamatan. Jadi, walaupun aku disapu badai ketika mendaki Gunung Prau atau turun sejauh 60 meter ke dalam Gua Jomblang hanya dengan menggunakan seutas tali, tapi semuanya masih terjamin keselamatannya. Buktinya ini masih bisa ngetik tulisan ini. Hehe.

Ini tentang perjalanan nekad yang lain

Seperti Nekad Traveller yang menggunakan transportasi gratis dari Jakarta menuju Pulau Komodo, perjalanan nekad ini juga bercerita tentang perjuangan untuk dapat transportasi gratis ke Candi Borobudur, Mangelang.

Semua perjalanan nekad ini berawal dari tapi kejadian mengenai SIM yang tidak jelas juntrungannya. Dimana-mana mah kalau nyetir di kota besar itu ya harus bawa SIM A. Tapi temanku ini tidak. Entah karena alam sedang tidak baik atau takdir mempermainkan kami, temanku itu nyetir mobil dengan aku dan lima temanku (termasuk dia yang nyetir) didalamnya. Setelah berjalan selama sekian puluh menit kami baru menyadari bahwa dia tidak membawa SIM. Kami kalang kabut. Stress. Tapi itu belum seberapa sampai akhirnya kami mengetahui bahwa SIMnya bukan ketinggalan di Jakarta, melainkan DIA MEMANG TIDAK PUNYA SIM. Dafuq?! Dia tidak seharusnya menyetir. Tapi kami tidak punya pilihan. Kami sedih menerima fakta bahwa diantara kami, hanya dia yang bisa nyetir mobil. Sampai hal yang kami takutkan terjadi…

Tapi mungkin sebenarnya perjalanan nekad ini bukan berasal dari situ, melainkan ketika temanku tidak bisa membedakan antara tiang panjat pinang dengan tiang lampu lalu lintas, atau bahasa kerennya, tiang lampu merah, soalnya hanya dilihat dan diperhatikan ketika dalam keadaan menyala merah saja. Padahal bagi orang umum, kedua tiang tersebut jelas berbeda. Yang satu memiliki lampu warna-warni diatasnya, sementara yang satu lagi memiliki hadiah seperti sepeda, bola, dispenser dll tergantung diatasnya. Siapa yang tidak bisa membedakan hal itu? Tapi temanku yang satu ini tidak bisa. Dia memang bukan orang sembarangan. Bukan orang biasa seperti kita. Bayangkan, untuk memasak indomie telor saja dia (hampir) memasukkan telor lengkap dengan kulit-kulitnya. Ngeri memang. Mulai saat itu, kalau bepergian bersama dia, kami selalu membuat parameter supaya dia jangan dekat-dekat ke tempat masak. Soalnya, kalau dia sampai ikutan dalam proses masak-memasak, kami tidak tau bagaimana nasib kami nanti setelah memakan makanan itu.

Atau mungkin awal dari cerita nekad ini adalah ketika temanku yang dulu ketemuan di Rinjani mendapat sidak dari Dinas PU di hari Sabtu bertepatan dengan hari libur nasional? Bagaimana mungkin pada hari Waisak ada pegawai negeri sipil yang melakukan sidak? Horor macam apa ini? Dan apa hubungan temanku itu dengan perjalanan nekad ini?

Here goes the story…

Awal dari cerita ini adalah ketika kami sedang mendaki Gunung Rinjani bulan Mei lalu. Pada saat itu kami sudah memutuskan untuk ikut memeriahkan acara pelepasan 1000 Lampion yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur, Mangelang. Tiket menuju Semarang sudah dibeli. Mengapa Semarang? Karena tiket KA menuju Yogyakarta sudah habis dari kapan tahun. Maklumlah, semenjak pilem Arisan 2, banyak orang yang pengin melihat dan ikut serta dalam acara pelepasan 1000 Lampion. Jadi wajar kalau tiket KA sudah habis 2 atau 3 bulan sebelum hari-H. Dari Semarang, kami akan menggunakan bus menuju Solo. Salah satu teman kami yang ikut kebetulan domisili Solo, dan dia bersedia meminjamkan mobil(kakak)nya untuk dipakai menuju Candi Borobudur.

Waktu mendaki Gunung Rinjani, kami bertemu dengan sekelompok pendaki yang berasal dari daerah Jawa juga. Entah darimana asal mereka, Surabaya atau Jogja, tapi salah satu dari mereka mengerti seluk beluk Solo dan sekitarnya. Hary namanya. Ketika kami mengajaknya untuk ikut serta bersama dengan kami merayakan Waisak di Borobudur, dia langsung menjawab “Iya” dengan semangat. Kami senang karena share-cost kami bisa lebih murah. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah dia bisa menyetir mobil dan memiliki SIM. Kenapa hal itu menjadi penting? Karena dalam kelompok kami tidak ada yang bisa diharapkan untuk menyetir mobil. Dia juga setuju untuk menjadi supir kami nanti dari Solo ke Borobudur. Mantaplah..

Waktu itu kami belum sadar kalau teman kami, sebut saja Bunga (oknum yang diceritakan diawal tulisan ini), bisa menyetir mobil.

Dengan demikian perjalanan ke Borobudur resmi dibuka!!

