18 August 2013

[The Not-So] Nekad Traveler


Source: here

Mungkin cerita kali ini bukan cerita tentang sebuah aksi nekad yang bisa membahayakan jiwa. Bukan. Soalnya aku adalah tipe pejalan yang walaupun menyukai tantangan, tapi tetap menomor-satukan keselamatan. Jadi, walaupun aku disapu badai ketika mendaki Gunung Prau atau turun sejauh 60 meter ke dalam Gua Jomblang hanya dengan menggunakan seutas tali, tapi semuanya masih terjamin keselamatannya. Buktinya ini masih bisa ngetik tulisan ini. Hehe.

Ini tentang perjalanan nekad yang lain

Seperti Nekad Traveller yang menggunakan transportasi gratis dari Jakarta menuju Pulau Komodo, perjalanan nekad ini juga bercerita tentang perjuangan untuk dapat transportasi gratis ke Candi Borobudur, Mangelang.

Semua perjalanan nekad ini berawal dari tapi kejadian mengenai SIM yang tidak jelas juntrungannya. Dimana-mana mah kalau nyetir di kota besar itu ya harus bawa SIM A. Tapi temanku ini tidak. Entah karena alam sedang tidak baik atau takdir mempermainkan kami, temanku itu nyetir mobil dengan aku dan lima temanku (termasuk dia yang nyetir) didalamnya. Setelah berjalan selama sekian puluh menit kami baru menyadari bahwa dia tidak membawa SIM. Kami kalang kabut. Stress. Tapi itu belum seberapa sampai akhirnya kami mengetahui bahwa SIMnya bukan ketinggalan di Jakarta, melainkan DIA MEMANG TIDAK PUNYA SIM. Dafuq?! Dia tidak seharusnya menyetir. Tapi kami tidak punya pilihan. Kami sedih menerima fakta bahwa diantara kami, hanya dia yang bisa nyetir mobil. Sampai hal yang kami takutkan terjadi…

Tapi mungkin sebenarnya perjalanan nekad ini bukan berasal dari situ, melainkan ketika temanku tidak bisa membedakan antara tiang panjat pinang dengan tiang lampu lalu lintas, atau bahasa kerennya, tiang lampu merah, soalnya hanya dilihat dan diperhatikan ketika dalam keadaan menyala merah saja. Padahal bagi orang umum, kedua tiang tersebut jelas berbeda. Yang satu memiliki lampu warna-warni diatasnya, sementara yang satu lagi memiliki hadiah seperti sepeda, bola, dispenser dll tergantung diatasnya. Siapa yang tidak bisa membedakan hal itu? Tapi temanku yang satu ini tidak bisa. Dia memang bukan orang sembarangan. Bukan orang biasa seperti kita. Bayangkan, untuk memasak indomie telor saja dia (hampir) memasukkan telor lengkap dengan kulit-kulitnya. Ngeri memang. Mulai saat itu, kalau bepergian bersama dia, kami selalu membuat parameter supaya dia jangan dekat-dekat ke tempat masak. Soalnya, kalau dia sampai ikutan dalam proses masak-memasak, kami tidak tau bagaimana nasib kami nanti setelah memakan makanan itu.

Atau mungkin awal dari cerita nekad ini adalah ketika temanku yang dulu ketemuan di Rinjani mendapat sidak dari Dinas PU di hari Sabtu bertepatan dengan hari libur nasional? Bagaimana mungkin pada hari Waisak ada pegawai negeri sipil yang melakukan sidak? Horor macam apa ini? Dan apa hubungan temanku itu dengan perjalanan nekad ini?

Here goes the story…

Awal dari cerita ini adalah ketika kami sedang mendaki Gunung Rinjani bulan Mei lalu. Pada saat itu kami sudah memutuskan untuk ikut memeriahkan acara pelepasan 1000 Lampion yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur, Mangelang. Tiket menuju Semarang sudah dibeli. Mengapa Semarang? Karena tiket KA menuju Yogyakarta sudah habis dari kapan tahun. Maklumlah, semenjak pilem Arisan 2, banyak orang yang pengin melihat dan ikut serta dalam acara pelepasan 1000 Lampion. Jadi wajar kalau tiket KA sudah habis 2 atau 3 bulan sebelum hari-H. Dari Semarang, kami akan menggunakan bus menuju Solo. Salah satu teman kami yang ikut kebetulan domisili Solo, dan dia bersedia meminjamkan mobil(kakak)nya untuk dipakai menuju Candi Borobudur.

