03 December 2013

Menyambut Sea Games di Gelora Sriwijaya, Palembang


Pemilik tempat yang kami tuju itu adalah Mbak Lia dan Mas Sulis, sepasang suami istri muda Jawa yang belum dikaruniai momongan. Menurut penuturan kakakku, dia dan Mbak Lia merupakan teman sejawat pada sebuah sekolah di Palembang dulu. Setelah mereka berdua keluar dari sekolah yang dimaksud, mereka tetap berteman dengan baik. Bahkan kakakku sering menginap ditempat ini kalau sedang ada urusan di Palembang. 

Mereka adalah orang yang bertugas mengurus gereja yang ada di depan jalan tadi.

Aku langsung berkenalan dengan mereka dan meletakkan tas travel yang kubawa di dekat pintu. Dari sesi perkenalan yang singkat itu, mereka langsung mengeluarkan berbagai pernyataan yang menurutku tidak penting.

Seperti, “Kalian kulitnya putih semua ya!” katanya mengkonfirmasi bahwa kulit kami lebih cerah dibandingkan mereka yang berasal dari daerah Jawa sana.

Atau juga, “Berarti kau yang paling pendek di keluargamu ya?” Kalimat yang ditujukan untuk kakakku yang memang memiliki postur tubuh lebih pendek dibandingkan denganku.

Entah untuk apa mereka membuat penilaian seperti itu. Aku tidak menanggapi pernyataan itu, tapi malah duduk cuek di depan satu-satunya kipas angin super besar yang mereka pakai untuk menghela rasa panas di dalam ruangan.

Bangunan yang sedang kami kunjungi dibagi menjadi tiga ruangan yang terpisah dari bangunan gereja tadi, persis seperti kamar kost. Hanya saja, tiap ruangan memiliki kamar tidur, dapur, ruang tamu dan teras sendiri-sendiri. Sedangkan toilet dan kamar mandi berada di pojok bangunan untuk digunakan secara bersamaan. Dan karena hanya mereka yang tinggal disitu, maka dua ruangan disamping ruangan mereka difungsikan sebagai gudang dan tempat menyimpan sepeda motor pada malam hari, atau kapan saja kalau dibutuhkan.

Sambil istirahat, kakakku menanyakan tujuan kami selanjutnya.

“Mau kemana dulu, dek?” tanyanya sambil melihat ke layar televisi 21 inci  yang ada di salah satu pojok ruangan.

“Kemana ya enaknya?” jawabku membalikkan pertanyaanku. Aku yang belum memiliki informasi apapun tentang kota ini tidak bisa memutuskan akan pergi kemana atau melakukan apa.

“Ke Jakabaring aja kita? Ada yang lagi latihan disana” sahut kakakku. Dia lalu menjelaskan bahwa di Jakabaring terdapat Gelora Sriwijaya, lapangan sepakbola terbesar di Palembang yang menjadi tempat latihan Sriwijaya FC.

Tanpa pikir panjang, aku langsung meng-iya-kan saran kakakku. Entahlah, apa yang bisa aku lakukan tanpa ada kakakku disana waktu itu. Makan, dia yang bayar. Jalan, dia yang ngarahin. Tempat tinggal, dia yang ngurus. Sementara aku? Aku akan tetap menjadi adik kecilnya yang manis, yang walaupun sudah lulus kuliah, masih belum bisa berbuat banyak.

Tanpa berganti pakaian, aku dan kakakku memacu sepeda motor menuju Jakabaring. Melewati sebagian jalan yang kami lalui ketika menuju tempat itu, kemudian berbelok kearah yang lain yang masih baru bagiku. Entah kemana dia membawa motor itu, yang pasti pada akhirnya Jembatan Ampera tampak berdiri tegak dihadapanku, menghubungkan tempat yang dibelah oleh Sungai Musi, sungai paling panjang di Pulau Sumatera dengan total panjang 750 KM.

Di siang hari, Jembatan Ampera sangat padat. Jembatan berwarna merah bata yang memiliki panjang lebih kurang 1 KM itu dipenuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang. Mobil, truk, sepeda motor, semuanya ada disana. Padat dan nyaris macet. Terlihat juga beberapa orang sedang berjalan di bahu jembatan walau cuaca terasa sangat terik.

Belum sempat menikmati konstruksi masif yang menjadi ikon kota Palembang itu, kami sudah sampai diujung jembatan yang lain. Kakakku membawaku ke lokasi Wisma Atlet yang terkenal karena biaya pembangunannya dikorupsi oleh Muhammad Nazaruddin, bendahara umum partai Demokrat waktu itu.

Saat itu Wisma Atlet terlihat menyedihkan. Bangunan baru itu terlihat diabaikan. Kosong dan tidak bernyawa. Halaman dan tempat parkir masih berantakan dan bagian dalamnya juga masih belum di cat. Padahal seharusnya tempat itu akan dihuni oleh atlet dalam waktu singkat.

Tidak lama, kami melanjutkan perjalanan kami menuju tempat yang dijanjikan kakakku, Jakabaring. Setelah melewati sebuah perempatan berbentuk bundaran yang memiliki tugu futuristik dengan model abstrak ditengahnya, kami langsung belok kiri dan memasuki area Stadion Gelora Sriwijaya.

Stadion Gelora Sriwijaya merupakan stadion multiguna terbesar ketiga di Indonesia. Stadion dengan kapasitas penonton mencapai 4000 orang ini ditenggarai sebagai stadion dengan fasilitas terbaik bertaraf internasional di Indonesia. Stadion yang diberi nama berdasarkan kerajaan maritim Sriwijaya ini memiliki 2 atap berwarna biru yang berfungsi untuk menutupi bangku penonton.

