18 November 2013

Palembang rasa Siantar


Setelah kurang lebih satu jam berada diatas awan, akhirnya pesawat yang aku tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Saat itu masih pagi, tapi matahari sudah bersinar dengan lantang, membakar benda apapun yang ada dibawahnya. Aku yang berasal dari daerah sejuk di sebelah utara kota Bandung langsung merasa gerah dan kepanasan.

“Ini bukan tempat yang cocok untukku” gumamku menyimpulkan.

Saat sedang menunggu klaim bagasi, aku menelepon kakakku untuk memberi kabar perihal ketibaanku di Palembang. Dari telepon itu, aku tau kalau ternyata dia sudah menunggu selama setengah jam di  pintu keluar kedatangan dalam negeri. Tidak susah untuk menemukannya, karena memang saat itu bandara yang tidak terlalu besar ini sedang sepi. Saat aku berjalan keluar terminal, dia terlihat melambaikan tangannya dengan senyum mengambang di wajahnya.

Ah, sesenang itukah dia melihat adik bungsunya datang berkunjung?

“Lamo nian ambil bagasinya” katanya dengan logat Palembang bercampur dengan sedikit logat Batak. Aku langsung mengerti apa yang dikatakannya, karena kalau sedang menelepon aku pun, dia selalu menggunakan sedikit bahasa Palembang.

“Biasalah, banyak penumpangnya” ujarku membela diri dengan alasan yang sangat klise.

Setelah melepas rindu selama beberapa menit yang singkat, kami langsung menuju parkiran motor bandara, tempat dimana kakakku memarkirkan motornya beberapa puluh menit yang lalu. Sewaktu jalan, aku memerhatikan di sekitar bandara banyak baliho dan plang yang berisi gambar sepasang komodo yang memakai busana tradisional yang sayangnya bukan pakaian tradisional orang Palembang.

Komodo yang jantan dinamakan si Modo. Dia memakai kemeja berwarna biru dengan kerah seperti baju koko. Di bahunya ada kain sarung yang diikat kedua ujungnya. Sementara Komodo betina dinamakan Modi. Dia menimpali si Modo dengan pakaian berwarna merah menyala dengan kain sarung disampirkan di kedua tangan. Modi melengkapi busananya dengan memakai sarung batik khas Betawi.

Kedua komodo tersebut berdiri berdampingan sambil menempatkan tangan mereka di depan dada dan mebentuk posisi menyembah, menyambut semua orang yang datang berkunjung ke Palembang. Baik hanya untuk berwisata seperti aku, maupun untuk berlomba dalam acara Sea Games nanti.


Walaupun didesain sedemikian rupa, tapi menurutku gambar itu jadi aneh. Komodo memakai busana Betawi? Ada kesan seperti orang Nusa Tenggara yang dipaksa mengenakan busana Betawi untuk menyambut orang di bumi Sriwijaya.

Ternyata saat itu Palembang sedang bersiap untuk menghelat acara Sea Games XXII yang akan diadakan sekitar sebulan lagi. Terlihat tulisan “Palembang siap menjadi tuan rumah Sea Games XXII” disepanjang jalan di bandara. Menyikapi hal itu, kakakku menjelaskan bahwa pemerintah kota Palembang sedang mengadakan pemeliharaan dan peningkatan kualitas pelayanan masyarakat dan fasilitas publik. Tindakan yang tepat mengingat SEA GAMES merupakan perhelatan multinasional yang membutuhkan persiapan yang matang.

Kemudian kami mengendarai motor kakakku dan membayar parkir di loket yang disediakan ketika bergerak keluar dari bandara. Tidak seperti di Bandung, bandara di Palembang berada agak jauh dari pusat kota, sehingga jalanan yang tidak terlalu besar itu  tidak dipenuhi oleh kendaraan bermotor. Sepanjang jalan hanya terlihat sedikit mobil dan truk. Tidak lama setelah keluar dari bandara, kami lalu tiba di wilayah kota Palembang.

“Mau makan apa?” Tanya kakakku memecah kesunyian, sambil mengurangi kecepatan motor yang dia kendarai.

“Makan apa aja jadilah” sahutku yang memang tidak memiliki referensi apapun untuk pilihan kuliner di Palembang.

“Mau makan pansit atau daging babi?” tanyanya memberi pilihan.