Waktu mendaki Gunung Rinjani, kami bertemu dengan sekelompok pendaki yang berasal dari daerah Jawa juga. Entah darimana asal mereka, Surabaya atau Jogja, tapi salah satu dari mereka mengerti seluk beluk Solo dan sekitarnya. Hary namanya. Ketika kami mengajaknya untuk ikut serta bersama dengan kami merayakan Waisak di Borobudur, dia langsung menjawab “Iya” dengan semangat. Kami senang karena share-cost kami bisa lebih murah. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah dia bisa menyetir mobil dan memiliki SIM. Kenapa hal itu menjadi penting? Karena dalam kelompok kami tidak ada yang bisa diharapkan untuk menyetir mobil. Dia juga setuju untuk menjadi supir kami nanti dari Solo ke Borobudur. Mantaplah..

Waktu itu kami belum sadar kalau teman kami, sebut saja Bunga (oknum yang diceritakan diawal tulisan ini), bisa menyetir mobil.

Dengan demikian perjalanan ke Borobudur resmi dibuka!!

Kami berlima berangkat dari Jakarta dengan menggunakan KA. Sementara Hary sedang bekerja di Surabaya dan rencananya akan bertemu kami di Solo sesaat setelah pekerjaannya selesai. Namun sesampainya kami di Semarang pada hari Sabtu pagi, dia mengabarkan bahwa dia mendapat Sidak dari Dinas PU dan tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan pekerjaannya. Padahal seharusnya dia sedang dalam perjalanan ke Solo dan bertemu kami disana sekitar 3-4 jam lagi. Tapi kami maklum. Ini masalah pekerjaan. Akhirnya, sambil naik bus menuju Solo, kami berharap Sidaknya segera selesai dan Hary langsung datang ke Solo.

Sesampainya kami di Solo, sidak masih berlangsung dan Hary masih belum bisa meninggalkan pekerjaannya. Entah apa yang dilakukan oleh pegawai Dinas PU ditempat kerja Hary sampai menahannya begitu lama. Padahal, mobil sudah dipinjem sementara dan siap untuk dipacu ke Magelang. Ditambah lagi, jarum jam sudah menunjukkan angka 2, waktu yang sangat mepet untuk bisa sampai di Candi Borobudur tepat waktu.

Hanya ada satu pilihan, membiarkan Bunga (yang saat itu mengaku bisa menyetir mobil) membawa kami ke Magelang di dalam mobil pinjaman itu.

Akhirnya keputusan dibuat, kami harus berangkat saat itu juga tanpa menunggu Hary si supir. Mudah-mudahan kami bisa sampai di tempat tujuan dengan anggota badan masih utuh dan mobil masih bisa digunakan, tanpa lecet atau ringsek. Bukan apa-apa, hanya saja kami belum pernah melihat Bunga menyetir mobil sebelumnya, dan tidak ada orang yang bisa ditanyai tentang kemampuannya dalam menyetir mobil. Hal ini membuat kami sangat khawatir.

Oh, aku baru ingat. Aku pernah baca blognya bahwa dia pernah nganterin nyokapnya ke Gereja dengan menggunakan mobil. Waktu itu dia cerita bahwa sesungguhnya dia membawa mobil itu dalam keadaan tuas rem tangan belum diturunin. And guess what happened? Mobil jalannya berat, naik tanjakan gak kuat, dan mesin mati.

... dan kami semakin panik. NOOO!!

Sewaktu kami sudah berada di rumah teman kami, si empunya mobil meminta si Bunga untuk mengeluarkan mobil dari tempatnya diparkir, sebuah pekarangan-sempit-seukuran-badan-mobil-lebih-lebar-dikit. Dan parahnya, mobilnya harus langsung dibelok karena jalan di depan rumah si empunya mobil juga kecil. Jadi hanya orang yang bisa menyetir yang bisa melakukannya tanpa merusak body mobil.

Faktanya, Bunga bisa mengeluarkan mobil dari sarangnya dengan sempurna. Tidak ada lecet, tidak ada acara teriak-teriak dan tidak ada acara maki-makian. Walau memang Bunga melakukannya dengan sangat lambat. Biarlah, alon-alon waton kelakon.

Intinya, kekhawatiran kami tidak terbukti!

Melihat Bunga dengan terampil memainkan setir dan menginjak pedal gas, kami lega.  Nyatanya Bunga memang bisa menyetir. Kami jadi bersemangat. Ayo kita segera pergi.

Kami berangkat dengan senyum dan tawa menghiasi wajah kami. Kami terlalu senang sampai akhirnya kami melupakan apa yang menjadi peraturan pertama dalam menyetir mobil, yaitu memiliki SIM. Awalnya kami pikir karena dia sudah bisa menyetir mobil, dia sudah punya SIM. Ternyata kami salah. Dia tidak punya SIM. Dan kami sedang berada di jalur utama yang menghubungkan kota Solo dengan Magelang.