Kami berlima berangkat dari Jakarta dengan menggunakan KA. Sementara Hary sedang bekerja di Surabaya dan rencananya akan bertemu kami di Solo sesaat setelah pekerjaannya selesai. Namun sesampainya kami di Semarang pada hari Sabtu pagi, dia mengabarkan bahwa dia mendapat Sidak dari Dinas PU dan tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan pekerjaannya. Padahal seharusnya dia sedang dalam perjalanan ke Solo dan bertemu kami disana sekitar 3-4 jam lagi. Tapi kami maklum. Ini masalah pekerjaan. Akhirnya, sambil naik bus menuju Solo, kami berharap Sidaknya segera selesai dan Hary langsung datang ke Solo.

Sesampainya kami di Solo, sidak masih berlangsung dan Hary masih belum bisa meninggalkan pekerjaannya. Entah apa yang dilakukan oleh pegawai Dinas PU ditempat kerja Hary sampai menahannya begitu lama. Padahal, mobil sudah dipinjem sementara dan siap untuk dipacu ke Magelang. Ditambah lagi, jarum jam sudah menunjukkan angka 2, waktu yang sangat mepet untuk bisa sampai di Candi Borobudur tepat waktu.

Hanya ada satu pilihan, membiarkan Bunga (yang saat itu mengaku bisa menyetir mobil) membawa kami ke Magelang di dalam mobil pinjaman itu.

Akhirnya keputusan dibuat, kami harus berangkat saat itu juga tanpa menunggu Hary si supir. Mudah-mudahan kami bisa sampai di tempat tujuan dengan anggota badan masih utuh dan mobil masih bisa digunakan, tanpa lecet atau ringsek. Bukan apa-apa, hanya saja kami belum pernah melihat Bunga menyetir mobil sebelumnya, dan tidak ada orang yang bisa ditanyai tentang kemampuannya dalam menyetir mobil. Hal ini membuat kami sangat khawatir.

Oh, aku baru ingat. Aku pernah baca blognya bahwa dia pernah nganterin nyokapnya ke Gereja dengan menggunakan mobil. Waktu itu dia cerita bahwa sesungguhnya dia membawa mobil itu dalam keadaan tuas rem tangan belum diturunin. And guess what happened? Mobil jalannya berat, naik tanjakan gak kuat, dan mesin mati.

... dan kami semakin panik. NOOO!!

Sewaktu kami sudah berada di rumah teman kami, si empunya mobil meminta si Bunga untuk mengeluarkan mobil dari tempatnya diparkir, sebuah pekarangan-sempit-seukuran-badan-mobil-lebih-lebar-dikit. Dan parahnya, mobilnya harus langsung dibelok karena jalan di depan rumah si empunya mobil juga kecil. Jadi hanya orang yang bisa menyetir yang bisa melakukannya tanpa merusak body mobil.

Faktanya, Bunga bisa mengeluarkan mobil dari sarangnya dengan sempurna. Tidak ada lecet, tidak ada acara teriak-teriak dan tidak ada acara maki-makian. Walau memang Bunga melakukannya dengan sangat lambat. Biarlah, alon-alon waton kelakon.

Intinya, kekhawatiran kami tidak terbukti!

Melihat Bunga dengan terampil memainkan setir dan menginjak pedal gas, kami lega.  Nyatanya Bunga memang bisa menyetir. Kami jadi bersemangat. Ayo kita segera pergi.

Kami berangkat dengan senyum dan tawa menghiasi wajah kami. Kami terlalu senang sampai akhirnya kami melupakan apa yang menjadi peraturan pertama dalam menyetir mobil, yaitu memiliki SIM. Awalnya kami pikir karena dia sudah bisa menyetir mobil, dia sudah punya SIM. Ternyata kami salah. Dia tidak punya SIM. Dan kami sedang berada di jalur utama yang menghubungkan kota Solo dengan Magelang.

Fakta tersebut kami ketahui ketika adik pemilik mobil itu bertanya iseng ke Bunga ditengah perjalanan, “Eh, lu bawa SIM kan?” Tanyanya pada Bunga yang sibuk menyetir.

“Kagak”, jawab Bunga singkat.

“Oh, tinggal ya?”, tanya temanku maklum, soalnya dia memang seharusnya tidak nyetir hari ini, mungkin dia gak nyiapin SIMnya.

“Gue emang gak punya.” Balasnya santai. “Gue kan udah bilang sama kalian tadi.”

Buset. Kami shock lagi. Entah karena kami lupa atau memang gak ngeh kalau dia udah pernah bilang gak punya SIM. Kami stress. Gimana ini? Gimana kalau ada razia? Gimana kalau ada apa-apa? Siapa yang akan bertanggung jawab?

Sampai akhirnya setelah sekian puluh menit, kami berdamai juga dengan keadaan Bunga menyetir tanpa SIM dengan kami di dalam mobil penuh dengan dagdigdug, Sempat terpikir untuk ngadain tadarusan bentar, biar gak kena razia. Tapi karena waktunya udah mepet, kami gak jadi tadarusan di dalam mobil. Kami pun nekad melintasi jalur Solo – Magelang dengan pengemudi yang tidak memiliki SIM.