“Pansit aja kak” jawabku pasti.

Sebenarnya aku lebih suka daging babi, makanan yang sangat khas Batak. Tapi karena sudah lama tidak memakan mie pansit, maka aku putuskan untuk menikmati semangkuk pansit pagi itu. Lagian, makan daging babi untuk sarapan itu bukan pilihan yang bijak. Terlalu berlemak.

Kakakku lalu memacu sepeda motornya melaju di jalanan di pusat kota Palembang. Aku sempat melihat sebuah bangunan dengan tulisan HKBP terpampang jelas di depannya. Kata kakakku, itu adalah gereja HKBP terbesar di kota Palembang.  Setelah beberapa belokan, akhirnya kakakku memarkirkan motornya disalah satu perumahan ruko yang aku lupa detailnya. Tertulis “Mie Pansit Siantar” pada bagian atas salah satu ruko ditempat itu. Disitulah kami akan sarapan hari ini.

HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Pansit Siantar dan daging babi, semuanya mengingatkanku pada kampung halamanku dulu, di pelosok kota Siantar, salah satu Kodya dan Kabupaten di Medan.

Lucu juga mengingat fakta bahwa kami sedang berada di jantung kota Palembang, tapi kakakku malah membawaku mencicipi makanan khas tanah Batak. Benar-benar sangat tidak kontekstual. Setidaknya dia bisa menawarkan mie celor untuk dijadikan sarapan kami. Namun begitupun, aku sangat senang.

Ruko itu lumayan sepi. Mungkin karena masih pagi. Hanya ada 2 mobil dan sedikit sepeda motor yang sedang parkir didepan dua ruko yang dijadiin satu itu. Namun demikian, pemilik toko itu sedang sibuk memasak pesanan di stalling dan kompor yang di posisikan di bagian depan ruko yang dipakai.

Kami memesan dua mangkuk mie pansit dari penjual yang berasal dari etnis Tionghoa. Walaupun mie pansit yang disediakan di sana lumayan enak, tapi rasanya masih kurang dahsyat dibandingkan dengan mie pansit yang berasal dari Pematang Siantar, kampung kelahiranku. Aku jadi berpikir apakah yang memasak mie ini berasal dari Siantar atau tidak.

Itulah makanan pertama yang aku nikmati di Palembang. Pansit itu pula yang menjadi kesan pertama bagiku selama di Palembang. Walaupun ibukota Provinsi Sumatera Selatan ini terkenal dengan Pempek dan Tekwan yang memiliki cita rasa yang unik, tapi aku malah bernostalgia dengan kampung kelahiranku melalui mie pansit bersama dengan kakakku.

Selesai sarapan, kakakku kembali memacu sepeda motornya dengan aku duduk di bangku belakang. Jalan yang ditempuh bukanlah jalan utama, melainkan jalan kecil yang hanya cukup dilalui oleh 2 mobil yang berpapasan. Tepat disebuah gereja yang bangunannya sangat mirip dengan sebuah rumah disebelah kiri jalan, kakakku mengurangi kecepatan motornya dan masuk ke bagian belakang gereja melalui jalan kecil disamping gereja. Ternyata disana ada sebuah bangunan panjang berwarna kuning gading yang digunakan sebagai tempat tinggal pengurus dan penjaga gereja.

Itulah tujuan kami untuk saat ini.

note: pict taken from here

07 November 2013

Berangkat ke Palembang


Tanggal 26 September 2011

Akhirnya hari yang ditunggu tiba juga. Hari ini adalah hari dimana aku akan pergi ke Palembang, mengunjungi kakakku yang super baik itu. Kode booking tiket pesawat sudah ada untuk keberangkatan pukul 6 pagi dari bandara Soekarno-Hatta. Artinya, aku harus berangkat subuh dari Bandung. Atau lebih parah, aku harus berangkat hari sebelumnya dan menginap di bandara supaya jangan ketinggalan pesawat.

Alternatif paling jitu yang bisa aku pikir saat itu adalah menggunakan jasa travel. Setelah empat tahun kuliah di Bandung, akhirnya aku bisa memikirkan sesuatu yang sangat praktis dan efektif sebagai solusi permasalahan yang aku alami saat itu.