Fakta tersebut kami ketahui ketika adik pemilik mobil itu bertanya iseng ke Bunga ditengah perjalanan, “Eh, lu bawa SIM kan?” Tanyanya pada Bunga yang sibuk menyetir.

“Kagak”, jawab Bunga singkat.

“Oh, tinggal ya?”, tanya temanku maklum, soalnya dia memang seharusnya tidak nyetir hari ini, mungkin dia gak nyiapin SIMnya.

“Gue emang gak punya.” Balasnya santai. “Gue kan udah bilang sama kalian tadi.”

Buset. Kami shock lagi. Entah karena kami lupa atau memang gak ngeh kalau dia udah pernah bilang gak punya SIM. Kami stress. Gimana ini? Gimana kalau ada razia? Gimana kalau ada apa-apa? Siapa yang akan bertanggung jawab?

Sampai akhirnya setelah sekian puluh menit, kami berdamai juga dengan keadaan Bunga menyetir tanpa SIM dengan kami di dalam mobil penuh dengan dagdigdug, Sempat terpikir untuk ngadain tadarusan bentar, biar gak kena razia. Tapi karena waktunya udah mepet, kami gak jadi tadarusan di dalam mobil. Kami pun nekad melintasi jalur Solo – Magelang dengan pengemudi yang tidak memiliki SIM.

Oh Tuhan. Ampuni dan lindungilah kami *berdoa*

Untungnya saat itu gak ada razia yang dilakukan disepanjang jalan lintas dari Solo menuju Magelang. Bunga juga menyetir dengan mulus di jalanan yang mayoritas lurus itu. Semuanya seperti berjalan baik-baik saja. Terlalu baik malah…

…sampai saat itu tiba.

Bunga yang menyetir di depan masih konsentrasi menyetir. Mungkin dia gamang karena udah lama gak nyetir mobil. Entah gimana ceritanya sampai dia tidak melihat ada lampu merah di pertigaan itu. Memang, saat itu kondisi jalan lagi lancer dan sepi. Kami sedang berada di jalur lurus dan pertigaan itu memiliki cabang ke kanan, dimana seharusnya untuk kendaraan yang melaju lurus bisa langsung maju tanpa terpengaruh dengan lampu merah.

Tapi ternyata, ada jalan kecil (seperti jalan keluar dari kompleks perumahan) disebelah kiri jalan persis di seberang pertigaan tadi. Jadi sebenarnya jalan itu adalah perempatan, tapi karena yang sebelah kiri jalan kecil, maka namanya pertiga-setengah-an. Dan karena ada jalan ‘setengah’ itu, maka seharusnya lampu merah juga berlaku untuk kendaraan yang mengambil jalur lurus. Artinya, saat mobil kami seharusnya berhenti karena sedang lampu merah.

Tapi Bunga mengijak pedal gas dan melewati pertiga-setengah-an itu... dengan santai.

Sekian puluh detik berlalu…

Si adik pemilik mobil lalu nyeletuk sambil bergurau, “Wah, parah lu Bunga. Udah gak punya SIM, melanggar lampu merah pula. Bisa habis kita kalau ketahuan polisi.”

“Loh, memang ada lampu merah tadi? Dimana?” Tanya Bunga cengok.

Ternyata Bunga memang tidak melihat ada tiang lampu merah tadi. Pantesan dia santai aja waktu di pertiga-setengah-an tadi. Untung kami gak ditabrak sama truk waktu pelanggaran itu terjadi.

Belum sampai semenit kejadian pelanggaran lampu merah di pertiga-setengah-an tadi berlalu, kami melihat ada seorang polisi dengan seragam hijaunya sedang mengendarai motor gede berjalan dibelakang kami. Kami ketakutan sambil berharap si polisi bukan mengejar kami. Soalnya kami tidak melihat keberadaan polisi sewaktu melanggar lampu merah tadi. Mudah-mudahan dia mengejar mobil yang di depan kami atau siapapun juga, yang penting bukan kami. Atau yang lebih absurdnya, mudah-mudahan polisi itu sedang refreshing aja bareng motornya, dan hanya kebetulan dia berada di belakang mobil (pinjeman) kami.

Segala macam doa dipanjatkan di dalam mobil itu, berharap keberadaan polisi itu tidak ada hubungannya dengan kami.