Oh Tuhan. Ampuni dan lindungilah kami *berdoa*

Untungnya saat itu gak ada razia yang dilakukan disepanjang jalan lintas dari Solo menuju Magelang. Bunga juga menyetir dengan mulus di jalanan yang mayoritas lurus itu. Semuanya seperti berjalan baik-baik saja. Terlalu baik malah…

…sampai saat itu tiba.

Bunga yang menyetir di depan masih konsentrasi menyetir. Mungkin dia gamang karena udah lama gak nyetir mobil. Entah gimana ceritanya sampai dia tidak melihat ada lampu merah di pertigaan itu. Memang, saat itu kondisi jalan lagi lancer dan sepi. Kami sedang berada di jalur lurus dan pertigaan itu memiliki cabang ke kanan, dimana seharusnya untuk kendaraan yang melaju lurus bisa langsung maju tanpa terpengaruh dengan lampu merah.

Tapi ternyata, ada jalan kecil (seperti jalan keluar dari kompleks perumahan) disebelah kiri jalan persis di seberang pertigaan tadi. Jadi sebenarnya jalan itu adalah perempatan, tapi karena yang sebelah kiri jalan kecil, maka namanya pertiga-setengah-an. Dan karena ada jalan ‘setengah’ itu, maka seharusnya lampu merah juga berlaku untuk kendaraan yang mengambil jalur lurus. Artinya, saat mobil kami seharusnya berhenti karena sedang lampu merah.

Tapi Bunga mengijak pedal gas dan melewati pertiga-setengah-an itu... dengan santai.

Sekian puluh detik berlalu…

Si adik pemilik mobil lalu nyeletuk sambil bergurau, “Wah, parah lu Bunga. Udah gak punya SIM, melanggar lampu merah pula. Bisa habis kita kalau ketahuan polisi.”

“Loh, memang ada lampu merah tadi? Dimana?” Tanya Bunga cengok.

Ternyata Bunga memang tidak melihat ada tiang lampu merah tadi. Pantesan dia santai aja waktu di pertiga-setengah-an tadi. Untung kami gak ditabrak sama truk waktu pelanggaran itu terjadi.

Belum sampai semenit kejadian pelanggaran lampu merah di pertiga-setengah-an tadi berlalu, kami melihat ada seorang polisi dengan seragam hijaunya sedang mengendarai motor gede berjalan dibelakang kami. Kami ketakutan sambil berharap si polisi bukan mengejar kami. Soalnya kami tidak melihat keberadaan polisi sewaktu melanggar lampu merah tadi. Mudah-mudahan dia mengejar mobil yang di depan kami atau siapapun juga, yang penting bukan kami. Atau yang lebih absurdnya, mudah-mudahan polisi itu sedang refreshing aja bareng motornya, dan hanya kebetulan dia berada di belakang mobil (pinjeman) kami.

Segala macam doa dipanjatkan di dalam mobil itu, berharap keberadaan polisi itu tidak ada hubungannya dengan kami.

Tapi memang terkadang pengharapan itu mengecewakan…

Si polisi itu berjalan lambat di depan mobil kami dan melambai-lambaikan tangannya mengisyaratkan kami untuk menepi.

MAMPUS!!

Kami sadar kami sudah bersalah. Oh, bukan kami yang bersalah. Ini semua karena Bunga. Kenapa harus dia yang bisa menyetir? Kenapa dia gak punya SIM? Dan kenapa pula dia gak bisa melihat tiang lampu merah yang lampunya sedang menyala merah?

*kemudian dipelototin si Bunga*

Gue hanya berharap supaya Bunga tidak membaca postingan ini *berdoa*

Lanjut..

Sembari Bunga berusaha menepikan mobil ke pinggir jalan, kami mulai atur skenario tentang kejadian yang ada.

Pertama, bilang aja SIM-nya ketinggalan.

Kedua, ini mobil sewaan, bukan pinjeman.

Dan ketiga, kami ini mahasiswa yang akan mengikuti acara waisak di Borobudur sebagai tugas kuliah.

BOHONG BANGET!! Entah berapa kebohongan yang kami utarakan hari itu.

Opsi pertama kami adalah penyelesaian masalah melalui jalur kekeluargaan, yaitu titip sidang a.k.a bayar ditempat. Opsi kedua… tidak ada opsi kedua. Kami harus bisa menyelesaikannya melalui jalur kekeluargaan supaya kami bisa langsung berangkat ke Cadi Borobudur dan mengikuti acara Pelepasan 1000 Lampion. Waktunya sudah mepet.

Lalu kami mengutus dua orang tim negosisaisi untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka berunding dengan polisi dengan muka memelas, berharap mendapatkan belas kasihan.

Tapi bukan polisi namanya kalau simpati terhadap  muka memelas pemuda tanggung yang membawa mobil pribadi seperti kami. Dia bersikeras bahwa kami masalah ini tidak bisa diselesaikan semudah itu, apalagi dipinggir jalan. Dia lalu mengajak kami ke pos polisi terdekat, yang ternyata berada persis disamping perting-setengah-an yang lampu merah-nya kami langgar tadi.

Negosiasi gagal.

Seperti tahanan, kami lalu digiring menuju pos polisi tersebut. Lagi, kami mengirim 2 orang negosiator untuk untuk mencari jalan keluar yang menyenangkan kedua belah pihak. Kalau semua bisa senang, kenapa harus susah?