Walaupun bisnis travel sudah menjamur di Bandung, tapi ini adalah pertama kali aku menggunakan jasa travel. Biasanya untuk urusan transportasi Bandung – Jakarta atau sebaliknya, aku menggunakan Kereta Api, moda transportasi darat yang menawarkan kenyamanan, tepat waktu, harga yang terjangkau dan pemandangan indah sebagai nilai jualnya. Memang, setiap menggunakan KA, aku selalu disuguhi dengan pemandangan indah selama perjalanan. Kursi penumpang juga nyaman dan aku bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu, sesuai dengan yang tertera pada tiket yang kubeli. Hanya saja, karena jadwal kereta hanya 2-3 kali sehari, akhirnya moda transportasi ini kalah saing dengan travel yang dapat berangkat sekali sejam ke berbagai lokasi di Jakarta dan Bandung.

Seperti kali ini. Aku sudah memesan sebuah seat travel di Bandung yang lumayan terkenal dikalangan mahasiswa karena harganya lebih murah dibanding dengan travel lainnya. Jadwal keberangkatan travel yang akan kunaiki adalah pukul 1 subuh. Namun demikian, pukul 11 malam aku sudah tiba di pool travel itu dan mulai mengkonfirmasi keberangkatan.

Aku sengaja datang lebih awal, karena angkot yang akan membawaku dari kostan menuju pool travel ini hanya ada sampai pukul 10 saja. Dan karena tiba lebih awal (sangat awal malah), aku pun memiliki banyak waktu luang disana - bisa istirahat tidur sebelum akhirnya berangkat ke bandara.

Tapi yang pertama kali aku lakukan adalah membayar seat yang kupesan.

“Mas, atas nama Arga, berangkat ke bandara” ucapku kepada satu-satunya orang yang ada di pool itu, sang operator.

“Yang berangkat jam 1 ya? 65ribu” sahutnya.

“Katanya ada harga untuk mahasiswa ya, Mas?” Tanyaku mengkonfirmasi isu diskon yang aku dengar beberapa hari sebelumnya dari temanku yang sudah sering menggunakan travel ini.

"Harga mahasiswa jadi 50ribu. Ada KTM (kartu tanda mahasiswa) gak?" 

Aku lalu menyerahkan KTM ku yang kebetulan tidak disita oleh kampus paska kelulusanku. Dengan bekal KTM yang kadaluarsa itu, aku membayar tiket travel seharga 50ribu.

Kebohongan yang tidak sepenuhnya bohong. Toh aku belum wisuda, hanya lulus sidang aja, pikirku dalam hati.

Aku menghabiskan waktu menunggu di malang yang dingin itu dengan menonton film Shelock Holmes yang baru aku salin tadi pagi dari komputer temanku. Netbook 10” yang kubawa sedikit berjasa malam itu karena tidak ada yang bisa kulakukan dan tidak ada orang yang bisa aku ajak ngobrol di pool travel yang sepi itu.

Jarum jam terus berdetik, melewat tiap angka yang tertera dengan langkah yang konstan. Film Sherlock Holmes yang kutonton hampir mencapai resolusi, tetapi aku masih sendiri di tempat itu. Dimana penumpang lainnya?

Jam 12 lewat sedikit, akhirnya satu persatu penumpang travel datang. Seorang perempuan muda yang diantar pacarnya dengan menggunakan motor dan jaket tebal ternyata menjadi orang yang beruntung duduk di sebelahku. Ada beberapa orang tua dan 2 orang pemuda lagi yang menjadi penumpang bersama denganku. Ternyata bukan hanya aku yang memiliki ide untuk terbang di pagi hari.

Satu persatu kami menaikkan barang kami dan memasukkannya ke bagasi travel. Kemudian kami naik kedalam kendaraan itu dan duduk di kursi yang sudah ditentukan sebelumnya melalui sistem penomoran. Aku dapat posisi di sebelah kiri baris tengah. Tempat yang kurang strategis untuk tidur. 

Namun demikian, tetap saja aku sukses tertidur selama perjalanan dari Bandung menuju bandara Soekarno-Hatta. Ternyata memang ini sudah sifatku dari dulu, yaitu tertidur selama perjalanan walaupun suasananya tidak mendukung.

***

Tanggal 27 September 2011

Aku dibangunkan oleh teriakan supir travel yang mengatakan bahwa kami sudah sampai di terminal 2B.

