07 November 2013

Berangkat ke Palembang


Tanggal 26 September 2011

Akhirnya hari yang ditunggu tiba juga. Hari ini adalah hari dimana aku akan pergi ke Palembang, mengunjungi kakakku yang super baik itu. Kode booking tiket pesawat sudah ada untuk keberangkatan pukul 6 pagi dari bandara Soekarno-Hatta. Artinya, aku harus berangkat subuh dari Bandung. Atau lebih parah, aku harus berangkat hari sebelumnya dan menginap di bandara supaya jangan ketinggalan pesawat.

Alternatif paling jitu yang bisa aku pikir saat itu adalah menggunakan jasa travel. Setelah empat tahun kuliah di Bandung, akhirnya aku bisa memikirkan sesuatu yang sangat praktis dan efektif sebagai solusi permasalahan yang aku alami saat itu.

Walaupun bisnis travel sudah menjamur di Bandung, tapi ini adalah pertama kali aku menggunakan jasa travel. Biasanya untuk urusan transportasi Bandung – Jakarta atau sebaliknya, aku menggunakan Kereta Api, moda transportasi darat yang menawarkan kenyamanan, tepat waktu, harga yang terjangkau dan pemandangan indah sebagai nilai jualnya. Memang, setiap menggunakan KA, aku selalu disuguhi dengan pemandangan indah selama perjalanan. Kursi penumpang juga nyaman dan aku bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu, sesuai dengan yang tertera pada tiket yang kubeli. Hanya saja, karena jadwal kereta hanya 2-3 kali sehari, akhirnya moda transportasi ini kalah saing dengan travel yang dapat berangkat sekali sejam ke berbagai lokasi di Jakarta dan Bandung.

Seperti kali ini. Aku sudah memesan sebuah seat travel di Bandung yang lumayan terkenal dikalangan mahasiswa karena harganya lebih murah dibanding dengan travel lainnya. Jadwal keberangkatan travel yang akan kunaiki adalah pukul 1 subuh. Namun demikian, pukul 11 malam aku sudah tiba di pool travel itu dan mulai mengkonfirmasi keberangkatan.

Aku sengaja datang lebih awal, karena angkot yang akan membawaku dari kostan menuju pool travel ini hanya ada sampai pukul 10 saja. Dan karena tiba lebih awal (sangat awal malah), aku pun memiliki banyak waktu luang disana - bisa istirahat tidur sebelum akhirnya berangkat ke bandara.

Tapi yang pertama kali aku lakukan adalah membayar seat yang kupesan.

“Mas, atas nama Arga, berangkat ke bandara” ucapku kepada satu-satunya orang yang ada di pool itu, sang operator.

“Yang berangkat jam 1 ya? 65ribu” sahutnya.

“Katanya ada harga untuk mahasiswa ya, Mas?” Tanyaku mengkonfirmasi isu diskon yang aku dengar beberapa hari sebelumnya dari temanku yang sudah sering menggunakan travel ini.

"Harga mahasiswa jadi 50ribu. Ada KTM (kartu tanda mahasiswa) gak?" 

Aku lalu menyerahkan KTM ku yang kebetulan tidak disita oleh kampus paska kelulusanku. Dengan bekal KTM yang kadaluarsa itu, aku membayar tiket travel seharga 50ribu.

Kebohongan yang tidak sepenuhnya bohong. Toh aku belum wisuda, hanya lulus sidang aja, pikirku dalam hati.

Aku menghabiskan waktu menunggu di malang yang dingin itu dengan menonton film Shelock Holmes yang baru aku salin tadi pagi dari komputer temanku. Netbook 10” yang kubawa sedikit berjasa malam itu karena tidak ada yang bisa kulakukan dan tidak ada orang yang bisa aku ajak ngobrol di pool travel yang sepi itu.

Jarum jam terus berdetik, melewat tiap angka yang tertera dengan langkah yang konstan. Film Sherlock Holmes yang kutonton hampir mencapai resolusi, tetapi aku masih sendiri di tempat itu. Dimana penumpang lainnya?

Jam 12 lewat sedikit, akhirnya satu persatu penumpang travel datang. Seorang perempuan muda yang diantar pacarnya dengan menggunakan motor dan jaket tebal ternyata menjadi orang yang beruntung duduk di sebelahku. Ada beberapa orang tua dan 2 orang pemuda lagi yang menjadi penumpang bersama denganku. Ternyata bukan hanya aku yang memiliki ide untuk terbang di pagi hari.

Satu persatu kami menaikkan barang kami dan memasukkannya ke bagasi travel. Kemudian kami naik kedalam kendaraan itu dan duduk di kursi yang sudah ditentukan sebelumnya melalui sistem penomoran. Aku dapat posisi di sebelah kiri baris tengah. Tempat yang kurang strategis untuk tidur. 