Kali ini Bunga ikut negosiasi. Dia merupakan orang yang paling penting dalam kejadian kali ini. Semacam VIP gitu. Tapi tentu saja, walaupun Bunga ikut dalam proses negosiasi tersebut, kami tetap dinyatakan bersalah.

Penyelesaian akhir: sekian ratus ribu melayang.

Pertama karena Bunga tidak ‘membawa’ SIM.

Kedua karena Bunga ‘melanggar’ lampu merah yang tidak dilihatnya.

Jadi kami kena pasal berlapis. Halah, bahasanya udah kayak pengacara saja.

Kejadian ini merupakan pukulan telak bagi kami. Dari yang seharusnya bisa menghemat biaya dengan meminjam mobil (kakaknya) temanku, malah harus bayar lebih untuk uang tilang.

Setidaknya ada satu pelajaran penting yang bisa diambil dari kejadian ini: jangan biarkan Bunga menyetir mobil lagi.. eh salah, jangan nekad menyetir tanpa SIM.

16 August 2013

I miss my hometown


Source: here

Besok udah tanggal 17 Agustus 2013, hari kemerdekaan Bangsa Indonesia yang kesekian. Entahlah, serasa malas menghitung umur kemerdekaan Indonesia melihat praktik merdeka itu sendiri masih eweh pakeuweh *padahal tinggal ngurangin 2013 ke 1945 aja bisa tau*

Tadi di kantor lagi ngomongin tentang acara-acara yang biasa digelar dalam menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Peserta omong-omong itu adalah sekelompok orang yang muda dengan berbagai latar belakang keluarga. Entah apa hubungan keluarga dengan kegiatan kemerdekaan kali ini. Aslinya, ada 2 orang Batak yang berasal dari daerah terpencil di Medan yang menjadi moderator acara omong-omong ini dan dua orang kelahiran Jakarta sebagai pelengkap penderita. Yang mendominasi omong-omong itu tentu saja 2 orang Batak tadi. Pokoknya sangat dianjurkan untuk tidak menantang orang Batak dalam masalah omong-omong. Mereka itu rajanya. Makanya banyak orang Batak yang jadi Pengacara; ini karena omong-omong mereka. Makanya kalau orang Batak sudah berkumpul, suasana langsung gaduh; ini juga karena omong-omong mereka.
 
… dan aku adalah salah satu orang Batak itu.

*kemudian ditimpuk gelas*

Kok jadi salah pokus?

Anyway, pokoknya tadi lagi ngomongin acara 17an.

Dimulai dari celotehan duo Batak yang bilang, “Eh, besok udah 17an ya? Kok gak terasa?”

Kemudian percakapan diantara 4 kewanan itu pun berlangsung sepanjang jam makan siang. Setelah itu, karena aku lagi gak ada kerjaan di kantor, maka aku pun membuat postingan ini.

Memang, kalau melihat keadaan di Jakarta, euforia dalam menyambut hari bersejarah itu kurang terasa sampai ke semua kalangan. Di jalanan hanya terlihat macet pasca lebaran dan sisa-sisa pendatang yang sedang berlibur ke Jakarta. Ada juga sampah-sampah berserakan di jalanan atau sungai dan got yang mampet yang tidak ada hubungannya dengan acara 17an. Ini ngomong apa sih?

 “Seharusnya ada loh acara 17an di Jakarta” kata anak Jakarta yang paling tua, sebut saja Maria.

“Gak ada ah” sahutku menyangkal. “Aku sudah 2 tahun di Jakarta dan gak pernah nemu acara17an. Sepi – seperti tidak ada acara bersejarah saja.”

“Ada!”  sahut anak Jakarta yang lebih muda. “Tapi memang biasanya hanya level RT atau RW. Jarang ada acara gede.”

NAH!! Itu masalahnya.

Acara 17an di kampungku lebih megah dibandingkan dengan acara 17an di Jakata.

Di tempatku tinggal sekarang, tidak ada tanda-tanda akan diadakan acara 17an. Bahkan kalau kampung lain biasanya menghiasi jalanan di kampungnya dengan bendera-bendera kecil, kampung kami kagak. Well, aku bukan tinggal di kampung sih, tapi di kompleks perumahan. Tapi tetap saja, tidak ada nuansa 17an disana. Di blok rumah aja hanya beberapa yang majang bendera tinggi-tinggi. Lainnya beralasan bahwa bambu atau tiang pengikat bendera susah didapat belakangan ini. Well, benar juga sih.

Kedua anak Jakarta itu pun melanjutkan kisah mereka silih berganti…

Acara 17an di Jakarta memang jarang. Kalau pun ada, biasanya hanya level kampung atau RT/RW gitu. Seperti yang pernah di iklan-kan di tipi, lomba 17an mencakup lomba-lomba seperti memasukkan pensil kedalam botol, makan kerupuk, makan kaleng kerupuk, lompat karung dan angkat barbell. Itu doang. Lalu tim atau individu yang menang bakal dikasih hadiah. Aku gak tau apa hadiahnya, karena aku gak pernah ikutan lomba itu. Gimana mau ikut lomba, wong ditempatku gak pernah ada lomba begituan.