Dari jalan masuk kompleks stadion ini, kami bisa melihat tulisan besar berwarna keemasan diposisikan tepat di depan pintu masuk stadion. “Gelora Sriwijaya” demikian isi tulisan tersebut. Tulisan tersebut diletakkan diatas sebuah ukiran perahu berwarna merah yang berfungsi sebagai bingkai bawah dan penyokong tulisan.  

Setelah memarkirkan motor, kami langsung berjalan kearah tulisan itu dan mulai berfoto ria, sebagai bukti bahwa aku sudah pernah menginjakkan kaki di Stadion Gelora Sriwijaya. Entah mengapa fakta itu begitu penting. Mungkin sebagai bahan untuk menyombongkan diri kelak. Mungkin juga sebagai pengingat akan perjalanan hidup.

Di antara tulisan dan gedung stadion terdapat lantai yang berwarna-warni. Ada merah, biru, kuning dan hijau yang dilukis membentuk pola tertentu. Aku tidak tau pola apa yang dimaksud. Tapi begitu melangkahkan kaki diatasnya, aku langsung meminta kakakku untuk mengambil fotoku diatas lantai berwarna itu. Ada bermacam gaya kulakukan waktu itu, dari mulai gaya melompat sampai gaya koprol. Kakakku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku yang sedikit norak sih.

Tidak apalah, tindakan norak merupakan efek samping dari gejolak adrenalin yang mengalir di dalam pembuluh darah, begitu pikirku.

Saat kami akan melihat tim kebanggaan bumi Sriwijaya itu latihan, kami malah dikejutkan dengan fakta bahwa kami harus membayar retribusi sekian ribu rupiah untuk bisa masuk ke dalam stadion. Padahal kami bukan masuk dari pintu utama, melainkan dari celah kecil di sebelah kiri pintu utama. Tapi tetap saja ada retribusi. Entah atas inisiatif siapa. Padahal kata kakakku, bulan lalu masih belum ada pungutan seperti itu.

Gegara retribusi itu, sempat muncul keinginan untuk membatalkan rencana melihat Sriwijaya FC latihan. Bukan apa-apa, hanya saja aku bukan seorang penggila sepak bola. Kakakku juga bukan. Jadi untuk apa juga kami harus melihat mereka latihan?

Tapi atas desakan kakakku akhirnya kami masuk juga kedalam stadion itu. Yang mengejutkanku, ternyata bukan hanya bagian luar stadion itu saja yang berwarna-warni, tapi bangku pentonton dalam stadion itu juga warna-warni. Ada merah, biru, kuning, dll. Apakah memang di semua stadion tempat duduknya selalu berwarna-warni atau tidak, aku tidak tau. Karena memang ini adalah pengalaman pertamaku memasuki sebuah stadion. Cukup terlambat bagi seseorang yang tinggal di sebuah negara yang memiliki beberapa lusin stadion.

Di kejauhan, terlihat para pemain Sriwijaya FC sedang latihan. Dibalut dengan kostum resmi mereka yang bernuansa kuning, mereka membentuk kelompok-kelompok kecil dan mulai memperebutkan bola. Entah latihan apa yang sedang mereka lakoni, aku tidak tau. Bahkan aku tidak tau siapa saja yang menjadi pemain utama Sriwijaya FC. Satu-satunya informasi yang aku miliki tentang Sriwijaya FC, selain fakta bahwa mereka berasal dari Sumatera Selatan, adalah bahwa Sriwijaya FC pernah menjadi juara Liga Indonesia dan Piala Indonesia sekaligus dalam satu musim. Informasi ini pun tidak sengaja aku dapatkan ketika aku sedang berada di dalam bus dari Pekan baru menuju Jakarta. Selama 3 hari perjalanan, begitu banyak cerita yang kau dapat, salah satunya adalah tentang kejuaraan Sriwijaya FC itu.

Bosan melihat mereka latihan dari jauh, kami lalu berkeliling lapangan bola didalam stadion. Ada banyak pengunjung yang datang melihat mereka latihan hari itu, tapi kondisi masih kondusif, sehingga pelatih Sriwijaya FC tidak merasa terganggu dan harus menghentikan atau memindahkan latihan mereka. Perjalanan kecil kami membawa kami kedalam ruangan di dalam stadion di bawah kursi penonton. Ternyata bagian dalam stadion itu juga sedang dipugar, untuk tujuan yang lebih baik.

Setelah beberapa puluh menit mengitari Stadium Sriwijaya, aku dan kakakku berjalan keluar. Kami memutuskan untuk mengitari stadion itu dengan menggunakan motor, sekedar mengetahui apa yang ditawarkan sisi lain area Gelora Sriwijaya. Tapi, bukan taman indah atau area bermain yang kujumpai selama mengitari stadion itu, melainkan keadaan semrawut dikarenakan masih banyak pekerjaan yang belum usai. Kabel masih malang melintang di perjalanan, gundukan tanah ada dimana-mana, bahkan beberapa pekerja terlihat berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum acara Sea Games dimulai.

Padahal sebenarnya tempat itu cukup teduh, asik dan memanjakan mata. Semoga saja bisa diselesaikan tepat waktu dan memberikan kesan baik bagi pengunjung yang datang.

Selesai dari Gelora Sriwijaya, hari sudah sore. Matahari sudah akan beranjak ke peraduannya dan kami memutuskan untuk menikmati suguhan Jembatan Ampera pada malam hari.

Kakakku lalu memacu motornya menuju Jembatan Ampera.

2 comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...