“Hah? Udah sampai bandara?” tanyaku tergagap kepada perempuan yang duduk disampingku.

“Udah. Ini sekarang di terminal 2B” katanya sedikit mengantuk. Ternyata sepanjang jalan dia hampir tidak tidur. Berbeda jauh denganku yang langsung tertidur sesaat setelah mobil bergerak masuk tol Pasteur.

Aku dan beberapa orang turun dan mengambil tas di belakang mobil. Kulihat hapeku sekilas. Masih jam 3.30 pagi. Masih terlalu dini untuk memulai hari. Bandara yang biasanya sangat padat pun terlihat lengang waktu itu. Tapi, sudah ada beberapa puluh orang di bandara saat itu. Mereka menempati beberapa bench yang tersedia di depan terminal keberangkatan. Beberapa bahkan rela duduk di lantai disudut-sudut terminal sambil berpegangan pada troli yang berisi koper mereka. Ada yang ngobrol dengan sesama mereka, tapi tidak sedikit juga yang memejamkan mata, mencoba untuk tidur di dalam kondisi yang tidak nyaman yang ditawarkan bandara pagi itu.

Aku mengambil tas-ku dan mulai mencari tempat untuk melanjutkan tidurku yang terganggu tadi. Kebetulan di depan loket Lion Air ada sedikit space kosong, maka aku langsung duduk dan meletakkan tas-ku didepan. Sengaja aku memilih tempat itu karena aku harus mencetak tiket sesuai dengan kode booking yang sudah kudapat dari loket Lion Air. Aku lalu mengambil posisi tidur sambil memeluk tas-ku. Beberapa menit kemudian aku kembali tidur.

Pukul 5 lewat sedikit aku terbangun lagi dan melihat gerombolan orang di depan loket Citilink. Berarti jam operasi bandara sudah mulai, ujarku dalam hati. Aku melihat loket Lion Air juga sudah buka. Aku berjalan gontai menuju loket Lion Air dan meminta operator itu mencetak tiket yang sudah kupesan sebelumnya.
“Kode bookingnya berapa pak?” Tanya perempuan yang bertugas pagi itu.

Aku menyebutkan kode booking yang diberitahu kakakku beberapa hari sebelumnya, sebuah kombinasi afanumerik yang susah dihapal.

“Maaf bapak, kode booking itu tidak terdaftar di sistem kami” ujarnya setelah mengutak-atik komputer yang ada didepannya.

“Loh, kok gak ada? Wong udah di booking kok” aku ngotot sambil menunjukkan nomor booking yang di-sms kakakku.

“Iya bapak. Kode booking maskapai kami selalu diawali dengan kombinasi huruf PX, sementara kode booking bapak dimulai dengan huruf LN. Itu bukan maskapai kami, Pak!” jelasnya setelah melihat kebingungan dan sedikit rasa takut tergambar dimukaku.

Aku bingung dan takut. Bagaimana ini? Tiketku tidak bisa di print. Lebih parah lagi, kode booking tiketku tidak valid. Apa kakakku ditipu temannya sewaktu membeli tiket ini?

Aku langsung mengkonfirmasi hal ini kepada kakakku. Dengan suara parau dia bilang kalau tiket yang dia pesan bukan untuk Lion Air, tapi untuk Citilink.

Pantas saja kode booking itu tidak ada di sistemnya Lion Air. Ini adalah efek tidak langsung dari kebiasaan naik Lion AirHehe

Setelah mencetak tiket di loket Citilink, aku mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh maskapai yang bersangkutan, mulai dari check in sampai menunggu pesawat boarding. Satu hal yang aku takjub dari masakapai ini adalah, untuk menghindari antri yang panjang ketika akan naik ke pesawat, operator Citilink membagi jadwal masuk ke pesawat menjadi dua bagian. Penumpang dengan seat nomor 1-20 akan masuk duluan dengan menggunakan pitu depan, kemudian disusul oleh penumpang dengan nomor seat diatas 20. Dengan demikian, tidak ada adegan desak-desakan di pintu masuk pesawat.

Ini adalah inovasi yang tidak dimiliki oleh Lion Air.

Tidak berapa lama setelah aku duduk, pesawat mulai bergerak menuju Palembang.