Kemudian gantian duo Batak bercerita tentang perayaan 17 Agustus dikampung mereka, yang berada di antah-berantah di daerah Sumatera Utara. Kalau orang menanyakan daerah asal kami sih, jawaban kami sudah pasti Medan, walau sejatinya kami bukan tinggal di Medan. Soalnya kalau aku bilang Sihilon, aku yakin tidak ada orang yang tau. Hanya Tuhan dan penghuni Sihilon yang tau keberadaan tempat itu.

Dulu sewaktu aku masih SD, selalu ada acara  perlombaan anak-anak yang diadakan oleh kepala desa setempat untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Acaranya standar aja; lomba sambil membawa kelereng didalam sendok (sendoknya dalam posisi digigit), lompat karung,  memasukkan benang kedalam jarum, dll. Semuanya pernah aku mainin dan menang. Hadiahnya adalah 2 buah buku tulis isi 32 lembar. Aku masih ingat banget gimana senangnya aku menjadi juara 1 lompat karung waktu itu. Dan kedua buku tulis super tipis itu pun sukses menjadi buku catatan IPA dan IPS ku di sekolah.

Dari semua permainan dan perlombaan yang diadakan di kampungku, hanya satu yang belum pernah kucoba keganasannya, yaitu panjat pinang. Setiap tanggal 16 Agustus, 3 buah pohon pinang sudah diantarkan ke aula kampung kami dengan menggunakan truk. Kemudian beberapa antek-antek kepala desa bertugas untuk membuat pohon pinang itu menjadi layak untuk dijadikan tiang yang akan dipakai dalam acara panjat pinang. Daun-daunnya di potong dan dijadikan mainan oleh anak-anak yang kebetulan melihat proses itu, salah satunya adalah aku. Selanjutnya, pohon pinang yang sudah bersih itu pun siap untuk dilumuri minyak gemek. Aku gak tau padanan kata gemek dalam bahasa Indonesia. Yang penting aku tau kalau minyak itu licin. Soalnya kalau gak licin, mudah dipanjat dong. Dan kalau mudah dipanjat, acara panjat pinangnya jadi gak seru, kecuali di sepanjang pohon pinang ditempelin pecahan beling atau kawat duri. Itu baru seru.

Dan aku selalu takjub melihat setiap kelompok yang terdiri dari 3-4 orang dewasa itu untuk mencapai puncak pohon pinang. Mereka belepotan minyak gemek dan masih tetap bersemangat. Sepertinya hadiah yang dipajang diatas pohon pinang itu yang memotivasi mereka. Mungkin juga semangat kemerdekaan yang menjadi motivasi mereka. Biasanya sih ada kaos partai, cangkir, sandal jepit, bola plastik, sepeda kecil, ember dll. Melihat deretan hadiah diatas, kayaknya mereka lebih dimotivasi oleh semangat perjuangan pahlawan revolusi dulu dibanding hadiah yang terpajang diatas pohon panjat pinang itu  #asumsiprematur

Itu acara waktu aku SD.

Waktu aku SMA beda lagi.

Semenjak SMP, 17an selalu dirayakan lebih mewah. Berbagai perlombaan diadakan dalam level kecamatan. Pesertanya adalah semua siswa SMP dan SMA yang ada di kecamatan itu. Acaranya? Tentu saja marching band. Atau Drum Band kalau orang kampung kami menyebutnya.

Marching Band (Source: here)
Acara marching band ini sangat megah dan masif. Bayangkan saja, semua sokolah dari SD sampai SMA yang ada di kecamatan itu ikut serta. Bahkan warga biasa juga ikut memeriahkan acara itu dengan berjejer disepanjang jalan jalur marching band. Benar-benar heboh.

Jadi sudah wajar kalau sebulan sebelum 17 Agustus, sudah terdengar tabuhan drum di setiap sekolah. Karena sejatinya acara marching band ini diperlombakan. Jadi setiap sekolah ingin menampilkan yang terbaik.

Setiap sekolah sudah memiliki komposisi yang fix. Biasanya ada beberapa majoret yang memimpin satu sekolah. Dibelakangnya berjejer drum band tersebut; ada drum, pianika, bass, dll dst *aku lupa nama-nama alat musiknya*. Dilanjutkan dengan peragaan busana dari beberapa daerah. Ngakunya sih dari beberapa daerah, tapi selama 3 tahun berada di sekolah yang sama, pakaian daerahnya selalu saja kebaya. Dan iya, semuanya cewek. Dibarisan berikutnya da pembawa bendera, baik  bendera sekolah maupun bendera merah putih besar yang dibentangkan demikian rupa dan dibawa oleh 2 orang. Sisanya adalah kami yang tidak mendapat tugas apa-apa, hanya berbaris sesuai tinggi badan mengikuti langkah yang didepan kami…

… langkahnya harus sama. Kiri-kanan-kiri-kanan!!

Karena aku memang dianugerahkan badan yang kecil, maka sudah menjadi rahasia umum bahwa aku tidak akan pernah diterima menjadi bagian dari drum band atau pembawa bendera. Selama 3 tahun aku berada di SMP yang sama, selama 3 tahun pula aku hanya berada di posisi belakang, hanya berbaris mengular mengikuti barisan di depanku.

