16 August 2013

I miss my hometown


Source: here

Besok udah tanggal 17 Agustus 2013, hari kemerdekaan Bangsa Indonesia yang kesekian. Entahlah, serasa malas menghitung umur kemerdekaan Indonesia melihat praktik merdeka itu sendiri masih eweh pakeuweh *padahal tinggal ngurangin 2013 ke 1945 aja bisa tau*

Tadi di kantor lagi ngomongin tentang acara-acara yang biasa digelar dalam menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Peserta omong-omong itu adalah sekelompok orang yang muda dengan berbagai latar belakang keluarga. Entah apa hubungan keluarga dengan kegiatan kemerdekaan kali ini. Aslinya, ada 2 orang Batak yang berasal dari daerah terpencil di Medan yang menjadi moderator acara omong-omong ini dan dua orang kelahiran Jakarta sebagai pelengkap penderita. Yang mendominasi omong-omong itu tentu saja 2 orang Batak tadi. Pokoknya sangat dianjurkan untuk tidak menantang orang Batak dalam masalah omong-omong. Mereka itu rajanya. Makanya banyak orang Batak yang jadi Pengacara; ini karena omong-omong mereka. Makanya kalau orang Batak sudah berkumpul, suasana langsung gaduh; ini juga karena omong-omong mereka.
 
… dan aku adalah salah satu orang Batak itu.

*kemudian ditimpuk gelas*

Kok jadi salah pokus?

Anyway, pokoknya tadi lagi ngomongin acara 17an.

Dimulai dari celotehan duo Batak yang bilang, “Eh, besok udah 17an ya? Kok gak terasa?”

Kemudian percakapan diantara 4 kewanan itu pun berlangsung sepanjang jam makan siang. Setelah itu, karena aku lagi gak ada kerjaan di kantor, maka aku pun membuat postingan ini.

Memang, kalau melihat keadaan di Jakarta, euforia dalam menyambut hari bersejarah itu kurang terasa sampai ke semua kalangan. Di jalanan hanya terlihat macet pasca lebaran dan sisa-sisa pendatang yang sedang berlibur ke Jakarta. Ada juga sampah-sampah berserakan di jalanan atau sungai dan got yang mampet yang tidak ada hubungannya dengan acara 17an. Ini ngomong apa sih?

 “Seharusnya ada loh acara 17an di Jakarta” kata anak Jakarta yang paling tua, sebut saja Maria.

“Gak ada ah” sahutku menyangkal. “Aku sudah 2 tahun di Jakarta dan gak pernah nemu acara17an. Sepi – seperti tidak ada acara bersejarah saja.”

“Ada!”  sahut anak Jakarta yang lebih muda. “Tapi memang biasanya hanya level RT atau RW. Jarang ada acara gede.”

NAH!! Itu masalahnya.

Acara 17an di kampungku lebih megah dibandingkan dengan acara 17an di Jakata.

Di tempatku tinggal sekarang, tidak ada tanda-tanda akan diadakan acara 17an. Bahkan kalau kampung lain biasanya menghiasi jalanan di kampungnya dengan bendera-bendera kecil, kampung kami kagak. Well, aku bukan tinggal di kampung sih, tapi di kompleks perumahan. Tapi tetap saja, tidak ada nuansa 17an disana. Di blok rumah aja hanya beberapa yang majang bendera tinggi-tinggi. Lainnya beralasan bahwa bambu atau tiang pengikat bendera susah didapat belakangan ini. Well, benar juga sih.

Kedua anak Jakarta itu pun melanjutkan kisah mereka silih berganti…

Acara 17an di Jakarta memang jarang. Kalau pun ada, biasanya hanya level kampung atau RT/RW gitu. Seperti yang pernah di iklan-kan di tipi, lomba 17an mencakup lomba-lomba seperti memasukkan pensil kedalam botol, makan kerupuk, makan kaleng kerupuk, lompat karung dan angkat barbell. Itu doang. Lalu tim atau individu yang menang bakal dikasih hadiah. Aku gak tau apa hadiahnya, karena aku gak pernah ikutan lomba itu. Gimana mau ikut lomba, wong ditempatku gak pernah ada lomba begituan.