Tapi memang terkadang pengharapan itu mengecewakan…

Si polisi itu berjalan lambat di depan mobil kami dan melambai-lambaikan tangannya mengisyaratkan kami untuk menepi.

MAMPUS!!

Kami sadar kami sudah bersalah. Oh, bukan kami yang bersalah. Ini semua karena Bunga. Kenapa harus dia yang bisa menyetir? Kenapa dia gak punya SIM? Dan kenapa pula dia gak bisa melihat tiang lampu merah yang lampunya sedang menyala merah?

*kemudian dipelototin si Bunga*

Gue hanya berharap supaya Bunga tidak membaca postingan ini *berdoa*

Lanjut..

Sembari Bunga berusaha menepikan mobil ke pinggir jalan, kami mulai atur skenario tentang kejadian yang ada.

Pertama, bilang aja SIM-nya ketinggalan.

Kedua, ini mobil sewaan, bukan pinjeman.

Dan ketiga, kami ini mahasiswa yang akan mengikuti acara waisak di Borobudur sebagai tugas kuliah.

BOHONG BANGET!! Entah berapa kebohongan yang kami utarakan hari itu.

Opsi pertama kami adalah penyelesaian masalah melalui jalur kekeluargaan, yaitu titip sidang a.k.a bayar ditempat. Opsi kedua… tidak ada opsi kedua. Kami harus bisa menyelesaikannya melalui jalur kekeluargaan supaya kami bisa langsung berangkat ke Cadi Borobudur dan mengikuti acara Pelepasan 1000 Lampion. Waktunya sudah mepet.

Lalu kami mengutus dua orang tim negosisaisi untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka berunding dengan polisi dengan muka memelas, berharap mendapatkan belas kasihan.

Tapi bukan polisi namanya kalau simpati terhadap  muka memelas pemuda tanggung yang membawa mobil pribadi seperti kami. Dia bersikeras bahwa kami masalah ini tidak bisa diselesaikan semudah itu, apalagi dipinggir jalan. Dia lalu mengajak kami ke pos polisi terdekat, yang ternyata berada persis disamping perting-setengah-an yang lampu merah-nya kami langgar tadi.

Negosiasi gagal.

Seperti tahanan, kami lalu digiring menuju pos polisi tersebut. Lagi, kami mengirim 2 orang negosiator untuk untuk mencari jalan keluar yang menyenangkan kedua belah pihak. Kalau semua bisa senang, kenapa harus susah?

Kali ini Bunga ikut negosiasi. Dia merupakan orang yang paling penting dalam kejadian kali ini. Semacam VIP gitu. Tapi tentu saja, walaupun Bunga ikut dalam proses negosiasi tersebut, kami tetap dinyatakan bersalah.

Penyelesaian akhir: sekian ratus ribu melayang.

Pertama karena Bunga tidak ‘membawa’ SIM.

Kedua karena Bunga ‘melanggar’ lampu merah yang tidak dilihatnya.

Jadi kami kena pasal berlapis. Halah, bahasanya udah kayak pengacara saja.

Kejadian ini merupakan pukulan telak bagi kami. Dari yang seharusnya bisa menghemat biaya dengan meminjam mobil (kakaknya) temanku, malah harus bayar lebih untuk uang tilang.

Setidaknya ada satu pelajaran penting yang bisa diambil dari kejadian ini: jangan biarkan Bunga menyetir mobil lagi.. eh salah, jangan nekad menyetir tanpa SIM.

7 comments:

  1. WOW...

    http://travellingaddict.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Artikel yang sangat menarik :D

    http://clayton88.blogspot.com | http://bit.ly/1sUU8dl | http://goo.gl/lNMX3D | http://goo.gl/cAQcMp | http://goo.gl/97Yn1s | http://goo.gl/tw2ZtP | http://goo.gl/RkuB4G | http://bit.ly/1Mwgw3U | http://bit.ly/23ABPpR |

    ReplyDelete
  3. Artikel yang sangat menarik :D

    http://clayton88.blogspot.com | http://kagumiterus.blogspot.com/ | http://pkcinema.com/
    http://informasiberitatop.blogspot.com | http://bit.ly/1sAwovI | http://bit.ly/1sUU8dl | http://bit.ly/1ZIdBJv http://bit.ly/1YjeNnK | http://bit.ly/1WKgJqp | http://bit.ly/1ZIehP9 | http://bit.ly/1sAwovI | http://bit.ly/1UobCKp | http://bit.ly/1S0ZSYr | http://bit.ly/1ZIehP9 | http://bit.ly/1UL7Ia5 | http://bit.ly/1WKgJqp | http://bit.ly/1YjeNnK

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...