Awal-awal aku memasuki masa SMA juga sama, aku hanya ditempatkan di barisan belakang tanpa pernah bertugas sebagai anak drum atau pembawa bendera. Namun demikian, setiap kali pawai, keluargaku selalu menyapaku dari pinggir jalan tempat pawai dan tidak jarang mereka memberikan minum ditengah jalan pula. Benar-benar keluarga yang pengertian.

Rangkaian acara 17 tersebut dimulai dengan upacara yang diikuti oleh seluruh sekolah di lapangan kecamatan yang lumayan lebar. Pada saat upacara ini, akan ada paskibra yang mengibarkan bendera merah putih dan pertunjukan tari-tarian budaya dari berbagai sekolah. Setelah upacara yang begitu melelahkan itu, acara pawai dimulai, dimulai dengan anak-anak SD yang memainkan drum mereka dengan unyu-unyu, sampai anak-anak SMA yang pakaian majoretnya seksi seksi.

Dan yang paling sering menang acara marching band ini adalah sekolah SMP ku dulu, namannya SMP-MTS Dharma Pertiwi. Tabuhan drum-nya emang kece sih.

Parampam pam parampam pampam parampampam parampam!!

Lanjut waktu aku kuliah, acara 17an diisi dengan acara molor sedunia. Selain karena kuliah diliburkan, tidak ada upacara, juga tidak ada acara seperti perlombaan atau sejenisnya yang bisa dihadiri mahasiswa seperti aku.

Aku jadi sempat mikir, apa memang orang kampung yang benar-benar merayakan kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan meriah? *bangga jadi anak kampung* *keputusan sepihak*

Kabar baiknya, tahun ini Jokowi mengadakan pawai untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, yang jatuh pada tgl 18 Agustus 2013 di Monas jam 14.30. pawai ini dihidupkan kembali setelah hiatus selama 3 tahun. Jokowi memang keren deh.

Tapi sebenarnya bukan bagaimana kita merayakan kemerdekaan Indonesia yang penting, melainkan bagaimana kita memaknai kemerdekaan Indonesia

Kesana, yuk!!

01 August 2013

[7Wonders] Aku adalah Dusun Sade, tempat Suku Sasak berada…

(Tulisan ini diikutkan dalam "Jelajah 7 Keajaiban Nusantara" Blog Contest yang diselenggarakan oleh VIVA.co.id dan Daihatsu Terios)

source: here

Aku adalah Dusun Sade, tempat Suku Sasak berada…

Sebuah penginggalan masa lalu yang berjuang untuk dapat hidup berdampingan dengan modernitas di Indonesia. 

Entah kenapa, VIVA.co.id dan Daihatsu memasukkan aku kedalam daftar 7 Keajaiban Nusantara yang dimiliki Indonesia, bersama dengan Sawarna, Merapi, Bromo, Plengkung, Dompu dan Komodo. Padahal aku pikir, masih banyak keajaiban-keajaiban yang ada di Indonesia yang lebih wah dibandingkan dengan aku. Contohnya, Gua Jomblang selalu membuatku terperangah dengan sinar sorgawi-nya. Ramang-ramang berdiri megah dengan karst terbesar di Asia Tenggara, membuat siapa saja yang melihatnya menjadi kecil. Suku Baduy Dalam yang tetap bisa mempertahankan tradisi dan keunikannya walaupun dia berada di dekat kota metropolitan, Jakarta. Dibandingkan dengan mereka (dan sederet keajaiban lainnya yang ada di Indonesia), apalah aku ini?

Ah, maaf… aku jadi ngelantur. Tapi, kalau bercerita tentang keajaiban alam dan kebudayaan di Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Aku sampai ingat ucapan beberapa wisatawan yang pernah mengunjungiku di Rambitan dulu. Katanya, “kalau pariwisata adalah sebuah agama, maka kuilnya adalah Indonesia.” Kemudian mereka dengan lantang berkata, “Sepetak surga memang ada di Indonesia.”

Intinya,  aku senang karena akhirnya aku mulai dilirik oleh pariwisata Indonesia. Dulu aku pikir kalau aku ini hanyalah sebuah keberadaan yang tidak dipandang dalam dunia pariwisata. Sebuah entitas yang terlanjur ada, kemudian dibiarkan begitu saja. Bagai sebuah pagi yang basi, yang tidak dihiraukan oleh penikmat fajar. Tapi sekarang dengan adanya lomba blog ini, lebih banyak wisatawan yang mengetahui keberadaanku. Terimakasih kepada VIVA.co.id dan Daihatsu, melalui lomba blog yang diadakan, aku tau kalau wisatawan akan datang mengunjungiku.

Lebih banyak yang mengenalku, lebih baik bukan?
Lebih banyak yang mengunjungiku, lebih baik bukan?
Ah, mungkin kau tidak peduli. Tapi bagiku, hal ini sangat penting. Kalau banyak datang datang berkunjung, maka keadaan ekonomi akan membaik. Setidaknya itulah yang aku pikirkan.

Aku adalah Dusun Sade, tempat Suku Sasak berada…

Sebuah arena dimana adat-istiadat yang diturunkan oleh leluhur masih mengambil peran penting dalam sistem masyarakat. 