Kemudian gantian duo Batak bercerita tentang perayaan 17 Agustus dikampung mereka, yang berada di antah-berantah di daerah Sumatera Utara. Kalau orang menanyakan daerah asal kami sih, jawaban kami sudah pasti Medan, walau sejatinya kami bukan tinggal di Medan. Soalnya kalau aku bilang Sihilon, aku yakin tidak ada orang yang tau. Hanya Tuhan dan penghuni Sihilon yang tau keberadaan tempat itu.

Dulu sewaktu aku masih SD, selalu ada acara  perlombaan anak-anak yang diadakan oleh kepala desa setempat untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Acaranya standar aja; lomba sambil membawa kelereng didalam sendok (sendoknya dalam posisi digigit), lompat karung,  memasukkan benang kedalam jarum, dll. Semuanya pernah aku mainin dan menang. Hadiahnya adalah 2 buah buku tulis isi 32 lembar. Aku masih ingat banget gimana senangnya aku menjadi juara 1 lompat karung waktu itu. Dan kedua buku tulis super tipis itu pun sukses menjadi buku catatan IPA dan IPS ku di sekolah.

Dari semua permainan dan perlombaan yang diadakan di kampungku, hanya satu yang belum pernah kucoba keganasannya, yaitu panjat pinang. Setiap tanggal 16 Agustus, 3 buah pohon pinang sudah diantarkan ke aula kampung kami dengan menggunakan truk. Kemudian beberapa antek-antek kepala desa bertugas untuk membuat pohon pinang itu menjadi layak untuk dijadikan tiang yang akan dipakai dalam acara panjat pinang. Daun-daunnya di potong dan dijadikan mainan oleh anak-anak yang kebetulan melihat proses itu, salah satunya adalah aku. Selanjutnya, pohon pinang yang sudah bersih itu pun siap untuk dilumuri minyak gemek. Aku gak tau padanan kata gemek dalam bahasa Indonesia. Yang penting aku tau kalau minyak itu licin. Soalnya kalau gak licin, mudah dipanjat dong. Dan kalau mudah dipanjat, acara panjat pinangnya jadi gak seru, kecuali di sepanjang pohon pinang ditempelin pecahan beling atau kawat duri. Itu baru seru.

Dan aku selalu takjub melihat setiap kelompok yang terdiri dari 3-4 orang dewasa itu untuk mencapai puncak pohon pinang. Mereka belepotan minyak gemek dan masih tetap bersemangat. Sepertinya hadiah yang dipajang diatas pohon pinang itu yang memotivasi mereka. Mungkin juga semangat kemerdekaan yang menjadi motivasi mereka. Biasanya sih ada kaos partai, cangkir, sandal jepit, bola plastik, sepeda kecil, ember dll. Melihat deretan hadiah diatas, kayaknya mereka lebih dimotivasi oleh semangat perjuangan pahlawan revolusi dulu dibanding hadiah yang terpajang diatas pohon panjat pinang itu  #asumsiprematur

Itu acara waktu aku SD.

Waktu aku SMA beda lagi.

Semenjak SMP, 17an selalu dirayakan lebih mewah. Berbagai perlombaan diadakan dalam level kecamatan. Pesertanya adalah semua siswa SMP dan SMA yang ada di kecamatan itu. Acaranya? Tentu saja marching band. Atau Drum Band kalau orang kampung kami menyebutnya.

Marching Band (Source: here)
Acara marching band ini sangat megah dan masif. Bayangkan saja, semua sokolah dari SD sampai SMA yang ada di kecamatan itu ikut serta. Bahkan warga biasa juga ikut memeriahkan acara itu dengan berjejer disepanjang jalan jalur marching band. Benar-benar heboh.