... dan aku sudah tidak sabar untuk melakukan petualangan di kota Pempek yang terkenal dengan cuacanya yang panas itu.

05 November 2013

Awal dari Perjalanan Panjang


Lulus kuliah merupakan masa paling penting dari sebuah perjalanan hidup seorang mahasiswa. Setelah empat tahun, sebagian lain lebih, bergumul dengan segala tugas, ujian dan bimbingan dengan dosen, akhirnya seorang mahasiswa resmi mendapat gelar yang dikejarnya selama ini. Dan setelah wisuda, disitulah kehidupan yang sebenarnya dimulai. 

Langkah awal yang sangat mempengaruhi masa depanmu. 

Begitupun denganku. Seminggu setelah aku sidang skripsi dan dinyatakan lulus dengan hasil ‘Sangat Memuaskan”, aku langsung sibuk mencari pekerjaan. Setelah empat tahun aku menyandang status tertinggi dalam masyarakat sebagai mahasiswa di Bandung, hari berikutnya aku langsung didepak menjadi penyandang status terendah dalam masyarakat: pengangguran! 

Sebuah status yang tidak diinginkan oleh semua orang yang kukenal. 

Berbagai relasi aku hubungi untuk mencari pekerjaan. Berbagai situs pencari pekerjaan aku buka untuk melihat lowongan yang sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Tapi tidak mudah.Pencarianku menghasilkan masa vakum selama sebulan. Walaupun ada beberapa panggilan dari perusahaan yang tertarik dengan CV yang kusebar, tapi kelihatannya mereka tidak tertarik dengan kemampuan yang kumiliki. Karena setelah panggilan tahap awal, aku tidak mendapat panggilan lagi untuk melanjutkan ujian tahap selanjutnya. Jadi aku simpulkan bahwa aku ditolak. 

Nasib seorang fresh graduate yang tidak memiliki keahlian dalam hal apapun memang suram.

Selama masa penantian itu, kabar baik datang dari kakakku yang bekerja di Palembang.

“Dari pada kamu menganggur di Bandung, mending main ke Palembang. Gimana? Itu adalah SMS dari kakakku.

Tentu saja tawarannya aku sambut dengan senyum mengembang di bibirku. Secepat mungkin aku balas SMS itu dengan kata “Boleh. Semua ditanggung tuan rumah, kan?!”

Aku pikir bagus juga. Selain bisa liburan, aku juga bisa mencoba mencari pekerjaan di Palembang. Kakaku mengaku dia memiliki beberapa relasi yang bisa diandalkan untuk melakukan perekrutan melalui jalur belakang. Mungkin ini waktunya aku melebarkan sayap dan mencoba peruntungan di tempat lain. Aku yakin, selalu ada kesempatan bagi satu orang Batak lagi di tanah “wong kito galo” ini.

Akhirnya tiket Jakarta – Palembang dibeli. Tentu saja kakakku yang membiayai. Dengan status pengangguran, aku bahkan akan mikir berulang kali dalam mengeluarkan dana untuk membeli kebutuhan primer yang tidak begitu penting, seperti susu dan buah. Danaku hanya cukup untuk mengunjungi warteg beberapa kali sebelum akhirnya aku berangkat ke Palembang dan mulai mengemis uang makan lagi dari kakakku yang super baik itu.

Sebagai bekal mencari pekerjaan disana, aku mulai mengurus semua pemberkasan yang dibutuhkan. Bolak-balik ke fakultas untuk mengurus STL (Surat Tanda Lulus) dan melegalisirnya. Mengurus barang dari  kosan yang masih berlaku beberapa bulan lagi. Aku juga mulai menjual barang-barang pribadi yang tidak dibutuhkan, untuk menambah uang saku juga, seperti rice cooker, dispenser, monitor, dll.

Begitulah awal dari kehidupanku setelah lulus dari status mahasiswa pertengahan tahun 2011. Ditolak beberapa kali dan hidup dalam penantian yang berkepanjangan. Yah, walaupun aku belum wisuda, tapi secara administratif, aku sudah dinyatakan lulus. Saat itu aku sudah menganggap diriku sebagai pengangguran.

Semoga perjalanan ke Palembang nanti memberi angin baik untuk masa depanku.

*pict taken from here

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...