Aku terletak di Desa Rambitan, sebuah desa yang berada di wilayah Tengah pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lokasiku berada di dekat Bandara Internasional Lombok dan kota Mataram, yang merupakan ibukota NTB. Namun demikian, kalian akan terkejut ketika melihat penampakanku yang jauh dari kesan internasional dan ibukota. Aku hanyalah sebuah dusun reyot yang ketinggalan jaman.

Aku terdiri dari beberapa puluh rumah tradisional yang dibangun secara berbaris, yang beratap alang-alang dan berdinding bambu. Tiap rumah berbentuk seperti lumbung padi dan memiliki komposisi dapur, kamar tidur dan ruang tamu. Walaupun tidak dibangun dari semen dan bata, tapi kami rumah tradisional ini sangat nyaman untuk ditinggali.

Walaupun 85% penghuni Pulau Lombok adalah Suku Sasak, tetapi hanya sedikit yang tinggal di lingkungan tradisional. Satu desa lain yang masih menjaga tradisi dan budayanya adalah Desa Bayan di kaki Gunung Rinjani. Berbeda dengan aku yang sudah memeluk agama Islam, Bayan masih memeluk agama suku, yaitu Wetu Telu (waktu tiga), sebuah praktik unik yang mereka lakukan dalam menjalankan ajaran Islam. Tiga hal penting yang selalu mereka tanamkan adalah menganak, menteluk dan menciuk yang berarti beranak, bertelur dan berbiji. Walaupun Desa Bayan sudah membuka diri dengan kemajuan jaman, tetapi mereka lebih konservatif dibandingkan dengan aku.

Desa Bayan di Senaru, kaki Gunung Rinjani
Aku adalah Dusun Sade, tempat Suku Sasak berada…

Dalam adat Suku Sasak, setiap lelaki akan pergi bertani, mengusahakan tanahnya untuk mencari penghasilan. Sementara, setiap perempuan duduk di pekarangan rumah dan menenun kain ikat untuk dijual. Hal ini sudah menjadi ‘hukum alam’ yang belaku bagi Suku Sasak. Itulah sebabnya semua lelaki pandai bercocok tanam dan semua perempuan pintar menenun.

Pernah suatu kali ada seorang lelaki yang mencoba untuk menenun. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin ladang terlalu keras baginya. Pacul bukan sahabatnya, atau sinar matahari membakar kulitnya. Dia duduk didepan rumah dan mulai menenun kain ikat seperti yang dilakukan perempuan setiap hari. Entah bagaimana prosesnya, akhirnya lelaki itu memiliki sifat seperti perempuan dan bertingkah laku seperti perempuan. Mungkin kebetulan atau mungkin adat memang seharusnya tidak boleh dilanggar.

Aku adalah Dusun Sade, tempat Suku Sasak berada…

Sekali dalam seminggu Suku Sasak akan melumuri lantai rumahnya dengan kotoran kerbau. Bukan untuk ritual keagamaan atau adat-istiadat, tapi semata-mata untuk membersihkan rumah mereka yang memiliki lantai dari tanah. Mereka melakukannya karena kotoran kerbau dapat menghilangkan debu, menguatkan lantai tanah dan mengurangi jumlah nyamuk yang ada di dalam rumah.

Hal ini menarik perhatian wisatawan yang datang berkunjung. Mereka berebut untuk melihat bagaimana kaum perempuan Suku Sasak mengoleskan kotoran kerbau tersebut dengan tangan telanjang mereka (tanpa memakai sarung tangan). Mereka takjub sekaligus jijik, dan tidak percaya. Setelah melihat acara pembersihan rumah itu sekilas, mereka kemudian pergi dengan ekspresi muka terkejut sambil menutup hidung mereka untuk menghalau bau kotoran kerbau tadi. Aneh memang. Mereka datang dengan rasa penasaran yang tinggi, kemudian pergi dengan muka ke-bau-an seperti itu.

Selain karena kotoran kerbau tersebut, wisatawan juga datang untuk membeli kain ikat yang ditenun oleh perempuan Suku Sasak. Sambil memilih kain, wisatawan juga akan dapat melihat mesin tenun tradisional yang dipakai untuk membuat kain ikat dan proses menenun. Tidak jarang juga wisatawan meminta diajarkan cara menenun kain ikat. Mereka begitu antusias untuk mengenal setiap seluk beluk Suku Sasak beserta dengan tradisi yang dimiliki. Mulai dari rumah tradisional sampai tata cara hidup mereka.

Perempuan Suku Sasak sedang menenun kain ikat (source: here)
Memang, hampir disetiap rumah Suku Sasak terpampang alat tenun tradisional yang bisa dilihat oleh wisatawan saat datang berkunjung. Selain itu, mayoritas kaum perempuan Suku Sasak menjual kain ikat yang mereka tenun di dalam atau pekarangan rumah mereka. Hal ini ternyata menarik perhatian wisatawan. Hidup dalam era modernitas dengan gaya kebarat-baratan, wisatawan menganggap aku dan Suku Sasak adalah sebuah oase budaya yang harus dinikmati. Bagi mereka, aku adalah sebuah monumen dan dokumen yang ada yang digunakan oleh wisatawan untuk memperingati kesederhanaan, tradisi dan gaya hidup yang sudah terlupakan karena kemajuan zaman. Bagi mereka aku adalah dunia yang berbeda.