Jadi sudah wajar kalau sebulan sebelum 17 Agustus, sudah terdengar tabuhan drum di setiap sekolah. Karena sejatinya acara marching band ini diperlombakan. Jadi setiap sekolah ingin menampilkan yang terbaik.

Setiap sekolah sudah memiliki komposisi yang fix. Biasanya ada beberapa majoret yang memimpin satu sekolah. Dibelakangnya berjejer drum band tersebut; ada drum, pianika, bass, dll dst *aku lupa nama-nama alat musiknya*. Dilanjutkan dengan peragaan busana dari beberapa daerah. Ngakunya sih dari beberapa daerah, tapi selama 3 tahun berada di sekolah yang sama, pakaian daerahnya selalu saja kebaya. Dan iya, semuanya cewek. Dibarisan berikutnya da pembawa bendera, baik  bendera sekolah maupun bendera merah putih besar yang dibentangkan demikian rupa dan dibawa oleh 2 orang. Sisanya adalah kami yang tidak mendapat tugas apa-apa, hanya berbaris sesuai tinggi badan mengikuti langkah yang didepan kami…

… langkahnya harus sama. Kiri-kanan-kiri-kanan!!

Karena aku memang dianugerahkan badan yang kecil, maka sudah menjadi rahasia umum bahwa aku tidak akan pernah diterima menjadi bagian dari drum band atau pembawa bendera. Selama 3 tahun aku berada di SMP yang sama, selama 3 tahun pula aku hanya berada di posisi belakang, hanya berbaris mengular mengikuti barisan di depanku.

Awal-awal aku memasuki masa SMA juga sama, aku hanya ditempatkan di barisan belakang tanpa pernah bertugas sebagai anak drum atau pembawa bendera. Namun demikian, setiap kali pawai, keluargaku selalu menyapaku dari pinggir jalan tempat pawai dan tidak jarang mereka memberikan minum ditengah jalan pula. Benar-benar keluarga yang pengertian.

Rangkaian acara 17 tersebut dimulai dengan upacara yang diikuti oleh seluruh sekolah di lapangan kecamatan yang lumayan lebar. Pada saat upacara ini, akan ada paskibra yang mengibarkan bendera merah putih dan pertunjukan tari-tarian budaya dari berbagai sekolah. Setelah upacara yang begitu melelahkan itu, acara pawai dimulai, dimulai dengan anak-anak SD yang memainkan drum mereka dengan unyu-unyu, sampai anak-anak SMA yang pakaian majoretnya seksi seksi.

Dan yang paling sering menang acara marching band ini adalah sekolah SMP ku dulu, namannya SMP-MTS Dharma Pertiwi. Tabuhan drum-nya emang kece sih.

Parampam pam parampam pampam parampampam parampam!!

Lanjut waktu aku kuliah, acara 17an diisi dengan acara molor sedunia. Selain karena kuliah diliburkan, tidak ada upacara, juga tidak ada acara seperti perlombaan atau sejenisnya yang bisa dihadiri mahasiswa seperti aku.

Aku jadi sempat mikir, apa memang orang kampung yang benar-benar merayakan kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan meriah? *bangga jadi anak kampung* *keputusan sepihak*

Kabar baiknya, tahun ini Jokowi mengadakan pawai untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia, yang jatuh pada tgl 18 Agustus 2013 di Monas jam 14.30. pawai ini dihidupkan kembali setelah hiatus selama 3 tahun. Jokowi memang keren deh.

Tapi sebenarnya bukan bagaimana kita merayakan kemerdekaan Indonesia yang penting, melainkan bagaimana kita memaknai kemerdekaan Indonesia

Kesana, yuk!!

2 comments:

  1. Brooo... Tsakep ini cerita.. Cuma satu komplain saia..
    Gue dan aku nya ada.. Labil ya? Huahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perasaan udah gue edit deh kemaren? *sigh*
      *brb benerin lagi*:(

      Delete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...