Namun demikian, tetap saja aku sukses tertidur selama perjalanan dari Bandung menuju bandara Soekarno-Hatta. Ternyata memang ini sudah sifatku dari dulu, yaitu tertidur selama perjalanan walaupun suasananya tidak mendukung.

***

Tanggal 27 September 2011

Aku dibangunkan oleh teriakan supir travel yang mengatakan bahwa kami sudah sampai di terminal 2B.

“Hah? Udah sampai bandara?” tanyaku tergagap kepada perempuan yang duduk disampingku.

“Udah. Ini sekarang di terminal 2B” katanya sedikit mengantuk. Ternyata sepanjang jalan dia hampir tidak tidur. Berbeda jauh denganku yang langsung tertidur sesaat setelah mobil bergerak masuk tol Pasteur.

Aku dan beberapa orang turun dan mengambil tas di belakang mobil. Kulihat hapeku sekilas. Masih jam 3.30 pagi. Masih terlalu dini untuk memulai hari. Bandara yang biasanya sangat padat pun terlihat lengang waktu itu. Tapi, sudah ada beberapa puluh orang di bandara saat itu. Mereka menempati beberapa bench yang tersedia di depan terminal keberangkatan. Beberapa bahkan rela duduk di lantai disudut-sudut terminal sambil berpegangan pada troli yang berisi koper mereka. Ada yang ngobrol dengan sesama mereka, tapi tidak sedikit juga yang memejamkan mata, mencoba untuk tidur di dalam kondisi yang tidak nyaman yang ditawarkan bandara pagi itu.

Aku mengambil tas-ku dan mulai mencari tempat untuk melanjutkan tidurku yang terganggu tadi. Kebetulan di depan loket Lion Air ada sedikit space kosong, maka aku langsung duduk dan meletakkan tas-ku didepan. Sengaja aku memilih tempat itu karena aku harus mencetak tiket sesuai dengan kode booking yang sudah kudapat dari loket Lion Air. Aku lalu mengambil posisi tidur sambil memeluk tas-ku. Beberapa menit kemudian aku kembali tidur.

Pukul 5 lewat sedikit aku terbangun lagi dan melihat gerombolan orang di depan loket Citilink. Berarti jam operasi bandara sudah mulai, ujarku dalam hati. Aku melihat loket Lion Air juga sudah buka. Aku berjalan gontai menuju loket Lion Air dan meminta operator itu mencetak tiket yang sudah kupesan sebelumnya.
“Kode bookingnya berapa pak?” Tanya perempuan yang bertugas pagi itu.

Aku menyebutkan kode booking yang diberitahu kakakku beberapa hari sebelumnya, sebuah kombinasi afanumerik yang susah dihapal.

“Maaf bapak, kode booking itu tidak terdaftar di sistem kami” ujarnya setelah mengutak-atik komputer yang ada didepannya.

“Loh, kok gak ada? Wong udah di booking kok” aku ngotot sambil menunjukkan nomor booking yang di-sms kakakku.

“Iya bapak. Kode booking maskapai kami selalu diawali dengan kombinasi huruf PX, sementara kode booking bapak dimulai dengan huruf LN. Itu bukan maskapai kami, Pak!” jelasnya setelah melihat kebingungan dan sedikit rasa takut tergambar dimukaku.

Aku bingung dan takut. Bagaimana ini? Tiketku tidak bisa di print. Lebih parah lagi, kode booking tiketku tidak valid. Apa kakakku ditipu temannya sewaktu membeli tiket ini?

Aku langsung mengkonfirmasi hal ini kepada kakakku. Dengan suara parau dia bilang kalau tiket yang dia pesan bukan untuk Lion Air, tapi untuk Citilink.

Pantas saja kode booking itu tidak ada di sistemnya Lion Air. Ini adalah efek tidak langsung dari kebiasaan naik Lion AirHehe

Setelah mencetak tiket di loket Citilink, aku mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh maskapai yang bersangkutan, mulai dari check in sampai menunggu pesawat boarding. Satu hal yang aku takjub dari masakapai ini adalah, untuk menghindari antri yang panjang ketika akan naik ke pesawat, operator Citilink membagi jadwal masuk ke pesawat menjadi dua bagian. Penumpang dengan seat nomor 1-20 akan masuk duluan dengan menggunakan pitu depan, kemudian disusul oleh penumpang dengan nomor seat diatas 20. Dengan demikian, tidak ada adegan desak-desakan di pintu masuk pesawat.

Ini adalah inovasi yang tidak dimiliki oleh Lion Air.

Tidak berapa lama setelah aku duduk, pesawat mulai bergerak menuju Palembang.

... dan aku sudah tidak sabar untuk melakukan petualangan di kota Pempek yang terkenal dengan cuacanya yang panas itu.

3 comments:

  1. Lho, ini cerita tahun 2011 ya bro? gue pikir baru mau berangkat. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi bro.. gue flashback lagi ke awal gue mulai travelling :)

      Delete
  2. nice info gan , pengen banget ane ke palembang.
    kuliner di sana enak enak x ya heheee

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...