Aku adalah Dusun Sade, tempat Suku Sasak berada…

Suku dengan sejumlah kepercayaan yang dianggap musykil bagi sebagian orang. 

Setiap tanggal 20 bulan kesepuluh dalam penanggalan Suku Sasak, masyarakat dan wisatawan akan berbondong-bondong pergi ke sebuah pantai. Hari masih sangat muda, tetapi orang-orang sudah berkumpul untuk menangkap cacing laut. Mereka percaya bahwa cacing yang mereka tangkap adalah jelmaan dari seorang Putri cantik bernama Mandalika, seseorang yang, karena perseteruan antara pangeran dari kerajaan di Lombok untuk mempersuntingnya, mengakhiri hidupnya di sebuah pantai dan berubah menjadi nyale (cacing) dalam jumlah yang sangat banyak. Dia melakukannya karena ingin menghindari pertikaian diantara kerajaan yang ada.

Acara tersebut kemudian dinamakan Bau Nyale, yang dalam bahasa Indonesia berarti menangkap cacing. Mereka percaya bahwa Nyale yang mereka tangkap dapat membawa keberkahan bagi yang menghargainya.

Acara Paresean (source: here)
Ada juga acara Paresean, kegiatan saling pukul dengan menggunakan rotan yang dilakukan oleh kaum lelaki Suku Sasak sambil menggunakan atribut khas paresean, yaitu kain sarung. Awalnya kegiatan ini dilakukan untuk arena bertarung sungguhan, tapi sekarang hanya dilakukan untuk tujuan hiburan dan acara penyambutan. Dua lelaki turun ke arena yang telah dipersiapkan, gamelan khas Lombok ditabuh, kemudian mereka saling pukul sampai salah seorang mengaku kalah. Selain untuk menunjukkan kejantanan, acara ini juga (kadang) menjadi ajang untuk menunjukkan ilmu siapa yang paling sakti daintara kaum lelaki Suku Sasak.

Aku adalah Dusun Sade, tempat Suku Sasak berada…

Didalamku terdapat sebuah tradisi peninggalan masa lalu.
Didalamku terdapat sebuah ritual yang sakral.
Didalamku terdapat banyak kearifan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Didalamku ada sejarah yang hidup. Mitos, legenda dan kepercayaan yang saling bersentuhan, yang tidak terdapat di tempat lain.

Dulu, setiap hal yang dilakukan Suku Sasak selalu bertumpu pada adat yang berlaku. Tradisi dijunjung tinggi dan diamini sebagai sesuatu yang hakiki. Adat lah yang menentukan baik dan buruk, benar dan dan salah mereka. Adat adalah sesuatu yang sakral.

Tapi kini, adat hanya dianggap sebagai barang antik, yang dilestarikan, dan tidak jarang di pajang sebagai maskot. Barang yang kalau diperlukan, akan diambil kemudian dipoles sedikit supaya sesuai dengan keinginan penggunanya.

Adat Suku Sasak pun begitu. Dulu, kalau seorang pemuda Sasak hendak menikahi kekasih pujaan hatinya, maka dia harus mengatur strategi (beserta dengan beberapa temannya) untuk ‘menculik’ gadis itu dari rumahnya. Walaupun riskan dan berbahaya, tetapi proses penculikan ini adalah kebanggaan bagi kedua pihak dalam Suku Sasak. Sebab menurut mereka, putri mereka bukanlah ayam yang dapat diminta sesukanya. Makanya, si lelaki harus berusaha untuk membawa perempuan yang akan dinikahinya ke rumahnya untuk kemudian dinikahi.

Penculikan ini dilakukan sebagai "ritual" melanggengkan tradisi. "Itu sudah tradisi turun temurun masyarakat kami di Pulau Lombok. Entah sejak kapan, nenek moyang yang mewariskan," kata Suyanto (50), pelaku penculikan seperti yang paparkan di Republika.

Tapi sekarang, hampir tidak ada yang melakukan tradisi seperti ini. Entah karena tidak sesuai dengan zaman sekarang atau karena memang sudah lupa.  Tidak ada penculikan, hanya tanda tangan di depan saksi di KUA.
  
Aku adalah Dusun Sade, tempat Suku Sasak berada…

Aku sudah renta. Kehilangan banyak hal penting dalam hidupku. Tradisi yang dulu sangat melekat pada semua Suku Sasak, kini mulai sudah memudar, hilang bersama bersama laju masa yang tak terbendung. Dan aku takut kalau semua yang aku miliki dulu… semua yang aku banggakan dulu… harus hilang dan tidak berbekas.

Aku takut kalau tradisi Suku Sasak hilang ditelan kemajuan zaman dan hanya sedikit wisatawan yang pernah datang ke Rembitan yang bisa menjadi saksi akan keberadaanku..

Mari, datanglah padaku. Dan kita akan lestarikan tradisi dan kebudayaan Suku Sasak bersama dengan VIVA.co.id dan Daihatsu. Cek infonya di @Viva_log dan @DaihatsuInd atau klik banner dibawah ini untuk ikut lombanya...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...